
Meski Khiren sangat merasa curiga pada keadaan Revan yang terlalu tiba-tiba, di dalam hatinya di masih merasa khawatir dan juga merasa bersalah pada Revan. Dia sudah sangat kasar pagi tadi di tambah Revan yang selalu bersikap baik dan manis di depannya membuat dia semakin merasa bersalah.
“Meski aku tidak bisa membuat dia langsung sembuh tapi, setidaknya aku harus melakukan sesuatu agar dia merasa lebih baik.”
Lalu Khiren pergi ke dapur dan membuat bubur untuk Revan, lalu dia juga membuat minuman jahe untuk Revan. Dia sangat berhati-hati menyiapkannya karena dia tidak ingin memperburuk keadaan Revan.
“Apa aku perlu membawa air hangat untuk mengompres darinya? Atau air dingin saja? Aku harus bawa yang mana? Eum… Biasanya kalau sakit Aldo sering mengompres ku dengan…. Ah iya, dia biasanya membeli kompres demam yang praktis di minimarket, apa aku minta saja mereka membelinya?”
“Ah tidak! Cuaca sedang buruk, aku tidak mau menambah pasien di rumah ini, aku menggunakan kompres seperti biasa saja, aku gunakan air hangat saja.”
Lalu Khiren meminta pelayan untuk membawa air hangat dan juga makanan yang dia buat ke kamarnya. Revan yang sedang sakit itu pun masih tertidur karena obat yang dia minum. Khiren merasa kasian melihat wajah Revan yang biasanya ceria dan penuh energi itu terbaring lemas tak berdaya di kasur dengan wajah pucat dan bercucuran keringat.
“Apa dia kepanasan?” Lalu Khiren menghidupkan AC.
Baru beberapa menit AC di hidupkan, Revan kembali memberikan reaksi yang berbeda, dia terlihat kedinginan.
“Lah sekarang dia malah kedinginan! Orang sakit sangat membingungkan” Lalu Khiren kembali mematikan AC.
“Revan, ayo bangun! Ini lewat waktu makan siang, kamu pasti lapar, ayo makan bubur dulu!”
Khiren berusaha membangunkan Revan tapi dia tidak bisa di bangunkan dengan mudah. Khiren tidak lagi membangunkannya dengan kata-kata lembut tapi dia langsung mengangkat Revan dan mendudukkannya dengan tegak di kasur. Khiren menepuk pelan pipi Revan hingga Revan membuka matanya dengan perlahan.
“Hai, bangunlah! Ayo makan dulu!”
Lalu Revan perlahan bangun dari tempat tidur di bantu oleh Khiren untuk bersandar di tempat tidur.
“Kamu bisa makan sendiri?”
“Tanganku sangat lemas Khiren, apa kamu tidak bisa membantuku kali ini saja?”
“Ya sudah, buka mulutmu!” Perintah Khiren.
Khiren meniup bubur yang dia buat dengan hati-hati lalu menyuapi Revan dengan super hati-hati.
“Apa rasanya enak?” Tanya Khiren yang penasaran dengan lidah orang demam yang biasanya akan sulit merasakan enaknya suatu makanan.
“Entahlah, lidahku terasa pahit”
__ADS_1
“Itu karena kamu sedang sakit, makan sedikit lagi lalu minum obat dan istirahat, soal pekerjaan kamu bisa menyerahkannya pada sekretaris mu, ya’kan?”
“Iya, aku akan menghubunginya.”
“Tidak, biar aku yang menghubunginya nanti, kamu istirahat saja.”
Setelah makan dan minum obat Revan kembali tertidur dan Khiren mengambil handphone Revan dan menghubungi sekretaris Revan untuk menggerus semua pekerjaan Revan selama Revan sakit. Lalu setelah itu Khiren menghubungi Mex, memintanya untuk segera bersiap karena lusa dia akan pergi dari tempat itu.
***
Dua hari berlalu dan Revan semakin membaik, tapi tetap saja tidak bisa beraktifitas seperti biasanya karena dia masih terlihat sakit dan lemas. Khiren sudah sangat menantikan hari dimana dia bisa meninggalkan tempat itu dengan tenang tanpa mengeluarkan banyak tenaga dan terluka dalam pertarungan yang tak seimbang. Pagi itu Khiren masih menemani Revan di kamar dan menyuapinya untuk makan pagi, lalu seorang penjaga datang mengetuk pintu.
‘tok tok tok’
“Silahkan masuk saja!” Perintah Khiren.
“Tuan, Nyonya di luar ada tamu yang ingin menemui nyonya.”
“Apa dia pria?”
“Benar nyonya, dia bernama Mex, dan sekarang menunggu anda di ruang tamu.”
“Baik, nyonya!”
Lalu Pria berbaju hitam itu keluar dengan cepat. Khiren menyudahi memberi menyuapi Revan, lalu dia bersiap untuk turun ke bawah dan menemui Mex.
“Apa kamu akan pergi sekarang?” Tanya Revan yang tidak rela membiarkan Khiren pergi.
“Tuan Revan yang terhormat, sebaiknya anda menepati janji anda atau saya tidak bisa menepati janji saya juga. Orang-orang saya sudah berada di seluruh penjuru tempat ini, jika anda ingin kembali menahan saya di sini, saya tidak bisa berjanji kalau ini berakhir dengan baik.”
“Maksud kamu apa Khiren?”
“Saya sudah cukup sabar selama ini dan sekarang anda bisa memilih menyerah dengan tenang atau kita perlu memulai pertarungan yang membuat banyak nyawa melayang dengan sia-sia?” Tanya Khiren yang bicara serius pada Revan yang berpura-pura sakit parah.
“Apa kamu tidak kasihan dengan aku yang sakit ini? Apa kamu tidak punya sedikitpun simpati padaku?”
“Tenang, saya akan mengirimkan anda dokter berbaik milik saya untuk merawat anda sampai sembuh total dan sekarang waktunya kita mengucapkan selamat tinggal dan sampai jumpa di pengadilan, tuan Revan yang terhormat!”
__ADS_1
Lalu Khiren pergi dengan percaya diri dan penuh semangat dari kamar itu dan meninggalkan Revan. Mex dan dua dokter terbaiknya sudah menunggu di ruang tamu.
“Master, saya sudah membawa mereka untuk merawa tuan Revan, sekarang apa kita bisa pergi?”
“Tentu saja, dan kalian berdua, jaga Revan dengan baik dan jangan sampai saya tahu kalau dia semakin parah, paham? Nyawa kalian di pertaruhkan di sini!”
“Baik, Nona! Kami akan lakukan yang terbaik untuk menyembuhkan tuan Revan.”
“Bagus! Ayo Mex kita pergi!”
Dari balkon kamarnya Revan hanya bisa melihat kepergian Khiren dengan tidak bisa melakukan apapun. Dia sangat marah dan mengamuk di kamar itu dan merusak semua barang dengan brutalnya. Dia kecewa karena semua yang dia lakukan sia-sia karena pada akhirnya Khiren tetap pergi meninggalkannya dan kini mereka tidak bisa lagi disebut suami istri.
“Tuan apa nada baik-baik saja?” Tanya penjaga yang berada di depan kamar Revan.
“Diam kalian semua! Tinggalkan aku sendiri!”
Lalu Revan menghubungi Dirga dan menceritakan setuasinya. Dirga segera datang ke rumah Revan dan menemui Revan di dalam kamar yang sudah seperti kapal pecah itu.
“Apa yang kamu lakukan Revan? Ini sangat tidak benar, kamu marah ya marah saja tapi, jangan menghancurkan barang-barang dong!” Dirga masuk dengan memerhatikan setiap langkahnya agar tidak terkena sepihan kaca dan juga vas bunga.
“Udah aku bilang kan kalau dia udah niat pergi pasti dia akan pergi meskipun kamu pura-pura sakit kayak gini!”
“Lalu aku harus apa? Membiarkan dia pergi tanpa berusaha, begitu?”
“Ya mungkin aja! Ya setidaknya kamu tidak akan seperti ini, ya’kan?”
“Kalian juga sekarang udah resmi ceraikan?”
“Tapi aku tidak ingin menceraikan dia, Dirga!”
“Meski tidak mau tapi tetap saja kamu sudah tanda tangan, iya’kan?”
“Sekarang aku harus apa?”
“Kalau kata aku sih, biarkan semesta bekerja dan jika dia memang jodohmu maka dia akan kembali padamu kawan, sekarang tenangkan dirimu dan minum obat penawar ini”
Lalu Revan meminum obat yang di berikan Dirga, dan dia mencoba mengikhlaskan kepergian Khiren dari sisinya. Kini Revan hanya bisa menunggu Khiren menepati janjinya dan kembali bersamanya.
__ADS_1
Bersambung….