
Meskipun Mex dan Khiren sudah menikah tapi keduanya memiliki kamar yang terpisah, kadang keduanya tinggal satu kamar itu pun jika orang tua Khiren berkunjung atau saat Khiren meminta Mex untuk datang padanya.
Orang berpikir keduanya pasangan mesra tapi orang dalam rumah itu cukup tahu kalau ada jarak yang tak terlihat antara nyonya dan tuan mereka.
Saat Khiren akan beranjak tidur tiba-tiba Revan menghubunginya.
'dring!!'
Handphone Khiren terus berbunyi tapi dia tidak ingin menjawab panggilan itu. Dia benar-benar mengabaikan panggilan itu dan mengecilkan nada dering handphone nya.
Lalu beberapa pesan pun masuk, karena tertanggung dengan layar handphonenya yang terus menyala tiap kali ada pesan masuk, Khiren pun menyerah dan melihat pesan dari Revan.
Khiren hanya membaca pesan itu, tanpa berniat membalasnya. Hingga pesan lainnya pun di kirim.
"Anak ini memang sudah tidak waras, kenapa dia harus melakukan ini?" Pikir Khiren kesal.
__ADS_1
'Dring!!!'
Panggilan dari Revan kembali masuk dan kali ini Khiren tidak bisa mengabaikan panggilan itu.
"Hallo!" Sapa Revan dengan suara lembut dan sedikit beratnya itu
"Heum. Jadi apa yang ingin kamu bicarakan?" Tanya Khiren tanpa basa-basi.
"Aku hanya ingin mendengar suara mu saja "
"Kamu sudah mendengarnya sekarang jadi, apa bisa kita sudahi panggilan ini?" Tanya Khiren dengan nada kesal.
"Untuk apa? Aku rasa tidak ada yang perlu di bicarakan lagi, bukan?"
"Tentu saja ada, sayang. Apa kamu tidak merindukan putra mu?"
"Sekarang apa yang ingin kamu lakukan lagi? Apa kamu ingin menghabisinya?"
"Heum... Aku tidak berpikir melakukan itu dengan cepat, ya setidaknya sampai kamu benar-benar yakin dengan keputusan mu. Apa kamu tetap akan tinggal dengan pria itu atau kembali padaku, jika pada akhirnya kamu memiliki orang itu maka.... Jangan salahkan aku jika kamu kehilangan anak itu untuk selamanya " Ucap Revan dengan santainya.
__ADS_1
"Kamu gila? Kenapa sih kamu harus terus mengganggu hidupku! Kenapa harus aku? Di dunia ini masih ada banyak wanita tapi, kenapa harus aku?"
"Karena kamu adalah orang yang paling aku cintai dan aku ingin miliki, tidak peduli bagaimana dunia memisahkan kita tapi, aku akan terus berusaha untuk mendapatkan kamu kembali... Seperti sudah cukup larut, kamu istirahat dengan tenang dan besok temui aku di tempat yang sama sebelum makan siang. Aku menunggu mu"
Revan pun mengakhiri panggilan itu.
"Dasar anak gila! Kenapa sih aku harus merasa kalah pada dia? Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak bisa diam saja.... Anak ku, tolong tunggu ibu sebentar lagi, kamu pasti akan selamat"
Khiren tidak bisa tidur, dia segera menghubungi orang-orang suruhannya dan menanyakan hasil dari pencarian mereka. Sayangnya tidak ada seorang pun dari ratusan orang yang di kirim Khiren untuk mencari bayinya itu memberikannya kabar baik. Semua tempat yang di curigai sudah di cek tapi tetap saja tidak ada tanda-tanda kalau Li Kenzo ada di sana. Khiren sangat semakin cemas pada putranya itu, apa lagi setelah mendapat ancaman dari Revan. Untuk saat ini tidak ada yang lebih penting dari nyawa putrinya, dia tahu kali ini dia benar-benar tidak bisa lepas dari Revan. Bagaimanapun dia mencari cara dan pada siapapun dia meminta bantuan pada akhirnya hasilnya tetap sama, hanya rasa kecewanya yang selalu ia dapat. Waktu terus berlalu dan tak terasa sudah tengah malam, Khiren terus saja mondar-mandir dan mencari cara untuk membebaskan putrinya dari Revan, tapi tidak ada satupun cara yang muncul di otaknya saat itu selain menyerahkan diri pada Revan.
"Kenapa rasanya akhir dari segalanya adalah Revan, berapa banyak usaha yang aku lakukan selama untuk menjauhi anak itu, tapi pada akhirnya kami selalu saling terpaut." Pikir Khiren.
Khiren mulai melangkah keluar ke balkon kamarnya, dia melihat kearah langit yang tak berbintang hanya hamparan warna hitam yang terlihat di atas sana.
"Apa benar benar kata orang kalau ada hal yang sudah jadi scenario tuhan dan manusia tidak bisa mengubahnya? Apa Revan dan aku adalah bagian dari scenario itu? Apa aku benar-benar harus berakhir bersama dia? Tapi kenapa? Bahkan aku sendiri tidak yakin kalau dia adalah orang yang pantas untuk ku.... Lagian kenapa dia harus terobsesi dengan ku sih? Memangnya aku melakukan apa hingga dia benar-benar tidak bisa melihat kearah lain?" Ucap Khiren kesal.
"Tuhan! Jika dia memang orang yang engkau pilihkan untukku, tolong luluh kan lah hati ku untuk dia tapi, jika bukan tolong beri aku cara agar bisa menjauh dia" Ucap Khiren sambil menatap langit.
Lalu tiba-tiba angin berhembus pelan dan membuat Khiren semakin mengantuk.
__ADS_1
"Huammmm.... Kenapa mataku berat, ya?" Khiren terus menguap lalu dia kembali ke kamar dan tidur.