
Keesokan harinya Khiren kembali mengeluh sakit dan meminta Ray menemaninya di kamar.
“Ray, bisa kamu minta yang lain keluar?”
“Kenapa? Apa mereka mengganggu?”
“Aku hanya ingin berdua dengan kamu, apa tidak bisa?”
Mendengar hal itu Ray langsung menyuruh semua orang keluar dan hanya tersisa Khiren dan Ray di kamar yang cukup luas itu. Saat semua orang keluar Khiren turun dari tempat tidur dan pergi menuju ke pintu, lalu dia mengunci pintu. Suasana kamar menjadi tegang, Ray mulai merinding melihat tingkah Hinata yang ada di depannya, saat semua jendela di tutup rapat dengan tirai hingga tak satupun cahaya masuk ke dalam ruangan itu. Khiren berjalan perlahan menuju Ray yang terlihat ketakutan dan juga bingung dengan apa yang sedang Khiren lakukan. Dia menepuk bahu pria kurus dan tinggi itu, lalu berkata dengan nada lembut.
“Duduklah”
Ray hanya menurut dan duduk di atas kasur, lalu Khiren menyeret sebuah tempat duduk dan dia duduk tepat di hadapan Ray dan saat Khiren menyingir sambil menatap Ray dengan tatapan iblis nya, Ray baru sadar kalau dia telah terperangkap dalam kandang singa yang lapar.
“Kamu tau apa kesalahanmu?” Khiren masih bicara dengan santai.
“A-aku tidak melakukan kesalahan apapun!” Ray benar-benar bergemetaran.
“Oh jadi kamu tidak mau mengaku? Baiklah kalau begitu” Entah dari mana sebuah belati muncul di tangan Khiren lalu dia ngarahkan ke wajah Ray.
Belati yang terasa dingin saat menyentuh kulit membuat Ray merasa semakin ketakutan, Khiren yang tersenyum kearahnya membuat dia semakin merasa akan mati di hari itu.
“Wajah tampan mu bagaimana kalau aku beri sedikit goresan?” Belati itu mulai berpindah kearah jantung Ray.
“Aku sepertinya mendengar detak jantung yang begitu kencang, bagaimana kalau kita hentikan kebisingan itu?” Ucap Khiren dengan wajah malaikatnya.
“Hinata to-tolong jangan begini!” Ray mulai bercucuran keringat dan detak jantungnya semakin kencang.
“Kalau begitu, katakan kenapa kamu menculik ku?”
“Itu… Itu karena aku, aku sangat mencintaimu! Aku tidak ingin kamu di miliki orang lain karena itu aku terpaksa melakukan itu semua”
“Hahaha… Kalau kamu mau bicara dari tadi, aku kan tidak perlu mengeluarkan belati kesayanganku ini!” Khiren menyingkirkan belati yang siap menusuk ke jantung Ray.
“Ayo kita diskusi?! Aku tadinya ingin sedikit bermain-main dengan kamu, melakukan sedikit perlawanan lalu bertarung atau apapun yang menyenangkan, hanya saja aku sedang tidak ingin membuang waktu jadi, aku ingin kamu melepaskan aku dengan damai”
“T-tapi kenapa? Apa aku tidak pantas untuk kamu?”
“Bukan itu masalahnya, aku sudah menikah! Kalau kamu melepaskan aku dengan damai, aku bisa menjamin keselamatanmu dan juga karirmu tapi, kalau kamu tetap tidak mau melepaskan aku maka jangan salahkan aku jika terjadi hal buruk padamu dan juga seluruh orang di dekatmu”
“Gak, kamu pasti bohong’kan?”
“Aku gak punya waktu untuk main-main, aku tanya yang terakhir kalinya kamu mau melepaskan aku dengan damai atau perlu aku membuat hidupmu menderita dulu?” Khiren mulai meninggikan nada bicaranya.
“Ba-baiklah! Aku akan melepaskan mu, aku melakukan ini bukan karena ta-takut padamu tapi karena aku ingin kamu bahagia.”
“Terserah! Sekarang berikan handphone mu!”
Ray dengan patuhnya memberikan handphone nya pada Khiren yang terlihat sedang sangat emosi. Khiren menghubungi Dimas dan mengatakan untuk tidak menyerang tempat itu dan dia meminta mereka untuk tidak perlu khawatir tentang keadaanya karena dia sudah baik-baik saja.
__ADS_1
“Oke, karena semua udah beres aku mau pergi dulu! Jaga diri, bye!” Khiren meninggalkan Ray yang masih terlihat ketakutan di kamar itu.
***
“Dim, siapa yang telpon tadi?”
“Khiren, tadi dia bilang kita gak usah nyerang.”
“Loh kok gitu, udah capek-capek ke paris, beli senjata masa kita gak jadi nyerang, sih?”
“Iya betul tu, masa kita gak jadi nyerang?”
“Eh, tunggu dulu! Kalian beli senjata?”
“Ya iya lah, masa nyerang tempat kayak gitu gak bawa senjata apa-apa kan gila!”
“Ya sih, tapi itukan illegal! Kalian taukan kalau Ayah gue itu kepala kepolisan, ini kalau dia sampai tau habislah kita semua!”
“Udahlah Farhan, Ayah kamu gak bakalan marah kok, kan Bunda ada di pihak kita! Sekarang kita ngapain?”
“Yaudah, kita makan aja yok?”
“Lo Al, dalam otak lo tu makan aja,ya?”
“Kalian ngerasa gak sih?”
“Ngerasa apa Mor?”
“Iya juga sih! Tapi, kita gak mungkin diam aja dan nunggu Khiren mati baru kita bantu dia’kan?”
“Lupakan itu! Sekarang apa yang harus kita lakukan?”
“Kita berenam sudah lama tidak liburan bersama gimana kalau kita liburan saja?”
“Boleh juga tapi, bagaimana dengan si nenek lampir?”
“Itu urusanmu lah Farhan! Dia kan tunangan lo, lagian kalau emang gak suka sama dia tinggalin aja lah cuy!”
“Ngomong mah enak, tapi masalahnya dia itu anak dari sahabat ayah gue!”
“Intinya apa?” Aldo terlihat binggung dengan ucapan Farhan.
“Intinya yang bisa memutuskan hubungan kamu hanya dia, apa kamu paham itu?”
“Gak usah di buat ribet lah! Lo pulang aja sono, kalau lo takut sama dia! Kami mau liburan di sini, yak an guys?”
“Yup!”
“Kalian ngusir gue?”
__ADS_1
“Menurut lo ajalah, cuy!”
“Kalau gitu gu pergi ni!” Ancam Farhan serius dan berharap ada yang menghentikan dia.
“Pergi aja!” Ucap Morlin yang tidak peduli.
“Lo semua tega ya sama gue! Kalau gitu gue pergi ni!” Farhan mulai melangkah pelan lalu dia kembali berbalik dan melihat tidak ada siapapun yang menghentikan dia. “Kalian gak ngalangin gue ni?” Farhan benar-benar berharap ada yang menghentikan langkahnya.
“Kalau kamu emang gak mau pergi, ya gak usah pergi! Kita bisa liburan bersama di sini!” Ucap Dimas karena kasihan melihat wajah Farhan.
“Iya Far! Lupain cewek itu dan kita harus bersenang-senang di sini!”
“Terus kalau dia hubungin gue gimana?”
“Gitu aja di buat pusing, sini-in hp lo!”
Farhan memberikan handphonenya pada Ryo, lalu Ryo berjalan kearah jendela dan membuang handphone Farhan.
“Loh, kenapa di buang?” Farhan benar-benar syok melihat handphonenya di buang begitu saja
“Biar dia gak bisa hubungin lo, nanti kalau bokap lo nanya bilang aja jatuh, kan gak bohong juga. Hp lo kan emang jatuh dari jendela, ya’kan?”
“Iya sih tapi…”
“Udah gak usah pakai tapi-tapian, today we should have fun, oke guys??!”
“Oke!” Semua terlihat bergembira dan memeluk Farhan yang masih syok melihat handphone yang baru di belinya di lempar begitu saja oleh Ryo.
“Aldo bisa kita bicara sebentar?” Tanya Dimas.
Mereka berdua keluar dari ruangan itu lalu bicara di ruang baca.
“Ada apa Dim?”
“Khiren meminta kita untuk menyusulnya ke bali setelah tahun baru, apa kamu tidak masalah?”
“Oh, iya nanti kita ke sana!”
“Dia meminta kita merahasiakan keberadaannya sementara waktu dan jangan sampai kamu melaporkan hal ini pada Bunda.”
“Maksud kamu apa, Dimas?”
“Aku tau selama ini kamu yang melaporkan pergerakan Khiren, tadinya aku tidak ingin ikut campur karena itu berhubungan dengan Bunda, hanya saja kali ini Khiren memohon padaku untuk merahasiakan keberadaanya, kita semua tau kalau dia baru saja keluar dari masalah karena itu aku harap dia tidak mendapat maslaah lagi!”
“Aku paham! Kalau begitu aku pergi dulu!”
“Aku percaya pada hubungan persaudaraan kita semua dan aku sangat berharap kamu tidak membuat kami semua kecewa!”
Bersambung…
__ADS_1
Jangan lupa untuk memberikan dukungan kalian untuk novel ini dengan meninggalkan like, vote dan reting 5. Selamat membaca