Love Scenario V2

Love Scenario V2
Episode 10


__ADS_3

Jam 7 malam sebuah mobil putih sudah menunggu lebih dari 1 jam di depan gerbang rumah Khiren. Khiren dengan gaun malam warna merah tua membalut seluruh tubuh cantiknya, ia keluar dan menghampiri mobil itu. Seorang keluar dari mobil dan membuka pintu untuk Khiren.


“Silahkan masuk, nona!” Supir itu menutup pintu dan masuk ke tempat duduk supir.


Aldo dan Dimas mengikuti mobil itu dengan motor dan di ikuti oleh Revan dan yang lain setelah mobil yang di tumpangi Khiren sedikit menjauh.


“Dimas! Yang cepat dong nanti kita ketinggalan jejak Khiren!”


Mendengar ocehan Aldo, Dimas langsung menambah kecepatan dan hampir membuat Aldo jatuh.


“Pelan-pelan dong!” Teriak Aldo yang mulai ketakutan saat Dimas menyelip beberapa mobil besar.


Mereka terlalu cepat hingga Dimas tidak bisa mendengar ocehan Aldo dengan jelas. Dia sedikit bersyukur karena dengan menambah kecepatan setidaknya dia bisa menyelamatkan telinganya dari Aldo yang cerewet. Akhirnya mobil yang di tumpangi Khiren berhenti di sebuah restauran Italia yang cukup populer di kota. Tempat itu terkenal karena kemewahannya dan sangat cocok untuk dijadikan tempat berkencan. Khiren turun dari mobil layaknya seorang putri dari sebuah kerajaan dongeng, dia begitu anggun dengan langkahnya yang begitu teratur seperti para bangsawan kerajaan.


Sebelum masuk ke tempat itu Aldo dan Dimas menunggu kedatangan Revan dan teman-teman yang lain. Tak sampai setengah menit mereka sudah sampai.


“Bagaimana? Kita langsung masuk atua…”


“Dengar baik-baik, kita ke sini karena ingin makan malam bersama dan tidak tau kalau Khiren juga ada di tempat ini. Bicara dengannya senatural mungkin dan Ryo, kalau kamu tidak bisa bersandiwara diam dan amati saja, oke!” Farhan mengarahkan mereka untuk tidak berbuat kesalahan.


Mereka masuk dengan santai seakan tidak terjadi sesuatu pun, semua mata tertuju pada tujuh pria yang layak di sebut pangeran. Para wanita yang ada di rungan itu terkesima melihat ketampanan yang luar biasa, bahkan dari antara mereka banyak yang melupakan pasangannya karna terlalu terpesona dengan tujuh pria tampan itu.


“Lo udah pesan tempat?” Kiki sedikit khawatir karna dia lupa untuk memesan tempat sebelum pergi ke restaurant itu, tempat itu harus di pesan jauh-jauh hari karena pelanggannya yang begitu ramai.


“Tenang! Semua udah di urus sama Dimas.”


Dimas adalah seorang dokter terkenal di korea, dia cukup terkenal di kalangan atas, bahkan salah satu pasiennya adalah pemilik dari tempat itu dan karena akses orang dalam dia dapat memesan tempat kapan saja di restauran itu. Mereka sengaja memilih tempat yang berdekatan dengan meja Khiren, Kiki pura-pura tidak sengaja menyenggol meja khiren dan membuat anggur Alfin tumpah.


“Aduh! Sorry banget! Gue gak sengaja.” Kiki terkejut melihat wajah kedua pasangan itu. “Khiren! Ngapain ke sini? Ternyata lo, Fin! Serius gue benar-benar gak sengaja. Gimana kalau gue bantu lap?” Kiki mengambil tisu dan mengelap pakaian Alfin,

__ADS_1


“Ah! Ga usah, gak perlu! Biar saya saja!” Alfin sangat emosi dengan Kiki yang sengaja makin memperparah kotor bajunya.


“Sok formal banget!” Sindir Aldo


“Kalian kesini buat apa?” Khiren mengabaikan Alfin yang sedang marah karna bajunya kotor.


“Tentu saja buat makan, aku dan teman-teman’kan udah lama gak ke Italia. Terus kami kangen masakan restoran di sana, makanya aku ajak mereka makan di tempat ini.” Ucap Morlin.


“Oh” Khiren melanjutkan makannya dan mengabaikan semua orang yang ada di sana.


“Putri kecil, boleh dong kami gabung disini?” Pinta aldo dengan nada manja ciri khasnya.


“Gak!” Alfin menatap Aldo dengan tatapan membunuh. “Kalian cari tempat lain aja! Lagian meja ini cuma untuk dua orang saja.”


“Tenang tuan! Kami bisa menyediakan meja tambahan di sini!” Seorang pelayan datang menghampiri mereka. “Sesuai permintaan tuan Dimas, kami akan segera menyiapkan meja tambahan. Mohon di tunggu!”  Dalam sekejam beberapa pelayan lainnya membawa meja tambahan dan mengatur kursi untuk para tamu khusus.


“Fin, lo kok kayak gak senang kami di sini? Lo gak suka sama kami yang saudara Khiren?” Farhan menekankan kata ‘saudara Khiren’ di ucapannya, dia mulai bersandiwara seakan dia merasa di benci.


Alfin sangat tau kalau Khiren akan mudah emosi kalau dia menyinggung saudaranya, Alfi berusaha menahan emosi dan bersikap sewajarnya. “Tentu saja tidak! Saya malah menganggap kalian seperti saudara sendiri.”


“Jangan senyum kalau itu senyuman paksaan!” Dimas bicara dengan nada dingin.


Suasana mulai berubah menjadi tegang, mereka saling menatap dengan tatapan sedingin es. Alfin hampir tidak bisa menahan emosi dengan melihat wajah Farhan yang tersenyum licik di samping Khiren. Dimata Alfi tujuh pria itu terlihat seperti rubah yang sedang menyamar, mereka menyembunyikan sifat liciknya di balik ucapan dan senyum yang terlihat bersahabat.


Melihat ketegangan itu Aldo mulai memutar otaknya dan mencoba memecahkan keheningan itu. “Ayo kita bersulang! Anggap ini adalah pertemuan teristimewa antara teman” Aldo mengangkat gelasnya dan di ikuti oleh teman-teman yang lain. “Bersulang untuk malam yang istimewa!” Mereka mulai meminum anggur yang sudah sejak lama yang di tuangkan oleh pelayan.


“Aduh! Kepalaku pusing!” Anggur di tangan Revan jatuh dan dia terus memegang kepalanya. Semua orang terkejut walau respon awal hanya bengong tapi, untungnya Dimas langsung bertindak.


Dimas bangun dan memeriksa nadi Revan dan dia sedikit memberi kode pada Aldo yang berada di sebelah Revan. “Sepertinya ini gejala alergi. Cepat bawa dia pulang!”

__ADS_1


“Aduh! Gue ada acara setelah ini! Lo anterin aja deh, Ki?”


Kiki menggeleng-gelengkan kepala dan ingin mengutarakan alasannya namun, Khiren langsung angkat berbicara lebih dahulu. “Biar aku saja!”


“Tapi kita kan…” Alfin ingin mencoba menghentikan Khiren.


“Jangan jadi egos! Dia sedang sakit dan kamu malah mikirin hal yang gak penting!” Khiren terlihat sangat emosi dan  Alfin tidak bisa membantah ucapan Khiren. Khiren berjalan kearah Revan yang terus mengeluh kesakitan, dia memapah pria yang terlihat lemah itu dan mengambil kunci mobil di tangan Aldo. Mereka meninggalkan Alfin yang mulai di serang oleh kakak-kakak Khiren yang sudah sejak lama menahan emosi.


Khiren membukakan pintu dan sedikit mendorong Revan masuk ke dalamnya. Khiren membawa mobil dengan kecepatan tinggi dan saat mereka benar-benar sudah jauh dari restauran itu, dia mulai memelankan laju mobilnya.


“Berhenti berpura-pura. Kamu pikir aku sebodoh itu bisa kalian tipu dengan adegan yang gak masuk akal?!”


Revan sangat terkejut dengan ucapan Khiren yang di lontarkan penuh dengan emosi.


“Kalian hanya actor amatir, bahkan kak Dimas yang tidak terlalu suka drama malah ikut-ikutan. Kalian itu gak masuk akal, bagaimana bisa kamu alergi anggur? Yang lebih parahnya sebenarnya kamu gak meminum anggur itu’kan?”


“Bagaimana kamu tau? Bahkan kamu tidak melirik kearah kami?”


“ ‘apa yang kamu lihat bukan, apa yang benar-benar terjadi’ apa kamu sering mendengar hal itu? Anggap aja seperti fatamorgana kamu anggap itu nyata padahal itu hanya ilusi. Aku memerhatikan kalian meski tidak benar-benar menatap.”


“Kalau kamu tau sejak awal kenapa tidak hentikan saja kami?”


“Karena aku suka!”


Revan sulit mencerna ucapan dan senyum tipis Khiren yang terlalu tiba-tiba.


Bersambung…


Mohon untuk pembaca memberikan sedikit komentar tentang novel ini, agar kekurangan dan kesalahan bisa kami perbaiki. Jangan lupa like dan favoritkan, satu like dari kalian sangat berpengaruh untuk kami. Salam hangat dari author Love Scenario.

__ADS_1


__ADS_2