
Makan malam yang tenang dengan suasana yang nyaman, Vano terlihat sangat bahagia karena Nenek Khiren terlihat sangat senang dengan kehadirannya di tempat itu.
“Bagaimana hasil penelitian mu, Hinata?” Tiba-tiba saja Nenek Khiren melempar pertanyaan yang tidak terduga dan membuat kedua orang di depannya jadi kaget.
“Kenapa tiba-tiba nenek ingin tahu tentang itu?”
“Ini sudah tahun ke lima, dan aku belum mendengar hasilnya hingga detik ini, jangan membuat semua yang aku lakukan untukmu sia-sia, paham?!”
“Semuanya sedang dalam proses, saat semua sudah siap, aku akan langsung mengirimnya pada Nenek. Sekarang tolong jangan membicarakan masalah pekerjaan saat makan.” Tegas Khiren karena tidak terlalu suka dengan pembahasan yang sedang mereka bicarakan.
“Baiklah, tapi… Jangan membuatku kecewa, paham” Sambil tersenyum nenek Khiren menatap cucunya dengan tatapan yang mendalam seakan mereka sedang bicara lewat batin dan membuat Vano jadi bingung melihatnya.
“Sebanarnya apa sih yang mereka bicarakan?” Pikir Vano sambil sesekali memerhatikan kedua wanita yang sedang saling melempar tatapan yang aneh.
“Kenapa mereka bertatapan seperti itu?” Vano jadi merinding.
“Aku sudah selesai!” Khiren segera bangun dan pergi dari tempat itu.
“Maaf, Nek saya menyusul Khiren dulu!” Vano meminta Izin sebelum mengejar Khiren yang sudah lebih dulu meninggalkan ruangan itu.
“Kamu tidak perlu meminta izin, cepat kejar saja dia!” Ucap Nenek Khiren dengan nada ramah dan senyuman yang membuat Vano semakin yakin kalau dia sudah mengantongi restu dari Nenek Khiren untuk Hubungannya.
Vano menyusul langkah kaki Khiren yang begitu cepat hingga akhirnya Vano melihat Khiren berhenti di taman belakang di dekat sebuah kolam ikan yang cukup luas. Lalu Khiren memandangi langin dengan tatapan aneh, sebuah tatapan yang tidak bisa Vano terjemahkan. Khiren kembali berjalan tapi lebih pelan dan dia duduk di dekat sebuah pohon besar yang berada tidak jauh dari kolam ikan tersebut. Vano melangkah dengan pelahan-lahan dan menghampiri Khiren, dia duduk tepat di samping Khiren.
“Vano, kamu percaya kalau ada ketulusan di dunia ini tanpa maksud tertentu?”
“Aku tidak tahu tentang apa yang ada di dunia ini tapi, di dunia yang aku tahu adalah ketulusan itu ada selama kita percaya itu ada. Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan hal itu?”
“Mmm, tidak ada, aku hanya ingin bertanya saja. Apa aku boleh tidur sebentar saja?”
“Tentu saja, kenapa harus…”
Lalu Khiren merebahkan dirinya di pelukan Vano, dia memajamkan mata seakan dia benar-benar lelah. Dia langsung terlelap padahal di luar udara sedikit dingin tapi, Khiren bisa tidur dengan tenang dalam pelukan Vano meski berada di tempat yang terbuka tanpa alas apapun. Vano menggunakan kesempatan itu untuk menatap wajah Khiren lebih lama dan lebih dekat dari biasanya, meski begitu dia tidak berencana untuk melakukan hal di luar kemampuannya yang akan membuat dia di benci oleh Khiren. Saat Vano sedang melihat bulu mata lentik Khiren dari dekat tiba-tiba saja tangan Khiren mencengkram leher Vano dan menarknya lebih dekat hingga mereka beciuman.
“Khiren! Kenapa kamu lakukan itu tiba-tiba?”
“Kenapa? Apa kamu tidak suka?”
“Aku bukannya tidak suka, hanya saja aku sangat kaget tadi!”
__ADS_1
“Baiklah, kalau begitu lain kali aku akan memberitahu dulu sebelum menciummu, ayo kita kembali ke dalam.”
“Bukan itu maksud aku..”
“Iya aku paham, ayo bangun!” Khiren mengelurkan tangan dan membantu Vano untuk bangun.
Lalu seorang pelayan datang dengan tergesa-gesa, dia terlihat panik.
“Nona, tuan, si kembar telah bangun dan sedang menangis tidak henti-henti, nyonya besar meminta tuan Vano untuk segera ke sana.”
“Baik, kami akan ke sana!”
Khiren dan Vano segera bergegas ke kamar Nenek Khiren dan melihat beberapa pelayan melakukan segala cara agar bisa membuat si kembar bisa diam.
“Vano lakukan sesuatu!”
“Iya, aku akan berusaha!”
Lalu Vano masuk dan menggendong salah satu dari si kembar, anak itu langsung terdiam dan kembali tertidur, lalu Vano mengambil satu lagi dan mengendong keduanya, meski kesulitan tapi, dia terlihat menikmati hal itu karena bisa melihat si kembar dari dekat adalah hal yang mambuat dia jadi sangat senang.
“Luar biasa, mereka langsung diam bagitu di gendong! Apa Vano memiliki ilmu untuk menenangkan orang, ya? Ternyata bukan cuma aku yang merasa tenang tiap kali bersama Vano, bahkan si kembar juga merasa hal yang sama.” Pikir Khiren.
“Apa boleh begitu?” Tanya Vano ragu karena tiba-tiba di percaya untuk mengurus dua tuan muda keluarga Kentaro.
“Nenek, kenapa Vano harus menjaga mereka?”
“Kerena hanya Vano yang bisa membuat mereka tenang, apa kamu keberatan Vano?”
Vano sedikit ragu untuk menjawab, saat dia melirik kearah Khiren, Khiren memberikan kode untuk menolaknya tapi, hati nurani Vano tidak bisa menolak dua malaikan yang menggemaskan itu dengan alasan apapun.
“Saya tidak masalah, kalau begitu apa bisa tempat tidur mereka di bawa ke kamar saya saja?”
“Tidak! Kalau si kembar bersama Vano, aku juga harus ikut!”
“Kenapa kamu harus ikut?” Tanya nenek Khiren dengan tatapan curiga pada Khiren.
“Em.. Itu… Itu, karena aku tidak bisa membiarkan Vano lelah sendiri mengurusi dua anak itu padahal aku yang kakaknya tidak melakukan apa-apa.”
“Terserah kalian saja! Cepat bawa tempat tidur tuan muda dan siapkan dua tempat tidur dalam kamar tamu kita!” Perintah Nenek Khiren pada pelayan yang ada di dalam ruangan itu.
__ADS_1
“Baik nyonya besar!” Mereka langsung bergerak dengan cepat dan menyiapkan semua yang diminta sesuai keinginan Khiren.
“Kok kayak keluarga beneran aja? Andai si kembar itu benar-benar anak aku dan Khiren mungkin semua ini akan sangat luar bisa” Pikir Vano sambil terus membayangkannya.
“Vano!”
“Iya sayang! Eh, maksud aku iya Khiren ada apa?”
“Kamu lagi mikir apa, sih? Tiba-tiba saja panggil aku dengan kata sayang”
“Itu aku…”
“Lupakan itu, cepat masukkan si kembar ke dalam ranjang bayi mereka!”
“Baiklah, tolong kamu pegang Yuuto!” Pinta Vano pada Khiren yang berada di sampingnya.
“Yuuto?”
“Apa kamu tidak di beritahu tentang nama si kembar? Yang pertama ini adalah Yuuto dan satunya lagi Naoki. Bukankah nama mereka itu sangat bagus? Nenekmu tadi yang memberitahunya saat kamu sedang menyiapkan kamar untuk kita.”
“Ternyata begitu, kalau begitu ayo Yuuto kakak gendong!” Khiren pelahan-lahan mengambil Yuuto dari tangan Vano dan menggendongnya dengan sangat hati-hati karena tubuh mereka sangat kecil dan sangat munggil dan juga terlihat sangat lemah.
“Bukankah mereka berdua terlihat sangat menggemaskan?”
“Iya, aku juga berpikir begitu, tunggu beberapa hari lagi kita akan membawanya pulang bersama kita ke korea.”
“Loh, kenapa? Apa kita tidak bisa tinggal di sini saja?”
“Memangnya kamu tidak ada pekerjaan?”
“Iya aku punya tapi, aku lebih suka di sini!”
“Vano, lebih baik kamu cepat tidur saja, aku tidak ingin berdebat!”
Khiren langsung ke tempat tidurnya dan segera menarik selimut karena tidak ingin mendengar permintaan Vano yang mungkin akan memperngaruhi dirinya dan membuat dia terkena masalah jika terlalu lama di tempat ini.
Bersambung…
Jangan lupa meninggalkan jejak bacaannya dengan like, vote, dan kasih reting 5 untuk novel ini.
__ADS_1
SELAMAT MEMBACA 😊😊😊😊