
Pertarungan pun dimulai dan dari hari itu Khiren mulai menjauh dari Vano. Pendaftaran mulai di buka untuk bisa mencalonkan diri sebagai perwakilan sekolah untuk mengikuti Olimpiade.
“Khiren! Tunggu dulu! Aku ingin mengatakan …”
“Stop buang waktu! Sesuai kesepakatan kalau kamu kalah menjadi perwakilan sekolah kamu akan keluar dari sini dan aku kalau kamu menang aku kan menuruti permintaanmu jadi, sekarang berusahalah dan jangan buang waktu untuk membicarakan hal yang gak penting, paham!”
Alasan sebenarnya Khiren bersikap dingin pada Vano bukan karena dia marah tehadap permintaan Vano untuk menjauhi teman-temannya tapi, karena peringatan Kakeknya yang akan menghancurkan apa saja yang bisa membuat Khiren jadi lemah.
“Baiklah kalau begitu, bersiaplah untuk kalah!” ucap Vano dengan penuh percaya diri.
Tidak jauh dari tempat itu Dimas dan Aldo menguping pembicaraan kedua orang itu. “Dim, gimana, nih?”
“Kita paksa saja Farhan dan Alex ikut seleksi olimpiade fisik dan kimia. Aku akan ikut biologi dan Khiren pastinya akan ikut di bagian matematika, kita tidak boleh memberi anak itu peluang untuk menjadi perwakilan sekolah! Kita harus menang agar kita bisa memisahkan si cupu itu dari Khiren!”
“Siap bos!”
Hari penyeleksian di mulai dan Aldo ditemani Morlin membuat jebakan agar Vano tidak datang ke sekolah dan tidak mengikuti penyeleksiannya.
“Gimana? Ban, udah kempes?”
“Aman cuy, ban dah gue kempes-in! Tali juga udah siap, tinggal tunggu targetnya datang biar bisa jalankan rencana berikutnya. Cyut syut! Lihat tu target mendekati perangkap, gue hitung sampai tiga lo langsung tari, oke!”
“Satu, dua… tiga tarik cuy!”
Vano yang tidak menyadari kalau ada tali membuat dia terjatuh dan jidatnya berdarah, melihat Vano sudah terjatuh mereka segera pergi untuk ikut seleksi olimpiade. Khiren yang tau rencana teman-temannya sengaja lewat di depan rumah Vano dan dia cukup terkejut melihat kelakuan teman-temannya yang sudah kelewat batas. Khiren turun dari mobil dan membantu Vano berdiri, dia membawa Vano ke sekolah dengan mobilnya, bahkan lukanya pun di obati di dalam mobil saat perjalanan menuju ke sekolah.
“Cok, menurut lo gak papa kita tinggalin si cupu kayak gitu?”
“Nama gue itu bukan Cok tau! Nama gue itu Aldo, kambing!”
“Oh, nama lo Aldo kambing, ya?”
“Dasar kambing! Susah bicara sama lo, cepat larinya, tempat kita parker motor tadi masih jauh!”
“Begok banget sih lo, ngapain jauh-jauh parkir motornya? Awas aja kalau kita telat dan kena hukuman!”
“Sorry lah! Kan gue parkir jauh biar sambil latihan lari, kan minggu depan gue harus ikut lomba lari.”
__ADS_1
“Lo ikut lomba lari, nah gue ngapain lari juga?”
“Sorry deh!”
Setelah itu, mereka bergegas ke sekolah dan ternyata Vano lebih dulu sampai dari mereka dan yang paling mengejutkan Vano turun dari mobil Khiren.
“Aldo, coba pukul gue!”
‘plakk!’ Aldo memukul Morlin dengan sekuat tenaganya.
“Woi sakit!”
“Tadi lo yang minta!”
“Tapi gak kayak gini juga dong! Lihat tu si cupu! Beruntung banget bisa datang tepat waktu sama Khiren pula tu! Sekarang kita harus apa?”
“Au ah! moga aja teman-teman yang lain bisa kalahin dia, ayo masuk!”
“Gue masih belum siap pulang ke Jepang!”
Tes pun di mulai, 20 menit Dimas jadi orang pertama yang berhasil menjawab semua pertanyaan dan jadi orang pertama keluar dari ruangan tes. Di susul oleh Farhan dan Alex dari ruangan yang berbeda. Pengumuman di umumkan secara online oleh pihak sekolah. Tepat jam 5 sore pengemuman di keluarkan dan 4 nama yang terpilih menjadi perwakilan dan nama-nama itu adalah Khiren, Dimas, Farhan dan yang terakhir adalah Alex. Sebagai pihak yang kalah waktu itu Vano terpaksa harus mengurus surat pindah dan setelah itu Khiren menjadi sedikit murung dan lebih penyendiri. Dia pun melampiaskan frustasinya dengan menenggelamkan diri di kolam renang dan hal itu membuat dia jatuh sakit dan juga kehilangan banyak ingatannya tentang Vano dan yang paling dia ingat hanyalah Vano meninggalkan dia tanpa alasan.
Setelah Vano selesai bercerita tentang sekilas hubungan mereka di masa lalu Khiren sedikit syok karena cerita yang dia tau beda jauh dari apa yang Vano dengarkan, dia kelihatan tidak percaya pada cerita Vano.
“Gak, Kamu pasti bohong! Kalau kamu benar kenapa aku tidak mengingatnya sama sekali.”
“Kamu mungkin lupa karena itu sudah sangat lama, tapi aku tidak akan bisa melupakanmu karena kamu adalah satu-satunya orang yang aku cinta saat itu dan selamanya.”
“Gak, kamu pasti bohong!” Khiren pergi dengan penuh emosi dan saat kakinya menyentuh anak tangga pertama, tiba-tiba tubuhnya menjadi lemas dan untungnya Vano berhasil menangkapnya saat hampir terjatuh. Setelah itu dia langsung memanggil dokter pribadinya untuk memeriksa keada Khiren.
“Dia hanya syok saja! Kelihatannya dia kurang istirahat dan mengalami depresi, berikan obat ini” Dokter memberikan beberapa obat kepada Vano.
“Terima kasih pak Arhan! Mari saya antar!”
Beberapa jam setelah itu Khiren tersadar dan melihat Vano yang terus menjaganya hingga sore hari.
“Vano!” Terdengar samar-samar tapi telinga Vano cukup sensitive dengan suara Khiren, lalu dia terbangun dan menghampiri Khiren yang berusaha untuk bangun dari tempat tidurnya.
__ADS_1
“Ada apa? Ada bagian yang sakit? Kamu lapar atau kamu haus?”
“Tidak, tidak! Tapi sepertinya aku sedikit mengingat kejadian itu, tapi yang aku sangat ingat adalah kamu tiba-tiba pergi meninggalkan aku tanpa alasan yang jelas”
“Aku pergi karena kamu yang memaksa, tapi aku sebenarnya tidak pernah ingin pergi dari sisimu, aku bahkan berusaha berubah agar kamu tidak melihatku sebelah mata lagi dan memintaku pergi lagi. Berikan aku kesempatan untuk bersamamu dan kali ini aku akan memperjuangkan kamu lebih kuat lagi, kumohon!”
“Tapi..”
“Aku tau! Hanya saja, sebelum kamu ingat semuanya bisakah aku tetap di sisimu?”
Khiren hanya mengangguk saja dan sebuah pelukan hangat di hadiahkan Vano padanya. “Sepertinya ini sudah sangat sore, aku harus segera kembali!”
“Aku anterin, ya?”
“Gak usah, aku ingin bertemu dengan saudaraku dan itu bukan hal baik untukmu!”
“Ya sudah kalau gitu”
Khiren segera pergi dari tempat itu karena dia sudah mempunyai janji yang hampir dia lewati karena terlalu nyaman berada di dekat Vano.
***
Saat pulang ke rumah Khiren di sambut dengan tatapan penuh curiga dari Revan dan wajahnya penuh dengan kekesalan.
“Dari mana kamu?”
“Kenapa?”
“Aku tanya kamu dari mana? Jawab aku sekarang dan jangan malah balik nanya!” Revan terlihat benar-benar kesal saat itu.
“….” Khiren mengabaikan pertanyaan Revan dan langsung masuk ke rumah.
Revan menarik Khiren dengan paksa dan meminta jawaban pasti dari Khiren dengan terus menatap matanya.
Bersambung…
Cuma mengingatkan buat jangan lupa like dan komen, kalau bisa sih kasih vote juga biar bisa semangat. Makasih sudah berkunjung, sampai jumpa di episode berikutnya.
__ADS_1