
“Baiklah, dimana?”
“Akan aku kirim alamatnya sekarang, cepat segera datang karena ini darurat”
“Baik”
Setelah itu Dimas mengirim alamat sebuah rumah yang terpencil di sebuah desa di daerah Jepang. Khiren merasa ragu pergi tapi, dia penasaran apa yang ingin seorang Dimas bicarakan hingga mendesaknya.
“Apa apa?”
“Kenapa tidak duduk dulu?” Tanya Dimas dengan nada lembut dan hangat seperti biasa.
“Ya, sekarang apa bisa langsung ke intinya?”
“Kenapa kamu terburu-buru? Apa yang membuat adik kecilku menjadi sangat gelisah dan terburu-buru”
“Sudahlah kak! Aku yakin kita sudah cukup bersandiwara selama ini bukan?”
“Padahal kamu masih memanggilku kakak tapi, sikapmu masih saja seperti dulu, Khiren yang sebenarnya”
“Berhenti membuang waktu dan katakan apa yang ingin kamu katakan!” Khiren mulai kesal dengan Dimas.
“Padahal dulu kamu sangat menghormati ku, selalu mendengar semua nasehatku dan bersikap seperti adik pada umumnya, kenapa sekarang kamu sangat-sangat berubah.”
“Kenapa tiba-tiba kakak mengatakan itu? Ada masalah apa?”
“Kamu tahukan adik-adik mu sekarang sudah berusia lebih dari 10 bulan, artinya Bunda juga sudah tertidur selama itu”
“Lalu apa? Sebenarnya kakak mau bicara apa sih?”
“Selama ini aku menutup mata dan telingaku untuk keutuhan persahabatan kita yang ingin aku jaga tapi, aku juga tidak ingin kamu terluka, aku tahu selama ini aku sudah banyak ikut campur dalam urusan pribadimu hingga mungkin ada rasa benci dalam hatimu untuk aku, ya’kan?”
__ADS_1
“Meski aku sempat membenci kak Dimas tapi, aku tidak mendendam pada orang yang sudah dari kecil bersamaku, orang yang paling mengenalku lebih dari siapapun di keluarga itu”
“Syukurlah kalau memang kamu tidak membenciku”
“Kak, tolong jangan membuat aku kebingungan dengan apa yang ingin kakak sampaikan, aku punya batas kesabaran”
“Baiklah aku langsung ke intinya, aku tahu kamu berencana untuk menghancurkan kekuatan Bunda, ya’kan? Kamu bahkan membuat kekuatanmu sendiri dengan bantuan nenekmu, bukan?”
“Dari mana kakak tahu masalah itu?”
“Apa itu penting? Sekarang yang paling penting Bunda sudah sadar dan ada yang melaporkan masalah ini padanya, dia ingin mengambil si kembar segera karena dia takut kamu akan menyakiti adik mu karena masalah ini”
“Bahkan Bunda tidak bisa berpura-pura percaya pada anak kandungnya sendiri, dari dulu dia selalu begitu, bersandiwara di depan dunia seakan dia adalah ibu yang penuh cinta dan kasih sayang untuk putrinya padahal dia bahkan tidak ingat kapan aku lahir ke dunia ini. Aku akan segera mengirim anak yang selalu dia inginkan itu padanya setelah ini”
“Lalu apa? Apa kamu akan tetap melawan Bunda mu? Apa kamu tega menghancurkan keluargamu sendiri?”
“Memangnya aku masih punya keluarga setelah kakek tiada? Mereka yang bahkan tidak pernah menanyakan kabar ku apa itu pantas di sebut keluarga? Mereka hanya ingin tahu apa yang aku capai tanpa peduli berapa banyak luka yang aku terima demi ambisi meraka.”
“Tidak, kakak salah! Mereka tidak punya alasan selain ambisi mereka yang lebih besar di bandingkan dengan rasa kasih sayang mereka terhadap anak mereka sendiri. Hanya kakek lah yang selalu melakukan apapun agar aku bisa bahagia. Meski kakek mendidik ku sangat keras dari dulu tapi, kenyataanya semua yang dia ajarkan semua perilaku yang dia terapkan padaku itu di peruntukkan agar aku bisa bertahan hidup di dunia yang kejam ini” Khiren terlihat sangat kesal sekaligus kecewa tiap kali dia mengingat masalah keluarganya.
“Aku membunuh seseorang di usia 14 tahun, kamu pikir kenapa aku bisa lolos dari penculikan waktu itu? Semua karena kakek memerintahkan aku membawa senjata kemana pun aku pergi, aku selalu di dorong untuk menguasai semua jenis ilmu beladiri. Dan apa kamu tahu kak, semua yang aku pelajari selama tinggal bersama kakek akhirnya bisa aku praktekkan saat usia 14 tahun.”
“Kamu tahu kenapa aku mengatakan pada publik kalau aku alergi pada anggur dan alkohol padahal itu tidak benar, itu karena di saat aku berusia 18 tahun, di pesta kelulusan yang diadakan oleh keluarga Kinan untuk merayakan kelulusan kita semua, seseorang memberiku minuman yang beralkohol, di dalamnya terdapat racun untuk membunuhku, aku kesulitan membedakan racun dari minuman itu hingga aku tanpa kewaspadaan meminumnya, untungnya aku masih hidup berkat kakek yang sudah dari dulu membuat aku kebal dari racun.”
“Apa? Kenapa masalah itu baru aku tahu hari ini?”
“Itu karena aku tidak ingin membuat kerubutan, lupakan itu lagian itu sudah sangat lama. Aku ingin pulang sekarang”
“Tunggu! Khiren, apa kamu benar-benar membenci keluargamu sekarang? Apa kami bukan keluargamu?”
“Kalian beda dari mereka, kalian adalah keluarga sejatiku, sedangkan mereka yang membuang anaknya untuk kepentingan diri sendiri itu tidak bisa disebut keluarga.”
__ADS_1
“Apa tidak ada cara lain selain mengancurkan mereka?”
“Ada, tapi mereka terlalu egois, aku yakin dia tidak akan mau mengikuti keinganku”
“Memangnya apa yang kamu inginkan?”
“Aku ingin kehidupanku, aku ingin kebahagian yang tidak di batasi, aku ingin kebebasanku! Apa kamu paham?”
“Aku selalu ingin berada di dunia seni tapi mereka menentangku, mereka menghancurkan semua usahaku, lalu mereka juga membuatku tejebak dalam penikahan politik yang menyiksa batinku setiap detiknya.”
“Maksudmu hubunganmu dengan Revan hingga detik ini belum selesai juga? Apa salahnya kamu menerima dia? Dia pria baik, dia selalu berusaha membuat kamu bahagia, selalu berusaha menjadi yang kamu inginkan”
“Untuk apa dia berusaha kalau hatiku bukan untuk dia, aku sudah punya pilihanku, aku tersiksa karena Revan adalah orang baik, dia sangat baik hingga setiap kali menyakitinya aku juga merasakan luka yang sama tapi tetap saja aku tidak bisa menerima hubungan ini”
“Kamu tidak mau menerima dia bukan karena anak culut itu bukan?”
“Tolong jaga ucapanmu! Dia punya nama, namanya adalah Vano! Kak, aku sudah cukup lelah hari ini, aku ingin kembali ke rumahku”
“Apa kamu yakin kamu menolak pernikahanmu karena Vano atau karena hubungan itu masih memberikan kekuatan untuk Bunda?”
“Itu juga salah satu alasan utama. Aku tidak akan berhenti kali ini, aku tidak akan menyerah dan aku pastikan akan menang, aku menginginkan kehidupanku dan aku akan mendapatkannya”
Lalu Khiren pergi bersama pengawalnya dan meninggalkan Dimas di tempat itu.
“Adik kecilku yang malang, kamu masih saya tidak tahu siapa yang sebenarnya kamu cintai, kamu hanya sedang di selimuti amarah pada mereka yang terus menjadikanmu boneka yang di kendalikan, kamu hanya sedang di butakan dendam hingga tidak bisa berpikir dengan benar” Ucap Dimas sambil melihat kepergian Khiren bersama para pengawalnya.
Bersambung......
Jangan lupa meninggalkan jejak bacaannya dengan like, vote, dan kasih reting 5 untuk novel ini.
SELAMAT MEMBACA 😊😊😊😊
__ADS_1