Love Scenario V2

Love Scenario V2
Episode 19


__ADS_3

“Tuan tuan, nona berada di kolam sudah hampir 2 jam, tolong hentikan nona, tuan?!”


“Tenang, ambil ini!” Revan memberikan jas dan tasnya pada pelayan itu lalu pergi ke kolam untuk melihat keadaan Khiren.


Khiren sudah lebih tenang dan dia hanya duduk di tepi kolam, Khiren terlihat kedinginan dan wajahnya terlihat pucat. Revan yang melihat hal itu lantas langsung menggendong Khiren yang basah dan membawanya pergi dari kolam. Di saat yang sama Khiren kehilangan kesadarannya, dan Revan segera memanggil dokter untuk meriksa keadaan Khiren. Sudah hampir tengah malam tapi Khiren tak kunjung sadarkan diri, Revan benar-benar semakin cemas pada keadaan Khiren yang seperti itu. Tak lama setelah itu Khiren mulai sadarkan diri, kepalannya sedikit pusing tapi dia mencoba untuk tetap bangun.


“Khiren? Apa yang kamu lakukan? Istirahatlah, keadaan kamu sedang tidak baik!” Revan mencoba kembali membaringkan Khiren dan dia duduk di samping Khiren.


“Kamu tidur saja di sebelahku, aku merasa tidak enak! Cepat kemari, aku kedinginan” Ucap Khiren dengan nada perintahnya.


“Baiklah”


Revan menurut dan tidur di samping Khiren, lalu Khiren mendekatkan dirinya pada Revan dan memeluknya dengan erat karena dia merasa amat kedinginan. Pelukan hangat Revan membuat Khiren kembali lelap dalam mimpi indahnya, dia benar-benar merasa nyaman dengan pelukan Revan. Pelukan hangat itu membuat Khiren merasa tenang dan juga aman seakan Dimas sedang menjaganya.


***


Suara kicauan burung yang menandakan hari yang cerah akan segera dimulai, dua insan yang masih hanyut dalam mimpi penuh cinta terlihat begitu mesra di selimuti selimut berwarna biru tua. Khiren yang biasanya bangun paling pagi hari ini terbangun paling telat karena dia terlalu nyaman berada di pelukan pria berbadan kekar dan juga tampan itu. Sedangkan Revan, dia benar-benar menikmati waktu bersama dengan wanita yang paling ia cintai di dunia, waktu yang mungkin sulit untuk di ulang lagi ketika Khiren bangun dari mimpi indahnya.


‘Dring dring!’ suara handphone Revan terus berbunyi dengan amat keras hingga Khiren terbangun karenanya. Dilayar tertulis nama Tiara yang entah kenapa terus menghubungi Revan.


“Lepas!” Khiren mendorong Revan menjauh darinya lalu dia pergi ke kamar mandi.


“Ah, kenapa dia harus menelpon di saat yang tidak tepat, sih?” Revan dengan terpaksa menjawab panggilan itu.


“Ya, ada apa?”

__ADS_1


“Kak, istri kamu gila! Masa setelah nonjok orang bukannya minta maaf, aku malah di usir dari rumah, Kak aku sekarang ada di rumah sakit! Kak, kamu bisa ke sini, kan?”


“Kamu yang gila! Kenapa kamu seenaknya aja hancurkan kerjaan dia, yang kamu hancurkan itu hasil kerjanya berbulan-bulan, sudahlah! Anak manja kayak kamu itu gak akan paham gimana cara menghargai usaha orang lain”


“Maksud kakak aku yang salah gitu? Ini gak adil…”


Revan langsung mematikan handphone tanpa mendengar ucapan Tiara yang belum sempat di selesaikan.


“Hallo hallo! Loh kok di matiin? Sial banget, udah muka bonyok sekarang kak Revan malah marah sama aku, aku harus cari cara agar bisa kembali dekat dengan kak Revan. Oh iya Papa, Papa pasti bisa bantu.” Tiara mencari handphonenya di tas dan segera menelpon Papanya.


Dia terus mencoba menghubungi Papanya berulang kali tapi tidak diangkat, dan dia juga mengirim beberapa pesan tapi sama sekali tidak direspon. Tiara menjadi gelisah dan terus bertanya-tanya tentang apa yang terjadi pada orang tuanya yang tiba-tiba mengabaikan dia. Setelah beberapa jam kemudian dia mendapat kabar dari saudara sepupunya tentang surat ancaman yang mereka dapat karena ulah Tiara.


“Maksud kamu apa? Surat dari siapa? Jangan ngada-ngada!”


“Maksud kamu apa sih, Adit?”


“Tiara, kamu taukan kalau di dunia ini gak hanya tercipta satu pria saja? Harusnya kamu itu tidak mengincar pria beristri dan membuat malu seluruh keluarga kita, mending aku gak punya saudara dari pada harus bersaudara sama pelakor!” Adit memutus panggilannya dengan cepat karena terlalu kesal pada Tiara.


“Pelakor? Maksud si Adit itu apa, sih?” Tiara benar-benar tidak bisa mengerti apa yang di coba sampaikan oleh Adit pada dia. “Ah bodo amat sama ocehan si Adit, yang penting sekarang aku harus menyusun rencana dan kali ini aku gak akan biarkan wanita barbar itu menang.”


Disaat yang bersamaan orang tua Tiara mencoba menghubungi Khiren dan meminta maaf tentang kelakukan anaknya.


“Hallo nona Khiren! Saya ingin sekali bertemu dengan Anda dan meminta maaf atas kesalahan putri saya, apa Nona memiliki waktu luang?”


“Saya cukup sibuk jadi katakan saja apa mau mu!”

__ADS_1


“Saya tau kalau yang di lakukan Tiara sangat sulit di maafkan tapi, saya tetap ingin minta maaf dan berharap agar kesalahan yang terjadi itu bisa Anda maklumi dan bisa Anda maafkan. Saya sangat berharap kerja sama yang kita lakukan bertahun-tahun tidak akan berpengaruh karena sebuah kecerobohan anak kecil seperti Tiara.”


“Tunggu dulu! Anak kecil kamu bilang? Dia hanya 2 tahun di bawah saya, dan Anda bilang kalau dia anak kecil? Sudahlah, mengingat kerja sama yang sudah perusahaan kalian lakukan dengan perusahaan milik mendiang Kakek saya maka, urusan ini akan saya pertimbangkan dan lain kali saya harap Anda lebih keras lagi dalam mendidik perilaku putri Anda itu.”


“Terima kasih atas pengertian Nona, saya berjanji hal serupa tidak akan pernah terjadi lagi.”


Revan tak sengaja mendengar sekilas pembicaraan Khiren dengan orang itu, dia penasaran sebenarnya masalah apa yang sedang Khiren bahas dengan wajah serius menghadap taman itu. Revan lalu masuk dan memanggil Khiren untuk ikut sarapan bersama dengan dia.


“Khiren, ayo sarapan bersama?”


Khiren tidak berkata apapun dan hanya berjalan melewati Revan, Revan merasa sedih karena Khiren tidak mau sarapan bersamanya.


“Tunggu apa lagi? Bukannya kamu ajak makan?” Khiren berbalik karena merasa Revan tidak mengikuti langkahnya. Revan merasa senang karena Khiren ternyata ingin makan bersamanya.


“Khiren ayo coba masakan ini, aku membuat sub untuk kamu!” Revan mengambil sebuah mangkuk sup dan menuangkan sup untuk Khiren. “Ayo coba! Aku yakin sup buatan ku akan membuat kamu jadi lebih bersemangat dan sehat lagi! Sini aku suampi?” Revan bersiap untuk menyuapi Khiren tapi Khiren langsung menghindar.


“Aku bisa sendiri!” Khiren mengambil paksa sup yang ada ditangan Revan hingga kuahnya tumpah sebagian dan mengenai tangan Revan.


“Maaf maaf aku tidak bermaksud melukai kamu!” Khiren segera meletakkan sub dan mencoba meniup tangan Revan yang terkena tumpahan sup panas.


Khiren terlihat benar-benar merasa bersalah dan khawatir dengan tangan Revan yang memerah. dia kebingungan karena tidak tau apa yang harus di lakukan untuk mengobati tangan Revan. Khiren menghubungi dokter dan memintanya untuk merawat tangan Revan. Khiren yang terlihat panik membuat Revan semakin percaya kalau dia sudah hampir bisa mencuri hati Khiren seutuhnya, perkembangan hubungannya dengan Khiren langsung di beritakan pada anggota grup chat khusus tujuh bersaudara dan semua orang sangat senang dengan hal itu.


Bersambung…


Cuma mengingatkan buat jangan lupa like dan komen, kalau bisa sih kasih vote juga biar bisa semangat. Makasih sudah berkunjung, sampai jumpa di episode berikutnya.

__ADS_1


__ADS_2