
Keesokan paginya Khiren terbangun dengan keadaan kaki di rantai di tempat tidur.
“Apa yang terjadi? Sialan?! Mereka melakukan ini saat aku tidak sadarkan diri”
“Siapapun tolong!”
“Hallo!”
“Apa ada orang di luar?”
Khiren terus saja berteriak sekencang-kencangnya tapi tidak ada seorang pun yang datang ke tempat itu.
“Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku tidak bisa keluar dari tempat ini, jangankan keluar bahkan aku tidak bisa melangkah dari tempat tidur ini”
Khiren hanya bisa pasrah pada keadaannya yang sekarang, dia hanya bisa duduk dia dan menunggu seseorang datang ke kamar itu. Berjam-jam berlalu, dia tidak tahu apa itu pagi atau malam hari, lalu terdengar langkah seseorang yang datang kearah kamar itu.
“Apa ada orang diluar? Tolong aku!”
“Sayang! Apa yang kamu lakukan? Jika kamu terus berteriak seperti itu, tenggorokan mu akan sakit”
“Apa urusanmu! Lepaskan aku!”
“Aku tidak bisa melakukan itu, bagaimana kalau kamu meminta hal yang lain?”
“Kalau begitu, aku ingin kembali ke kamarku sebelumnya dan lepaskan rantai ini!”
“Sayang, aku bukannya ingin melakukan ini padamu tapi, aku tidak bisa percaya dengan kamu untuk kedua kalinya. Kamu pasti akan mencari cara kabur jika aku membawamu ke kamarmu yang dulu, yakan?”
“Tidak, aku tidak akan”
“Sudahlah, jangan pikirkan itu, bagaimana kalau kita makan pagi”
“Aku tidak mau! Aku ingin keluar dari tempat ini!”
“SUDAH AKU KATAKAN TIDAK BISA! Diamlah dan jadi anak yang penurut!” Revan untuk pertama kalinya membentak Khiren dan bersikap tegas padanya.
“Berani sekali kamu membentak ku, kamu pikir kamu siapa?”
“Aku suamimu, apa itu kurang jelas?!”
“Sekarang sih iya tapi tidak untuk kedepannya! Jadi sekarang lepaskan aku”
“Khiren! AKU KATAKAN UNTUK TERAKHIR KALINYA PADA KAMU, AKU SUAMIMU SEKARANG, NANTI DAN SELAMANYA!”
“Jangan bermimpi! Lepaskan aku! Semua ini tidak benar!”
“Apa yang benar, Khiren? Apa benar seorang istri tinggal dengan pria lain? Apa benar seorang wanita yang bersuami dekat dengan pria lain dan tidak pernah peduli dengan perasaan suaminya?”
“Aku tahu kalau aku sudah sangat salah tapi, akan lebih baik kalau kita berpisah dan kamu bisa mencari istri yang sempurna!”
“Berpisah, berpisah dan berpisah saja yang ada di mulutmu! Berhentilah mengatakan hal itu dan makan!”
__ADS_1
“Revan, jangan mempersulit keadaan, biarkan aku pergi dan kamu akan mendapatkan wanita yang lebih baik dariku, aku penuh dengan ketidak sempurnaan dan tidak pantas untuk menjadi seorang istri”
“Aku tidak pernah menuntut mu untuk menjadi sempurna, aku hanya ingin kamu menerima hubungan kita dan belajar mencintaiku dan juga belajar melupakan pria itu!”
“Aku tidak pantas untukmu Revan, ada banyak wanita di luar sana yang lebih layak untukmu dan ketulusan cintamu itu!”
“Kamu pasti tidak akan mengatakan hal itu jika yang di depanmu bukan aku tapi pria itu, ya’kan?”
“…” Khiren hanya diam dan tidak bisa menatap mata Revan.
“Kenapa diam? Aku benarkan?”
“Apa sih yang kamu cari dalam hubungan yang sudah di ujung tanduk ini?”
“Khiren, hubungan ini bagi ku masih menjadi tunas yang sedang tumbuh dan bukan hubungan yang akan hancur. Aku hanya mencari cinta dari istriku, bagiku kamu lah satu-satunya yang tuhan kirimkan untuk aku cintai dan jaga seumur hidupku”
“Jangan bercanda! Kamu bisa menipu wanita lain dengan ucapan romantis mu itu tapi tidak denganku”
“Aku tidak pernah menipu siapa pun, aku mengatakan apa yang aku pikirkan dengan tulus dari hatiku”
“Hahaha…. Sudahlah, aku sudah muak mendengar ocehan mu itu! Jika kamu tidak berniat membebaskan aku dari sini, sebaiknya kamu enyah saja! Aku ingin sendiri!”
“Aku akan pergi kalau kamu mau makan”
“Aku tidak butuh makananmu!” Khiren menjatuhkan nampan yang berisi makan yang dibawa Revan.
Lantai di penuhi dengan pecahan kaca, makanan dan minuman yang di jauhkan oleh Khiren yang sedang marah. Khiren menarik selimut dan kembali tidur, dia sangat kesal hingga tidak tahu harus mengatakan apa lagi untuk menyuarakan kekesalannya.
“Tidak mau!”
Revan meminta kepala pelayan yang ia percaya untuk masuk ke ruangan itu dan membawakan makanan yang lain untuk Khiren.
“Khiren cepat bangun! Kamu harus makan!”
“Aku tidak mau!”
Revan menari selimut yang menutupi wajah Khiren dengan kasar.
“Cepat bangun atau…”
“Atau apa, hah?!”
“Kalau kamu tidak makan sekarang maka tidak akan ada makan siang untukmu nanti!”
“Aku tidak peduli! Tinggalkan aku sendiri dasar sialan!” Khiren merebut selimut dari tangan Revan dan kembali tudur.
Revan sangat lelah menghadapi tingkah Khiren dan akhirnya dia keluar dan meminta seorang pelayan untuk membersihkan tempat itu. Saat Revan berada di kantor dia terus saja memikirkan keadaan Khiren, dia tidak bisa pokus dengan pekerjaannya karena hatinya dan pikirannya berada di tempat Khiren berada.
“Tuan, mobil sudah siap! Metting dengan perusahan MS setenga jam lagi, apa ada ingin berangkat sekarang, pak?” Tanya Ahlong sekretaris Revan.
“Tidak, tolong tunda semua kegiatan dan metting siang ini”
__ADS_1
“Tapi pak, ini klaen penting”
“Saya tidak peduli dan minta supir untuk pulang, saya akan bawa mobil saya sendiri, paham!”
“Tapi pak…”
“Lakukan sesuai yang saya minta atau kamu mau saya pecat?”
“Jangan dong pak, baik saya akan mengurus semuanya”
Lalu Revan segera pergi dari tempat itu. Saat di jalan dia melewati tokoh kue, tiba-tiba saja dia teringat pada Khiren, dia berbalik dan membeli kue coklat untuk istri tercintanya.
“Mungkin dengan ini dia akan berhenti marah” Pikir Revan dengan senyum penuh harapan.
Tek lama setelah itu dia sampai di kediamannya, begitu masuk ke dalam rumah dia di hampiri oleh kepala pelayan yang terlihat sangat khawatir pada sesuatu.
“Ada apa?”
“Nyonya tuan”
“Ada apa dengan dia?”
“Nyonya terus saja menolak untuk makan dan ini sudah hampir lewat jam makan siang”
“Sekarang bagaimana keadaannya?”
“Dia hanya tidur dan tidak bergerak sama sekali untuk menyentuh makanan, pelayan yang ditugaskan untuk memeriksa Nyonya terus mengatakan kalau Nyonya tidak menyentuh makanan itu sama sekali”
“Lakukan segala cara agar dia mau makan?! Apa jangan-jangan makanan yang kalian masak itu tidak enak?”
“Kami menggunakan chef terbaik dari yang terbaik untuk membuat masakan untuk nyonya tapi, nyonya tetap tidak mau makan. Apa yang harus kami lakukan tuan? Apa tuan tahu apa yang makanan yang tidak bisa di tolak oleh Nyonya?”
“Makanan yang tidak bisa di tolak oleh Khiren…” Revan mencoba mengingat-ingat info yang dia dapatkan dari orang misterius waktu itu.
“Ah iya, aku baru ingat tapi… Itu tidak mungkin”
“Apa yang tidak mungkin tuan?”
“Dia hanya tidak bisa menolak kalau itu masakan dari kakak tertua dari tujuh bersaudara yaitu Dimas dan Dimas sekarang sedang di Asia, tidak mungkin aku memanggilnya untuk membuat makanan untuk Khiren”
“Lalu sekarang bagaimana?”
“Biarkan aku yang urus kamu kembali saja bekerja!”
“Baik tuan”
Bersambung…
Jangan lupa meninggalkan jejak bacaannya dengan like, vote, dan kasih reting 5 untuk novel ini.
SELAMAT MEMBACA 😊😊😊😊
__ADS_1