
“Bagaimana dengan keadaan Revan? Apa lukanya tidak parah?”
“Sebenarnya tidak parah dan hanya perlu mengoleskan salep yang saya berikan tadi saja, mungkin dalam beberapa hari dia akan pulih. Kalau begitu saya pamit pulang”
“Pelayan! Tolong antar dokter!” Perintah Khiren pada pelayan yang berada di luar kamar.
“Ah tidak usah, saya bisa pulang sendiri!”
“Terserah saja, saya tidak suruh mengantar samai rumah, kok. Saya cuma suruh dia mengantar Anda sampai pintu depan”
Dokter terlihat malu karena perkiraannya salah, dia segera bergegas keluar bersama pelayan yang mengikutinya. Khiren mengambil salep yang di berikan dokter dan segera mengoleskannya pada tangan Revan dengan hati-hati.
“Kalau sakit bilang, ya?”
“Baiklah”
Khiren mencoba mengoles dengan lembut tapi, terlihat jelas wajah Revan menggambarkan kalau itu membuat dia merasa kesakitan.
“Aku sudah bilang’kan kalau sakit kamu harus bilang!” Khiren kesal dengan Revan yang menahan rasa sakitnya dan membuat Khiren semakin merasa bersalah. “Kalau kamu terus seperti ini biar pelayan saja yang mengoleskan salepnya!” Khiren berhenti mengolesi salep pada tangan Revan dan dia beranjak dari tempat tidur.
“Tunggu! Tunggu, baiklah lain kali aku tidak akan menahan rasa sakitnya jadi, apa kamu bisa tetap mengoleskan obatnya?”
Amarah Khiren mereda dan dia kembali mengoleskan obat di tangan Revan, sesekali Revan mengeluh sakit dan Khiren terus berusaha untuk lembut dalam mengolesi obat ke tangan Revan.
“Sudah, sekarang kamu istirahat saja! Aku akan kembali nanti”
“Kamu mau kemana?”
“Aku ada urusan jad…”
__ADS_1
“Apa kamu tidak bisa menemaniku sebentar saja? Apa urusanmu itu sangat mendesak hingga kamu meninggalkan aku sendiri?” Revan berusaha terlihat menyedihkan di depan Khiren agar Khiren tidak pergi.
“Baiklah, aku akan menemani kamu!” Khiren akhirnya duduk di samping Revan yang mencoba untuk tidur.
Saat Revan terlihat lelap, Khiren pergi menuju balkon dan dia menghubungi seseorang.
“Hallo! Iya ini aku, sepertinya kita harus menunda keberangkatan kita. Ayolah, aku juga inginnya pergi sesuai jadwal tapi mau bagaimana lagi, anak itu dia sedang sakit”
“Anak yang mana?”
“Adalah, anak yang di titipkan Bunda padaku. Bagaimana kalau begini saja, kita semua berkumpul di bandara sehari setelah itu, lalu nanti kita gunakan saja helikopter yang akan menjemput kita nantinya. Ini untuk menyingkat waktu, dan aku akan memberikan kalian bonus liburan, bagaimana?”
“Kalau gitu sih, oke! Anak-anak yang lain juga gak masalah tapi, kali ini jangan di tunda lagi, ok?”
“Oke, gak masalah!”
Saat bersamaan Revan mendengar percakapan Khiren dengan orang misterius itu, Revan penasaran dengan siapa Istrinya bicara di larut malam dan rela keluar di tempat yang dingin demi bicara dengan orang itu. Saat Khiren akan kembali, Revan berlari dan langsung berpura-pura tidur, jantungnya berdebar dengan amat kencang karena takut Khiren tahu kalau dia mendengar obrolan Khiren saat di balkon. Dia mulai berkeringatan hingga Khiren makin khawatir dengan keadaan Revan.
Revan berpura-pura seakan baru bangun, dan mengusap matanya beberapa kali.
“Iya ada apa, sayang? Kenapa kamu bangun jam segini?”
“Tidak ada, Cuma… Lihat, kamu berkeringatan, ayo bangun biar aku lap saja tubuhmu!”
“Baiklah”
Khiren segera keluar dan membawa baskom berisi air hangat dan handuk kecil untuk mengelap tubuh Revan. Khiren segera membantu Revan membuka pakaiannya, tanpa ragu dia mengelap seluruh tubuh Revan. Sedangkan Revan dia merasa sedikit malu saat Khiren menyentuh seluruh tubuhnya, kelembutan Khiren membuat Revan semakin mencintai istrinya itu dan dia semakin bertekat untuk tidak akan melepas wanita cantiknya itu.
“Kenapa wajahmu memerah, apa kamu demam?”
__ADS_1
“Tidak, aku baik-baik saja!” Revan mengkap tangan Khiren yang akan mengelap bagian lehernya. “Sayang, kamu terlihat sangat cantik. Bolehkan aku menciummu?”
“Apaan, sih? Sepertinya kamu benar-benar sakit!” Khiren menarik tangannya, namun tangan Revan tidak mau melepas tangan lembut itu.
“Apa yang kamu..”
Handuk kecil yang berada di tangan Khiren seketika jatuh, saat Revan menarik paksa Khiren hingga dia menimpa tubuh Revan yang tak berbusana. Revan menerkam Khiren hingga dia tidak bisa mengelak, Revan berhasil membalikkan posisi hinga dia bisa leluasa mencium bibir merah jambu Khiran dengan lembut. Khiren sama sekali tidak bisa bergerak karena tubuhnya telah di kunci, dia hanya bisa pasra dengan ciuman panas dari Revan yang tidak bisa di hentikan itu. Malam yang panjang di lewati keduannya dengan sangat bahagian meski Khiren tidak mengakui kebahagian itu ada di dalam hatinya.
***
Pagi yang mendung, suara hujan dan petir yang sesekali muncul membuat kedua orang yang lelap dalam mimpi manisnnya terbangun, Khiren yang bangun lebih awal dan segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Revan yang ingin memeluk istrinya di pagi hari, tangannya meraba-raba ke sepenjuru tempat tidur dan saat membuka mata Khiren sudah hilang, dia tidak bisa mendengar suara air dari kamar mandi karena suara hujan deras.
“Sepertinya aku harus mengambil cuti hari ini, aku harus membuat hubunganku dan Khiren semakin lengkat agar dia menjauh dari berandal Alfin sialan itu!” Ucapnya.
Revan bangun dan menuju ke kamar mandi, pintu terkunci membuat dia tau kalau istrinya masih berada di kamar. Dia kembali ke kasur sambil berbaring menunggu Khiren keluar dari kamar mandi, saat keluar Khiren tidak bicara sepatah katapun, dia tidak terlihat marah tapi dia benar-benar mengabaikan keberadaan Revan dalam ruangan itu. Khiren masuk ke kamar pakaian dan mengaganti kapaiannya lalu turun begitu saja tanpa menyapa Revan yang masih berpikir apa yang terjadi pada istrinya itu.
“Kenapa dia mengabaikan aku, apa karena hal yang semalam? Tapi dia seperti tidak masalah dengan hal itu semalam, apa aku terlalu kasar padanya? Aku harus bicara dengan dia”
Revan berbegas mandi dan turun untuk menghampiri Khiren yang berada di meja makan sendirian. Saat berada di tangga lampu tiba-tiba mati dan membuat semuanya panik tapi, Khiren sama sekali tidak berkutik dan meneruskan makannya saat pelayan menyiapkan beberapa lilin di atas meja. Seorang pelayan lainnya yang melihat Revan masih berdiri di tangga segera membantunya turun dengan penerangan lilin.
“Kami akan segera membereskan kekacauan ini dan memastikan listrik kembali menyala.”
“Biarkan saja listriknya padam hari ini! Aku ingin membuat suasana romantic dengan istriku dan aku berharap kalian juga membantu. Tolong siapakan semua lilin yang banyak!”
“Baiklah tuan Revan”
Semua pelayan menyalakan semua lilin di setiap titik yang mungkin mereka lewati, sebuah lilin berbentuk hati di buat di atas lantai dekat kolam berenang. Sementara Revan duduk dan makan bersama dengan Khiren yang masih mengabaikan dia, Revan terus melirik kearah Khiren yang fokus dengan makanannya, wajahnya terlihat datar tanpa ekspresi meski dia tetap terlihat cantik dan menawan di depan mata Revan.
Bersambung….
__ADS_1
Cuma mengingatkan buat jangan lupa like dan komen, kalau bisa sih kasih vote juga biar bisa semangat. Makasih sudah berkunjung, sampai jumpa di episode berikutnya..