
“Ada apa dengan kamu?” Khiren cukup kaget mendapat ciuman yang tiba-tiba dan tidak bisa di hindari olehnya.
“Kenapa emangnya?”
“Ya aneh aja tiba-tiba kamu turun dan langsung mencium ku, kamu gak lagi sakit atau jangan-jangan kamu masih mabuk?”
“Tidak, aku cukup sadar kok, memangnya salah kalau aku mencium istriku?”
“Salah sih enggak cuma… Lupakan saja, aku harus keatas dan mandi lagi karena aku bau keringat, kamu tunggu saja di meja makan karena aku tidak lama.”
“Baiklah!”
Khiren segera menuju ke kamarnya lalu saat dia membuka pintu dia melihat Vano sedang duduk di tempat tidur Khiren dengan wajah kesal. Khiren sedikit bingung kenapa Vano ada di dalam kamarnya dengan wajah kesal.
“Ada apa, Vano?”
“Aku kesal, aku tadi melihat dia mencium mu, aku tidak menyukainya!”
Lalu Khiren menghampiri Vano dan memberikan sebuah ciuman di kening, “Sekarang seimbangkan?”
Vano mengangguk puas, lalu dia keluar dengan wajah ceria.
“Anak itu, hal gak penting kenapa di ributkan sih?”
Beberapa menit setelah itu Khiren turun dan melihat dua pria yang sedang perang dingin di meja makan. Ada tahu kalau dia tidak mungkin duduk diantara keduanya karena itu Khiren duduk di kursi yang menengahi dua orang itu. Saat makan selesai di sajikan, mereka berebut untuk menyuapi Khiren, Khiren yang mencintai ketenangan sangat kesal dengan ulah dua pria yang kekanakan itu.
“Hentikan! Kalian berdua sebaiknya makan dengan tenang atau setelah hari ini aku tidak akan pernah lagi makan bersama kalian!”
“Maafkan aku” Vano terlihat menyesal, sedih dan kecewa. Wajahnya murung dan itu semakin membuat Khiren merasa terganggu.
“Sudahlah, ayo kita makan”
Setelah itu Khiren berencana untuk berangkat kerja, tapi tiba-tiba dia mendapat panggilan dari Mex, sesuatu terjadi di istana master K. Ada penyerangan dan membuat Samuel yang menjadi bayangan master K terluka.
“Vano, sepertinya kita tidak bisa berangkat bersama. Kamu akan diantar oleh supir saja, aku harus pergi ke suatu tempat dulu.”
“Kemana?” Tanya Revan penasaran.
“Pertemuan bisnis, Revan dari pada kamu hanya berdiam diri di sini sebaiknya kamu jalan-jalan atau kamu bisa menemani Vano di pemotretan hari ini”
“Oke, aku akan mengantar Vano, tapi aku tidak janji akan menemaninya”
“Itu terserah padamu, sekarang aku pergi dulu!” Lalu Khiren langsung pergi dengan terburu-buru.
__ADS_1
“Akhirnya dia pergi! Ehm, Vano pria lemah dengan latar belakang yang tidak bisa di banggakan, sebenarnya apa alasanmu tetap bersama Khiren padahal kamu tahu aku adalah suaminya, dasar sialan!”
“Itu karena aku yang terlebih dulu mencintainya, aku adalah orang yang dia cintai!”
“Itu hanya pikiranmu saja! Dasar gak tahu diri!”
“Jaga ucapan mu!”
Saat mereka hampir baku hantam tiba-tiba kepala pelayan datang dan memisahkan keduanya, “Nona meminta saya mengawasi kalian berdua, jika salah satu ada yang luka maka, nona akan mengusir kalian berdua dari rumah ini, mohon tuan-tuan tidak membuat keributan”
“Sialan!” Lalu Revan keluar dengan wajah kesal.
“Pak, apa supir untuk saya sudah di siapa, kan?”
“Iya, dia sudah menunggu anda tuan Vano!”
“Baiklah, terima kasih kalau begitu”
Sementara itu Khiren sudah berada di istana Master K dan dia langsung menemui Samuel yang mendapat luka tembakan saat penyerangan terjadi. Seorang yang melakukan penyerangan berhasil selamat dan melarikan diri ke hutan, Khiren mengerahkan semua orang untuk menemukan pria yang berasil kabur itu.
“Bawa orang itu hidup atau mati” Perintah Khiren pada pasukan yang siap untuk mencari keberadaan yang melakukan penyerangan hari itu.
“Siap mater!” Semua mulai mencari seluruh penjuru penjuru hutan dalam pulau itu.
Ketika semua orang mencari pria itu, Khiren menemui Samuel yang sedang dirawat. Dokter mencoba mengeluarkan peluru yang menancap di punggung Samuel, wajahnya mencoba menahan rasa sakit saat peluru itu di keluarkan dari tubuhnya dan juga saat lukanya di jahit rasa nyeri itu tetap ada meski sudah di gunakan obat bius.
“Tidak usah, itu miliknya aku tidak akan membuat dia repot karena masalahku.” Ucap Samuel.
“Pergi sekarang!” Perintah Khiren pada mex yang berdiri di dekatnya.
“Tunggu!” Samuel mencoba menghentikan Mex yang akan menghubungi Emilly.
“Diam! Kamu udah sakit banyak bacot pula!” Lalu Khiren duduk dan menepuk pundak Samuel yang baru saja di balut perban.
“Au sakit!”
“Nah tahu sakit kenapa gak mau minta obat dari Emilly?”
“Aku takut dia akan khawatir”
“Itu lebih baik dari pada dia tahu saat kamu hampir sembuh dan dia akan sangat kecewa pada dirinya yang tidak bisa membantu kamu”
Lalu tak lama kemudian seorang dari anggota yang mencari pelaku penyerang datang untuk melapor.
__ADS_1
“Master, orang tersebut mati ketika kami berusaha untuk menangkapnya, ni adalah dua orang yang menembak orang tersebut.”
“Maafkan kecerobohan kami, master”
“Sudahlah, aku sudah bilang kalau bawa dia hidup atau mati, kalau mati yaudah lupain aja. Kalian bisa kembali sekarang.”
“Baik master!”
Lalu tak lama kemudian Emilly datang, dia terlihat panic dan langsung memeluk Samuel yang sedang berbincang dengan Khiren. Emilly langsung menangis melihat balutan di tubuh Samuel.
“Apa ini sakit? Hue heu heu.. Pasti ini sakit kan, padahal kamu seperti ini tapi, aku malah sibuk sendiri di sana. Sekarang minum ini!” Emilly langsung memasukkan pil ke dalam mulut Samuel tanpa persetujuan Samuel.
Samuel terpaksa langsung menelan pil yang sudah di masukkan ke dalam mulutnya.
“Emilly kamu terlalu memaksanya, lihat Samuel sepertinya dia kesulitan untuk menelan”
“Apa? Nih minum!” Emilly yang panic langsung mengambil air yang ada di tangan Khiren dan menyodokannya pada Samuel.
“Cukup Emilly, aku bisa minum sendiri!”
“Hai! Itu minumanku!”
“Ayolah, pelit banget sih jadi orang, lagian udah terlanjut aku minum!” Ucap Samuel lalu dia kembali meneguk minuman itu.
“Memang, ya kamu ini gak ada sopan-sopannya dari dulu! Udalah, aku pergi dulu. Kalian bisa bicara berdua saja!” Khiren akhirnya pergi dan meninggalkan Emilly bersama Samuel.
“Mex, apa kamu berpikir orang itu yang melakukannya?”
“Saya juga berpikir begitu, sekarang apa yang harus kita lakukan?”
“Aku dengar dia punya seorang putra yang dimanjakan, seorang penerus yang tidak sempurna tapi di jaga bak permata itu harus jadi alasan kelemahan Pak tua sialan itu”
“Apa kami harus membunuhnya?”
“Tidak perlu, bawa saja dia padaku, aku akan mengurus sisanya. Tapi, jangan bawa dia ke pulau, aku takut Emilly akan membunuhnya sebelum mencapai tujuan kita”
“Baik, saya akan pergi dan membawa anak itu pada anda”
“Lusa aka nada acara tahunan yang kita adakan untuk menghargai kerja keras setiap perwakilan di perusahaan dan karyawan yang berpestasi, aku ingin kalian mengemumkan kalau aku adalah pewakilan dari master K, agar semua berjalan sesuai rencana”
“Baik, master!”
Bersambung…
__ADS_1
Jangan lupa meninggalkan jejak bacaannya dengan like, vote, dan kasih reting 5 untuk novel ini.
SELAMAT MEMBACA 😊😊😊😊