
“Ayah, ayo kita pulang! Jangan menggangu pengantin baru, kita, ya’kan Monika?” Bunda tertawa sambil melirik kearah Khiren dan Revan.
“Tentu saja, Ayu! Kami pulang dulu, ya nak!”
Khiren dan Revan tetap memperlihatkan kemesraannya di depan kedua orang tua mereka hingga kedua pihak keluarga pulang dan meninggalkan Revan dan Khiren di rumah itu.
“Ayah tiri kamu kok gak datang?”
“Dia sedang sakit, dan tidak bisa pergi. Oh iya, aku ingin menanyakan ini dari tadi, kenapa matamu?”
“Bukan urusanmu! Besok aku akan pergi, selama aku pergi jangan pernah menghubungi atau menerima panggilan dari Bunda, hindari pembicaraan tentang aku, paham?”
“Iya aku tau! Tapi, kamu yakin baik-baik saja?”
“Aku ingin istirahat!” Khiren segera pergi ke kamar dan menghindari Revan yang mulai bertanya-tanya soal matanya yang memerah karena baru selesai menangis.
Revan merasa ada yang aneh dengan Khiren setelah dia keluar mencari angin bersama dengan Bundanya.
“Khiren kenapa kamu terlihat kesal begitu?” Revan menghampiri Khiren yang berbaring di tempat tidur.
“Bukan urusanmu!”
“Kenapa kamu kasar begitu padaku!”
“Aku tidak suka di tipu, paham?”
“Kamu marah soal tadi siang? Ya aku memang salah, aku salah karena aku udah bohong tentang sakit ku tapi aku punya alasan, kok!”
“Sudahlah! Sebaiknya kamu diam saja, aku sudah memaafkan kamu karena aku juga salah! Tapi aku tidak ingin mendengar kata lain kali, paham?”
“Iya, iya aku paham! Sekarang kamu ganti baju saja sebelum tidur, ya sayang?” Ucap Revan lembut.
Khiren lalu bangun dan segera mengganti baju nya dengan baju tidur, Khiren mulai sadar sekasar apapun dia pada Revan, tetap saja Revan bersikap lembut kepadanya. Meski dia sudah mulai tertarik pada sikap Revan, tetap saja di lubuk hati yang paling mendalam ada orang lain yang sudah lebih dulu menguasinya.
Seperti biasa Khiren bangun paling awal menyambut pagi sehatnya dengan sedikit peregangan dan makanan sehat yang selalu dia konsumsi, meski ada banyak pelayan dalam rumah itu, Khiren lebih suka melakukan segala sesuatu sendiri agar dia badannya lebih banyak bergerak. Khiren menyeduh menuman teh herbal yang di campur dengan irisan jahe ke dalamnya, Khiren membawa minuman itu untuk Revan yang masih saja tidak mau lepas dari selimutnya.
“Revan, bangun! Nih minum!” Khiren meletakkan teh itu di meja samping tempat tidur, lalu dia menarik selimut Revan. “Ayo bangun! Jangan males-malesan! Cuti, bukan berarti kamu bisa tidur seharian! Ayo bangun dan berolahraga!”
Revan yang masih mengantuk kembali menarik selimutnya dan meneruskan tidur.
“Kalau gak bangun aku gelitikin, nih!” Khiren mulai menggelitiki Revan hingga Revan bangun karena tidak tahan dengan gelitikan tangan Khiren.
“Iya, iya aku bangun! Ini kan baru jam 7, Biarkan aku tidur sebenar lagi, ya?!” Revan memohon dengan wajah yang masih belum siap untuk bangun dari tidur indahnya.
“Terserah deh! Setengah jam lagi aku pergi, kalau kamu gak mau sarapan bareng aku, yaudah aku langsung pergi sekarang aja!” Dengan nada sedikit mengancam.
Mendengar hal itu serontak Revan berlari ke kamar mandi dan segera turun untuk sarapan bersama Khiren. Saat Revan sudah siap untuk makan, Khiren hanya duduk dan melihat Revan saja.
__ADS_1
“Kamu gak makan, Khi?”
“Khi? Sejak kapan kamu panggil aku Khi? Lupakan itu, makan saja dengan tenang!”
“Tapi, kenapa kamu tidak makan?”
“Aku sudah makan roti tadi sebelum berolahraga, sekarang kamu makan dengan tenang, oke!”
“Tapi..”
“Revan, tolong lah!” Khiren mulai hilang kesabaran dengan Revan yang tidak bisa menutup mulutnya.
Revan mulai makan dengan tenang karena dia tidak ingin membuat Khiren mengamuk karena dia. Tak lama setelah itu sebuah pesan masuk dan Khiren terlihat cukup terkejut dan buru-buru mengambil tasnya.
“Kamu mau ke mana?”
“Aku harus berangkat sekarang! Kamu jaga diri” Khiren menghampiri Revan dan mencium keningnya sebelum pergi.
***
Keesokan harinya Khiren dengan asisten pribadinya berangkat ke perusahaan dan menemui Lee Joon mi, produser film yang akan di bintangi Khiren dan juga Lee merupakan teman Dimas yang sempat dekat dengan Khiren saat di Amerika.
“Hallo Khiren!” (mereka berbicara dalam bahasa inggris)
“Hallo, kak Lee! Gimana kabarnya?”
“Baik, silahkan duduk!” Lee mempersilahkan Khiren duduk di sebelah seorang pria yang terus melirik kearah Khiren.
“Boleh, ayo kita pergi!”
Beberapa menit kemudian mereka sampai di sebuah café, ketika masuk mereka tidak melihat seorang pun di tempat itu, saat mereka masuk lebih dalam baru terlihat di sebuah meja paling ujung ada seorang pria berkemaja abu-abu melambai kearah mereka.
“Selamat siang, tuan Ray!”
“Selamat siang, silahkan duduk!” Mereka di sambut dengan senyuman hangat dari pria itu.
Mereka memesan minuman dan tak lama pesanan datang karena hanya mereka yang menjadi pelanggan hari itu.
“Jadi sebenarnya Anda mau bahas apa?”
“Begini, karena kalian belum saling mengenal makanya saya adakan pertemuan ini, agar kalian bisa memperdalam karakter sebagai pasangan nantinya. Ray, kenalkan dia Khiren Ayu Winata, dan Khiren, dia adalah Ray Hinato, dia pemain yang sedang naik daun.”
“Untuk lebih mempercepat adaptasi karakter, gimana kalau saya mengajukan beberapa pertanyaan agar lebih mengenal Khiren?”
“Silahkan tanyakan!”
“Kamu lahir di Jepang?”
__ADS_1
“Iya terus?” Khiren tidak terlalu kaget karena itu infomasi yang terlalu umum.
“Nama kecilmu siapa?”
“Apa itu penting?”
“Pasti Hinata Yuuna’kan?”
“Bagimana kamu bisa tau?” Saat itu Khiren sedikit kaget karena tidak banyak orang yang tau tentang itu.
“Karena dulu kita adalah teman kecil, kita selalu bermain bersama hingga kamu pindah ke Indonesia” (Rai mulai bicara dalam bahasa Jepang)
“Bagus kalau begitu, kita jadi lebih mudah beradaptasi.”
“Boleh aku tetap memanggil kamu Hinta?”
“Terserah! Karena saya rasa tidak ada yang perlu di bicarakan lagi, saya akan kembali sekarang. Ini kartu nama saya, dan semoga syuting kita bisa berjalan lancer!” Khiren pergi setelah menaruh kartu namanya di meja dan meninggalkan Lee yang masih menikmati kopi yang dia pesan.
Hemmy menunggu Khiren di luar, lalu mereka pergi menggunakan mobil yang sudah di persiapkan Hemmy untuk Khiren selama berada di Korea.
“Menyebalkan! Buang-buang waktu aja! Hemmy, kirim beberapa koki terbaik ke rumah kak Dimas, sekarang!?”
“Siap, Nona!”
Beberapa hari setelah itu, Khiren dan Rai semakin dekat karena perannya sebagai pasangan.
“Hinata, apa aku bisa menanyakan sesuatu?”
“Iya, apa?”
“Apa kamu punya pacar?”
“Pacar?” Khiren sedikit berpikir, “Ah, kalau itu sih enggak!”
“ Kalau gitu, apa aku bisa dekat dengan kamu?”
“Tentu saja! Lagian semua pemain harus dekat dong biar kita bisa bekerja sama dengan baik dan hasil yang memuaskan, yakan?”
“Maksud aku itu, dekat sebagai kekasih?”
“Hahah… Bisa emosi si Revan kalau denger ini!”
“Revan? Siapa dia? Pacar kamu?”
“Bukan pacar tapi lebih dari itu, udah ah! Aku mau pulang dulu, bye!” Khiren langsung meninggalkan Ray yang kaget dengan ucapan Khiren yang tidak bisa di terima oleh hatinya.
“Gak, gak boleh! Hinata kamu tetap akan jadi milikku, hanya milikku!”
__ADS_1
Bersambung…
Jangan lupa buat like, vote dan reting 5 untuk novel ini.