
Saat hampir siang Khiren bangun dengan tubuhnya yang terasa sedikit sakit dan kepalanya pusing.
“Ini sudah jam berapa?” dia mencari handphone nya tapi dia tidak menemukannya lalu dia ingat kalau handphonenya di sita.
Dia turun dari tempat tidur dengan lehan, dia ke kamar mandi dan mencuci mukanya lalu menuju ke jendela. Dia melihat matahari mulai meninggi, lalu dia memerhatika penjaga yang lalu lalang di dekat taman bunga yang biasa di laluinya. Lalu dia turun ke lantai bawah, dan dia melihat Revan masih berada di rumah padahal ini sudah terlalu terlambat untuk pergi ke kantor untuk seorang yang harusnya pergi di pagi hari.
“Bagimana tidurmu, sayang?”
“Biasa aja”
“Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu tidak bisa menum kopi?”
“Bukannya kamu tahu segalanya tentangku? Apa hal kecil semacam itu harus aku umumkan dulu? Padahal hal yang tidak banyak yang tahu saja kamu bisa tahu, lalu bagaimana kamu tidak tahu hal yang sudah secara umum di ketahui orang tentangku?”
“Aku hanya… Tapi di infomasi yang aku dapat dikatakan kamu sangat menyukai kopi”
“Aku suka tapi tidak bisa meminumnya, kamu harusnya mencari tahu dengan benar! Lupakan itu, mana ibu?”
“Sudah pulang pagi tadi”
“Loh kok pulang, baru saja dua hari di sini, kenapa pakek acara pulang segala?”
“Kenapa? Apa kamu khawatir tidak ada yang membantumu kabur lagi?”
“Kabur? Haha… kami tidak pernah berencana untuk kabur kok” Khiren berusaha menyembunyikan rasa terkejutnya karena Revan tahu kalau dia telah bekerja sama dengan ibu mertuanya itu.
“Jangan mengelak, aku tahu mama ingin membantu kamu keluar dari tempat ini dan meninggalkan aku, ya’kan?”
“Ha-ah-ha, kamu pasti salah! Kamu tidak pernah ingin melakukan itu kok”
“Terserah kamu mau bilang apa, sesuai perjanjian kita, aku akan membiarkan kamu pergi jika kamu bersikap selayaknya istri dalam sebulan ini, kamu perlu bersabar selama dua minggu lagi, apa itu terlalu sulit untukmu?”
“Ha-ha-ha mana ada! Mudah kok mudah, aku mau ke… ke luar bentar” Lalu Khiren berjalan cepat kearah pintu tapi penjaga menghalanginya.
“Hai! Minggi kalian! Minggir atau aku hajar?”
“Maaf nyonya, anda tidak bisa keluar tanpa seizin dari tuan.”
“Beraninya kalian!”
Lalu Khiren menghajar kedua penjaga itu dalam hitungan detik keduanya terkapar di lantai. Revan sangat kaget melihat amara dari Khiren.
__ADS_1
“Aku katakan pada kamu, aku tidak keluar dari tempat ini karena kamu mengurungku dengan banyak pengawal di semua tempat tapi kamu jangan lupa jika aku mau, aku bisa menghilangkan nyawamu, sebaiknya jangan melewati batas kesabaranku!” Ucap Khiren dengan nada mengancam.
‘drak’ Pintu di banting dengan penuh amarah di depan Revan yang masih kaget karena sudah lama tidak melihat marah dari seorang Khiren.
Khiren berusaha mengendalikan emosinya dan berjalan dengan cepat di teman sambil memandangi penjaga yang lalu lalang dengan tetapan membunuh. Aura membunuh dari Khiren terpancar dengan sangat jelas hingga para penjaga yang lewat pun jadi terpaksa berputar arah. Dalam hitungan menit kabar tentang Khiren yang membanting dua penjaga paling kuat di tempat itu tersebar luar hingga menimbulkan ketakutan dari para penjaga dan juga pembantu yang bekarja di tempat itu. Mereka jadi lebih berhati-hati terhadap Khiren, melangkah dan berbicara serta bersikap dengan sangat hati-hati agar Khiren tidak tersinggung dan mengamuk pada mereka.
Sebanarnya Revan takut pada Khiren yang marah, tapi dia lebih takut kalau Khiren pergi meninggalkannya karena itu dia berusaha melawan ketakutannya dan pergi menemui Khiren di taman.
“Khiren…”
“APA?” Bentak Khiren pada Revan.
“Jangan marah sayang, aku melakukan ini semua karena aku mencintaimu”
“Dan kamu pasti tahu kalau aku tidak pernah mencintai siapapun di dunia itu termasuk kamu, ya’kan tuan Revan?”
“Khiren, mungkin sekarang kamu tidak sadar tapi, suatu hari nanti kamu akan sadar kalau yang paling kamu cintai di dunia ini adalah aku, suamimu sayang!”
“Terserah apa yang kamu katakan, aku lelah menghadapi keegoisanmu itu, aku lelah denganmu! Aku hanya ingin kebebasanku”
“Andai kamu menerima hubungan ini dengan lapang dada mungkin semua akan terasa sangat ringan hingga kamu tidak menyadari setiap detik yang berlalu”
“Khiren, aku benar-benar tulus mencintaimu”
“Cinta? Hahahaha… Ini bukan cinta Revan! Ini hanya keegoisanmu, jika kamu benar-benar mencintaiku harusnya kamu tidak mengurungku di tempat ini dan membatasi langkahku, cinta tidak pernah menyiksa, pahami itu!” Lalu Khiren bangun dan berjalan lurus menelusuri taman yang cukup luas itu.
Revan bangun dari tempat duduknya lalu mengikuti langkah Khiren, dia terus berusaha menyeimbangkan langkahnya dengan Khiren.
“Cinta tidak pernah menyakiti, itu memang benar dan aku tidak pernah menyakitimu, ya’kan?”
“Dengan kamu mengurungku di tempat ini bagiku itu sudah lebih dari cukup untuk menyiksaku dan melukaiku”
“Maaf jika kamu merasa seperti itu tapi, aku tidak pernah berniat melukaimu, aku hanya ingin melindungi kamu”
“Melindungi? Dari apa? Aku tidak pernah meminta di lindungi karena aku tidak pernah membutuhkan perlindungan dari siapapun” Ucap Khiren tegas.
“Aku hanya…”
“Kamu hanya egois Revan! Kamu hanya ingin aku bersamamu tanpa peduli bagaimana perasaanku, ya’kan?”
“Iya aku egois, egois karena ingin mempertahankan pernikahan kita, mempertahankan kamu orang yang paling aku cinta dan mengikat kamu bersamaku untuk selamanya.”
__ADS_1
Lalu Khiren menghentikan langkahnya setelah mendengar ucapan dari Revan. Dia berbalik dan menatap Revan dengan tetapan terheran-heran.
“Kamu tahu kalau dirimu itu egois, lalu itu yang kamu sebut cintai? Ini hanya sebuah hasratmu dan itu tidak akan pernah mengubah perasaanku, paham!?”
“Aku tidak akan paham karena aku adalah orang egois yang tidak ingin kehilangan wanita yang paling dicintai”
“Dasar pria jahat!” Lalu Khiren dengan sengaja menabrak Revan dan dia pergi kembali kearah rumah.
“Khiren! Asal kamu tahu untukku kamu adalah wanita yang paling berharga dan tidak akan pernah aku lepas hingga aku tiada!” Teriak Revan dengan penuh percaya diri.
Khiren menutup telinganya lalu terus berjalan menuju pintu masuk ke rumah. Pengawal yang melewati tempat itu berhenti dan minggir dari jalan Khiren dan pura-pura tidak mendengar apa yang di ucapkan oleh tuannya dengan lantang dan percaya diri. Lalu Revan berlari pelan menyusul Khiren yang sudah mampir masuk ke dalam rumah.
“Bro, yang kayak ini baru namanya bucin tingat akut!”
“Benar, sangat mengerikan! Padahal nyonya terlihat sangat tidak menyukai tuan, tapi tuan tidak pernah lelah mengekspresikan perasaanya”
“Bukanya beberapa hari yang lalu mereka masih baik-baik aja?”
“Gak tahu juga tapi kayaknya nyonya beneran gak suka sama tuan deh!”
“Aneh banget gak sih? Masa tuan seganteng itu di tolak?”
“Ya, mau gimana lagi, cintai bukan hal yang bisa di bentuk dengan mudah, tapi nyonya yang super cantik itu pasti punya alasan kenapa dia menolak tuan, ya’kan?”
“Gak usah kepo sama hubungan orang, yang penting kerja aja yang benar”
“Iya tahu”
Lalu mereka kembali berpatroli.
Bersambung
Kalau ada kesalahan dalam pengetikan tolong segera di komen aja biar bisa di edit dengan cepat, jangan lupa berikan Like kalian biar penulis makin semangat buat updatenya.
__ADS_1