Love Scenario V2

Love Scenario V2
Episode 7


__ADS_3

Revan dan anggota 7 bersaudara lainnya semakin akrab dan bahkan mereka bermain bersama seperti teman lama. Hati Khiren hampir goyah melihat Revan bisa bergaul dengan teman-temannya dan Revan seperti tidak berniat melarang hubungan pertemanan Khiren dengan anggota 7 bersaudara lainnya.


“Udah hampir jam 11 nih.” Kiki terus melihat jam dan beberapa kali menguap.


“Udah ngantuk kita tidur aja, yuk?” Aldo hampir tidak bisa membuka matanya karna selalu mengantuk.


“Kamar kan ada 7 buah jadi, kita punya kamar masing-masing. Aku duluan ya?” Morlin langsung pergi meninggalkan mereka.


Satu-persatu semua kamar terisi dan hanya tinggal satu kamar untuk Revan dan Khiren.


“Kita tidur di kamar utama.” Khiren menarik tangan Revan yang masih tidak bergerak dari tempat duduknya.


Sampai di kamar Revan masih seperti orang linglung, dia menatap Khiren yang langsung naik keranjang sedangkan dia masih berdiri di depan tempat tidur.


“Cepat tidur di sini!” Khiren terus menepuk-tepuk bantal di sebelahnya.


“Apa kamu gak masalah?”


“Cepat!” Nada bicara Khiren semakin meninggi saat Revan masih tidak bergerak.


Revan dengan ragu-ragu naik ke atas ranjang dan tidur di samping Khiren. Revan tidak bisa tidur karena jantungnya terus berdetak dengan sangat kencang saat dia menoleh melihat Khiren yang tidur di sebelahnya.


“Aku tidak bisa tidur!” Khiren  bangun dan menoleh kearah Revan. “Peluk aku!” Dia bicara dengan nada memerintah.


“Hah!” Serentak Revan kaget mendengar ucapan yang tidak di duga dari mulut seorang Khiren. Dia terdiam dan tidak bergerak dari tempat tidurnya.


“Kalau kamu gak mau? Kalau gitu aku ke kamar kak Dimas aja.” Ucap Khiren dengan nada setengah kesal.


“Jangan!” Revan menarik Khiren yang hampir turun dari ranjang dan terjatuh di pelukan Revan. “Sekarang sudahkan?” bisik Revan dengan lembut sambil memeluk erat Khiren. Khiren hanya mengangguk dan tertidur lelap dalam pelukan Revan.

__ADS_1


Ketika mentari sudah mulai muncul dan cahayanya merambat masuk melewati tirai-tirai biru yang tidak tertutup rapat. Revan terbangun dan tangannya mencari tubuh seorang yang di peluknya semalam. Saat matanya terbuka dia tidak melihat ada orang di ruangan itu selain dirinya.


“Mungkin dia sedang memasak, sebaiknya aku segera mandi saja.” Revan mengambil handuk dan segera masuk ke kamar mandi.


Beberapa menit kemudian Revan segera turun dan langsung menuju ke dapar. Saat berada di dapur dia hanya melihat dua orang pria tinggi yang satu berkulit putih sedang memasak dan yang berkulit sedikit kecoklatan sedang memotong beberapa jenis sayur.


“Apa kalian tau Khiren ada dimana?” Revan bicara tanpa basa-basi dan sedikit mengagetkan Dimas dan Kiki yang sedang fokus dengan tugasnya.


“Gak tau! Kamu tau gak, Dim?” Kiki melanjutkan pekerjaannya.


“Dia pergi pagi-pagi buta, katanya mau ke bandara karena nanti siang dia ada pemotretan di Bali. Dia titip pesan kalau gak ada yang boleh pergi sebelum makan. Jadi kamu wajib makan dulu sebelum pergi.” Dimas mengambil sedikit kuah masakannya dan mencicip “Udah pas? coba kamu rasa, Ki!” Dimas menyuapi Kiki yang masih sibuk memotong cabe.


“Emm, enak! Udah boleh angkat tu.” Kiki mulai tidak sabar melahap masakan Dimas.


Dimata Revan, Dimas dan Kiki sedang bermesraan layaknya kekasih dan itu hampir membuatnya muntah. Dia segera menjauh dari mereka dan pergi ke ruang tamu dan dia bertemu dengan Farhan, Ryo, dan Aldo yang sedang bermain dengan smartphonenya.


“Al, lo lawan yang sebelah kiri aja. Farhan lindungi gue dong. Aduh kalian lemot banget! Musuh udah menyerbu tu.”


“Bukannya kalian ada 6 orang, kan? Dimana yang satunya?”


“Maksud kamu Morlin? Dia pergi ke Bali bareng Khiren. Hari ini adalah jadwal mereka berdua dan hari ini dia ada janji dengan pacarnya di Bali. Mereda pulang dalam 2 atau 4 hari lagi, kalau gak salah sih? Woi! Kalian bisa main gak sih pertahanan lemah banget musuh dah masuk benteng. Kalau kayak gini gue gak mau main lagi.” Aldo sangat terlihat kesal dan dia mematikan handphonenya lalu pergi dari tempat itu.


“Dasar kam***t! Dia main keluar aja padahal ini udah nanggung.”


Farhan dan Revan hanya melihat dua anak yang emosi hanya karena game dan sedikit menahan tawa saat melihat Ryo yang emosi melempar handphonenya lalu memungutnya kembali sambil menciumnya dan dia terlihat sedih karna handphone keluaran baru hadiah dari pacarnya harus rusak karna emosi.


“Kalian ngapain di situ! Cepat kesini dan ikut makan!” Perintah Dimas sambil tersenyum ramah.


“Siap bos!” Farhan jadi orang pertama yang lari untuk makan.

__ADS_1


***


Beberapa hari kemudian Khiren pulang dangan wajah masamnya, membanting pintu kamar dan mengurung diri hampir setengah hari. Semua orang mencoba membujuknya makan bahkan dia tidak mengizinkan siapapun mendekati kamarnya.


“Khiren kamu kenapa?” Aldo sangat cemas dengan perubahan sikap Khiren setelah pulang dari Bali.


“Jangan berisik! Aku tidak ingin di ganggu tolong menjauh lah!” Untuk pertama kalinya Khiren membentak Aldo.


“Kami berjanji tidak akan mengganggu kamu tapi, kamu makan, ya? Kami akan pergi, ini makanannya ada di depan!” Aldo dan yang lain pun pergi.


Beberapa menit kemudian Revan datang setelah Dimas memberitahu situasi yang terjadi setelah Khiren pulang dari Bali.


“Dimana dia?” Revan terlihat sangat khawatir


“Masih di atas” Dimas terlihat sangat putus asa.


“Van, kamulah harapan terakhir kami. Semua cara sudah kami lakukan untuk membuat dia makan. Jangankan makan dia tidak keluar kamar setelah sampai di rumah.” Farhan terlihat cemas dan sangat putus asa.


“Baiklah akan aku coba.” Revan segera pergi ke kamar Khiren. Dia melihat di depan pintu makanan yang tidak di sentuh Khiren. “Khiren! Aku tau kamu di dalam, tolong buka pintu! Kamu seharian tidak makan. Semuanya cemas karena kamu tidak keluar kamar. Khiren!”


“Jangan ganggu aku! Aku ingin sendiri!”


Tak berapa lama kemudian seorang pria tinggi, berkulit, dengan rambut coklat menerobos masuk dan tidak memperdulikan 5 anggota 7 bersaudara yang menatapnya sinis. Dia melangkah dengan percaya diri, dia berhenti di depan pintu kamar Khiren dan berdiri tepat di samping Revan. Dia mengetuk dengan tiga kali ketukan dan itu terdengar seperti sebuah isyarat.


“Putri kecil! Aku sudah di depan pintu!” Wajah orang itu terlihat ceria seakan dia sedang menanti kekasihnya membuka pintu.


Tak butuh waktu lama dan pintu pun terbuka, pria masuk tanpa hambatan dan Revan masih tercengang melihat Khiren dengan mudahnya membuka pintu untuk orang asing itu. Revan sangat penasaran siapa pria yang begitu berani menerobos rumah tanpa bicara apapun dan Khiren seperti menganggap orang itu special di bandingkan teman-teman yang lain.


Bersambung…

__ADS_1


Terima kasih telah manjadi pembaca setia dari setiap novel saya, saya sangat berharap kalau kalian juga memberi dukungan dengan memberi like dan juga memfavoritkan novel ini. Satu dukungan kalian sangat berarti bagi kami para penulis, salam hangat dari penulis novel love scenario.


__ADS_2