Love Scenario V2

Love Scenario V2
Adaptasi


__ADS_3

Sungguh semua orang sangat bahagia saat Khiren menerima lamaran dari Mex. Sebenarnya semua orang sudah tahu dari dulu Mex menyukai Khiren kecuali Khiren karena dia tidak peka pada perasaan yang Mex coba sampaikan dari dulu padanya. Meski persiapan lamaran di buat dadakan tapi tetap saja terlihat sempurna karena semua orang yang ada di pulau itu bekerja sama untuk membuatnya menjadi lamaran yang sempurna untuk masternya.


Setelah mendapat bunga dan cincin Khiren dan Mex masuk ke dalam istana mereka dengan bergandeng tangan. Sejujurnya Mex merasa sedikit canggung dan malu karena pertama kalinya menggandeng tangan Khiren sebagai seorang pasangan dan bukan sebagai seorang rekan kerja.


“Kenapa jalan kamu kaku?” Tanya Khiren yang merasa tidak nyaman dengan cara berjalan Mex.


“M-maafkan saya master, saya belum terbiasa dengan semua ini” Mex yang biasanya bicara dengan jelas dan tegas hari itu jadi terbata-bata.


“Master? Yang benar saja, kita akan menikah sebentar lagi dan kamu masih memanggilku dengan sebutan itu?”


“L-lalu saya harus memanggil Anda dengan sebutan apa?” Mex dengan wajahnya yang memerah tidak berani menatap Khiren saat bicara dan selalu melihat kearah lain.


“Kalau mau bicara itu lihat ke lawan bicaramu! Lihat sini cepat!”


“Tidak bisa”


“Kenapa?”


“S-saya…”


“Saya apa? Mex, cepat lihat kesini?” Khiren berhenti berjalan dan tangannya menyentuh dagu Mex dan menariknya lebih dekat ke wajahnya. “Tatap mataku! Katakan kenapa kamu terus saja melihat kearah lain saat kita bicara?!”


Mex tidak bisa berkata apa-apa, wajahnya semakin memarah dan itu terlihat cukup jelas karena kulitnya yang putih pucat. Lalu karena tidak bisa membuka mulutnya saat Khiren menatapnya di jarak yang cukup intim membuat matanya langsung berkaca-kaca. Khiren sedikit terkejut karena Mex belum pernah memperlihatkan sisinya yang menurut Khiren cukup menggemaskan. Khiren melepaskan Mex karena mata Mex hampir mengeluarkan air mata karena merasa malu bertatapan dengan Khiren.


“Sudahlah! Ayo jalan cepat ke ruang kerja, kita akan bicara di sana” Khiren berjalan dengan cepat dan meninggalkan Mex yang pada akhirnya mengeluarkan air mata yang dia coba di bendung dari tadi.


Berada di ruangan kerja mereka duduk terpisah tapi saling bertatapan, dan itu membuat Mex jadi salah tingkah di depan Khiren.


“Eum… Itu… Apa master ingin memeriksa laporan yang saya buat?”


“Mater lagi? Mex, aku harus gimana sih biar kamu ngerti apa yang aku katakan? Kita ini udah mau nikah dan kamu mau tetap manggil aku dengan sebutan master? Berhentilah memanggilku dengan sebutan itu dan juga berhentilah bicara formal padaku”


“Baik master!”

__ADS_1


“Master lagi!?” Khiren mulai terlihat kesal.


“Lalu saya harus memanggil anda dengan sebutan apa?”


“Berhenti sok formal oke! Panggil aku Khiren saja”


“Ki….” Mex terlihat kesulitan memanggil nama yang sudah berada di ujung lidahnya.


“KHIREN, Mex! Itu cuma enam huruf doang, apa susahnya sih?” Ucap Khiren yang sudah kesal.


Lalu seorang pelayan masuk dan membawakan minuman untuk mereka.


“Hai kamu!” Tunjuk Khiren pada pelayan itu.


“Iya, master”


“Coba katakan KHIREN”


“Ambil ini, lalu berikan pada kepala pelayan dan katakan pada kepala pelayan kalau saya memerintahkan dia memberikan kamu libur dan minta dia mengurus semua kebutuhan kamu untuk berlibur” Khiren melepas cincin di jari kelingkingnya.


“Ini serius master?” Pelayan itu mengambil cincin itu dengan wajah senang, dan sedikit syok karena mendapatkan hadiah yang tidak di duga.


“Saya tidak bercanda, jadi cepat pergi temui kepala pelayan sebelum saya berubah pikiran”


“Makasih mater! Semoga anda selalu sukses dan cantik selalu” Lalu pelayan itu berlari dengan kegirangan seperti orang gila, dia bahkan meloncat-loncat sebelum nutup pintu ruang kerja itu dengan sopan karena terlalu senang.


“Wah, dia sangat senang!” Khiren sangat kaget dan menggap itu suatu hal yang aneh tapi menarik karena ekspresi si pelayan yang mendapatkan libur dadakan itu terlihat cukup konyol hingga Khiren hampir tidak bisa menahan tawanya.


“Master! Apa yang anda lakukan? Memberikan pelayan libur seperti itu membuat kakacauan dalam jadwal pekerja.”


“Master lagi, master lagi! Sampai kampan kamu akan terus memanggilku dengan sebutan itu, hah?”


“Tapi…”

__ADS_1


“Dari pada kamu sibuk memikirkan dia, mending pikirkan cara memanggil nama ku dengan benar dan bicaralah selayaknya pasangan, paham!”


“Tapi itu agak…”


Lalu Khiren mendekat pada Mex, lalu dia mendorong Mex ke sofa dan menahan Mex  dengan kedua tangannya yang berada di sofa mencoba menghalangi Mex yang terlihat ingin kabur. Khiren menatap mata Mex tanpa bicara sepatah katapun, sedangkan Mex terlihat mulai berkeringat dan wajahnya mulai memerah karena Khiren terlalu dekat hingga dia tidak bisa mengontrol dirinya.


“Itu, apa tidak sebaiknya anda memindahkan tangan anda dan kembali duduk di tempat anda?”


“Panggil namaku dengan benar dan aku akan melepasmu!” Ucap Khiren tegas dengan mata menekan kearah Mex.


“Eum… Ki… ki.. Khiren” Lalu Mex kabur dengan menundukkan kepala dan segera berlari keluar.


“Dasar aneh! Cuma di suruh panggil namaku saja kok susah banget? Pakek acara kabur segala, awas aja kalau ke temu! Sudahlah, sekarang sebaiknya aku istirahat. Semua terlalu membuatku lelah” Lalu Khiren melirik kearah mejanya, dia menarik napas beberapa kali karena merasa pekerjaannya semakin banyak saja.


“Kenapa tidak ada waktu dimana tidak ada pekerjaan yang menumpuk dan aku tidak berada dalam masalah, bisa bersantai dengan tenang!” Lalu dia masuk melewati pintu rahasia yang langsung menuju ke kamarnya.


Khiren berbaring di kasur sambil melihat kearah langit-langit kamarnya.


“Kalau di pikir-pikir Mex itu lucu juga, di luar kelihatan cool banget tapi, aslinya lemah, menyedihkan, dan terlalu patuh tapi itu yang membuat dia menarik. Dasar anak itu! Bisa-bisanya hampir menangis cuma karena aku memegang dagunya, apa aku terlalu kasar? Ah tidak mungkin, lagian pria lain biasanya akan suka kalau aku perlakukan seperti itu.” Lalu Khiren berbalik arah.


Sesaat dia berpikir tentang apa yang telah terjadi padanya hari itu tapi, pikirannya kembali tertuju pada Mex.


“Apa dia menangis lagi? Apa aku perlu mencarinya dan minta maaf? Ah, gak usahlah, lagian aku gak merasa membuat kesalahan padanya. Heum…. Tapi, kenapa dia lari tadi, ya? Ah! Bikin kepikiran aja tu anak!” Khiren bangun dari tempat tidur.


“Kalau aku mencarinya dan ternyata dia lagi nangis di pojok, pasti dia akan malu, mending aku pura-pura gak tahu ajalah! Mungkin dia butuh waktu, lagian aku juga udah mengambil kesempatannya untuk menikah dengan wanita yang dia cintai hanya karena aku males di desak oleh orang-orang sialan itu!”


“Aku sudah menduga mereka akan meminta itu jika mereka tahu identitas asliku, dasar orang-orang gila! Mereka pikir bisa mendalikan aku melalu Mex, dasar orang-orang serakah yang bodoh, sudah jelas-jelas Mex itu orangku dari awal tapi mereka tetap berpikir begitu hanya karena Mex terlihat patuh dan selalu seakan memihak mereka”


Lalu Khiren kembali berbarik di kasur empuknya dan lelap karena dia sebanarnya cukup lelah hari itu.


Bersambung…


Cuma mengingatkan buat jangan lupa like dan komen, kalau bisa sih kasih vote juga biar bisa semangat. Makasih sudah berkunjung, sampai jumpa di episode berikutnya.

__ADS_1


__ADS_2