
Sore hari Hinata kembali sadar karena obat efek obat bius mulai menghilang, warna jingga langit di sore itu begitu indah, cahayanya menerpa wajah tampan Ray Hinato yang tertidur saat sedang menunggu Hinata bangun. Wanita itu mantap wajah tampan Ray dari kejauhan, meski pemandangan itu harusnya membuat dia terkagum atau merasakan sesuatu, anehnya dia tidak merasakan apa-apa saat mendapati pemandangan yang mungkin bagi wanita lain itu adalah pemandangan yang luar biasa dan membuat dia jatuh cinta.
“Hai! Kamu!” Wanita itu mencoba membangunkan Ray, tapi karena jarak yang cukup jauh, suara kecilnya tidak cukup untuk membangunkan seorang yang sedang tidur nyenyak. Hinata melempar bantal yang ada di sampingnya dan dia tetap sasaran, Rai langsung terbangun saat mukanya di hantam dengan bantal, meski itu tidak terlalu menyakitkan tapi dia benar-benar kaget.
“Ada apa Hinata?” Ray langsung menghampiri Hinata.
“Sebenarnya kamu siapa? Dan aku dimana?”
“Kamu adalah Hinata Yuuna dan aku adalah tunangan mu Ray Hinato, sekarang kita berada di rumah kecil kita, di kota kecil ini”
“Tunangan? Benarkah? Apa kamu tidak sedang berbohong? Kamu tidak sedang mengarang ceritakan? Kalau iya aku tunangan kamu, kenapa aku tidak ingat apapun tentang kamu? Kenapa aku tidak merasakan apapun?”
“Mungkin ini efek dari kecelakaan yang kamu alami beberapa bulan yang lalu, setelah itu kamu koma dan untungnya hari ini kamu bisa bangun, aku sangat bersyukur tuhan mengabalkan permintaanku dan mengambalikan kamu padaku, aku berjanji tidak akan pernah melepas mu lagi, tolong jangan tinggalkan aku” Rai memeluk Hinata.
“Ini sedikit aneh, aku tidak bisa langsung percaya pada orang ini, aku harus mencari tahu kebenarannya! Sekarang sebaiknya aku mengikuti permainannya, lalu pelan-pelan akan aku cari tahu apa yang sebenarnya terjadi.” pikir Hinata.
“Benarkah? Kalau begitu bagaimana dengan orang tuaku? Mereka dimana sekarang?”
“Mereka… Mereka sudah meninggal beberapa tahun yang lalu, kamu hanya punya aku di dunia ini dan aku hanya punya kamu di dunia ini, kita akan saling menjaga dan melindungi, ingat seperti janji kita waktu kecil?”
“Waktu kecil? Waktu aku sama kamu aja gak bisa aku ingat gimana caranya aku ingat masa kecil kita? Sudahlah, lepas!” Hinata sedikit mendorong Rai darinya.
“Maafkan aku, aku sangat bahagia karena kamu sudah sadar. Kalau gitu bagaimana, kalau kita makan malam? Kamu pasti sudah sangat lapar karena dari pagi kamu tidak makan apa-apa’kan?”
Disaat yang sama perut Hinata mulai berbunyi dan meringis meminta haknya, Hinata dengan bantuan Ray mulai beranjak dari tempat tidur dan turun untuk makan malam bersama Ray. Hinata duduk dengan Ray di sampingnya, mereka berisiap untuk makan tapi Hinata tiba-tiba hanyut dalam pikirannya.
“Hinata!” Ray melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Hinata namun tidak ada reaksi hingga Ray menepuk pundaknya.
__ADS_1
“Ah, maaf! Aku hanya…”
“Sudahlah, cepat makan sebelum kamanannya dingin!” Ray berdiri lalu pindah tempat duduk agak jauh dari Hinata.
Mereka mulai makan dan tidak ada satu obrolanpun yang keluar, hanya kesunyian yang menyesakkan yang ada di ruangan itu. Ray selesai lebih cepat dan segera pergi meninggalkan Hinata terlihat tidak berselera makan. Waktu berjalan dengan amat cepat dan tak terasa sudah hampir jam 10 malam dan saatnya untuk seorang Hinata meminum obat dan beristirahan. Ray datang membawa obat untuk Hinata, dia meletkannya di meja lalu dia berjak pergi, sebuah tangan kecil dan lembut menghentikan langkahnya.
“Apa kamu marah?” Tanya Hinata dengan ragu-ragu.
“Bagaimana mungkin aku bisa marah pada kamu, kamu taukan kalau aku terlalu mencintaimu hingga tidak bisa marah padamu meski kamu menusukku dengan pisau sekalipun.”
“Kalau begitu, kenapa kamu pergi tadi?”
“Aku pikir kamu tidak nyaman makan denganku, sekarang kamu minum obat dan segera tidur!”
“Maafkan aku! Aku hanya… Bisakah kamu memelukku?” Pintanya dengan nada manja.
Tanpa ragu Ray berbalik dan memeluk Hinata, dia begitu lega karena dia merasa kalau hati Hinata mulai terbuka untuknya. Ray mencium kening Hinata lalu dengan lembutnya dia mengelus rambut Hinata dan saat Hinata terlelap dalam pelukannya dia perlahan-lahan menidurkannya dan menyelimuti Hinata dengan hati-hati sebelum dia keluar dari kamar itu. Saat Rai benar-benar telah pergi, Hinata yang pura-pura tidur lalu bangun.
Beberapa hari setelah itu, Ray kembali ke korea kerena ada beberapa pekerjaan yang harus dia urus dan Hinata pergi ke New York dengan alasan untuk jalan-jalan dan juga melihat tempat pernikahan mereka. Dimusim panas yang cerah Hinata yang berjalan-jalan di pinggir kota tanpa pengawal berhenti di sebuah restauran yang cukup populer di tempat itu, dia duduk di kursi yang sudah dia pesan sebelumnya, makanan mulai di hidangkan lalu seorang pria menghampirinya. Pria itu terlihat mencurigakan karena diri awal Hinata masuk dia sudah menetap Hinata cukup lama sebelum akhirnya dia menemuinya langsung.
“Khiren? Kamu Khiren’kan?”
Mendengar nama itu di sebut, Hinata merasa kepalanya cukup sakit, dia benar-benar merasa ada tekanan yang luar biasa membuat dia merasakan nyeri di kepalanya. Dia mencoba menahan rasa sakitnya karena dia tidak ingin pria itu merasa kasihan ataupun mencoba mengambil kesampatan saat Hinata sedang dalam keadaan lemah.
“Apa? Apa maksud Anda? Sebaiknya Anda tidak mengganggu saya!” (Hinata berbicara dalam bahasa Inggris)
“Oh, maafkan saya! Saya pikir kamu adalah Khiren, dia istri saya, dia sudah hilang hampir satu bulan”
__ADS_1
“Benarkah?! Semoga dia cepat di temukan, oh ya, apa aku benar-benar mirip dengan istri Anda tuan..?”
“Panggil saja Revan, apa saya boleh duduk di sini?”
“Tentu saja”
“Kalau boleh tau, nama nona siapa?”
“Namaku Hinata Yuuna”
“Kamu tinggal di sini?”
“Tidak, tapi rencananya aku dan tunanganku akan tinggal di sini setelah menikah”
Revan terlihat sedikit kecewa mendengar hal itu, hati Revan masih berpikir kalau yang di depannya itu adalah Khiren, wanita yang sangat amat dia cintai walaupun dia terlihat lebih lembut di banding Khiren yang dia tau.
“Sepertinya aku harus pergi! Hinata, semoga lain kali kita bisa mengobrol lebih banyak lagi, sampai jumpa!” Revan pergi terburu-buru karena dia mendapat panggilan dari teman-teman Khiren.
“Apa aku boleh minta nomormu?”
Revan langsung mengetik nomornya di handphone Hinata, “Nih udah, aku langsung pergi, ya?”
Saat Revan sudah pergi seorang wanita langsung duduk dan mempati tempat duduk Revan yang sudah di tinggal.
“Khiren? Kamu kok di sini? Gimana kabar kamu sekarang?” Wanita itu terlihat sok akrab denga Hinata.
“Kamu siapa?” Hinata tidak mengenal siapa wanita yang mengebut dia sebagai Khiren.
__ADS_1
Bersambung…
Jangan lupa untuk memberikan dukungan kalian untuk novel ini dengan meninggalkan like, vote dan reting 5. Selamat membaca