
“Hallo! Dim, Khiren di bawa sama orang-orang Ayahnya, gimana ini?”
“Kamu tenang dulu! Dia hanya di bawa pulang jadi, kamu tidak perlu khawatir, oke! Kami akan ke sana setelah urusan kami disini selesai.”
“Baiklah kalau begitu!”
Mereka mengakhiri telpon dan Devi merasa sedikit lega setelah mendengar penjelasan Dimas.
“Dim, siapa yang telpon?”
“Mantan tunangan kamulah! Dia bilang Khiren di paksa pulang ke rumah besar!”
“Serius? Ini udah mah udah gak bisa di…”
“Di biarin?” Lanjut Aldo menyambung ucapan Farhan.
“Mana ada, maksud aku di ikut campuri! Kalau udah ke Jepang, gue sih angkat tangan!”
“Emm, gue juga setuju sama pemikiran lo Far! Yang lain gimana?”
“Kita lihat aja perkembangannya, sekarang kita kembali saja pada aktivitas masing-masing, gimana?”
“Yoilah! Gue mau balik ke kantor.” Ucap Aldo yang sudah terlalu lama cuti.
“Gue, mau ke rumah sakit Korea, mereka meminta gue kembali kerja di sana segera karena banyak pasie yang meminta gue tangani.”
“Baru tau gue lo mor, kalau lo cukup populer.” Ryo tertawa mengejek.
“Lo ragu sama kemampuan gue?”
“Entahlah, dokter oprasi pelastik kayak lo, ya… em, boleh lah di bercaya, cukup meyakinkan meski tinggi lo di bawah rata-rata.”
“Di bawah apa?” Morlin panging emosi ketika ada yang membahas tinggi badannya karena dia adalah anggota paling pendek diantara anggota 7 bersaudara.
“Sudahlah! Kalian ini seperti anak kecil saja! Ayo keluar beli bahan untuk di masak sana!” Perintah Dimas yang selalu mendominasi kelompok itu.
__ADS_1
“Siap Koki!”
Akhirnya mereka semua kembali ke aktivitas masing-masing, semua kembali bekerja dan Dimas dan Morlin kembali ke korea untuk bekerja di rumah sakit sedangkan Farhan mengurus perusahaan agensi model di perusahaan Ibunya, Aldo kembali ke perusahaan Bunda, dan Ryo dan Kiki memutuskan untuk berkeliling Asia untuk mencari inspirasi untuk usaha yang akan mereka bangun bersama.
***
“Khiren, ayo makan sayang! Jangan merajuk kayak gitu!”
Khiren tidak merespon hingga akhirnya Ayahnya ikut angkat suara.
“Khiren! Sebaiknya kamu makan sekarang atau jangan pernah makan seumur hidupmu!” Ucap tegas Ayahnya.
“Baik kalau itu keinginan kalian!” Khiren tidak peduli dengan ucapan kedua orang tuanya yang mengurung dia di rumah dan mengacaukan semua kerja kerasanya selama ini hanya karena Khiren belum bisa memiliki hubungan yang baik dengan Revan.
“Ya sudah kalau itu maumu! Bun, Ayo kita pergi saja!” Ayah benar-benar kesal dengan tingkah Khiren yang mulai melawannya.
Sudah dua hari dan Khiren tidak keluar kamar, semua orang sangat khawatir di tambang tidak terdengar pergerakan apapun di kamar. Revan di panggil untuk menemui Khiren, sebuah rencana untuk membuat dua sejoli menjadi dekat pun di mulai.
‘Tok tok tok’ Revan mengetuk pintu kamar Khiren.
Lalu terdengar langkah kaki menuju pintu, lalu terdengar suara kunci di buka. Saat pintu di buka terlihat seorang wanita tinggi, putih dan juga wajahnya terlihat sangat pucat, dia terlihat sangat lemah.
“Apa yang terjadi pada kamu?” Revan langsung menangkap tubuh wanita yang benar lemas tak berdaya.
“Pelayan! Ambilkan makanan untuk Khiren!” Perintah Revan yang memapah Khiren ke tempat tidur.
Beberapa pelayan datang dan membawa makanan untuk Khiren, mereka menyajikan di sebuah meja yang ada di dekat sofa. Saat semua pelayan pergi, Revan mengambil salah satu makanan dan membawanya ke tempat tidur.
“Khiren, ayo bangun dan makan?!”
Khiren dengan perlahan mencoba bangun duduk dengan tegap di tempat tidur. “Sini aku makan sendiri!” Saat akan mengambil makanan dari tangan Revan, Khiren yang lemas tidak sengaja menjatuhkan makan hingga jatuh kelantai dan piring pun pecah, semua berantakan.
“Tu kan, aku bilang juga apa! Biar aku saja yang menyuapi kamu!” Revan kembali mengambil makan yang lainnya dan mulai menyuapi Khiren.
Revan nyenyuapi Khiren dengan lembut dan hati-hati, saat ada makanan yang menempil di sudut bibir Khiren dia berusaha untuk mengelap dengan tangannya tapi, lidah Khiren lebih cepat dan tak sengaja mengenai tangan Revan. Seketika wajah Revan memerah tapi, Khiren tidak bereaksi apapun bahkan dia tidak terlihat peduli dengan kejadian itu.
__ADS_1
“Ada apa?” Tanya Khiren yang menyadari ada yang aneh pada ekspersi Revan.
“Ah, itu… Lupakan saja, ayo lanjut makannya!” Revan kembali menyuapi Khiren, “Heu hufft!” Dia sedikit menarik nafas untuk menenangkan hatinya yang sedang bergelolak.
Setelah makan Khiren kembali istirahat, Revan menyelimutinya dan menunjukkan kepedualian dan perhatiannya dengan merawat Khiren dengan sungguh-sungguh.
“Kalau kamu sudah sehat nanti aku bawa keluar jalan-jalan, gimana?” Ujar Revan
“Beneran? Kamu gak lagi bercanda? Gimana sama Ayah?”
“Ayah dan Bunda ke Inggris dan mereka akan menetap di sana hingga bayi mereka lahir.”
“Oh, ternyata aku benar-benar di gantikan! Belum apa-apa mereka seperti tidak peduli lagi denganku. Tolong tinggalkan aku sendiri!”
“Baiklah! Besok aku akan kembali, sekarang istirahat dengan tenang, ya?!”
“Iya”
Saat Revan benar-benar telah pergi dan beberapa menit saat Khiren sudah mulai lebih baik dia bangun dari tempat tidur dan mencari handphone lamanya yang dia sembunyikan di salah suatu tempat di kamar itu. Semua lemari di buka, laci dan juga tempat-tempat yang memungkinkan untuk Khiren menyembunyikan barang-barangnya, lalu dia menemukan sebuah kotak yang berisi benda-benda lama miliknya yang di letakkan di atas lemari. Khiren mengambil dan membuka kotak berwarna merah tua itu, isinya adalah sebuah handphone jadul dan juga beberapa foto musim dingin dan musing semi saat Khiren dan 6 anggota 7 bersaudara lainnya sedang liburan.
“Wah… wajah kak Dimas dari dulu sampai sekarang tetap saja tampan dan terlihat dingin.” Lalu dia menemukan sebuah foto dimana dia sedang duduk bersama dengan Farhan dan wajah Kiki terlihat marah. Khiren baru menyadari kalau ada pertarungan sengit antara teman-temannya saat mereka masih remaja, ketika Khiren belum mengenal Vano dia masih anak yang selalu patuh pada aturan dan bersikap hangat pada semua orang.
“Lupakan itu! Toh, itu sudah cukup lama untuk di permasalahkan sekarang!” Khiren mencoba mengaktifkan handphone nya dan ternyata benda itu masih bisa di gunakan untuk melakukan panggilan.
“Aku harus menghubungi Mex, dan meminta dia untuk segera menjemputku dari tempat ini.”
“Hallo! Mex, aku di Jepang sekarang, kamu harus membantu aku untuk keluar dari rumah besar tanpa sepengetahuan anak buah Ayahku!”
“Baik master! Kami kan segera menjemput Anda!”
Setelah menghubungi Mex Khiren merasa cukup lega karena dia memiliki peluang untuk bisa keluar dari tempat itu. Tadinya dia ingin meminta bantuan dari teman-temannya hanya saja mereka tidak bisa diandalkan jika itu berhubungan dengan Tuan besar. Semua langsung menyerah sebelum mencoba, Khiren tidak bisa menyelahkan mereka karena yang mereka hadapi dan mereka dapatkan sebagai akibat ikut campur dalam urusan keluarga Khiren adalah kematian dan kesengsaraan untuk keluarga dan kerbat mereka.
Bersambung…
Jangan lupa untuk memberikan dukungan kalian untuk novel ini dengan meninggalkan like, vote dan reting 5. Selamat membaca
__ADS_1