
Pagi datang dengan sinar matahari yang menyilaukan, begitu Revan membuka mata dia tidak melihat Khiren di sampingnya. Revan mulai terbiasa kehilangan Khiren di pagi hari, dia tahu kalau Khiren tidak bisa lepas dari kebiasaanya lari pagi. Sebenarnya lari pagi bukan satu-satunya alasan Khiren keluar pagi-pagi buta, dia mengecek situasi penjagaan di tempat itu dan menghafal jalan untuk keluar dari tempat itu. Dia sengaja berlari di dekat gerbang sambil memantau berapa banyak penjaga di pagi hari, dan itu juga alasan kenapa dia sering melihat ke luar jendela tiap malam, bukan melihat langit tapi, menghitung jumlah penjaga malam dan mulai mengatur strategi untuk keluar dari tempat itu begitu dia menyadari kalau orang-orangnya tidak kunjung datang.
“Jumlahnya tidak teratur, aku akan kesulitan jika begini, tidak mungkin bisa kabur dengan mudah.”
Lalu saat dia akan masuk ke rumah melewati pintu utama, seorang wanita cantik, dengan penampilan modis juga datang beriringan dengan dirinya.
“Hai! Kamu siapa?” Tanya wanita itu pada Khiren.
Khiren hanya melirik wanita itu sekilas lalu dia pergi tanpa meninggalkan sepatah katapun.
“Dasar sombong, berani-beraninya dia mengabaikan ku, awas aja kamu!” Pikir wanita itu.
Khiren segera ke kamarnya dan membersihkan diri. Dia mulai penasaran dengan wanita yang dia temui di depan.
“Aku tidak boleh gegabah, mungkin saja dia bisa jadi jalanku untuk meninggalkan tempat itu”
Lalu Khiren turun untuk sarapan dan ternyata wanita itu telah mengambil tempat duduknya di dekat Revan. Dia tidak peduli dan duduk di tempat yang kosong dan makan dengan tenang.
“Revan, dia siapa sih?”
“Dia? Tanya saja sendiri”
“Ayolah beritahu, apa dia sepupumu atau apa?”
“Dia istriku”
“Jangan bercanda! Kapan kamu nikahnya?”
“Apa aku harus memberitahumu apapun yang aku lakukan, memangnya apa hakmu, lalu kenapa kamu di sini?”
“Aku? Itu sebenarnya ….”
“Kalian merusak mood ku, aku akan ke atas!” Lalu Khiren pergi dari tempat itu.
“Khiren tunggu!”
“Untuk apa kamu mengejarku? Temani saja wanitamu itu!”
“Apa kamu sedang cemburu?” Revan tersenyum karena berpikir Khiren mungkin mempunyai perasaan padanya.
“Terserah kamu saja tapi, aku ingin sendiri sekarang!”
“Jangan begitu! Apa kamu marah karena ada dia di sini?”
“Tolong beri aku sediki privasi!”
“Khiren! Berhenti dulu! Mari kita bicara”
“Tidak ada yang perlu di bicarakan!”
“Kamu harus mendengarkan aku, kamu jangan marah karena anak itu!”
“Terserah apa yang kamu pikirkan tapi, aku hanya mau sendiri saat ini!”
“Baiklah kalau itu mau kamu!” Lalu Revan berhenti mengejar Khiren dan hanya melihat Khiren yang masuk ke kamar.
__ADS_1
“Apa yang sedang dia pikirkan? Apa dia benar-benar cemburu?”
“Ini sangat luar bisa! Kalau dia cemburu itu artinya dia menyukaiku!”
Sementara itu Khiren berada di kamar sambil berpikir bagaimana cara memanfaatkan situasi agar dia bisa keluar dari tempat itu.
“Ah!!! Sial! Kenapa mereka tidak kunjung datang?! Ini sudah lebih dari seminggu, kenapa belum ada yang menjemputku dari penjara sialan ini! Aku sudah tidak tahan berada di tempat yang menghambat langkahku!”
“Aku harus mencari cara gara bisa keluar dari tempat yang penuh penjagaan ini!”
“Aku mungkin kuat tapi tidak mungkin aku bisa lari dari pengawal yang jumlahnya tidak bisa aku prediksi! Setiap hari orang yang berada di berpatroli selalu orang yang berbeda, apa mungkin dia memiliki lebih dari ratusan pengawal di tepat ini?”
Khiren hampir putus asa karena dia tidak menemukan cara untuk bisa kabur dari tempat itu.
Malam pun tiba gitu cepat saat Khiren masih mencari jalan keluar dari masalahnya.
“Sayang!” Revan datang dengan makan di yang dia bawa untuk Khiren.
“Ada apa lagi?”
“Kenapa kamu marah? Aku hanya membawa makanan untuk kamu, ini makanmu sayang!”
“Aku tidak lapar!”
“Kamu tadi siang tidak jadi makan terus, waktu makan malam pun kamu tidak turun, apa kamu benar-benar tidak mau makan?”
“Cukup! Aku bilang tidak, ya tidak!”
“Sayang sedikit saja!”
“Khiren, ayolah sedikit saja, ya sayang?!” Revan mencoba menyuapi Khiren dengan makan yang dia bawa.
‘trauk’ pring jatuh ke lantai dan pecah, makan bertaburan di tempat itu.
“Apa yang kamu lakukan Khiren!”
“Sudah aku bilang aku tidak lapar!” Lalu Khiren pergi dan kakinya menginjak salah satu pecahan dari piring yang berbaruan di lantai.
Khiren sesaat menghentikan langkahnya dan mencabut sepihan kaca yang menyangkut di kakinya lalu dengan darah mengalir dia membuat jejak kaki di lantai. Dia terus berjalan seakan tidak terjadi sesuatu pada dirinya, dia terlihat seperti manusia yang tidak kenal rasa sakit.
“Khiren tunggu! Kamu terluka!” Revan belari mengajar langkah Khiren yang cepat.
“Khiren tunggu!”
“Lepas! Jangan sentuh aku!” Khiren memberontak saat Revan menarik tangannya.
“Aku tidak bisa melepasmu sebelum kamu berhenti berjalan!”
“Lepas! Aku tidak ingin bicara dengan kamu!”
“Tapi kaki mu luka!”
“Apa urusan kamu?!”
“Apa kamu tidak mengerti?! Saat kamu terluka, aku juga merasakan sakitnya jadi tolong berhenti dan ayo kita obati lukamu!”
__ADS_1
“Baiklah tapi lepaskan tanganku!”
Pada akhirnya Khiren di gendong oleh Revan ke kamar dan dia memanggil dokter pribadinya untuk mengobati luka Khiren yang cukup besar.
“Nyonya, apa terasa sakit?” Tanya dokter yang sedang membersihkan luka Khiren.
“Tidak!”
“Benarkah? Luar bisa! Biasanya luka seperti ini akan terasa sangat sakit apa lagi ini cukup dalam. Saya akan menjahit luka anda, tolong jangan bergerak.”
“Baik” Ucap Khiren singkat dan tersekasan dingin.
Dokter terheran-heran karena Khiren sama sekali tidak mengeluh atau eksprisinya tidak berubah sama sekali.
“Sudah selesai! Tolong jangan jaga agar tidak kena air lukanya, lalu ganti perbannya berkala”
“Baik” Ucap Khiren dengan wajah datarnya.
Setelah dokter pergi Revan menghampiri Khiren.
“Apa kamu benar-benar tidak merasa sakit?”
“Tidak”
“Jangan sembunyikan rasa sakitmu, mengeluhlah kalau kamu merasa sakit”
“Aku tidak merasa sakit, sudahlah aku ingin istirahat”
“Kamu benar-benar…”
“Revan, aku tidak ingin berdebat”
“Baik, baik aku tidak akan mengatakannya lagi, ayo kita tidur”
Lalu Revan berjalan ketempat tidur di samping Khiren, dia menarik bantarnya dan meletakkannya berdempetan dengan bantal Khiren.
“Apa yang kamu lakukan?”
“Aku hanya ingin tidur!”
“Lalu ini apa? Jangan terlalu dekat!”
“Tidak bisa, aku tidak bisa tidur tanpa memelukmu!”
“Jangan bercanda!”
“Aku tidak bercanda, aku benar-benar tidak bisa tidur saat tidak bersama kamu, tolong biarkan aku tidur sambil memelukmu”
“Terserah!”
Lalu Revan memeluk Khiren sambil memejamkan mata, mereka terlalu dekat hingga Khiren bisa mendengar dekat jantung Revan yang terlalu cepat. Dengan wajah penuh kegembiraan Revan pun memejamkan mata sambil menikmati aroma Khiren yang selalu dia rindukan walaupun mereka kini tinggal di satu rumah yang sama.
Bersambung.....
Jangan lupa meninggalkan jejak bacaannya dengan like, vote, dan kasih reting 5 untuk novel ini.
__ADS_1
SELAMAT MEMBACA 😊😊😊😊