
‘Tok tok tok’ seseorang mengetuk pintu kamar tapi tidak terdengar suara pelayan atau pekerja rumah yang biasanya lewat di depan pintu. Tiba-tiba dia teringat kalau Revan mengatakan kalau dia tidak bisa ke rumahnya lagi karena dia harus kembali ke Indonesia, Khiren juga yakin kalau yang mengetuk pintu bukanlah orang-orang yang akan menjemputnya karena itu sudah siang dan para penjaga akan sangat sulit di lumpuhkan di jam-jam itu.
“Siapa yang sedang main-main denganku!” Khiren mendekati pintu dan membukanya, dia sengaja tidak langsung keluar agar orang yang mengetuk pintu yang masuk dan menemuinya. Dia sudah bersiap untuk menyerang jika orang yang masuk adalah musuh Ayahnya atau orang akan mencelakai dia.
Sesaat tidak ada pergerakan, orang yang di luar pun sedang menunggu Khiren untuk keluar. Entah karena terlalu lelah berdiri atau sudah sangat kesal karena tidak ada reaksi dari targetnya, beberapa orang mendorong lebih lebar pintu dan saat mereka masuk Khiren langsung menyerang.
“Ampun Khi! Ampun! Ini aku Ryo!”
“Kalian! Kenapa tiba-tiba ke sini? Dan kenapa kalian melakukan itu?”
“Maafkan kamu, tadi rencananya mau buat kejutan eh, malah kena serang! Sorry, nih buat kamu!” Aldo membawa minuman buah naga kesukaan Khiren.
“Thanks! Ngomong-ngomong kalian ngumpul tiba-tiba ini dalam rangka apa?”
“Dalam rangka rindu adik kecil kamilah!” Ucap Morlin sambil mengucek rambut Khiren.
“Hai!” Khiren kesal dan langsung memperbaiki rambutnya.
Mereka langsung duduk di sembarang tempat di kamar itu.
“Kalian Cuma berlima? Kak Dimas di mana?”
“Ayolah! Cuma dia aja yang di tanyain!” Aldo cemberut.
“Apaan sih! Gak mungkin aku nanya soal kalian yang ada di sini, jadi dia dimana?”
“Dia, lagi ada jadwal operasi hari ini, katanya itu terlalu penting untuk di tinggalkan.”
“Iyalah tu!” Khiren tiba-tiba kesal karena tidak di prioritaskan.
“Tenang nanti dia VC kok!”
“hmm, jadi kalian tiba-tiba ngumpul di sini kenapa?”
“Soalnya kamu sedang di hukum dan tidak bisa keluar rumah jadi, terpaksa kami ke sini! Lagian kami semua lagi senggang kecuali Dimas, kami kangen sama kamu Khi! Semua sosial media kamu udah di hapus semua jadi kami gak bisa lihat wajah cantik dan mengemaskan adik kecil kami”
“Hahahah… Ada-ada aja, serius lah! Sebenarnya ada apa?”
“Farhan benar Kok , Khi! Kami kesini ingin melihat keadaan kamu! Selain itu, kami juga ingin membahasa soal hubungan kamu dengan Revan.”
“Hubungan? Emangnya ada masalah apa dengan hubungan kami?”
“Anak itu sepertinya serius dengan kamu, Khi! Sebagai pria, kami merasa kamu sudah keterlaluan dengan membenci dia tanpa alasan yang jelas!”
“Alasan? Bukannya kalian tahu alasan, kenapa aku membenci dia!?” Tiba-tiba ruangan itu hening. “ Sudahlah! Kalian terlalu banyak berpikir! Ayo VC dengan kak Dimas, aku merindukan wajahnya.”
Morlin mencoba menghubungi Dimas, dan Kiky mengirim pesan ke Dimas untuk membuka dua akun. Salah seorang dari mereka juga menghubungi Revan tanpa sepengetahuan Khiren.
“Hai Khiren!!” Setelah terhubung Dimas langsung menyapa Khiren.
__ADS_1
“Hai kak! Gimana keadaan di sana?”
“Semuanya baik, aku tidak bisa ke sana karena pekerjaanku dan juga karena ada wanita gila di sana! Oh iya, gimana perkembangan hubunganmu dengan Revan?”
“Loh, kok kak Dimas juga menanyakan hal yang sama?”
“Karena kami khawatir pada hubungan kalian! Sebaiknya kamu jujur saja tentang perasaan kamu.”
“Perasaan apa? Aku gak ada perasaan apa-apa sama dia kok!”
“Apa kamu yakin?” Tanya Ryo yang ingin memastikan lagi perasaan Khiren.
Tiba-tiba Revan memutuskan sambungan telpon yang membuat layar handphone Aldo menyala.
“Ah, maaf! Ada pesan dari kantor! Aku ke kamar mandi sebentar!” Aldo mencari alasan yang masuk akal agar Khiren tidak curiga.
“Oke!” Khiren sama sekali tidak peduli.
Saat berada dalam kamar mandi Aldo langsung menghubungi kembali Revan dan memarahinya.
“Udah gila, lo ya? Untung Khiren gak curiga! Untung gua gak punya penyakit jantung!”
“Udahlah, gak usah lanjutin lagi, kita semua sudah tau kalau Khiren tidak menyukaiku! Lebih baik berhenti sekarang di banding semakin sakit hati!”
“Gila lo ya! Lo udah masuk dalam kawasan 7 bersaudara artinya kesempatan buat nyerah lo itu udah gak ada, sekarang lo gak usah baper dan sok sedih! Lo tu cowok bro! Pokoknya lo gak boleh mempermalukan nama baik 7 bersaudara dengan menyerah dalam pertempuran yang belum berakhir ini!”
“Tapi..”
“Iya paham!” Suara Revan terdengar putus asa.
“Semang dong!”
“OKE!” Teriak Revan dengan penuh semangat.
“Nah, gitu dong! Tapi, lain kali gak usah teriak-teriak juga, oke! Sakit ni kuping bambang tampan!”
“Sorry lah, tadi aku terlalu bersemangat!”
“Iya, sekarang lo diam ok!”
“Gimana?” Aldo yang baru dari kamar mandi langsung menanyakan hasil percakapan mereka.
“Gimana apanya?”
“Lo sebenarnya benci sama Revan apa enggak?”
“Ya enggaklah!” Jawab cepat Khiren tanpa banyak pikir. “Dari awal emang aku gak terlalu peduli dengan dia, aku juga tidak menyalahkannya karena kami sama-sama korban di sini! Sekarang malah kami sudah cukup dekat!”
“Terus, kenapa dari awal kamu dan dia kayak ada perselisihan gitu? Ya, walaupun Revan kayaknya gak gitu ke kamu” Lanjut Ryo
__ADS_1
“Apaan sih kalian! Oh, iya, gimana makanannya?” Khiren langsung mengubah topik.
“Itu udah di urus sama Farhan, sekarang kembali ke topik! Gak usah di belok-belok-in lagi, Khi!” Ucap tegas Kiky.
“Apaan sih, Ki!”
“Khiren, tolong jawab saja pertanyaan kami!” Ucap tegas Dimas mendesak Khiren.
“Iya, iya ketua pilih kasih!” Ucap Khiren kesal.
“Khiren, tolong jangan ubah topic!” Ryo dan yang lainnya terus mendesak Khiren menjawab pertanyaan mereka.
“Iya, iya! Kenapa sih kalian begini untuk orang yang baru kalian kenal? Menyebalkan!!!” Gerutuh Khiren yang kesal kerena terus di sudut kan.
“Jadi intinya kamu suka gak sama Revan?”
“Suka!” Jawab spontan Khiren yang kesal. “Eh, maksudku itu, aku suka dia seperti aku suka kalian semua! Coba pikir kalau aku gak suka sama dia atau kalian, aku pasti sudah menghabisi kalian dan dia kan?” Jawab Khiren dengan teorinya sendiri.
“Apa kamu mencintainya?”
“Kenapa kak Morlin makin mendesak aku, sih?”
“Jawab aja Khi!” Desak Farhan.
‘tok tok tok’ suara ketukan pintu dan beberapa orang pelayan masuk membawa cemilan dan minuman untuk mereka.
“Maaf, mengganggu, Nona!” Ucap kepala pelayan.
“Tidak masalah, paman!” Ucap Ryo yang mulai tergoda dengan cemilan yang para pelayan sajikan untuk mereka.
“Kami permisi, tuan-tuan dan Nona!”
Khiren sangat bersyukur karena bisa keluar dari situasi yang menyebalkan dengan desakan dari para anggota 7 bersaudara lainnya yang mulai terkesan memihak Revan.
“Ayo kita makan dulu!” Ajak Khiren.
“Khiren!!”
“Ayolah, aku sudah lapar dan haus ni! Nanti kita bicara lagi”
Morlin mengirim pesan pada Dimas.
“Dim, kayaknya Khiren tidak bisa membedakan perasaan suka dan cintanya pada Revan.”
“Ayolah, itu bukan masalah besar, aku punya rencana meski ini sedikit beresiko tapi, ini sangat efektif untuk membuat Khiren menyadari perasaanya pada Revan.”
“Oke, kami tunggu kepulangan mu!”
Akhirnya semua memutuskan untuk menunggu Dimas agar bisa menjalankan rencana mereka
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE, FAVORITKAN, DAN DUKUNG PENULIS DENGAN MEMBERIKAN VOTE SEBANYAK MUNGKIN.