Love Scenario V2

Love Scenario V2
kunjungan


__ADS_3

Setengah bulan dari perjanjian telah berlalu dan Khiren terus saja menghitung hari, dia benar-benar merasa lelah menjadi manis di depan Revan, dia adalah mantan actor yang ternama tapi baru kali ini dia merasa lelah dan bosan menjalani perannya.


Sore hari itu seorang wanita paru baya yang masih terlihat cantik dan anggun datang dengan membawa dua pelayan bersamanya. Seorang yang sudah lama dia tidak temui dan bisa di bilang mereka hanya pernah bertemu dua kali setelah dia menjadi menantu wanita itu.


“Selamat sore tante, ada apa tante ke sini?”


“Memangnya saya harus punya alasan untuk menemui anak saya? Dan kamu kenapa kamu bisa di sini? Bukannya kamu sudah…”


“Mati?” Ucap Khiren santai dengan senyum seperti biasa.


“Saya tidak bermaksud mengatakan itu dan soal kejadian di rumah hingga kamu kehilangan anakmu saya sangat minta maaf.”


“Buat apa tente minta maaf? Bunda yang udah membuat saya kehilangan hidup saya saja tidak pernah minta maaf.”


Awalnya Ibu Revan terlihat ingin memarahi Khiren tapi setelah mendengar apa yang Khiren katakan dia malah merasa bersalah dan mengurungkan diri untuk mengatakan apa yang sudah dia rangkai dalam pikirannya.


“Revan mana?” Ibu Revan langsung mengalihkan topik pembicaraan.


“Dia akan terlambat pulang hari ini”


“Apa kalian sudah baikan?”


“Baikan? Kapan kami bertengkarnya?”


“Saya pikir kalian bertengkar dan bukannya kamu mengajukan cerai pada pengadilan?”


“Itu benar dan saya masih menginginkan itu hingga saat itu.”


“Loh kenapa? Bukannya akhir-akhir ini hubungan kalian sudah membaik?”


“Dari mana tante tahu kalau hubungan kami membaik?”


“Itu…. Eum, jangan panggil tente lah sayang, panggil aja Mama”


“Apa aku boleh panggil ‘ibu’ saja? Itu terasa lebih baik dari pada kata ‘mama’ ?”


“Terserah kamu saja”


“Bu, saya tahu kalau ibu adalah orang yang baik dan pengertian jadi, apa ibu bisa membiarkan kami cepat berpisah?”


“Kenapa? Apa ada yang salah dengan Revan? Apa dia kurang tempan atau dia kurang berkuasa?”

__ADS_1


“Dia pria yang sangat sempurna dan tidak bercelah tapi, ibu tahukan kalau manusia adalah makhluk yang serakah dan sulit di puaskan karena itu aku menginginkan hal lain”


“Seperti apa?” Ibu Revan mulai kesal


“Seperti kebebasan melakukan apapun”


“Kebebasan? Memangnya anak saya kurang membebaskan kamu apa? Kamu bisa pergi kemanapun yang kamu mau dan melakukan apapun seperti biasanya”


“Pergi? Kemana? Bahkan aku tidak bisa keluar dari pagar rumah ini”


“Jangan bercanda, Revan bukan orang seperti itu, dia tidak mungkin..”


“Aku sudah di penjarai di tempat ini hampir dua bulan penuh, aku hanya berharap ibu membantu aku keluar dari tempat ini dan ibu bisa mencarikan gadis yang baik untuk Revan”


“Gadis? Apa kamu benar-benar tidak mau mempertahankan hubungan kalian?”


“Sejak awal pernikahan ini bukan kehendak kami dan tidak mungkin ada rasa cinta antara kami yang di paksa untuk bersama”


“Kamu salah Khiren, Revan sudah sejak awal menyukaimu, saya tidak pernah memaksanya untuk menikah, setelah melihat fotomu dia setuju untuk ke Indonesia dengan alasan menjenguk kakeknya”


“Inilah perbedaan Ibu dan Bunda, kalian memang berteman sejak lama, tapi dia tidak pernah bisa menjadi ibu sesungguhnya. Tidak ada ibu yang mencintai putrinya dengan cara merampas kebahagiaan putrinya dan menjualnya untuk mendapatkan keuntungan diri sendiri”


“Maksud kamu apa Khiren?” Ibu Revan terlihat bingung dengan apa Khiren ucapkan tentang sahabatnya.


“Tidak, kamu pasti salah! Mereka tidak akan melakukan hal yang tidak bermorol seperti ini dan apa kamu tidak pernah mencintai Revan setelah kalian menikah selama setahun ini?”


“Aku pernah berpikir kalau aku dan Revan saling mencintai setelah banyak hari yang kami lewati bersama tapi… Beberapa bulan terakhir ini aku mulai sadar aku hanya menyukainya sebagai bagian dari keluarga seperti aku menyukai kak Dimas dan Aldo, aku menghargainya dan berharap dia tidak terluka karena aku” Khiren berjalan menuju ke jendela yang terbuka dan melihat keluar.


“Bu, apa kita bisa ke kamar?”


“Kenapa?”


“Aku baru mengingat sesuatu, ayo bu kita bicara di kamarku saja” Khiren dengan cepat bergegas menarik Ibu Revan untuk mengikuti langkahnya.


“Ada apa sebenarnya?” Ibu Revan mengerutkan kening dan merasa ada yang aneh dengan sikap Khiren.


“Aku lupa kalau di rumah ini banyak di pasang CCTV untuk mengawasi gerak-gerikku dan untungnya di kamar ini satu-satunya tempat yang tidak terjangkau.”


“APA? Kamu jangan bercanda, kenapa Revan melakukan itu?”


“Karena dia ingin mengurung ku di sini dan dia tidak ingin aku pergi selangkah pun dari tempat ini, bu”

__ADS_1


“Ini sudah gila! Khiren jujur sebenarnya siapa yang kamu cintai? Apa alasan kamu meninggalkan Revan karena ada pria lain di hatimu?”


“Tidak ada dan tidak akan pernah ada, aku hanya mencintai diriku sendiri, bu!”


“Lalu Pria yang bernamaVano itu?”


“Dari mana ibu tahu tentang Vano?”


“Apa itu penting sekarang? Katakan apa benar karena pria itu?”


Khiren terlihat berpikir keras, lalu ia berjalan menuju tempat tidur dan duduk sambil sejenak merenung.


“Khiren katakan!” Ibu Revan mulai mendesak Khiren.


“Mungkin ini terdengar hanya alasan, tapi ibu ini adalah kejujuran yang sebanarnya, tidak ada yang tahu selain aku dan sekarang ibu akan tahu juga”


“Tahu apa?” Ibu Revan mulai penasaran dan dia duduk di samping Khiren dan berusaha menyimak apa yang ingin Khiren sampaikan dengan seksama.


“Dulu sekali aku pernah mencintainya, lalu sesuatu terjadi pada kami hingga kami terpaksa saling melepaskan. Tapi itu sudah berlalu! Tadinya aku pikir aku masih mencintainya, aku terus menempatkan dia di sisiku agar aku tahu perasaan apa yang ada di dalam hatiku, lalu aku mulai sadar kalau itu bukan cinta tapi…”


“Tapi apa?” Ibu Revan benar-benar penasaran dengan apa yang akan di ucapkan Khiren tentang perasaannya.


Khiren berdiri lalu berjalan kearah cemin lalu duduk di sursi rias sambil menatap dirinya di pantulan cermin.


“Tapi bu, rasaku padanya hanyalah sebuah rasa bersalah karena cintaku padanya di masa lalu membuat dia kehilangan segalanya, dan itu adalah penyesalanku yang terbesar karena keegoisanku terhadap cinta membuat orang yang paling aku cintai kehilangan keluarga dan hidupnya hancur karenaku.” Khiren melihat dirinya dengan penuh kesedihan.


“Bu, aku bukan orang yang pantas di cintai, tapi aku menginginkan kebahagian ku sendiri, aku tahu ibu juga pernah mengalami hal yang sama dulu. Ibu pasti tahu bagaimana rasanya hidup dengan orang yang tidak ibu cintai, ya’kan?”


“Dari mana kamu tahu masalah itu?”


“Sama seperti ibu yang mencari tahu tentangku begitu pula sebaliknya, aku mencari tahu semua latar belakang keluarga dan kerabat Revan.”


“Jadi kamu tahu masalah saya dengan ayah kandung Revan, kalau begitu saya tidak perlu menceritakan nya lagi, saya akan membantu sebisa mengkin tapi rasanya tidak akan mudah karena Revan memiliki sifat seperti ayahnya, keras kepala dan akan berusaha mendapatkan apapun yang dia inginkan dengan cara apapun, lembut dan kasar akan mereka lakukan untuk mencapai tujuan mereka jadi…”


“Bu, aku tahu apa yang ingin ibu katakan dan aku juga tidak bisa berharap banyak tapi, apa ibu bisa meminjam ponsel ibu pada ku agar aku bisa menghubungi orang-orangku.”


“Baik, ini!” Ibu Revan memberikan ponselnya pada Khiren.


Khiren mencoba mengingat nomor Mex dan akhirnya dia mengirim pesan pada Mex tentang situasinya. Dia berharap Mex bisa membantu mengatasi masalah yang ada di organisasi selama dia tidak ada dan menunggunya dengan sabar di pulau.


Bersambung…

__ADS_1


 


 


__ADS_2