
Pagi-pagi buta saat suasana masih remang-remang Khiren pergi dari rumah dengan menggunakan motor milik Aldo. Pada saat yang sama Ryo sedang berada di luar rumah bersiap untuk lari pagi setelah melakukan beberapa pemanasan.
“Mau kemana dia di jam segini? Loh bukannya itu motor Aldo?”
Ryo tidak terlalu kaget karena Khiren sudah biasa pergi tanpa bilang-bilang jika itu urusan pekerjaan. Jam 6 tepat semua sudah turun dan bersiap untuk sarapan, Revan orang yang turun paling terakhir sedikit terlihat panik.
“Apa kalian melihat Khiren?”
“Gak tau, aku aja baru bangun!” ucap Aldo yang terlihat beberapa kali masih menguap.
“Aldo, sebaiknya cuci muka kamu sebelum makan!” Ucap Dimas yang sedang menyajikan sarapan untuk semua orang.
“Iya iya, dasar bawel!” Aldo pun beranjak pergi.
“Kalau gak salah tadi sekitar jam 5 dia pergi pakai motor Aldo”
“Apa motor siapa kamu bilang?” Aldo yang mendengar ucapan Ryo tentang motornya begitu terkejut. Ia langsung berlari dan menghampiri meja makan.
“Motor siapa? Lo yang serius dong?”
“Motor lo lah! Emang dia gak bilang?”
“Mati gue, tu motor mau gue pakai buat jalan nanti siang. Aduh gimana nih? Lo semua ada yang mau pinjami gue motor gak?”
“Gak, mending lo ngaca terus cuci tu bekas odol di pipi lo tu!”
“Apa? Dimana?” Aldo langsung pergi kembali ke kamar mandi dan mengecek wajahnya.
“Untung ketampanan gue kagak hilang” Ucapnya sambil melihat ke cermin dan sedikit bergaya sok keren.
“Kira-kira kalian tau jadwal Khiren?”
“Harusnya dia gak punya jadwal lagi setelah Bunda membuat dia tidak bekerja lagi di dunia entertainment, semua salah kamu Revan dan mungkin dia akan semakin membenci kamu.”
“Tunggu dulu, gue kayak ingat semalam Khiren turun di dapur terus dia seperti sedang menelpon seseorang, mereka membahas tentang kehamilan. Gue gak yakin tapi apa mungkin?” Morlin sedikit ragu-ragu saat mengatakan apa yang tak sengaja dia dengar saat ingin mengambil air semalam.
“Gak ah, gue gak yakin” Aldo tidak percaya dengan ucapan Morlin yang tak berakar.
“Iya gak mungkinlah, Mor! Coba pikir mereka baru nikah 2 minggu dan gimana caranya Khiren hamil?”
__ADS_1
“Em itu sebenarnya… mungkin saja” Ucap Revan ragu-ragu.
“Revan lo… Gue gak nyangka lo gercep dalam hal kayak gini tapi selamatlah, ternyata lo emang pejantan sejati!”
Mereka semua memberi Revan selamat dan mereka benar-benar bahagia.
***
Alfin turun dari lantai atas dengan mata masih belum siap untuk benar-benar terbuka, dia turun dan langsung menuju dapur dan dia melihat ada seorang wanita cantik duduk di meja makan.
“Khiren? Kenapa kamu di sini? Bukan bukan maksud aku, bagaimana kamu bisa masuk di jam segini?” Alfin sangat kaget dengan kedatangan seorang Khiren di pagi buta, saat matahari masih malu-malu menampakkan dirinya.
“Em tadi sebenarnya aku masuk saat pembantu rumah kamu keluar dengan membawa keranjang untuk belanja, sepertinya dia akan ke pasar.”
“Oh, kalau gitu kamu mau sarapan di sini?”
“Iyalah, kamu bisa masak?”
“Loh selama ini kamu emangnya pikir makanan yang aku berikan ke kamu itu buatan siapa? Tentu saja itu buatan ku, aku belajar masak karena kamu suka di buat bekel di banding memesan makanan’kan?”
“Bolehlah, aku mau coba masakan kamu sesekali.”
“Iya sering tapi sering di makan sama Morlin dan Aldo, mereka itu selalu mengambil bekal yang kamu berikan dan menggantinya dengan masakan yang mereka bawa.”
“Emang ya teman-teman kamu itu ngeselin banget, pantas aja kamu gak pernah muji masakan ku!”
“Ayolah sekarang cepat masak, aku sudah mulai lapar.”
“Oke sayangku!”
Alfin yang tadinya masih males untuk membuka mata sekarang terlihat amat bersemangat saat ingin memasak makanan untuk pujaan hatinya, dia tidak pernah menyangka seorang Khiren bisa datang ke rumahnya tanpa ragu-ragu. Alfin menunjukkan skillnya dalam memasak dan memperlihatkan teknik mencicipi ala chef professional, ia menikmati setiap proses pembuatan makanan punuh cinta dan harapan. Tak lama setelah itu makanan siap di hidangkan di depan Khiren yang akan menjadi juri untuk menilai sampai dimana kemampuan seorang Alfin Aldiano.
“Eum enak, kamu emang pinter masak, ya? Ayo makan bersama?”
Alfin langsung duduk di samping Khiren, mereka jadi terlihat seperti pasangan yang serasi di tambah dengan Alfin yang memang terlahir dengan ketampanan dan tubuh kekarnya membuat dia terlihat lebih mempesona. Setelah selesai makan Alfin membereskan semua piring dan segera mencucinya, dia masih sedikit penasaran kenapa Khiren bisa berada di rumahnya, dia yakin pasti ada sesuatu terjadi hingga dia datang tiba-tiba ke rumah Alfin.
“Khiren, sebenarnya kamu ada apa hingga tiba-tiba datang tanpa memberitahu seperti ini?”
“Emmm sebenarnya, aku mau diskusi dengan kamu tentang sebuah projek. Young semalam menghubungi aku dan mengajak aku untuk ikut dalam sebuah Film, aku membaca naskahnya semalam dan itu terlihat menarik, tapi aku ingin seseorang memberi pendapat tentang itu. Aku sedikit ragu karena itu aku ingin bertanya pada kamu.”
__ADS_1
“Kenapa aku? Bukannya kamu punya suami dan juga teman-teman kamu yang nyebelin itu?”
“Ayolah, aku saja tidak benar-benar bicara dengan anak itu dan soal teman-temanku, itu sulit untuk di jelaskan, pendapat mereka itu tidak bisa aku jadikan pedoman karena itu aku ingin bertanya pada kamu”
“Syutingnya kapan dan dimana?”
“Di korea dan di Australia, mungkin akan lama tapi… Kamu lihat dulu naskahnya, nih!” Khiren memberikan handphonenya.
Setelah beberapa saat membaca akhirnya Alfin mendapat sebuah kesimpulan, bukan karena naskah itu menarik tapi, itu adalah salah satu cara agar dia bisa menjauhkan Khiren dari Revan.
“Terima saja, itu benar-benar bagus, lagian Young itu sudah sering membantu kamu dulu’kan?”
“Iya juga, sih”
“Ngomong-ngomong gimana kabar Bunda?”
“Bunda? Young bilang baru-baru ini dia melihat Bunda ada di rumah sakit di Inggris, yang paling menyebalkan nya itu ternyata Bunda sedang hamil.”
“Bukannya bagus? Kamu akan punya saudara”
“Bagus dari mananya? Aku yang gak punya saudara aja susah ketemu dan bersandar pada Bunda, emang kalau kalian lihat aku seperti dekat dengan Bunda tapi, kenyataanya tidak. Apalagi sekarang Bunda punya anak lagi, aku rasa aku bakalan gak dianggap anak. Ini aja udah dua minggu gak ketemu, tapi gak ada satu pesan pun menanyakan tentang keadaanku. Hanya nasehat untuk tetap bersama Revan dan aku harus menjaga anak orang itu. Sialan banget kan?”
“Lalu kenapa kamu gak cerai aja?”
“Kalau cuma di pikir mah enak, prosesnya bakal panjang terlebih aku akan membuat dua keluarga terluka karena hal itu. Aku masih belum sanggup, aku butuh sedikit waktu lagi agar aku bisa melepaskan diri dari mereka”
“Sampai kapan, Khi? Sampai kamu benar-benar mencintai pria itu?”
“Gak mungkinlah, aku gak akan mungkin mencintai dia. Kalau kamu saja yang sesempurna ini tidak bisa aku cintai apa lagi dia yang seperti itu?”
“Terserah kamulah, Khi! Jadinya sekarang kamu mau lakuin apa?”
“Aku akan meminta Young mengirim kontraknya segera dan aku bolehkan istirahat di sini? Aku males pulang dan ketemu sama Revan.”
“Boleh, kamu bisa pakai kamar yang di atas.”
Khiren langsung pergi dan melihat kamarnya, dia yang tidak bisa tidur semalaman akhirnya mencoba beristirahat beberapa jam di rumah Alfin.
Bersambung…
__ADS_1
Cuma mengingatkan buat jangan lupa like dan komen, kalau bisa sih kasih vote juga biar bisa semangat. Makasih sudah berkunjung, sampai jumpa di episode berikutnya.