
“Saat tidur pun kamu sangat tampan tapi, kenapa aku sulit sekali menerimamu? Apa aku harus… Maafkan aku yang terus melukaimu, harusnya kamu menyerah saja agar aku tidak merasa bersalah”
“Ini membuatku gila! Aku bukan orang yang benar-benar merasa bersalah meski membunuh orang tapi, kenapa padamu aku terus saja merasa bersalah! Menyerahkan, aku tidak ingin terus merasakan hal ini”
Khiren terus bersama Revan hingga pagi menyapa keduanya, Khiren bangun lebih telat dari biasanya.
“Sayang, kamu ingin terus tidur?” Tanya Revan mencoba membangunkan Khiren yang masih terlihat lelap dalam mimpinya.
“Mmm...”
“Sayang, ayo bangun, ini sudah pagi, apa kamu tidak olahraga?”
“Mmm”
“Khiren” Revan akhirnya mencium pipi Khiren dan hal itu membuat Khiren sangat terkejut dan langsung terduduk.
“Apa yang terjadi?” Wajahnya terlihat kebingungan dengan rambut sedikit acak-acakan.
“Tidak ada, sekarang sudah pagi, ayo bersiap untuk sarapan, bukannya kamu bilang hari ini kamu punya pekerjaan, ya’kan?” Revan merapikan rambut Khiren dengan hati-hati.
“Benar, aku hampir lupa, aku mandi dulu” Khiren terburu-buru berlari ke kamar mandi.
“Kenapa dia tiba-tiba seperti jadi orang lain dalam semalam? Apa dia kelelahan hingga menjadi sedikit aneh?” Pikir Revan.
Semua sudah menunggu Khiren untuk sarapan tapi begitu turun Khiren langsung pergi melewati tempat makan setelah meminum jus yang di berikan oleh seorang pelayan padanya.
“Apa Mex sudah datang?”
“Tuan Mex sudah menunggu anda setengah jam yang lalu”
“Kenapa dia tidak langsung masuk saja? Dasar anak itu!” Khiren bergegas menemui Mex.
“Khiren tunggu!” Vano datang menghampiri Khiren yang akan masuk ke mobil.
“Ada apa?’
“Ini bekal untuk di jalan, kamu kan tidak sempat makan tadi!”
“Kamu sangat perhatian, terimakasih! Kalau begitu aku berangkat” Khiren mengelus rambut Vano lalu masuk ke mobil.
Wajah Vano masih saja memerah hingga mobil Khiren sudah tidak terlihat lagi.
“Jangan senang dulu, dia itu masih milikku!” Ucap Revan yang berdiri di belakang Vano.
“Apa peduliku! Yang terakhir bertahan dialah yang menjadi milik Khiren!”
“Tentunya itu bukan kamu”
“Siap yang tahu masa depan, lagian dia dan aku saling mencintai dari dulu hingga sekarang dan tentu saja pastinya di masa depan tetap akan sama”
“Seperti yang kamu bilang, masa depan tidak ada yang tahu, begitu juga perasaannya untukmu, bermimpi lah sekarang sebelum kamu di bangunkan!” Lalu Revan masuk ke dalam rumah dan meninggalkan Vano yang masih terlihat kesal padanya.
__ADS_1
“Dasar pria jahat! Aku membencinya!”
“Aku juga membencimu!’ Teriak Revan dari dalam rumah.
“Benar-benar menyebalkan!” Lalu Vano menelpon managernya untuk menjemputnya dari rumah itu.
Vano bersama dengan managernya pergi menemui Direktur perusahaan tempat Vano bekerja, direktur utu merupakan kakak kandung Vano sekaligus pacar managernya.
“Pagi noona!”
“Pagi adik kecilku!” Wanita itu menyambut adiknya dengan sebuah ciuman dan pelukan.
“Kakak sangat merindukan kamu, apa yang kamu lakukan akhir-akhir ini? Jadwal mu tidak padat tapi kita masih saja sulit bertemu, ya’kan?”
“Itu benar tapi, itu juga karena kakak terlalu sibuk”
“Maafkan kakak adik kecilku!” Dia kembali memeluk Revan.
“Kakak, aku sudah bukan anak kecil lagi, jangan lakukan ini lagi!”
“Baiklah! Sebenarnya apa yang ingin kamu sampaikan hingga pagi-pagi begini sudah ke kantor bukannya ke rumah?”
“Itu, sebenarnya aku ingin membahas tentang Khiren pada kakak”
“Aku dengar kalian tinggal bersama sekarang, lalu apa masalahnya?”
“Masalahnya, suami Khiren ada di rumah itu juga!”
“Kakak, jangan begitu! Aku tidak mau kakak memarahi Khiren”
“Lalu mau kamu apa? Mau tetap tinggal dengan serigala yang sewaktu-waktu membunuhmu itu?’
“Tentu saja tidak, aku ingin mendengar nasehat kakak tentang hubunganku dan Khiren, aku ingin dia segera meninggalkan pria itu dan menikah denganku”
“Apa? Kalau kamu mau mendengarku, sebaiknya tinggalkan saja Khiren dan nikah saja sana sama wanita yang lebih cantik di luar sana”
“Tidak bisa, aku hanya mencintai Khiren, kakak dulu bilang kalau aku bisa mencapai puncak yang sama seperti Khiren, aku bisa membuat dia melihat ke arahku, lalu saat dia sudah ke arahku masa kakak nyuruh aku lepasin dia?”
“Aku bilang begitu dulu karena kamu sudah mau mati, lagian dulu itu dia masih sendiri, sekarang dia udah menikah wahai adikku yang dibutakan oleh cinta!”
“Apa masalahnya, lagian dia masih bisa berceraikan?”
“Tetap saja dia belum cerai dan percaya saja pada kakakmu ini, si Khiren gak akan pernah bercerai dengan pria itu”
“Kenapa? Kakak sangat menyebalkan!”
“Adik kecilku yang bodoh, dengar ya! Khiren hingga detik ini belum bercerai padahal dia selalu bersama kamu, artinya dia punya banyak alasan mempertahankan hubungannya dengan pria itu. Meski dia mencintaimu sekalipun tetap saja dia tidak bisa melepaskan suaminya, ya’kan?”
“Mungkin tidak sekarang, nanti pasti berpisah kok!”
“Kamu terlalu naïf atau bodoh sih?! Kamu tahu dari sejak kamu di pindahkan dari sekolah dan perusahaan Ayah bangkrut secara tiba-tiba, apa kamu tidak tahu kalau keluarga mereka tidak semudah bayanganmu!”
__ADS_1
“Kamu hanya mempersulit Khiren saja! Apa akhirnya dia akan tetap bersama pria yang di tentukan oleh keluarganya karena itulah takdir yang sudah di pastikan untuk seorang pewaris seperti Khiren.”
“Kakak, kenapa kamu tidak mau mendukungku lagi? Apa kamu sudah siap untuk melihat jasadku?”
“Apa maksudmu?”
“Aku tidak bisa hidup tanpa Khiren, aku lebih baik mati kalau harus di suruh berpisah darinya”
“Kamu jangan gila, pikirkan juga para penggemar mu, apa kamu akan membiarkan jutaan yang mencintaimu bersedih karena pemikiran bodohmu ini?”
“Tetap saja, aku hanya mencintai Khiren hingga aku mati! Aku tidak pernah mengingin semua ini, ketenaran, uang atau apapun, semua ini aku lakukan agar bisa dianggap pantas untuk Khiren bukannya untuk orang lain!”
“Kenapa kamu sangat keras kepala, sih?!”
“Walau kakak tidak mendukungku, aku akan tetap bersama Khiren hingga akhir hayatku!” Lalu Vano pergi dari ruangan itu dengan keadaan kesal.
“Dasar keras kepala! Kenapa harus keluarga Winata sih? Mereka itu iblis, kamu harusnya tidak bersama dengan anak itu, aku tidak ingin kamu terluka sama seperti aku! Anak malang, kamu akan sangat kesulitan mendapat restu meskipun Revan mati”
Semenara itu Vano menghampiri managernya yang baru saja selesai berbincang dengan rekan kerja.
“Kenapa dengan wajahmu?”
“Ayo cepat pulang, aku muak di tempat itu”
“Apa yang terjadi? Kakakmu mengatakan sesuatu?”
“Dia menentang hubunganku dengan Khiren”
“Aku juga setuju kalau itu, lagian salah sendiri masa suka sama istri orang, kayak gak ada cewek lain aja”
“Kalian sama saja! Dasar pasangan menyebalkan”
“Hai tunggu! Mau kemana kamu?”
“Mau pulang”
“Mobil kita ada di sana”
“Aku tidak mau pulang dengan pria menyebalkan”
“Jangan begitu, kalau kamu pulang sendiri, aku akan di bunuh oleh dua wanita itu jika terjadi sesuatu pada kamu”
“Maksud kamu siapa?”
“Tentu saja kakakmu dan Khiren”
“Baiklah kalau begitu, aku ikut kamu”
Bersambung.....
Jangan lupa meninggalkan jejak bacaannya dengan like, vote, dan kasih reting 5 untuk novel ini.
__ADS_1
SELAMAT MEMBACA 😊😊😊😊