Love Scenario V2

Love Scenario V2
Diculik


__ADS_3

Beberapa bulan setelah itu akhirnya film mereka siap untuk di luncurkan. Setelah hari pertama tayang, film mendapat reting tertinggi di tambah jumlah penonton ternyata melebihi target awal mereka, untuk merayakan keberhasilan peluncuran film pihak perusahaan membuat acara di sebuah restauran terkenal di korea. Semua orang menikmati pesta dengan bernyanyi dan menari bersama, hal-hal konyol terjadi di tempat itu tapi semua jadi bumbu indah dalam pesta malam yang luar biasa itu.


“Kamu tidak minum?” Tanya Ray yang menghampiri Khiren yang sedang jadi pengamat dari pesta itu.


“Aku alergi anggur dan tidak suka bau alcohol apapun itu!”


“Kalau begitu minum air putih ini aja!?” Ray memberikan gelas berisi air putih pada Khiren.


“Terima kasih!” Khiren meminum minuman yang di berikan Ray tanpa rasa curiga sedikitpun.


“Ngomong-ngomong asisten imut mu kemana?”


“Hari ini dia libur”


“Kalau gitu kamu pulang dengan siapa nanti?”


‘dring dring dring’ handphone Khiren berbunyi dan dia langsung mengangkatnya tanpa memperdulikan ucapan Rai.


“Hallo! Iya Kak Dimas, aku pulang sekitar satu jam lagi, nanti kalau sudah selesai aku kabari saja! Kak jangan khawatir aku bisa pulang sendiri, kok!” ucap Khiren.


“Baik kalau begitu, kami tunggu di rumah, ya?”


“Eumm”


“Oh iya, tadi kamu nanya apa?”


“Kamu pulang sama siapa?” Ray kembali mengulang pertanyaannya.


“Aku bawa mobil sendiri tadi”


“Ternyata begitu, ya sudahlah!” Ray terlihat kecewa lalu segera pergi menjauh dari Khiren.


Beberapa jam kemudian, acara selesai tepat waktu sesuai jadwal yang telah di tentukan, beberapa tamu mulai pulang dari tempat itu. Khiren keluar paling akhir setelah sedikit berbincang dengan Lee dan juga penulis naskah filmnya. Ketika dia akan masuk ke dalam mobil seorang dari belakang memukulnya, sayangnya Khiren terlalu kuat untuk bisa langsung tumbang dengan sekali pukulan yang tidak seberapa untuknya itu. Dia berbalik dan akan membalas memukul pria bertopeng itu.

__ADS_1


“Dasar pecundang! Cuma bisa nyerang orang dari belakang!” Saat Khiren akan menyerang seorang dari arah yang berbeda membiusnya dan membuat dia benar-benar kehilangan kesadaran dan jatuh menghantam lantai.


Khiren yang sudah tidak sadarkan diri di bawa masuk ke dalam mobil hitam oleh beberapa orang. Kejadian itu ternyata di lihat oleh Lee yang ke betulan ingin mengambil mobil yang di parkir di dekat mobil Khiren, Lee tidak bisa mengejar penculik itu karena mereka sudah terlalu jauh, lalu dia menghubungi Dimas dan memberitau kalau Khiren di culik di tempat mereka mengadakan pesta. Dimas langsung bergerak mencari keberadaan Khiren dengan bantuan anak buah Khiren, sayangnya mereka kehilangan jejak dan tidak tau harus kemana mencari Khiren.


“Apa yang harus kita lakukan?” Aldo mulai panic.


“Gue juga gak tau! Cari solusi lah Dimas!”


“Ini aku juga lagi mikir! Kalian punya saran gak Mor? Rey?”


“Sorry, gue gak punya!” Rey terlihat putus asa.


“Gimana kalau minta bantuan si kambing?”


“Maksud lo tu yang mana sih Mor? Si Vano atau si kamperet Alfin?”


“Alfin? mending gak usahlah! Kalau Vano, masih bisa di pertimbangkan”


“Oke, gue langsung hubungi Revan aja, gimana?”


“Hello! Revan, Khiren di culik dan kami akan meminta bantuan Vano untuk menemukan Khiren, gue cuma mau kasih tau itu aja sih!”


“Kalian jangan bercanda!”


“Lo kira kami lagi bercanda, ya? Gak ada untungnya gue bercanda sama lo, udahlah” Aldo memutuskan telponnya.


“Gimana?” Tanya Farhan


“Anak itu malah gak percaya, lupain itu! Sekarang ayo kita buat tim untuk mencari Khiren, dan soal Vano. Gue rasa kita gak usah libatin dia deh! Kita gunakan bantuan alat pelacak yang di buat Alex dan di pasang di hp sama tas Khiren aja, gimana?”


“Oke, gue setuju! Sekarang lo sama Alex dan Kiki cari lewat pelacak yang kalian pasang itu, selebihnya kita telusuri tempat-tempat dan orang yang bica di curigai sebagai penculinya, oke!”


Mereka mulai bergerak setelah membagi kelompok untuk mencari Khiren.

__ADS_1


***


Suara burung berkicau di pagi hari di kota kecil di yang begitu tenang, dari celah-celah garden berwarna biru muda merambat cahaya-cahaya matarai yang mulai terbit dan membangunkan putri tidur yang lelap dalam mimpi indahnya. Gadis dengan paras yang amat cantik perlahan mulai membuka matanya, bulu mata lentiknya begitu sangat indah, mata biru tuanya mulai menulurusi seluruh penjuruh yang terlihat olehnya, tempat yang begitu asing dia merasa tidak nyaman. Saat dia mencoba bangun dari tempat tidur, dia tertahan dengan inpus yang membuat dia marasa sedikit nyeri setiap kali menggerakkan tangannya.


“Dimana tempat ini?” lalu tiba-tiba kepalanya terasa pusing, dia memengang kepalanya yang semakin sakit saat dia mencoba mengingat apa yang sebenarnya terjadi padanya.


“Aaaa…” Dia berteriak karena kepalanya terasa semakin sakit dan seakan siap meledak jika dia memaksa mengingatnya.


Beberapa orang mulai masuk ke dalam ruangan itu, dokter dan para perawat mulai memeriksa keadaan wanita itu.


“Tenang nona! Biar kami memeriksa, Anda!” Pinta seorang suster yang berusaha menenangkan wanita terus memberontak tiap kali di sentuh.


Seorang pria lalu masuk karena tidak tahan mendengar jeritan rasa sakit dari wanita itu, dia berlari dan memeluknya, dia mencoba menenangkan wanita itu yang terus memberontak. Rasa hangat yang di berikan oleh pria itu membuat dia merasa lebih tenang dan berhenti memberontak. Pria itu mulai berbisik dan membuat wanita itu terdiam, lalu seorang suster memberikan suntikan bius pada inpus wanita itu.


“Hinata, tenangkan dirimu! Semuanya akan baik-baik saja, percaya padaku!” Ucap pria itu dengan lembut dan membaringkan Hinata ke tempat tidur dengan perlahan.


Kesadaran wanita itu perlahan mulai memudar dan matanya mulai menutup.


“Apa yang terjadi pada Hinata-ku?”


“Maafkan kami tuan, ini di luar kendali kami, mungkin saja ini efek dari hipnotis yang di lakukan pada nona dan di tambah dengan obat yang di berikan padanya. Kami sangat menyarankan untuk mengurangi dosis atau jika perlu kita hentikan saja obatnya, kalau di teruskan mungkin akan berakibat fatal pada nona” Ucap Dokter yang menangangani Hinata.


“Lakukan apa saja asal dia tidak menderita!”


“Tuan, saran kami saat nona sadar kembali, tuan harus ada di sampingnya dan mulai menjalankan rencana berikutnya, agar yang dia ingat adalah tentang tuan saja.”


“Kalau begitu, kalian bisa kembali sekarang! Aku akan menjaganya di sini”


Semua orang keluar dari kamar itu dan meninggalkan pria berkulit putih dengan wajah cantiknya, ia duduk di sofa sambil terus memerhatikan Hinata yang masih tertidur karena pengaruh obat bius.


“Hinata, sebantar lagi kita akan bersama, aku akan menjagamu dan tidak akan melepas mu lagi! Tolong terima aku menjadi kekasihmu, cinta kita akan abadi seperti janji kita waktu kecil dulu.”


Bersambung…

__ADS_1


Jangan lupa untuk memberikan dukungan kalian untuk novel ini dengan meninggalkan like, vote dan reting 5. Selamat membaca


__ADS_2