
Revan pergi ke ruang makan dengan hapan bisa sarapan dengan Khiren tapi sayangnya di tepat itu hanya ada para pelayan yang sudah lama nunggu Revan.
“Khiren mana?”
“Nona berada di luar bersama dengan tuan”
“Tuan? Siapa?”
“Tuan Mex”
“Khiren sudah sarapan?”
“Nona dan tuan Mex sarapan di dekat teman, tuan”
“Apa? Kalau begitu antar aku kesana!!”
“Mohon maaf tuan, kami tidak berani! Nona akan marah besar jika di sanggu saat sedang sarapan bersama tuan Mex.”
‘trakk!’ Repan melempar gelas minuma yang ada di dekatnya ke lantai.
“Aku tidak peduli! Sekarang antarkan aku ke sana!!!”
“Kami benar-benar tidak bisa, tuan! Tolong makan dengan tenang di sini”
“Kalau kalian tidak mau mengantarkan aku maka aku akan cari sendiri!”
Lalu Revan pergi dengan terburu-buru dan mencari Khiren di luar. Taman di sana cukup luas dan jalannya seperti labirin hingga membuat Revan sangat sulit menumukan keberadaan Khiren.
“Dimana sih mereka?” Revan yang marah terus saja berjalan hingga kakinya sakit dan berhenti di dekat pohon kecil di pinggir jalan setapak.
Dari arah jalin Khiren dengan Mex sedang berjalan menuju tempat Revan berada sambil berdiskusi.
“Mereka terus saja mencari cara mencuri fomula milik kita, aku pikir sekarang saatnya kita melenyapkan semua tanpa sisa, bagaimana menurutmu Mex?”
“Saya juga berpikir begitu karena selama ini anda terlalu baik hingga mereka terus saja mengulang kesalahan yang sama”
“Malam ini, aku mau malam ini mereka lenyap tanpa sisa.”
“Baik, akan saya laksanakan, Master!”
“Bagus”
Mereka terus berjalan dan saat itu Revan yang sangat sensitif dengan suara Khiren langsung bangun dan mencari dimana sumber suara itu berasal.
“Sore ini ayo kita ke tempat ayahku, bagaimana?”
“Baik”
“Kalau begitu ayo kita selesaikan semua pekerjaan agar sore ini kita bisa…”
“Khiren!” Revan muncul dari arah belakang Mex dan Khiren, lalu dia memisahkan kedua orang yang sedari tadi bergandengan tengan.
“Dari mana saja sih kamu?”
__ADS_1
“Apa urusanmu dan ngapain kamu berdiri di sampingku?”
“Aku gak suka kamu dekat-dekat dengan dia!”
“Maaf, kalau begitu saya akan pergi…”
“Mex, tetap di sini! Kamu itu tungan aku jadi jangan bersikap acuh seperti itu!”
Lalu Mex menari tangan Khiren dan membawanya pergi dengan cepat meninggalkan Revan. Revan mengajar langkah Khiren dan Mex tapi karena Mex yang tidak sabaran akhirnya dia menggendong Khiren dan membawanya masuk ke dalam dan memerintahkan penjaga agar tidak membiarkan Revan masuk ke area lantai atas terutama mendekati ruangan kerja Khiren.
“Maafkan saya karena telah lancang menggendong anda”
“Kamu cukup keren tadi, ayo kita kembali bekerja!”
Sementara itu di lantai bawah Revan di tahan oleh beberapa penjaga yang terus bertambah tiap kali ada yang berhasil di buat tumbang oleh Revan.
“Kalian semua sangat menyebalkan!” Revan akhirnya menyerah dan pergi ke ruang tamu.
Saat Khiren dengan Mex sedang sibuk dengan pekerjaannya tiba-tiba seorang pelayan mengetuk pintu.
‘tok tok tok tok’ ketukan itu terdengar seakan orang yang berada di luar sedang terdesak.
“Masuk!”
“Nona, tuan Revan jatuh dari pohon dan sekarang tidak sadarkan diri”
Khiren kaget dan segera berlari keluar dan meninggalkan Mex dan pelayan yang masih berada di ruang kerjanya. Revan yang terluka langsung di periksa oleh dokter yang khusus keberja di rumah itu.
“Bagaimana keadaanya?”
“Apa kamu sudah periksa dengan benar? Dia tidak geger otak atau sejenisnya’kan?”
“Tentu saja tidak, nona. Dalam dua minggu tangannya pasti akan sembuh”
“Terlalu lama! Lakukan sesuatu agar dia cepat sembuh!”
“Bagaimana kalau kita menggunakan ‘obat itu’?”
“Gunakan saja, asal dia cepat sembuh dan segera pulang ke rumahnya!”
“Obat apa yang kalian bicarakan? Aku tidak mau minum obat aneh dan tidak bersertifikat, ya!”
“Banyak omong, kamu hanya perlu minum dan tunggu beberapa hari lalu aku akan mengantarmu pulang langsung ke depan rumahmu kalau perlu sampai ke pangkuan ibumu aku antarkan!”
“Gak! Aku gak suka minum obat dan aku belum mau pulang!” Tegas Revan dengan mencoba bangun. “Au sakit!”
“Tu kan sakit! Makanya minum obat aja biar cepat sembuh!”
“Gak mau! Mending aku mati dari pada minum obat!”
“Kalau gitu kenapa gak mati aja sekalian biar gak bikin susah orang! Dokter tolong ikut saya!”
Khiren meninggalkan Revan yang masih terbaring di kamar tamu lantai satu dengan dua perawat yang terus bersiaga di sampingnya.
__ADS_1
“Apa ada obat yang bagus untuk mempercepat kesembuhan anak itu selain kapsul dari teratai hitam itu?”
“Ada, hanya saja waktu yang di butuhkan lebih lama di bandingkan dengan kapsul dari teratai hitam”
“Ah, kenapa jadi ribut gini sih? Sudahlah, lakukan apapun asal dia sembuh total”
“Baik, nona” Khiren kembali masuk ke kamar dan meminta semua orang untuk keluar lewat tatapan matanya.
“Apa sih yang ada dalam otak kamu itu? Ngapain kamu manjat pohon, hah?!”
“Mereka tidak membiarkan aku menemuimu makanya aku mencoba manjat terus..”
“Terus jatuh gitu? Manjat aja jatuh apa lagi di suruh yang lain. Udah gak usah bikin orang makin repot, kamu diam saja di kamar dan jangan macam-macam, paham!!”
“Khiren, aku lagi sakit tapi kok kamu bentak aku sih?”
“Banyak maunya ya kamu ini! Oke, aku gak akan membantak kamu lagi. Revan sayangku, sekarang kamu istirahat dengan tenang di sini, ya?”
“Temenin dong, aku kan sakit”
“Aku banyak pekerjaan, kamu tidur saja nanti aku akan datang lagi”
“Kapan? Pasti lama, pokoknya aku mau kamu di sini! Aku mau kamu menenin aku, kamu mau’kan?”
“GAK!” Jawab singkat Khiren dan dia langsung pergi dari tempat itu.
Khiren kembali ke ruang kerja. Dia duduk sambil menatap langit-langit ruangan itu. Mex melirik kearah Khiren yang sedang termenung di depannya.
“Ada apa?” Tanya Mex sambil terus membaca dokumen yang ada di tangannya.
“Anak itu makin ngelunjak aja deh. Oh ya, sebelum kamu dapat penyakit sama seperti anak itu mending aku kasih tahu dari sekarang aja. Jadi apa pun yang terjadi kedepannya tolong jangan jatuh cinta sama aku dan bertindak gila sama seperti anak itu, kamu ngertikan?”
“Baik, saya akan mengingatnya”
“Bagus deh, mencegah sebelum makin bikin pening. Ayo kita lanjut pekerjaannya… Eh sepertinya kamu hampir menyelesaikan semua? Kerja kamu cepat juga, ya. Gak sia-sia aku memungut kamu, oke karena pekerjaan tinggal sedikit aku akan serahkan semua kepada kamu”
“Baik”
Lalu seorang pelayan kembali mendatangi ruang kerja Khiren tapi kali ini dia tidak mengetuk karena Khiren tidak menutup pintu ruangan itu.
“Nona, tuan Revan terus saja memanggil Anda di bawah”
“Dia bikin pusing aja sih! Oke, ayo kita kesana. Mex tolong urus semuanya dan rapat malam ini kita tunda untuk besok malam”
“Baik”
Lalu Khiren pergi bersama pelayan itu.
“Kenapa Master selalu memperdulikan orang-orang sejenis mereka? Apa sih hebatnya mereka? Master bilang kalau dia tidak akan mencintai siapapun lalu ini apa? Mana mungkin ini bukan cinta? Master terus saja memperhatikan orang itu!”
‘tak’ Mex menghantam meja dengan tangannya karena sangat kesal.
“Apa aku bisa menjadi orang yang master lihat? Apa aku bisa menjadi satu-satunya yang master cintai? Kali ini aku tidak bisa diam saja, pria itu harus di singkirkan secepatnya!!”
__ADS_1
Bersambung….