
Padahal matahari belum siap untuk menampakkan wujudnya bahkan para burung masih tertidur dalam sangkarnya tapi, Revan sudah datang dan menyiapkan segala keperluan Khiren. Di pagi-pagi buta semua pelayan mulai sibuk menyiapkan makanan kesukaan Khiren, keributan yang di buat oleh pelayan yang lalu lalang membuat Khiren bangun dan keluar untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi di rumahnya.
“Wah gila tu orang! Ni masih jam 3 dan dia udah bikin semua pekerja memulai pekerjaan mereka lebih awal, makin nyebelin aja tu anak!” Khiren benar-benar kesal karena terbangun sebelum waktunya.
Tadinya Khiren ingin kembali tidur tapi, dia tidak bisa menutup matanya setelah terbangun dan akhirnya dia memutuskan untuk berolahraga sebentar sebelum mandi air hangat. Saat jam makan pagi tiba, Revan tanpa mengetuk pintu langsung masuk ke dalam kamar Khiren, Revan sangat terkejut saat mendapati tempat tidur Khiren yang rapi dan tidak terlihat tanda-tanda Khiren berada di ruangan itu.
“Khiren! Khiren, kamu di mana?”
Lalu Khiren keluar dari ruang baju, dia memakai baju kaus dan celana pendek yang membuatnya merasa cukup nyaman untuk bergerak. Revan kagum dengan kecantikan istrinya itu, apapun yang dia kenakan selalu terlihat indah dan mempesona setiap mata. Revan meletakkan makanan di meja dan menghampiri Khiren, tanpa sadar dia menyentuh sambut Khiren dan menciumnya.
“Apa yang kamu lakukan?” Khiren menepis tangan Revan dengan kesal.
“Eh, eum.. Maafkan aku! Aku terlalu hanyut dalam suasana, kamu benar-benar cantik!” Revan langsung menyembunyikan tangannya.
“Ya ya ya, jadi sekarang apa?”
“Aku membawakan kamu makanan, aku pikir kamu…”
“Jangan terlalu di pikirkan, ayo makan di bawah saja!”
Khiren keluar dari kamar dan Revan kembali mengambil makanan yang dia bawa. Saat makan Revan sering melirik kearah Khiren yang duduk di hadapannya, jarak mereka cukup jauh karena meja makan yang terlalu luas itu, Khiren yang merasa tidak nyaman dengan tatapan Revan akhirnya menyudahi makan dan kembali ke kamarnya tanpa bicara sepatah katapun. Revan merasa kalau Khiren marah karena itu dia mengikuti Khiren, dia tidak atau apa yang membuat wanita cantiknya itu tiba-tiba marah.
Tiba-tiba langkah Khiren terhenti ketika dia akan membuka pintu kamar, “ Kenapa kamu mengikuti ku?”
“Itu… Aku hanya ingin memastikan kalau kamu baik-baik saja!”
“Aku baik-baik saja, sekarang pulanglah!”
“Tidak-tidak, aku tidak bisa pulang begitu saja! Aku… Aku ingin mengajakmu berkencan!”
“Kencan? Cukup menarik, baiklah tunggu di sini!” Khiren masuk ke dalam kamar dan mengambil masker dan topi.
“Kamu akan pergi seperti ini?”
“Kita akan kemana?”
“Tempat yang menyenangkan, ayo bersiap-siap dulu! Aku akan menunggu di mobil!”
__ADS_1
“Baik!” Khiren berlari dengan cepat menuju kamarnya.
Beberapa menit setelah itu Khiren keluar dan mereka pun segera pergi, perjalanan yang cukup sunyi. Khiren hanya melihat kearah jalan dan Revan sesekali melirik kearah Khiren yang terlihat sedang memiliki banyak pikiran.
“Apa yang sedang di pikirkan wanita itu sekarang? Apa aku harus memulai percakapan dengannya? Ah, ini terlalu sulit! Aku tidak mengerti dengannya, dia mudah marah dan kesal dengan semua yang aku lakukan, aku jadi takut memulai pembicaraan.” Revan yang sedang berpikir cara menghentikan rasa canggung dan kesunyian yang mencekam itu tidak sadar hampir menabrak seorang penyeberang jalan hingga Khiren menepuk punggungnya dengan karas dan seketika mobil berhenti.
“Apa yang kamu lakukan? Kamu ingin membunuh kita?”
“Maafkan aku! Aku hanya…”
“Hanya apa, hah?! Kalau kamu seperti ini lagi lebih baik kita tidak usah pergi saja!” Khiren benar-benar terlihat kesal.
“Maafkan aku! Aku akan berusaha untuk fokus”
“ ‘Berusaha’? Tidak hanya berusaha tapi kamu memang harus fokus, paham?”
Revan mengangguk dengan patuh dan dia merasa sangat bersalah pada Khiren
“Kalau begitu cepat pergi dari tempat ini!”
“Taman hiburan? Yang benar saja?! Ini tempat kencannya?”
“Kenapa? Apa kamu tidak suka?”
“Tidak suka? Siapa bilang! Ayo masuk!” Khiren menarik tangan Revan dan menunggu Revan membelikan tiket masuk untuk mereka.
“Ayo masuk!”
Khiren dengan cepat dan sengaja membuat jarak antara dia dengan Revan agar dia bisa mengirim lokasinya pada mex.
“Khiren! Tunggu aku!” Revan berusaha mengejar langkah Khiren yang cepat diantara banyak manusia yang menghalangi jalannya.
Khiren menunggu di dekat rumah hantu dan mex dengan penyamarannya menemui Khiren.
“Bagaimana rencana kalian sudah siap?”
“Sudah master, kami siap untuk membawa anda keluar dari tempat itu, apa anda yakin ingin pergi saat ulang tahun anda?”
__ADS_1
“Iya, aku memberi mereka kesempatan terakhir! Kalian lakukan rencana dengan sempurna dan tetap pantau keadaan, situasi bisa saja berubah jika langkah kita mulai tercium oleh orang-orang Ayahku!”
“Baik master, saya akan pastikan semua berjalan dengan lancar dan sempurna!” Mex langsung menghilang ketika mereka mulai menyadari Revan sedang menuju kearah mereka.
“Khiren?! Kenapa kamu ada di sini? Aku sudah capek mencari kamu kemana-mana.”
“Ayo kita ke sana!”
“Tidak, aku ingin masuk ke rumah hantu!”
“Kita bisa masuk ke sana nanti, sekarang ayo beli sesuatu untuk di minum! Aku benar-benar kehausan!”
“Oke!”
Setelah mendapat minuman untuk Revan, Khiren tergoda pada es krim yang di jual di sana, dia menarik Revan untuk membelikannya es krim dan juga beberapa makanan yang di jual di sana. Kencan itu berjalan sangat lancar hingga tiba-tiba saat sedang asik menikmati es krim seorang anak berlarian dan menabrak Khiren hingga jatuh menimpa Revan. Adegan itu di saksikan banyak orang dan itu membuat Khiren kesal dan malu apa lagi dia menyadari ada yang mengambil gambarnya.
“Ayo bangun!” Khiren membantu Revan bangun dan menariknya keluar dari kerumanan.
“Kamu tidak apa? apa?” Tanya Khiren yang menyadari kalau tangan Revan sedikit tergores saat jatuh ke tanah bersamanya.
“Mmh” Revan tersenyum dan sedikit mengangguk.
Khiren tidak langsung percaya dengan Revan yang terlihat sok kuat di depannya itu, Khiren menepuk punggung Revan dengan sedikit tenaga dan Revan langsung meringis kesakitan.
“Au! Sakit!”
“Tadi bilangnya gak papa! Kalau sakit, yaudah bilang sakit! Itu aja kok repot! Ayo pulang!”
“Tunggu! Kita belum bermain dan kamu belum ke rumah hantu!”
“Itu tidak penting sekarang, yang penting kamu pulang dan istirahat, aku tidak ingin kamu kenapa-napa paham!” Khiren terlihat sangat khawatir.
Revan mengangguk patuh dan Khiren mengganti posisinya dengan Revan karena Khiren khawatir kalau sakit Revan akan parah kalau dia yang menyetir.
Bersambung......
Jangan lupa untuk memberikan dukungan kalian untuk novel ini dengan meninggalkan like, vote dan reting 5. Selamat membaca
__ADS_1