Love Scenario V2

Love Scenario V2
spesial 9


__ADS_3

“Nyonya, Mex menitipkan ini padaku sebelum dia meninggal”


Sebuah surat yang sudah bernoda darah, meski begitu Khiren tetap menerimanya.


“Terima kasih!”


Ucapnya, lalu Khiren membawa Derend pergi dari tempat itu.


.


.


.


.


Jauh dari lubuk hati Khiren, dia merasa menyesal karena tidak bisa menemani Mex di saat terakhirnya, dia juga merasa belum bisa menjadi istri, sekaligus rekan yang baik untuk Mex selama Mex masih hidup.


Di ruang kerja Mex, terduduk seorang wanita cantik, dengan rambut terurai, mata bengkak, dan tangan masih menggenggam sebuah surat bernoda darah. Sungguh hatinya sudah hancur menjadi debu saat membaca pesan yang ditulis oleh Mex sebelum ia meninggal.


'Jauh sebelum master meminta saya menjadi suami anda, bahkan hari pertama kita bertemu saat hari pertama turun salju di pinggir jalan saat itu. Saya terkesima melihat seorang gadis usia dibawah saya berani maju menghadang para penjahat yang akan melukai adik saya, saya juga jatuh cinta pada uluran tangan pertama yang saya dapatkan saat hidup saya sudah sangat hancur. Saya tidak mengerti kenapa saya jatuh cinta, tapi yang pasti saya hanya ingin terus berada di sini anda sampai kapanpun. Sayangnya saya selalu sadar kalau saya bukan orang yang pantas untuk anda, maaf saya terlalu kaku, dan maaf saya terlalu imut campuran dalam urusan anda.


Entah kapan mulainya tapi saya cukup yakin kalau sumber sisi hangat anda saat itu adalah tuan Revan. Sejujurnya saya cemburu tiap kali mengingat bahwa meski saya yang selalu bersama anda selama bertahun-tahun tapi, yang menggoyahkan hati anda saat ini tetap saja tuan Revan.


Mungkin anda tidak menyadarinya tapi, jelas Dimata saya kalau yang bisa membuat mata anda menatap hangat seseorang itu hanyalah tuan Revan. Maaf jika saya tidak bisa menjadi suami dan ayah yang baik untuk keluarga kecil kita, meski ini terdengar gila kadang saya berharap anda benar-benar jatuh cinta pada saya, dengan begitu setidaknya saya bisa terus mempertahankan hubungan kita. Saya tahu kalau ini bukan waktu yang tepat membicarakan betapa saya mencintai anda tapi, saya tetap ingin mengatakannya sekarang karena saya tidak yakin esok hari masih ada untuk saya.

__ADS_1


Saya akan terus berusaha menemukan anak kita, saya akan merawatnya dengan baik. Jika tuan Revan adalah yang terbaik untuk anda, saya doakan semoga kalian bahagia. Jangan khawatir tentang kami, aku akan menjaga anak kita dengan baik, bahagian istriku.'


Membaca pesan dari Mex sungguh membuat dadanya sesak, dia merasa tidak pantas menerima cinta tulus dari Mex. Bahkan dia tidak pantas untuk siapapun, ambisi dan kegilaannya selama ini sudah cukup membuat dia pantas mati. Jangankan menjadi ibu yang baik, bahkan dia sadar kalau tidak bisa menjadi anak yang baik untuk keluarganya.


"Mex, maaf kan aku...." Dia menangis tanpa suara di ruangan itu.


Dipeluknya surat dari Mex dengan erat, rasanya dia sedang memeluk si penulis surat itu.


"Maaf aku tidak bisa menjadi istri dan maaf terus melukaimu.... Mex, tolong maafkan aku"


Air mata terakhir mengalir membahasi kedua pipinya, mukanya sudah merah.


**


"Apa kamu melakukan ini?" tanya wanita yang duduk di depan pria itu.


Si pria itu pun meletakkan cangkir kopi yang sedari tadi dipegangnya.


"Kenapa kamu bertanya? Bukankah jawabnya sudah terlalu jelas?"


"Apa kamu gila? Kenapa kamu harus melakukan sejauh itu? Apa tujuanmu?" Bentak sang wanita yang berstatus istrinya.


"Aku melakukan ini untuk anak kita"


"Untuk anak kita atau untuk dirimu sendiri? Kita sudah hidup bersama cukup lama, aku tahu kalau kamu punya banyak rencana dalam otakmu untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan. Katakan kebenaran padaku, setidaknya sebagai istri, aku ingin kamu jujur padaku"

__ADS_1


Kedua orang itu kini saling melempar tatapan dengan arti yang berbeda. Ayah Revan pun pergi meninggalkan istrinya di ruang tamu, dia bukan tidak ingin jujur tapi, terkadang semakin sedikit orang lain tahu maka semakin baik untuk rencananya dan keselamatan orang-orangnya.


"Kapan ini akan berakhir?" ucap ibu Revan putus asa dengan mata masih terpaku pada ayah Revan yang kini sudah menjauh.


****


Kepergian Mex menjadi pukulan besar untuk Khiren dan juga organisasi, kekosongan jabatan membuat para anggota mendesak Khiren untuk mengambil kembali tampuk kekuasaan. Meski dia ingin memimpin kembali organisasi yang dia dirikan itu, tapi ada hal yang menjadi pertimbangan yang hingga dia memiliki untuk diam sementara waktu hingga ada orang yang dianggap bisa menjadi pemimpin baru organisasinya.


"Master, kepergian tuan sudah hampir 1 bulan. Apa anda tidak bisa mempercepat keputusan Anda untuk kembali memimpin organisasi? 'Mereka' sudah mulai melakukan pergerakan, organisasi akan hancur jika tidak ada pemimpin baru yang mengendalikannya." Jelas sekretaris Mex yang kini sudah menjadi sekretaris pribadi Khiren.


Khiren masih menatap tajam kearah laut dari jendela ruang kerjanya. Semenjak kepergian Mex dia memilih kembali kepulauan bersama Derend, dia yang sedang goyah dan rapuh itu benar-benar tidak bisa mikir kan apapun selain rasa bersalahnya pada Mex. Bahkan dia melupakan masalah anaknya yang ada di tangan Revan.


"Master, apa anda tidak akan melakukan apapun?"


"DIAMLAH! Aku muak dengan segalanya, hidupku sudah cukup kacau, kenapa aku harus memikirkan organisasi sialan itu?!" Ujar kesal Khiren.


"Tapi ...."


Traak!


Khiren melempar vas bunga yang ada dimeja dekat dengannya. Vas dari keramik itu pecah dan pencahayaan bertaburan dilantai ruangan itu.


"Sialan! Baik aku akan maju jadi DIAMLAH!!!"


Pria itu pun bungkam dan mulai menundukkan kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2