
“Apa saya boleh meminta sedikit saran untuk mengatasi istri yang ngambek?”
Dokter itu mencoba menahan senyum gelinya saat mendengar permintaan sadari seorang Revan yang terkenal tegas dan dingin.
“Boleh boleh”
“Jadi dimana letak permasalahan kalian?”
“Sebanarnya dia menginginkan perpisahan, dia terus mengengek meminta berpisah”
“Ini sangat gawat, kenapa dia ingin berpisah?”
“Saya tidak terlalu paham dengan pemikirannya tapi saya menduga ini karena dia menyukai seseorang dari masa lalunya”
“Coba anda pikir, apa yang dia punya dan anda tidak, atau anda bisa mencoba merubah sikap anda yang tidak dia sukai”
“Saya sudah melalukan itu setahun terakhir ini, saya mencoba menjadi pria yang dia sukai, baik hati, patuh dan pengertian tapi apa yang saya dapat? Dia tetap saja tidak benar-benar membuka hatinya untuk saya”
“Sepertinya kalian menikah bukan karena cinta, apa benar?”
“Itu… Mungkin dia menikah dengan saya karena tidak mencintai saya tapi bagi saya dia adalah cinta pertama dan terakhir saya, dia adalah wanita yang tidak ingin saya lepaskan hidup ataupun mati”
“Ternyata anda sangat mencintai Nyonya tuan, saya akan berusaha sekuat tenaga agar Nyonya tidak meninggalkan Anda” Pikir kepala pelayan yang berdiri di samping Revan.
“Sangat luar bisa! Saya sendiri belum tentu bisa mengatakan hal yang seperti itu. Hampir saya berkata untuk mengikhlaskan saja tapi, kalau dia sangat penting bagi anda, jaga dia dengan ketulusan hati anda dan saya yakin kalau hati nya akan akan segera menjadi milik anda”
“Mau sampai kapan saya menunggu?”
“Hanya saran dari orang tua ini, coba lah menjadi diri sendiri di depannya, dan jangan berusaha menjadi orang lain karena dengan begitu dia akan mencintai anda bukan orang yang anda tirukan”
“Terima kasih atas nasihatnya, dok”
“Kalau begitu saya pamit, istri saya akan marah jika saya tidak makan bersamanya” Lalu Dokter itu pun pergi.
***
Siang hari Revan berada di kantor sambil melihat rekaman CCTV yang dia pasang di kamar Khiren.
“Kenapa dia belum bangun juga?”
‘to tok tok tok’
“Tuan, semua sudah menunggu anda untuk rapat”
“Baik saya akan ke sana” Revan dengan cepat ke ruangan rapat.
Tempat itu di penuhi dengan orang-orang yang sudah malam menunggu Revan.
“Silahka mulai!”
__ADS_1
Rapat di mulai tapi Revan tidak benar-benar mendengarkan apa yang anggota rapat sampaikan, pikirannya masih berada jauh di tempat Khiren berada.
“Bagaimana, pak?! Apa ada yang ingin bapak sampaikan?”
“Rapat kali ini sampai di sini, kita akan rapat kembali minggu depan dan perbaiki lagi PPT kalian! Ahlong, saya ingin kembali sekarang dan atur ulang semua jadwal saya”
“Tapi pak..”
Revan pergi dengan cepat meninggalkan ruangan itu.
“Apa-apaan ini? Rapat lagi? Memangnya apa yang salah dengan presentasi kami?”
“Kalian diam saja! Lalukan apa yang dia inginkan atau riwayat kalian akan habis!” Lalu Ahlong kembali di sibukkan dengan jadwal Revan yang berantakan karena dia menunda semua pertemua hari itu.
“Aku bisa mati melajang kalau tuan Revan terus begini” Ahlong sangat sedih dengan nasibnya yang mempunyai bos yang selalu menyulitkan pekerjaannya.
Revan melaju dengan kecepatan tinggi agar bisa mampai di rumah dan melihat istri yang selalu dia khawatirkan dengan cepat. Sampai di rumah dia melihat Khiren sedang memakan bubur di damping oleh seorang pelayan di sampingnya.
“Biar aku menyuapi kamu”
“Aku bisa sendiri” Ucap tegas Khiren.
“Aku sudah selesai!”
“Aku bersyukur karena kamu sudah mau makan, meski kamu masih saja bersikap kasar padaku”
“Biar aku bantu”
“Tidak usah!! Aku tidak selemah itu!”
“Aku tidak mengatakan kalau kamu lemah tapi, kamu baru saja sadar setelah pingsan tadi malam, aku takut kamu kenapa-kenapa nanti”
“Aku tidak butuh simpatimu yang palsu itu!”
“Kenapa kamu selalu berpikir begitu?”
“Kalau kamu memang semua yang kamu lakukan itu tulus kenapa kamu tidak menceraikan aku dan membuat aku tidak terbebani dengan hubungan ini! Dasar pria sialan!”
“Khiren cukup! Aku tidak ingin mendengar lagi kata perpisahan dari mulutmu!”
“Aku tidak ingin melihatmu di sini pergi! Pergi sekarang!” Bentak Khiren pada Revan.
“Baik, aku akan pergi tapi kamu harus tahu kalau aku tidak akan menceraikan kamu hidup ataupun mati!” Revan keluar dengan keadaan sangat kesal.
Khiren pergi ke jendela dan kembali memerhatikan jalur untuk kabur dari tempat itu.
“Penjagaan semakin ketat, apa mereka sudah pernah mencariku ke sini?”
“Dari luka yang ada di wajah Revan, aku pikir Mex benar-benar menyerang tempat ini”
__ADS_1
“Aku harus mencari cara agar Mex tahu ke beradaanku!”
Khiren terus mencari cara agar dia bisa memberitahu keberadaan nya pada Mex.
“Aku tidak bisa pergi sekarang karena keadaanku yang masih lemah, jika aku melakukan penyerangan sendirian yang ada hanya membuang waktu dan aku akan semakin sulit keluar dari tempat ini” Pikir Khiren sambil terus mengawasi keadaan.
Waktu terus berjalan dan keadaan Khiren semakin membaik, dia sudah memiliki rencana sendiri untuk pergi dari tempat yang membuat dia merasa lebih buruk dari pada di penjara.
“Pagi, belahan jiwaku!” Revan datang dan membawakan Khiren sarapan.
“Aku tidak ingin makan itu, aku butuh buah-buahan dan aku ingin segera bisa berlari pagi seperti bisa, aku tidak bisa terus berada di tempat ini dan bersanti-santai saja”
“Jika kamu sudah merasa sehat ayo kita berjalan-jalan di luar, aku akan menunggumu di depan, bersiaplah”
“Baik!”
Mereka akhirnya pergi berdua jalan-jalan di sekitaran teman tempat itu, penjagaan di perketat saat mereka keluar dari rumah.
“Khiren, apa kamu tidak lelah?”
“Tidak, ayo teruskan, percepat langkahmu! Ini lari bukan jalan-jalan, paham!”
“Iya iya aku akan berusaha lebih cepat”
Lalu Khiren berlari dengan cepat melewati Revan, Revan tidak mau kalah dia juga mencoba menyusul Khiren yang sudah terlalu jauh darinya.
“Khiren pelankan langkahmu!”
“Jangan menjadi pria lemah, aku tahu kamu tidak selemah itu!” Teriak Khiren yang berada semakin jauh dari Revan.
Sebanarnya Revan sudah tidak kuat berlari tapi saat Khiren mengatakan hal itu dia semakin ingin menang dari Khiren dan membuktikan kalau dia tidak selemah yang Khiren lihat. Setelah berusaha dengan keras akhirnya Revan berhasil menyusul Khiren dan dia menjadi pemenang dalam lomba yang tidak di rencanakan itu.
“Hore!! Akhirnya aku menang”
“Selamat! Aku mau ke dalam dan mandi!” Lalu Khiren masuk dan meninggalkan Revan yang sedang duduk di tanah karena terlalu lelah.
“Dasar konyol, memangnya kenapa dia harus tersenyum seperti itu padahal dia menang karena aku mengalah, dasar menyedihkan” Ucap Khiren sambil tersenyum saat mengingat ekspresi bahagia Revan saat menang darinya.
Bersambung….
Maaf membuat menunggu, beberapa masalah terjadi karena itu tidak bisa update dengan cepat.
__ADS_1