
Khiren dan Dimas berhenti di sebuah supermarket dan berbelanja bahan makanan. Saat mereka sedang memilih sayur yang akan di beli, suara notifikasi pesan dari smartphone Khiren menghentikan langkah mereka.
“Kamu dimana?” Pesan dari Revan
“Aku jalan sama teman, kamu gak usah khawatir. Aku gak pulang malam ini, aku tidur di rumahku dan jangan ganggu aku, oke!” Khiren juga mengirim emosi memohon di akhir pesannya karena dia benar-benar tak ingin di ganggu oleh Revan.
“Siapa?” Tanya Dimas sambil terus memilih bahan makanan.
“Gak penting. Udah siap, kan? Kita beli cemilan juga dong!”
Dimas menatap Khiren dengan mata iblis nya dan berusaha mengatakan tidak boleh. Khiren tau kalau Dimas adalah orang yang tidak suka dengan cemilan karena menurutnya itu sangat tidak sehat tapi, Khiren mengeluarkan jurus memohon anti penolakannya. Mata Khiren hampir mengeluarkan air mata dan itu membuat Dimas jadi luluh dan mengiyakan semua keinginan Khiren. Sampai di rumah dia melihat teman-teman yang lain sudah mulai bermain dengan video game yang baru saja di beli beberapa hari yang lalu.
“Ternyata Putri kecil punya game yang baru rilis, kalau kayak gini mah kita-kita bakalan sering nginap ,ya'kan Al?” Ucap Farhan sambil menyenggol Aldo di sampingnya.
“Apaan sih! Ngeselin banget, kan gue jadi kalah ni!”
“Itu takdir kamu Al. Sini giliran aku yang main.” Morlin langsung menggantikan Aldo yang kalah.
“Ya udah aku dan kak Dimas masak dulu. Ni ada cemilan tapi, sisakan buat koki, ok!” Khiren meletakkan cemilan yang di belinya dekat dengan Kiki.
Melihat Kiki yang langsung mengambil cemilan, mereka langsung berhenti bermain dan merebut beberapa cemilan dari tangan Kiki yang rakus. Khiren tak bisa menahan tawanya ketika melihat kebiasaan konyol teman-temannya. Tak sampai setengah jam, masakan sudah siap di hidangkan di meja makan. Kiki dan teman-teman yang lain sudah duduk dan siap menyantap makanan yang di hidangkan oleh chef Dimas.
“Wah, boleh langsung makan gak ni?” Kiki terlihat tidak sabaran untuk memakan semua hidangan yang ada di meja.
“Sabar bro! Kalau lo mau makan mending tunggu Dimas duduk dulu atau lo mau di makan sama Dimas nanti?” Ryo melirik kearah Dimas yang sedang dalam mode emosi.
“Sekarang waktunya makan, jadi jangan buat keributan lagi oke!” Khiren yang sudah sangat lapar langsung memulai mengambil makanan sebelum yang lainnya.
Setelah makan mereka langsung melakukan pertandingan dua tim dengan taruhan yang kalah akan membersihkan piring. Setelah beberapa babak akhirnya Tim Khiren keluar jadi pemenang dan Tim Aldo yang terdiri dari Farhan dan Kiki kalah dan terpaksa mencuci piring.
“Kleak..” Suara pintu di buka, dan Revan masuk tanpa ada orang yang menyadari. Suara berisik dari supporter yang sedang mendukung Khiren membuat suara pintu yang tertutup pun tidak terdengar. Revan terus berjalan menuju sumber suara yang sangat keras itu. Revan berdiri di depan pintu raungan itu dan memperhatikan Khiren yang mukanya di coret-coret oleh Kiki dan Dimas.
“Apa yang kalian lakukan?” Revan sangat kesal melihat ada laki-laki lain yang menyentuh wajah istrinya.
__ADS_1
“Siapa dia?” Morlin orang pertama yang menyadari kehadiran sosok pria tinggi kuning langsat itu.
Semua orang dalam ruangan itu sangat kaget melihat kedatangan Pria yang tidak di undang. Khiren pun sangat terkejut melihat Revan berdiri di depan pintu dengan wajah suram dengan emosi yang di tahan.
“Em… dia… dia suami aku?” Khiren menjawab dengan ragu-ragu.
“Oh, suami!” Aldo langsung merangkul Revan dan membawanya ke dalam. “Silahkan duduk! Yang dekat dong sama istrinya.” Aldo tertawa geli melihat Revan yang masih kaku di dekat Khiren. Aldo memberi kode ke anggota lain untuk segera keluar meninggalkan Khiren dan Revan.
“Kalian mau kemana?” Tanya Khiren.
“Em.. Ahh.. Itu loh, kami mau lihat kamar dulu” Kiki mencoba mencari alasan dan menepuk bahu Dimas yang ada di depannya. “Bantuin dong!” Bisik Kiki.
“Kan bisa nanti!” Khiren curiga dengan gelagat mereka.
“Udahlah Khiren, kami cuma sebentar aja.” Dimas bicara tegas dan segera membawa Kiki keluar dari tempat itu dan si susul Morlin, Farhan dan Aldo.
Dalam ruangan itu hanya ada Khiren dan Revan yang masih dalam keadaan canggung.
“Karena kamu di sini! Kenapa kamu lembut dengan mereka, sedangkan dengan aku kamu malah ketus seperti ini!”
“Karena mereka adalah saudaraku, sahabatku dan kakak yang selalu menjagaku. Apa jawaban itu cukup untuk semua pertanyaan dan kecurigaan kamu padaku?” Khiren semakin emosi saat Revan mulai membawa hubungannya dengan para anggota 7 bersaudara.
“Sudahlah aku gak mau ribut dengan kamu”
Khiren memalingkan wajahnya dari Revan dan tempat itu mulai sunyi kembali seperti tidak ada orang. Di samping itu Dimas dan teman-teman yang lainnya berkumpul di kamar lantai dua.
“Bagaimana itu?”
“Apanya bagaimana? Kita harus membuat Khiren bahagia walaupun harus menyingkirkan Pria itu.”
“Aku kurang setuju dengan pemikiran mu Ryo. Walau bagaimanapun pria itu suaminya sekarang dan kita gak boleh melukai nya.”
“Aku setuju dengan pendapat Aldo. Tapi, Putri kecil kita bilang dia tidak menyukai Pria itu. Bagaimana kalau kita buat orang itu yang meninggalkan Khiren. Soalnya kalau Khiren yang meninggalkan pria itu tentu saja Bunda pasti tidak akan tinggal diam dan kita sebagai Anak anak Bunda mana mungkin bisa melawan Bunda, ya'kan?”
__ADS_1
“Kiki, yang kamu katakana itu benar! Sebaiknya kita mendengar pendapat Farhan.” Usul Dimas yang sangat percaya kalau Farhan selalu bisa menyelesaikan masalah apapun.
“Aku punya ide tapi, sebaiknya Khiren tidak perlu tahu karena jika dia tahu mungkin rencananya akan sedikit berantakan atau dia tidak akan setuju.”
“Okelah, itu masalah gampang jadi, sekarang katakan apa rencananya?”
“Rencananya sederhana. Kita hanya akan membuat mereka saling jatuh cinta dengan alami. Kalau bisa pria itu haruslah jadi orang yang paling mencintai Khiren. Kalian tahukan kalau Khiren itu tidak pernah suka dengan lawan jenis dan banyak rumor yang mengatakan kalau Khiren itu gak norma! Dengan membuat hubungan mereka menjadi harmonis kita bisa dapat dua keuntungan dan Khiren pasti akan bahagia.”
“Maksud kamu kita harus membuat scenario cinta untuk mereka begitu?” Dimas menjadi ragu dengan ide Farhan.
“Tepat sekali, scenario cinta! Tapi, sebelum itu kita harus pastikan sudah di tahap mana perasaan pria itu terhadap Khiren. Ceritanya nanti aku akan ajak orang itu ngobrol di dapur dan mungkin aku akan menggunakan salah satu dari kalian untuk mengetes dia.”
“Kalau itu sih gak masalah. Sekarang ayo kita turun dan laksanakan rencana kita.” Kiki mulai keluar dan di ikuti dengan anggota lainnya.
Saat mereka masuk keruangan tempat mereka main game, mereka melihat Khiren membuat jarak antara dia dengan Revan dan mereka tidak saling bicara dalam waktu yang cukup lama.
“Khiren, masa kamu gak kenalin kami ke suami kamu, sih?” Ucap Aldo dengan nada menggoda Khiren.
“Em, ini suami aku namanya Revan dan Revan, ini adalah teman-teman aku, yang ini adalah Aldo, Kiki, Dimas, Farhan, Ryo dan yang paling pendek itu Morlin.”
“Apaan sih! Kan tinggi kita Cuma beda 2 cm aja. Biar gue gak setinggi Dimas dan Farhan seenggaknya gue punya banyak cewek yang ngejar-ngejar gue. Kagak kayak Farhan yang masih jomblo.”
“Siapa bilang gue jomblo. Gue udah tunangan. Gue ini udah taubat kali!”
Melihat tingkah Morlin dan Farhan membuat semua menjadi tertawa karna mereka sangat lucu saat saling mencibir dan mereka juga sering bertengkar dengan masalah tinggi badan dan juga pacar.
“Hahaha… kalian berdua sangatlah lucu.” Ucap Revan yang masih tertawa dengan tingkah konyol para sahabat Khiren.
Suasana mulai terkendali, raut wajah Khiren yang kesal kini berubah menjadi ceria seperti sebelumnya. Disela waktu Revan mencuri pandang dengan Khiren, dia melihat senyum manis Khiren yang tak pernah dia lihat sebelumnya. Dia terkagum dengan pesona Khiren yang luar biasa, dia lebih cantik dari wanita yang pernah di temui nya, bahkan artis terkenal pun tak bisa membuat Revan terpesona seperti yang Khiren lakukan.
Bersambung…
Cuma mengingatkan buat jangan lupa like dan komen, kalau bisa sih kasih vote juga biar bisa semangat. Makasih sudah berkunjung, sampai jumpa di episode berikutnya.
__ADS_1