
Malam pun tiba, Khiren yang menunggu Revan bersiap-siap akhirnya tanpa sengaja tertidur.
“Bagaimana bisa dia tetap terlihat anggun saat sedang tertidur begini?” Pikir Revan yang memandangi Khiren sedikit lebih dekat. Saat dia akan menyentuh wajah Khiren, tiba-tiba saja Khiren terbangun dan langsung melihat kearah jam pada handphonenya.
“Cepat bergerak, waktu kita tidak banyak!” Khiren segera bangun dan menuju kaca untuk melihat apa riasannya masih baik-baik saja setelah tidak sengaja tertidur.
“Ayo pergi!” Khiren menarik tangan Revan untuk segera keluar dari kamar hotel dan menuju ke tempat reunian anak sekolah Khiren.
Acara reuni yang di adakan di aula hotel tempat Khiren membawa Revan membuat mereka tidak terlalu perlu berlari sekuat tenaga untuk mengejar waktu.
“Khiren!” Pikan yang merupakan seorang panitia sekaligus teman Khiren menghampiri Khiren yang baru saja keluar dari lift.
“Eh, apa-apaan ini?”
“Ini darurat banget, Khi! Pengisi acara untuk pembukaan telat karena ada masalah di jalan, please tolong isi acara pertama, ya?!”
“Loh, mau diisi apa?”
“Kebetulan ada Vano, kalian kan bisa menampilkan tarian yang gak jadi kalian ikut sertakan dalam lomba kesenian dulu karena dia mendadak pindah!”
“Lah itu udah lama banget kali, mana mungkin dia ingat?!”
“Katanya dia ingat kok, ayolah Khi!”
“Iya iya deh, tapi kamu urus pasanganku, pandu dia di tempat duduk yang tidak terlalu dekat atau jauh dari panggung!”
“Sip sip, sekarang ayo ke belakang panggung!” Lalu Khiren di bawa ke belakang panggung untuk bersiap-siap menunjukkan penampilan pertamanya.
Setelah mengantar Khiren Pikan kembali untuk mengantar Revan ke tempat duduk yang sesuai dengan permintaan Khiren.
“Aku pikir dia meninggalkanku begitu saja” Pikir Revan yang mengikuti Pikan.
“Anda duduk di sini dan setelah Khiren selesai dia akan segera menemui anda disini!” Ucap Pikan sopan.
Lalu terdengar dari beberapa kerumunan penonton yang duduk di berbagai sudut.
“Dengar gak, katanya penampilan pertama adalah tarian pasangan dari romeo dan Juliet kita!”
“Maksud kamu Vano dan Khiren?”
“Ya iyalah, siapa lagi kalau bukan dua orang itu. Lagian sekang Vano udah berubah total, dia udah tampan maks dan yang terpenting dia sekarang model internasional, kita harus mendukung kisah cinta mereka kali ini!”
“Iya, aku setuju, tadi aku juga lihat dia, di belakang panggung! Ayo kita jadi pendukung Vano dan Khiren!”
“Iya iya”
Mendengar ocehan yang tidak ada habisnya memuji dan juga menjodohkan Khiren dengan pria bernama Vano, membuat hati Revan menjadi panas, dia benar-benar kesal mendengar hal itu. Lalu saat dia melihat penampilan Khiren dan Vano di atas panggung dia semakin panas, terlebih saat ada adegan dimana Vano hampir mencium bibir Khiren dan saat Vano memeluk Khiren dari belakang dengan mesranya. Revan rasanya akan langsung menghancurkan gedung itu dan menghabisi Vano tapi, sayangnya dia tidak bisa lakukan itu untuk saat ini karena dia ingin Khiren hanya melihat dia dari sisi yang baik saja.
Saat penampilan Khiren selesai Revan segera menuju ke belakang panggung dan menemui Khiren di ruang make up, saat Khiren masuk pintu segera di tutup oleh Revan.
__ADS_1
“Apa yang kamu lakukan?” Khiren sedikit kaget saat pintu di tutup secara tiba-tiba.
Wajah Revan terlihat amat kesal dan dia tidak bicara sepatah katapun selain menatap kearah Khiren tanpa bicara.
“Kamu sebanarnya kenapa? Kamu marah, ya?” Tanya Khiren yang tidak paham dengan sikap diam dan ekspresi kesal Revan yang terlalu tiba-tiba dan tanpa alasan yang bisa Khiren mengerti.
“Siapa itu Vano?”
Satu kalimat yang baru saja di ucapkan Revan membuat Khiren tersadar kalau Revan sebanarnya sedang cemburu pada dia dan Vano. Khiren mencubit pipi Revan lalu tersenyum.
“Dia bukan siapa-siapa sekarang, lagian kamu kan satu-satunya priaku jadi, apa yang kamu khawatirkan?”
Mendengar kata ‘satu-satunya priaku’ membuat perasaan Revan menjadi lega dan dia juga merasa debaran jantungnya semakin kencang dan mukanya terasa memanas.
“Apa yang terjadi padaku?” Pikir Revan.
“Sekarang patuh lah dan kembali ke tempat duduk mu, aku akan segera menyusul!”
“Tidak, aku tidak akan kembali kecuali kamu mencium ku!”
Lalu Khiren mencium Revan dan segera mendorongnya keluar dari tempat itu.
“Keluar kalian berdua!” Ucap Khiren tegas dengan mengarah kearah baju-baju yang digantung.
“Eh, ketahuan deh! Kok kamu bisa tahu kalau kami ada di sini sih, Khi?”
“Baik, bos!”
Lalu ketika Khiren akan keluar dari ruangan itu dia berpapasan dengan Vano.
“Vano! Bagaimana keadaanmu?”
“Aku baik! Lalu bagaimana dengan kamu?”
“Ya sama saja!”
“Kenapa kamu tidak menghubungiku beberapa bulan ini?”
“Memangnya kenapa? Bukannya kamu sudah punya pacar, sudahlah! Kamu udah mendapat kursi untukmu?”
“Belum”
“Kalau begitu bergabunglah denganku!” Ajak Khiren.
Lalu mereka menuju ke tempat duduk Khiren dan Revan langsung menyerang Vano dengan tatapan sinisnya.
“Selamat malam tuan Revan”
“Mmm” Revan acuh dan bersikap dingin pada saingannya itu.
__ADS_1
“Aku dengar kamu menolak bekerja sama dengan pihak JRan?”
“Ya, karena aku tidak tertarik dengan tawaran mereka, lagian perusahaan itu masih terlalu baru, terlebih saingan mereka juga memintaku untuk bekerja sama dalam hal yang sama”
“Bagaimana kalau harganya naik? Apa kamu tertarik untuk bergabung di JRan?”
“Ini bukan soal harga tapi soal kualitas, aku tidak yakin JRan itu bisa cocok dengan aku.”
“Bagaimana kalau kamu mencoba produk dari mereka dulu baru memutuskan akan bekerja sama dengan siapa pada akhirnya?”
“Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan hal itu?”
“Aku hanya berharap kamu bisa bekerja sama dengan perusahaan yang akan aku pimpin nantinya.”
“Apa? Kamu gak bercandakan?”
“Kenapa terkejut? Apa kamu tidak tertarik kalau aku menambah angka nolnya di dalam kontrak itu?”
“Bukan masalah itu, kalau kamu yang minta meski tidak di bayarpun aku pasti akan bersedia.”
“Benarkah? Ngomong-ngomong pasanganmu mana?”
“Itu dia di sana!” Tunjuk Vano pada seorang wanita yang sedang bercakap-cakap mesra dengan orang lain.
“Apa kamu tidak masalah dia seperti itu dengan pria yang di sana?”
“Apa masalahanya, diakan kakakku, lagian dia itu single!”
“Kakakmu? Serius?” Mendengar hal itu Khiren merasa sedikit lega di dalam hatinya.
“Bukannya dia sudah menikah dan kenapa dia terlihat lebih muda?”
“Itu karena setelah bercerai dia melakukan banyak operasi pelastik agar dia tidak teringat lagi dengan kisahnya dengan mantan suaminya yang tidak tahu diri itu.”
“Oh, baguslah kalau gitu!”
“Apanya yang bagus?” Revan tiba-tiba menyela percakapan Khiren dan Vano.
“Tidak ada, aku cuma bilang baguslah kalau dia sudah move on dari pria yang tidak bertanggungjawab itu! Kalau begitu, aku tunggu kerja sama anda tuan Vano di perusahaan JRan.
“Tentu saja”
Lalu mereka berjabat tangan di hadapan Revan yang masih mencoba menahan amarahanya karena dia merasa diabaikan saat Vano ada diantaranya dan Khiren.
Bersambung…
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like, vote, dan reting 5 untuk novel ini.
SELAMAT MEMBACA
__ADS_1