
“Sebenarnya ini minuman apa?” Tanya Khiren setelah menghabiskan minuman dengan rasa yang aneh itu.
“Hanya ramuan kejujuran” Ucap Revan dengan wajah serius.
“APA??” Khiren sangat terkejut dan menyesal telah meminum minuman yang di berikan Revan padanya.
“Jangan bercanda!” Khiren mencoba untuk menipu dirinya dengan menganggap kalau Revan sedang bercanda.
“Jadi, alasan kamu datang terlambat apa?”
“Aku baru saja menghadiri pesta pertunangan adik Mex” Ucap Khiren jujur akibat dari efek minuman yang dia minum.
“Bersama siapa?”
“Bersama Vano dan Mex”
“Jadi kamu bersenang-senang di sana?”
“Tidak karena kamu membuat aku khawatir dan terpaksa meninggalkan pesta yang bahkan baru saja di mulai.”
“Jadi kamu meninggalkan Vano untukku?” Raut wajah Revan terlihat lebih baik setelah mendengar ucapan Khiren yang menyatakan kalau dia lebih penting dari pada Vano.
“Iya”
“Aku sangat pesanaran kemana kamu dua hari ini”
“Aku tinggal di rumahku bersama si kembar dan juga Vano”
“Apa? Jadi kamu punya rumah lain, atau jangan bilang sebenarnya dugaan ku terhadap rumah itu benar”
“Memangnya apa yang kamu pikirkan tentang rumah itu?”
“Rumah itu sengaja kamu beli untukku agar Vano bisa tinggal di rumahmu yang sebenarnya, yakan?”
“Iya”
“Kamu sangat keterlaluan! Padahal aku sudah bersusah payah meninggalkan pekerjaanku untuk menemui kamu, aku sudah bersusah payah menghilangkan sifat burukku agar aku bisa terlihat baik di depan kamu”
“…” Khiren hanya diam dan menjadi pendengar yang baik tanpa ekspesi apapun.
“Kenapa? Apa hebatnya dia?”
“Dia orang yang selalu memberiku ketenangan karena itu aku ingin terus di dekatnya”
__ADS_1
“Apa di dekatku kamu tidak bisa merasa tenang? Tunggu dulu! Aku ganti pertanyaannya, apa kamu mencintai pria sialan itu?”
“Aku tidak mengerti apa itu cinta, aku hanya tahu kalau aku membutuhkan dia di sisiku, aku hanya ingin merasa tenang meski hanya sesaat saja”
“Ternyata begitu! Kalau begitu aku ingin tinggal di rumah yang sama dengan dia!”
“Tidak bisa, kamu akan melukainya!”
“Tidak, aku berjanji aku tidak akan melukainya, ku mohon kali ini saja!”
“Lakukan sesukamu, selama tidak ada pertengkaran diantara kalian berdua!” Lalu Khiren meminta seorang pelayan membawakannya air mineral setelah efek obat itu berkurang Khiren menarik paksa Revan yang terlihat seperti sudah semakin mabuk karena pengaruh anggur yang terus dia minum setiap kali mendapat jawaban yang tidak sesuai dengan harapanya.
“Ayo pulang!”
“Tidak tidak tidak! Aku masih mau di sini, aku masih ingin minum segelas lagi!”
“Kamu sudah sangat mabuk, ayo cepat keluar!”
Revan masih saja tidak mau bangun dari tempat duduknya dan membuat Khiren terpaksa menggendongnya keluar dan masuk ke dalam mobil. Semua orang yang melihat kejadian itu cukup takjub pada seorang wanita cantik yang menggendong prianya tanpa bantuan siapapun dan dia terlihat tidak merasa terbebeni sama sekali, bahkan seakan yang dia gendong hanyalah anak kecil yang tidak terlalu berat untuknya. Tanpa di sadari ternyata ada wartawan yang tidak sengaja lewat dan mengabadikan momen tersebut.
“Bawa kami ke rumah utama sekarang juga!” Perintah Khiren pada supir dengan tegas.
“Ternyata kamu memiliki sisi yang tidak pernah aku ketahui seperti ini, luar biasa! Berani-beraninya kamu menjebakku dengan ramuan sialan itu! Sudahlah!” Khiren membiarkan Revan tidur di pangkuannya selama perjalanan.
“Cantiknya! Apa aku sudah mati? Kenapa aku bisa melihat bidadari?”
“Sadarlah! Aku Khiren dan bukan bidadari, aku ini iblis, paham!” Ucap Khiren sambil menepuk pipi Revan yang masih setengah sadar.
“Tidak, kamu bukan iblis! Mana mungkin iblis secantik ini!” Lalu tangan Revan meraih kepala Khiren dan kemudian dia menciumnya.
“Manisnya! Lembut dan manis, aku menyukainya!” Lalu dia kembali tertidur.
‘deg deg deg’
“Kenapa dengan jantungku? Apa jangan-jangan aku punya penyakit jantung?!” Wajah Khiren memerah dan jantungnya berdebar lebih kencang dari biasanya.
“Aku harus memeriksanya ke dokter, aku tidak bisa mati muda seperti ini!” Pikir Khiren sambil terus memegang jantungnya.
Lalu mereka sampai di rumah utama, saat Khiren masuk ke rumah dia melihat Vano sedang menggendong si kembar dan dia terlihat sangat terkejut melihat Revan yang di bawa Khiren.
“Kenapa dia di sini?”
“Dia ingin tinggal di sini bersama kita!”
__ADS_1
“Lalu kamu setuju begitu saja?”
“Dari pada dia membuat laporan pada keluargaku, lebih baik penuhi saja apa yang dia inginkan” Lalu Khiren mengikuti pengawal yang membawa Revan ke kamarnya.
Meski Vano kesal tapi dia juga sedikit bersyukur karena Khiren tetap ada di rumah itu bersamanya meski sekarang Revan juga ada. Setelah memastikan Revan tidur di kamar dengan benar Khiren turun dan menghampiri Vano yang sedang mengurus dua bocah yang rewel.
“Ada apa dengan mereka?”
“Entahlah, tiba-tiba pengasuhnya mengatakan mereka tidak bisa diam karena itu aku pulang cepat.”
“Berikan padaku, biar aku menggendong Yuuto”
Akhirnya Khiren menggendongnya, meski yang di gendong itu adalah adik-adik Khiren entah kenapa mereka terlihat seperti keluarga kecil yang sempurna. Khiren dan Vano mencoba menenangkan dua bayi yang baru saja bangun dari mimpi indahnya itu, mereka membawanya berkeliling rumah. Setelah beberapa menit akhirnya dua bayi yang tewel itu kembali tertidur, Khiren dan Vano membawanya ke kamar Vano agar dia bisa mengawasi si kembar saat tidur.
“Apa kamu merasa lelah?” Tanya Vano yang duduk di sebelah Khiren yang terlihat lelah.
“Iya sedikit”
“Bagaimana kalau aku pijit?”
“Gak sudah, kamu kan juga sama lelahnya”
“Gak kok, aku masih kuat, sini aku pijit aja!”
“Baiklah”
Akhirnya Khiren tetap berada di kamar Vano untuk waktu yang cukup lama, tidak terasa jam sudah menujukkan tengah malam. Mata Khiren pun sudah tidak tertahankan di tambah karena tangan lembut Vano membuat dia merasa nyaman, lalu dia pun tak sengaja tertidur. Vano tersenyum begitu melihat Khiren tertidur lalu dia memindahkan Khiren ke tempat tidur miliknya.
“Aku tidak akan membiarkan pria itu mendekatimu tidak mala mini atau seterusnya” Lalu Vano membelai rambut khiren dengan pelahan-lahan.
Keesokan harinya begitu dia membuka mata, dia kehilangan sosok wanita yang tertidur pulas di sampingnya. Dia langsung mencari kemana Khiren pergi di pagi itu, ketika dia turun dia melihat Khiren baru saja selesai lari pagi.
“Kamu sudah bangun, ayo sarapan! Eh tunggu dulu! Kamu udah mandi apa belum? Kalau belum, mandi dulu baru turun buat makan, oke!”
“Oke, aku mandi dulu” Saat Vano akan menaiki kembali tangga dia berpapasan dengan Revan yang sudah siap untuk memulai harinya bersama Khiren.
Revan terburu-buru turun dan memeluk Khiren, dia menyambut Khiren dengan sebuah morning kiss dengan arah matanya tertuju pada Vano yang masih memantau kemesraan dua orang tersebut.
“Keterlaluan, dia sengaja melakukan itu di depanku!” Vano langsung pergi dengan wajah kesal.
Bersambung.....
Jangan lupa meninggalkan jejak bacaannya dengan like, vote, dan kasih reting 5 untuk novel ini.
__ADS_1
SELAMAT MEMBACA 😊😊😊😊