Love Scenario V2

Love Scenario V2
Terbujuk


__ADS_3

Saat turun kelantai satu dan menuju kearah jalan keluar Khiren di hadang oleh Soraya ibu dari Revan. Mata wanita itu terlihat merah dan sedikit membengkak karena terlalu lama menangis.


“Tolong jangan pergi! Lupakan permintaan saya yang dulu, sekarang saya tidak perduli apapun yang terjadi yang penting tolong jangan tinggalkan Revan!”


“Loh kenapa ibu jadi ikut-ikutan Revan? Kitakan sudah sepakat untuk mencari gadis lain untuk Revan?!”


“Sekarang saya tidak peduli apapun yang terjadi dalam keluargamu atau masa lalu kamu karena bagi saya hidup putra saya yang paling penting”


Soraya berlutut dan memohon di depan Khiren sambil menggenggam tangan Khiren.


“Tolong jangan begini, bu! Bangunlah! Ayo kita bicara baik-baik” Khiren mencoba membantu Soraya berdiri lalu mereka kembali ke ruang tamu.


Setelah keadaan sedikit tenang Khiren mencoba kembali membujuk Soraya agar berpihak padanya.


“Bu, apa Anda tahu apa yang Anda minta tadi itu sama saja mendorong Revan dalam jurang kesengsaraan. Dengar bu, saya itu sangat tahu kalau ibu mencintai Revan lebih dari segalanya tapi mengambil keputusan saat pikiran Anda kacau itu sama saja seperti bunuh diri. Coba pikir ulang apa yang terbaik untuk Revan”


“Nak, mungkin perkataan saya dulu cukup membuatmu terluka karena itu saya sangat minta maaf, saya akan menebusnya tapi tolong tetaplah berada di sini Revan.”


“Huem… Kenapa Anda jadi berbalik arah dan mendukung Revan? Saya akan mencari gadis lain yang lebih baik untuk dia tapi beri saya sedikit waktu dan semua akan beres.”


“Tidak, nak! Revan tidak membutuhkan wanita lain dia hanya membutuhkan kamu. Hari ini saya baru sadar kalau Revan sudah sangat mencintaimu hingga lebih rela mati di banding melihat kamu menikah dengan orang lain”


Mata Soraya kembali berkaca-kaca, tangannya yang bergemeteran mencoba meraih tangan Khiren.


“Nak, kamu pasti tahu kalau bagi saya Revan itu adalah segalanya, dia hidup saya, dan anak saya satu-satunya. Dan bagi saya dari pada melihat dia terluka atau meregang nyawa seperti tadi lebih baik kamu bunuh saja saya sekarang!”


“Bu, jangan berkata begitu! Mana mungkin saya membunuh seorang ibu seperti Anda.”


“Kalau kamu memang peduli dan menghormati saya sebagai seorang ibu tolong, tolong jangan biarkan Revan bunuh diri lagi!”


“Tapi bu saya….”

__ADS_1


“Apa saya perlu besimpu dibawah kakimu agar kamu mau tetap bersama Revan?”


Saat akan bangun dan bersujud di kaki Khiren, Soraya di hentikan oleh Khiren yang pada akhirnya tidak bisa menolok permintaan Soraya.


“Bu, tolong jangan lakukan itu pada saya! Baik, saya akan mengizinkan dia berada di sisi saya tapi tidak sekarang!”


“Apa kamu sungguh-sungguh dengan ucapanmu?”


“Tentu saja, kalau begitu biar saya bicara dengan Revan”


Lalu Khiren bergegas pergi menemui Revan sebelum Soraya memintanya untuk berjanji atau bersumpah hingga membuat Khiren benar-benar terikat dengan sempurna pada ucapannya.


“Revan!”


‘trakk’ Pintu di tutup dengan hentaman yang kerasa lalu Khiren menguncinya.


“A-ada apa?” Revan sedikit takut melihat sorat mata Khiren yang mengerikan seakan Khiren masuk ke kamar itu untuk membunuhnya.


“Kenapa kamu takut? Apa kamu takut padaku?”


“Jelas sekali kamu bohong!” Lalu Khiren duduk di samping Revan, dia duduk cukup dekat hingga mungkin jarak mereka tidak lebih dari 30 cm.


Khiren semakin dekat dengan Revan hingga jarak terintim, lalu Khiren berbisik di samping Revan.


“Lakukan apapun yang kamu mau tapi jangan pernah menganggu rencanaku, paham?!”


“Apa maksudmu?”


“Kamu boleh berada di sisiku kapanpun yang kamu mau tapi, aku tidak akan kembali rujuk denganmu untuk sementara waktu.” Lalu Khiren bangun dan duduk di sofa sembari menyilangkan kedua tangan di dadanya dan menatap Revan dari kejauhan.


“Apa maksudmu Khiren, aku tidak..”

__ADS_1


“Tetap duduk di tempat mu!” Perintah Khiren pada Revan yang akan turun dari tempat tidur dan mendekatinya.


Revan kembali duduk di tempat semula dengan patuh.


“Kamu boleh melakukan apapun sesukamu di sisiku selama itu tidak mengacaukan rencanaku, kamu bisa datang ke tempatku kapanpun, dan menemui aku dimana pun aku berada. Kamu bisa mendapatkan akses yang sama seperti yang Mex dapat tapi… tolong mengerti situasi dan kondiri”


Lalu Khiren melempar sebuah kartu kearah Revan. Sebuah kartu hitam yang hanya di miliki oleh orang-orang yang sangat di percaya seorang master K.


“Gunakan itu untuk segala keperluan, mereka tidak akan menghentikan kamu untuk menemuiku.”


“Lalu kapan kita akan kembali bersama? Apa kamu tetap akan menikah dengan pria itu?”


“Pernikahan itu adalah bagian dari rencanaku lalu jika menurutmu itu jadi masalah ya sudah kamu bunuh diri saja lagi aku udah cukup memberi toleransi untukmu, paham?!”


“Baiklah aku mengerti! Terima kasih karena kamu mau memberiku kesempatan”


“Berterimakasih saja ke ibumu, kalau bukan karena nya aku tidak akan berada di sini” Kalau begitu aku akn pergi, jaga kesehatanmu”


“Apa tidak ada kecupan selamat jalan?” Tanya Revan yang akan bangun dari tempat tidur.


“Kamu ini kebiasaan sekali, ya?! Udah di kasih hati minta jantung pula.” Lalu Khiren berjalan kearah Revan dan memberikannya sebuah kecupan di kening lalu dia langsung pergi dengan cepat.


Setelah mendapatkan sebuah kecupan dari Khiren, wajah Revan terlihat berseri-seri, dia kegirangan sendiri sambil menyentuh keningnya. Wajahnya memerah saat membayangkan wajah Khiren yang mengecup keningnya, dia terus saja tersenyum kegirangan sambil memeluk bantal di sampingnya.


Sementara di sini lain Mex sedang gelisah karena Khiren menghilang tanpa kabar. Dia terpaksa pergi kepulau untuk mengurus pekerjaan yang tertunda meski hatinya masih berat untuk pergi tanpa Khiren. Langit mulai gelap, angin di pulau itu sedikit lebih kencang saat malam hari, dan di balik jendela Mex melihat kearah pelabuhan sambil berharap Khiren datang.


“Bagaimana keadaannya sekarang? Aku melihat lengannya terluka, apa dia sudah mengobatinya?” Saat sedang hanyut dalam pikirannya tiba-tiba terlihat sebuah helicopter mendarat.


Mex bergegas menyambut Khiren di depan pintu dan meminta pelayan membawakannya susu hangat untuk menyambut Khiren. Begitu pintu terbuka seorang wanita cantik dengan wajahnya yang sedikit pucat terlihat, langkahnya terlihat berat, Mex yang menyadari hal itu langsung menggendong Khiren masuk ke dalam sebelum Khiren melangkahkan kakinya melewati pintu.


“Terimakasih, Mex” Ucap Khiren dengan nada kecil karena dia terlalu lemas.

__ADS_1


Di hari itu dia sudah banyak sekali mengeluarkan darah, dia sudah hampir tumbang saat bersama Revan tapi, dia tidak mau memperlihatkan kalau dia sedang dalam kondisi buruk di depan orang lain. Mex segera memanggil dokter pribadi Khiren dan karena Khiren kehilangan banyak darah akhirnya Mex terpaksa mendonorkan darahnya untuk Khiren saat itu. Setelah keadaan Khiren di rasa lebih baik barulah Mex meninggalkan Khiren dan beristirahat di kamarnya yang tidak jauh dari kamar Khiren.


Bersambung…


__ADS_2