
Persiapan pernikahan pun dimulai, Khiren merasa sangat bahagia karena bisa merasakan debaran saat menjelang persiapan pernikahan seperti para wanita pada umumnya. Sikap Mex yang sangat perhatian dan peka membuat Khiren merasa kalau keputusannya untuk menikah dengan Mex adalah suatu keputusan yang paling benar.
“Mex, bagaimana persiapan tempat pernikahan?”
“Semua sudah siap, apa kamu mau melihatnya langsung?”
“Aku percaya dengan seleramu jadi tidak perlu. Bagaimana
dengan para undangan?”
“Semua sudah sesuai dengan yang direncanakan, hanya saja
masalah media, apa kita tetap membiarkan mereka meliput pernikahan kita?”
“Aku ingin yang meliput acara pernikahan kita nanti adalah
perusahaan berita milik kita, mereka harus menyebarkan beritanya satu hari
setelah pernikahan.”
“Baiklah, aku akan mengaturnya. Apa kamu lapar? Aku sudah
memasak sesuatu untuk kamu.”
“Mex, apa tidak ada pekerja di rumah ini? Kenapa kamu yang
masak?”
“Aku hanya ingin saja, apa kamu tidak suka?”
“Bukan begitu hanya saja bukankah itu merepotkan.”
“Aku tidak merasa repot, aku senang selama kamu menyukai
masakan ku.”
“Ya sudah, ayo kita makan!”
Begitu masuk ke ruang makan, hanya ada satu piring di meja
makan. Khiren terus berjalan dan duduk sambil menatap Mex dengan tatapan penuh
dengan tanda tanya.
“Kenapa kamu menatapku seperti itu?” Tanya Mex yang merasa
terganggu dengan tatapan Khiren yang seperti itu.
“Apa kamu tidak makan?”
“Aku? Tidak, aku akan makan setelah kamu selesai.”
“Jangan bercanda, cepat ambil piring untukmu, kita harus
makan bersama. Mex, kamu harus ingat setelah menikah kamu bukan lagi bawahanku
tapi adalah pasanganku. Kamu harus segera terbiasa makan bersamaku dan yang
paling penting terbiasa menganggap aku pasanganmu dan bukannya atasan kamu,
paham?!”
“Maafkan saya!”
“Dan satu lagi Mex, tolong jangan berbicara formal saat di
rumah”
“Akan aku usahakan!” Ucap Mex tegas.
“Jadi tunggu apa lagi cepat bawa piring untuk kamu ke sini!”
“Baik!”
__ADS_1
Setelah itu mereka makan siang bersama dengan suasana
hangat seperti layaknya keluarga kecil yang manis. Semua baik-baik saja hingga
Khiren mendapat berita yang cukup untuk membuatnya khawatir. Sebuah email masuk
dan mengganggu makan siang mereka. Khiren langsung meninggalkan makanannya dan
pergi tanpa bicara apapun pada Mex. Dia masuk ke ruang kerjanya dan membaca
pesan dari orang suruhannya.
“Bos, tuan Revan sudah pergi dari pulau, dari orang yang
mengikutinya kami mendapatkan informasi bahwa tuan Revan sedang mencari anda,
kami sudah menyingkirkan semua orang suruhannya tapi berita pernikahan masih
bisa sampai pada tuan Revan. Apa yang harus kami lakukan selanjutnya?’
“Aku merasa kali ini dia tidak akan tinggal diam, aku harus
membuat rencana agar pernikahan ini tetap terjadi dan dia tidak menggangguku.
Aku tidak bisa memberitahukan hal ini pada Mex, dia sudah cukup sibuk dengan
persiapan pernikahan kami. Heummm.. Kenapa dia merepotkan sih? Andai aku bisa
menyingkirkannya dari dunia ini mungkin semua akan baik-baik saja.” Pikir
Khiren.
“Kalian awasi dia untuk saat ini, jangan sampai dia
mendekati acara ku dan jangan biarkan dia mengacaukan apapun” Khiren mengirim
email balasan pada orang suruhannya.
Meski sudah punya rencana untuk pertama kalinya Khiren
tidak ada hambatan dari manapun. Meski ini bukan pernikahan pertama untuk
Khiren tapi baginya ini adalah pertama kalinya dia merasa benar-benar menikah
dengan orang yang tepat. Revan memang pria baik tapi meski sudah berlebih 2
tahun mengenalnya tetap saja Khiren masih tidak bisa mencintainya dan hal itu
sudah jelas kalau Revan bukanlah orang yang tepat untuk Khiren.
‘tok tok tok’ Seseorang terus mengetuk pintu ruang kerja Khiren.
“Siapa?” Tanya Khiren sambil terus memperhatikan pintu.
“Khiren, apa kamu baik-baik saja?”
“Mex! Kenapa mengetuk pintu, ayo masuk saja!”
Mex membuka pelan-pelan pintu dan masuk dengan tangan membawa segelas susu dingin kesukaan Khiren.
“Ini untukmu! Apa kamu baik-baik saja?”
“Tentu saja, kenapa kamu menanyakan itu?”
“Aku hanya khawatir karena kamu tiba-tiba pergi sebelum menghabiskan makanan dan wajahmu terlihat cukup tegang. Apa ada masalah?”
“Tidak ada, kamu terlalu banyak berpikir, Mex. Aku dengar adikmu akan melarikan akhir bulan depan, apa itu benar?”
“Kemungkinan sebenarnya dia bisa saja melahirkan awal bulan depan, dia sangat menantikan hal itu. Tapi mungkin dia tidak bisa ikut dalam acara pernikahan kita, apa kamu tidak masalah?”
“Emally kan sedang hamil besar ya aku tidak akan memaksanya untuk hadir, dia sudah mengirimiku hadiah kemarin sebagai permintaan maafnya. Samuel pasti senang karena akan menjadi seorang ayah dari dua anak sekaligus. Rasanya aku juga ingin punya satu.”
“Apa kamu berniat punya anak lagi?”
__ADS_1
“Tentu saja, aku ingin punya satu atau dua anak. Apa kamu ada masalah dengan itu?”
“Tentu saja tidak” Mex terlihat senang mendengar pembahasan soal anak seakan dia juga mengharapkan Khiren menjadi ibu dari anak-anaknya.
“Aku pikir kalau punya anak laki-laki itu akan bagus, setelah itu baru perempuan agar anak pertama bisa melindungi adiknya dan mereka tidak akan merasa kesepian karena punya satu sama lainnya.”
“Heum…” Mex hanya mengangguk menanggapi Khiren yang sedang serius berbicara.
“Mex, menurut kamu bagaimana?”
“Aku tidak masalah, mau laki-laki dan perempuan aku akan tetap menyayangi mereka.”
“Baguslah!”
Lalu tiba-tiba pembicaraan selesai, suasana jadi terasa canggung dengan Khiren yang sedang asik bermain handphone.
“Mex, teman-temanku akan datang hari ini jadi…”
“Aku mengerti, aku akan pergi.”
“Bukan, maksud aku kamu bisa nggak kalau bergabung dengan kami? Ini mungkin akan sedikit sulit, tapi percayalah mereka tidak akan bisa mengubah keputusanku jadi kamu tidak perlu terlalu berusaha.”
“Aku mengerti, jadi mereka kapan datangnya?”
“Kayaknya Aldo dan Dimas bakalan sampai 1 jam lagi dan yang lainnya mungkin mereka akan sampai malam ini atau besok.”
“Heum.. apa aku harus mempersiapkan sesuatu?”
“Tidak perlu, aku sudah menyiapkan semuanya, kamu hanya harus akrab saja dengan mereka, bersikaplah seperti biasa dan semua akan beres.”
“Siang semuanya!” Aldo masuk dan menyela pembicaraan Khiren dengan Mex.
“Aldo, kenapa kamu bisa…”
“Bisa sampai lebih cepat? Ya karena kami berangkat lebih awal dari jadwal yang gue kirim ke lo. BTW suami lo lumayan juga kalau diperhatikan, lo Mex kan? Salam kenal!” Aldo langsung memeluk Mex.
“Hai!” Dimas pun masuk.
“Kak Dimas?! Gimana kabar kalian?”
“Baik” Jawab Dimas dengan nada dingin.
“Biasalah, baik. Kalau lo? Ni enggak ditawarin minum gitu? Haus banget!” Ucap Aldo sambil berakting kehausan.
“Kalian mau minum apa biar aku yang ambilkan” Tawar Mex.
“Apa aja yang enak!”
Mex pun segera pergi mengambil minuman untuk mereka.
“Kenapa lo nikah sama dia?” Tanya Aldo kesal pada Khiren.
“Masalahnya dimana?”
“Gue nggak setuju, dia itu…”
“Apapun yang kalian katakan aku tetap akan menikah dengan dia, dia orangku dan dia pria pilihanku dan sebagai teman seharusnya kalian menghargai pilihanku dan mendukung kebahagiaanku!”
“Sudahlah, jangan ribut! Ayo kita lihat kamar saja!” Dimas langsung mencairkan suasana yang hampir tegang dengan menarik keduanya untuk melihat-lihat rumah Khiren.
“Eumm.. Khi, apa Revan tahu masalah ini?” Tanya Dimas ragu-ragu.
“Aku tidak peduli, mau dia tahu atau tidak karena dia tidak punya hak di atas hidupku.”
“Wah, lo kejam banget sih, Khi! Eh, ini kamar untuk kami berdua?”
“Iya, kalian tidur disini mulai malam ini, yang lainnya nanti akan tidur di kamar sebelah”
“Cukup bagus, oke kalau gitu aku istirahat dulu, bye!” Aldo langsung merebahkan diri di kasur.
“Khiren, aku rasa keputusan kamu ini terlalu…”
“Kak, selama aku masih bersikap manusiawi aku berharap kakak tidak membahas masalah ini lagi atau kakak akan tahu akibatnya.” Setelah mengatakan itu Khiren pun pergi meninggalkan kedua sahabatnya.
__ADS_1
Bersambung…