Love Scenario V2

Love Scenario V2
Episode 5


__ADS_3

Khiren melangkah mendekati Revan yang masih membeku di tempat duduknya. Khiren mulai mengangkat tangannya dan Revan memejamkan matanya. Sebuah sentuhan lembut mendarat di kening Revan, dia mulai membuka mata dan melihat Khiren dari jarak yang begitu intim.


“Kamu sakit, ya? Wajah kamu memerah dan suhu badan kamu meningkat dengan sangat cepat. Aku rasa kita perlu memanggil dokter!” Khiren benar-benar panik.


“G… gak usah, aku baik-baik saja kok! Ini … ini Cuma efek kecapean aja mungkin.” Revan tersenyum terpaksa saat Khiren mengecek .


“Ya sudah kamu istirahat aja.”


“Dia terlihat sangat khawatir padaku,” Revan memperhatikan kembali Khiren sedang mengkhawatirkan dirinya. “ini kesempatan terbaik.” Pikir Revan.


“Sepertinya kepalaku pusing.” Dia memegang kepalanya dan pura-pura hampir terjatuh.


“Kamu jangan bergerak dulu. Sini biar aku bantu anterin kamu sampai ke kamar.” Khiren memapah Revan sampai ke dalam kamar.


“Sekarang kamu istirahat dulu, aku akan bereskan makanan kita tadi.”


Saat akan meninggalkan ruangan itu sebuah tangan menarik Khiren sampai jatuh ke dalam pelukan Revan. Pria berkulit kuning langsat itu memiliki body yang sixpack hingga Khiren bisa merasakan otot-otot keras yang memeluknya dengan penuh kehangatan. Sebuah suara berbisik di telinga Khiren. “Aku akan baik-baik saja jika kamu tidak pergi kemana-mana”


Wajah Khiren benar-benar memerah dan dia juga merasa enggan untuk melepas pelukan hangat pria itu. Mereka menghabiskan malam yang panjang bersama dalam suasana bahagia dari kedua hati yang berbeda.


Keesokan harinya Revan sudah menyiapkan sarapan dan menunggu Khiren untuk makan. Saat Khiren mencium aroma yang harum dari dapur dia terbangun dan langsung turun.


“Kamu masak apa?”


“Aku masak nasi goreng buat kita, ayo sekarang kita makan?”


Saat Khiren akan menyentuh makan ada pesan masuk dan dia tidak membuka pesan itu. Khiren sejenak terdiam sebelum akhirnya pergi dari ruang makan.


“Kamu mau kemana?”


“Aku lupa belum cuci muka. Aku mandi dulu baru nanti makan, oke!” Khiren pergi dangan terburu.


“Kenapa dengan dia terlihat mencurigakan sekali?”


Di dalam kamar Khiren sedang menelpon seseorang dan dia terlihat sangat ceria.


“Dimas, gimana jadi ketemuan hari ini?”


“Kakak!” Ucapnya tegas.


“Iya iya deh, kakak Dimas sayang, kita jadi ketemuan, kan?” Khiren belum terbiasa memanggil teman-temannya dengan sebutan kakak karena mereka lahir di tahun yang sama hanya berbeda bulannya saja.


“2 jam lagi kita ketemuan di café biasa. Jangan terlambat kali ini!”


“Iya, kali ini gak akan telat lagi deh! Kalau gitu aku langsung siap-siap, sampai jumpa di sana kakak tersayang!” ucapnya dengan nada manja.


Tidak lama setelah itu Revan masuk ke dalam kamar dan dia masih melihat Khiren dengan gaun tidurnya yang belum diganti dan rambut acak-acakan yang balum di sisir tapi, dia masih terlihat sangat cantik apa lagi ketika dia menatap dengan kedua mata biru wanita cantik itu.


“Kamu gak jadi mandi?” Suara dari arah pintu yang sedikit membuat Khiren kaget.


“Kamu buat aku kaget aja! Aku akan mandi sekarang tapi, kalau kamu mau mandi duluan juga gak papa?” Khiren meletakkan smartphonenya lalu mencari baju yang akan dia pakai untuk pergi hari ini.


“Aku mau ketemu sama temanku dan mungkin pulangnya agak sore-an jadi gak usah tunggu aku” Khiren keluar dan membawa beberapa pakaiannya.


Mendengar hal itu Revan bertindak capat dan memerintahkan Ori sekretarisnya untuk mengikuti Khiren.


***

__ADS_1


Khiren datang terlambat karena dia sempat terjebak macet dalam waktu yang cukup lama, saat sampai di café dia melihat Kiki, dan beberapa temannya sudah menunggu dengan wajah kesal.


“Sorry sorry lah, aku gak niat buat telat, Cuma tadi ada masalah sedikit di jalan! Serius, itu tadi jalannya macet dan jarak rumahku dengan café ini jauh banget, aku gak cari-cari alasan kok, tapi emang bener kejadiannya gitu.” Khiren mencoba menjelaskan alasan kenapa dia terlambat lagi seperti sebelumnya.


“Alasan.” ketus Dimas.


“Kakak tampanku jangan marah dong! Gimana sebagai gantinya kita nginep di rumah aku aja malam ini?”


“Ide bangus tu! Nanti Dimas yang masakin, soal bahan makanan biar aku sama Aldo yang belanja pas jalan nanti. Alamat yang baru itu, kan?” Usul Kiki sambil memberi kode ke Aldo


“Ogah ah, malas banget belanja sama lo, kalau belanja sama lo tu rasa kayak nunggu kura-kura nyebrang jalan, lama! Biar aku pergi sama Farhan aja!”


“Sorry Al, hari ini gue capek banget jadi, gak bisa menemani lo belanja. Gimana kalau Ryo aja!” Usul Farhan sambil melirik kearah Ryo


“Aduh, kayaknya aku…” Ryo terlihat kebingungan mencari alasan.


“Stop! Biar aku sama Khiren yang belanja bahan makanannya, oke!” Akhirnya Dimas melerai perdebatan yang gak akan ada akhirnya itu “Khiren kamu gak masalahkan?”


“Gak sih, cuma mobil aku siapa yang bakal bawa kalau aku ikut kamu?”


“Aku aja!” Jawab serentak Aldo dan Ryo.


“Masalah gini aja baru cepat, giliran suruh belanja gak mau.”


Khiren melempar kunci mobilnya di atas meja dan seketika tangan Farhan lah yang lebih dulu mendapatkannya.


“Curang lo Far, padahal kami dulu yang minta!” Ryo sangat kesal karena kunci itu hampir saja dia dapat sebelum gerakan cepat tangan Farhan yang merebutnya.


“Ini mah namanya takdir, kalian aja yang lelet makanya aku yang dapat hahahah...” Farhan tertawa puas karena bisa berkesempatan mencoba mobil keluaran terbaru.


Mereka berhenti berdebat saat seorang pelayan membawa minuman yang telah di pesan sebelum Khiren datang. Pelayan menyajikan minuman sesuai pesanan dan memberikan Khiren sebuah gelas yang berisi susu coklat dingin dengan sepotong kue.


“Kok kalian minum kopi dan aku malah susu?”


“Kamu gak boleh minum kopi ingat itu!” Ucap tegas Ryo sebagi seorang dokter.


“Tapikan…”


“Khiren!” Dimas angkat bicara dan dengan satu kata membuat semua terdiam.


Dimas menatap dengan mata iblis nya, senyum dan tatapannya berlawanan, aura yang dia keluarkan membuat yang lainnya merasa ketakutan dan diam. Dimas adalah orang yang paling disegani karena dia memiliki sifat seperti ketua, kakak tertua dan orang yang paling tidak bisa di lawan.


“Sudahlah, lupakan saja! Ayo kita minum dengan tenang?” Dimas mencoba membuat Suasana menjadi netral kembali.


“Oh ya, aku ingin menyampaikan kabar baik dan kabar buru yang mungkin akan membuat kalian kaget banget.”


“Soal apa?” Sifat kepo Ryo mulai muncul.


“Kita mulai dari hal buruk dulu. Hal buruknya aku udah menikah dengan seorang yang gak aku kenal gara-gara di paksa Bunda”


“Bunda kok jadi kejam gitu? Kamu kan anak yang paling di sayang Bunda, terus hal baiknya apa?”


“Orang itu cukup ganteng dan memenuhi syarat yang kalian inginkan. Kalian mau aku menikah sama orang yang punya pekerjaan yang jelas, tampan, tinggi, kayak model, baik, pengertian dan setia, kan? Dia itu anak dari kakek Tio sahabat kakek aku yang juga pemilik perhotelan yang paling mewah di Bali. Dia itu punya postur tubuh seperti model internasioanl dan dia sejauh ini cukup baik dan kalau soal setia aku gak, soalnya kami baru 3 hari nikahnya. Setelah aku cari info tentang dia, aku baru tau dia itu belum pernah pacaran tapi dia itu pernah deket dengan beberapa selebriti dan juga model terkenal.”


“Wah suami kamu luar biasa. Tapi, apa kamu gak suka sama dia?”


“Aku gak suka siapapun.” Ucap Khiren dengan tegas.

__ADS_1


“Lalu bagaimana kamu akan menjalankan sisa hidup kamu dengan orang yang tidak kamu cintai?”


“Entahlah” Khiren mulai terlihat murung dan tidak bersemangat lagi.


“Lupakan itu, hari ini mari kita rayakan berkumpulnya 7 bersaudara setelah  dua tahun berpisah. Gimana kalau minggu depan kita mendaki ke gunung bersama-sama?” Ryo mencoba membuat suasana menjadi baik kembali dan membuat Khiren bersemangat lagi.


“Setuju!” Jawab serentak mereka dan suara kerasnya hampir membuat pelanggan lain menjadi kesal.


“Turunkan volume suara kalian!” Dimas bicara dengan tatapan dinginnya.


“Ini udah hampir jam 11 jadi mending kita langsung ke rumah Khiren aja dan makan siang gimana?” Aldo terlihat lesu karna sudah mulai kelaparan.


“Oke! Kalian duluan dan ini kunci cadangan rumah aku” Khiren memberikan kunci rumahnya ke Aldo yang rada di sampingnya.


Tiba-tiba Dimas bangun dan pergi menghampiri seorang pria yang duduk di meja belakang Khiren. Teman-teman yang melihat tingkah Dimas hanya terkejut dan tak berani menanyakan atau menghentikan langkah Dimas yang begitu cepat.


“Mau kemana tu kakak garang?” Ucap Kiki dengan nada bicara hati-hati.


“Biarin aja, nanti juga balik sendiri.” Ucap Morlin santai sambil menikmati kopinya.


Di samping itu Dimas dengan tatapan membunuhnya berhasil membawa pria itu keluar dari café.


“Anda mau apa?”


“Justru saya yang harus bertanya! Apa yang Anda inginkan dengan terus memotret kami? Berikan handphonenya!” Dimas sangat emosi namun dia bisa menahannya dengan tidak memukul pria itu.


Pria itu ketakutan, dia menjadi sangat tengang setelah melihat mata Dimas yang seakan siap mencabik-cabik dirinya. Melihat pria itu tidak bergerak Dimas langsung mengambil handphone yang masih menyala dari genggaman Pria itu. Dimas melihat foto yang di Khiren ke orang yang bernama BB adalah foto Khiren dari pertama masuk sampai saat Khiren memberikan kunci rumahnya pada Aldo. Dimas benar-benar emosi dan dia langsung menghubungi orang yang bernama BB.


“Ada apa Ori?” Revan langsung menjawab penggilan itu dengan cepat.


“Dengar baik-baik, jangan pernah mengganggu Khiren atau kamu akan melihat neraka sebelum waktunya.” Dimas langsung mematikan handphon itu lalu menghapus semua foto dan beberapa rekaman saat mereka sedang berkumpul dan mengembalikan handphon itu ke pemiliknya sebelum ia pergi.


Setelah Dimas masuk dalam café itu barulah Ori menelpon bosnya.


“Hallo pak Revan, maaf pak saya ketahuan sama teman nyonya.”


“Dasar bodoh! Hal yang gampang itu aja kamu gak becus apa lagi hal yang lain.” Revan sangat marah dan terus membentak Ori


“Pak, tolong jangan pecat saya! Saya harus kasih makan anak dan istri saya pak”


“Kamu pikir saya begok apa? Kamu itu belum nikah dan gak punya anak, cepat kembali ke kantor dalam 5 menit atau kamu saya pecat.”


“Tapi pak…” sebelum Ori selesai menjelaskan Revan sudah lebih dulu mematikan handphonenya


“Aduh, padahal mau bilang jarak kantor sama cafenya terlalu jauh buat sampai dalam 5 menit. Sudahlah, apa daya aku yang cuma bawahan.” Ori pun pergi.


Situasi di dalam café, Dimas sudah meredam emosinya sebelum masuk delam café dan mengajak Khiren dan teman-teman lainnya untuk segera pergi. Khiren yang berada dalam satu mobil merasa ada yang salah dengan sikap Dimas setelah keluar dengan pria asing tadi.


“Kamu kenapa?” Tanya Khiren penasaran.


“Kakak!” Ucap Dimas tegas.


“Iya, kakakku sayang kenapa? Tadi masih baik-baik aja kok sekarang jadi aneh gitu. Auranya lebih dingin di banding tadi.”


“Khiren, kamu di ikuti sama pria yang aku temui tadi. Kalau tebakan aku benar mungkin dia adalah orang suruhan suami kamu. Sebaiknya kamu bilang sama suami kamu kalau gak pulang hari ini atau dia akan mengirim lebih banyak orang lagi nanti.” Dimas bicara dengan nada datar dan tetap fokus menyetir


Ucapan Dimas yang terdengar oleh telinga Khiren malah terkesan lembut dan membuat dia tidak Syok atau pun khawatir dengan hal yang di katakana Dimas. Pendengaran orang-orang dengan apa yang Dimas rasa adalah dua hal yang bertolak belakang karna sering kali saat Dimas bicara dengan nada datar malah yang terdengar malah dia bicara dengan lembut. Namun ketika dia mulai marah atau kesal dia akan terlihat seperti iblis dengan mata tajamnya walau ucapannya masih terkesan lembut.

__ADS_1


Bersambung…


Mohon untuk pembaca memberikan sedikit komentar tentang novel ini, agar kekurangan dan kesalahan bisa kami perbaiki. Jangan lupa like dan favoritkan, satu like dari kalian sangat berpengaruh untuk kami. Salam hangat dari author Love Scenario.


__ADS_2