Love Scenario V2

Love Scenario V2
spersial 8


__ADS_3

“Apapun masalahnya, kita bisa lewati bersama, aku akan selalu bersamamu! Khiren, aku tidak tahu apa masalahmu kali ini tapi, jangan pernah memikirkan untuk mati. Aku tidak akan membiarkan kamu meninggalkan ku lagi” Dipeluknya lagi tubuh Khiren yang kini mulai melemah.


Tak butuh waktu lama akhirnya Khiren mulai kehilangan kesadarannya.


*


*


Langit mulai gelap namun Khiren masih tidak kunjung bangun dari tidurnya, dokter sudah memeriksa tapi tidak ada masalah serius, hanya stres dan syok yang berlebihan.


“Sayang, tolong bangun… Khiren, aku tidak bisa kehilanganmu, tolong tetap bertahan untukku” Ucap si pria dengan nada frustasi.


“Euem..” Khiren mulai bergerak pelan, perlahan mata cantiknya terlihat di balik kelopak mata yang sudah berjam-jam menutupnya.


“Khiren, apa kamu sudah baikan? Apa kamu minum atau apapun? Katakan sesuatu” Pinta si pria dengan suara panik dan khawatir.


“Diam” Ucap dengan suara lemah dan pelan si wanita yang sedang berusaha untuk bangun.


Revan menutup mulutnya, lalu mencoba membantu Khiren untuk bangun dari tempat tidur.


“Jam berapa?” tanya Khiren yang melihat di luar sudah gelap.


“Jam 8 malam, apa kamu lapar?”


“Antar aku pulang!”

__ADS_1


Begitu bangun Khiren hanya ingat tentang Derend, dia takut anak angkatnya itu akan merasa sedih sendirian di rumah karena kepergian Mex yang tiba-tiba.


“Tapi, kamu baru sadar!”


“Aku ingin pulang!”


“Tapi khi…”


“Revan, jangan coba mengancamku dengan anak lagi. Aku lalah, biarkan aku peluang!”


“Biarkan dia pulang, nak” Seorang wanita muncul dari balik pintu kamar.


“Tapi, bu!”


“Revan, jangan membantah!” Tegas si wanita pada anak tunggalnya itu.


“Bu, apa-apaan ini! Kenapa ibu membiarkan dia keluar! Dia baru sadar!”


“Dia harus pergi, nak! Dia seorang ibu dan seorang istri, dia harus mengambil perannya kali ini. Suaminya sudah meninggal dan sekarang anak angkatnya sedang bersedih sendirian di rumah sakit, biarkan dia menjaga keluarga kecilnya untuk terakhir kalinya.”


Revan hanya diam, karena dia tidak tahu tentang kematian Mex. Lalu segera dia membuka halaman berita, dan benar saja ada banyak berita tentang kecelakaan yang menewaskan seorang pengusaha.


“Bu, jika Mex mati maka, tugas tugas pemimpin dari organisasi teratai iblis itu akan kembali pada Khiren dan artinya Khiren tidak bisa bersamaku, bukan?” tanya Revan yang mulai ingat tentang tujuan utama Khiren menikahi Mex dan asalan Revan tidak bisa menyingkirkan Mex untuk mendapatkan Khiren.


“Ayahmu yang akan mengurusnya” Sang ibu berjalan mendekati anaknya lalu memeluk anaknya yang sedang duduk di tempat tidur dengan ekspresi frustasi. “Kamu akan mendapatkan dia, bagaimanapun caranya, ibu akan memberikan wanita itu untukmu… Sekarang tenangkan dirimu, istirahatlah, lalu biarkan kami mengurus sisanya… Kamu putraku, dan aku tidak akan membiarkan kamu bersedih lagi, ini janji ibu padamu” Ucap sang ibu sambil mengelus pelan rambut sang anak.

__ADS_1


*


*


Seperti perkiraan Khiren, Derend pasti masih di rumah sakit menunggunya datang untuk menjemputnya.


“Putraku!” Khiren berlari ke arah Derend yang masih terduduk dengan suara tangis kecil di depan pintu kamar mayat.


“Ma…” Sang anak langsung bangun dan berlari menuju Khiren.


“Ma, mereka mengatakan ayah sudah tidak ada. Ma, kenapa ayah meninggalkan ku? Ma, aku bukan anak baik ya? Ma, aku…”


“Sudah nak, ini bukan salahmu. Ayo kita pulang, biarkan para bawahan mengurus semuanya.” Lalu Khiren segera menggendong anaknya menuju parkiran.


Besok harinya dilakukan pemakaman untuk Mex, semua bawahan dan orang-orang yang dekat dengan Mex hadir di tempat itu untuk mengantarkan Mex ke dunia barunya. Khiren tidak lagi mengeluarkan air mata, dia ingin terlihat tegar di depan putranya, entah apa yang akan terjadi besok tapi, hari ini dia ingin menjadi ibu dan pelindung untuk putranya Derend.


“Mex, aku akan menjaga anak kita dan Derend, jangan  khawatirkan apapun di sana, istirahatlah dengan tenang dan maafkan aku karena telah banyak melukaimu”


Lalu datang seorang pria tidak terlalu tinggi, namun wajahnya sedikit garang.


“Nyonya, Mex menitipkan ini padaku sebelum dia meninggal”


Sebuah surat yang sudah bernoda darah, meski begitu Khiren tetap menerimanya.


“Terima kasih!”

__ADS_1


Ucapnya, lalu Khiren membawa Derend pergi dari tempat itu.


__ADS_2