
Sementara itu Khiren dan Revan masih berada di perjalanan untuk kembali ke rumah Khiren.
“Kalau kamu tau sejak awal kenapa tidak hentikan saja kami?”
“Karena aku suka!”
Revan sulit mencerna ucapan dan senyum tipis Khiren yang terlalu tiba-tiba. Semuanya berjalan baik hingga tiba-tiba Khiren mendapat sebuah pesan yang entah dari siapa. Suasana yang mulai hangat menjadi aneh dan tiba-tiba saja Khiren meminta Revan untuk meninggalkannya di depan gerbang rumah. Revan tidak bisa paham dengan apa yang ada di pikiran gadisnya itu, kadang dia terlihat seperti gadis lainnya tapi kadang dia itu penuh misteri dengan suasana hatinya yang mudah berubah-ubah dalam hitungan menit.
“Sebenarnya ada apa? Kenapa tiba-tiba berhenti dan meminta aku pergi?”
“Apa begitu sulit untuk patuh tanpa bertanya?” Khiren terlihat amat kesal dan mungkin akan mengamuk jika Revan terus duduk diam di kursinya.
Revan yang paham betul kalau situasi tak mendukung dia untuk bisa bertanya lebih lanjut pada Khiren tentang apa yang sebenarnya terjadi. Revan segera keluar mobil dan mengganti posisi, dia pergi meninggalkan Khiren di depan gerbang sendirian.
“Apa aku lakukan ini benar? Ah sudahlah, dari pada dia semakin membenciku.” Pikir Revan.
Sementara Khiren mulai membaca pesan dari orang-orang suruhannya, lalu dia langsung menghubungi orang itu.
“Aku ingin bicara dengan wanita sialan itu!”
“Baik nona!”
“Hallo sayangku, bagaimana keadaanmu? Menyenangkan, bukan?” Ucapnya dengan penuh makna.
"Hai! Siapa kamu? Apa yang kamu inginkan?? Jika kamu inginkan uang Ayahku akan memberikannya jadi, lepaskan aku!"
“Siapa sebenarnya kalian semua?” Suara wanita yang bergemetaran terdengar begitu jelas. "Apa yang kamu inginkan?? Jika kamu inginkan uang Ayahku akan memberikannya jadi, lepaskan aku!" Wanita itu benar-benar ketakutan.
"Hahahhah..... lepaskan kamu? Emmm... tunggu aku selesai bermain dulu, ya?! Aku ingin mendengar jeritan mu. suara merdu yang kau sombong kan itu. aku ingin melihat darah keluar dari tubuhmu agar aku puas. Sakit dan rasa malu yang kau berikan di Bandara waktu itu membuat aku rasanya ingin membunuhmu tapi, jika kau mati keluargamu akan sedih dan itu tidak baik bagi mereka yang gak salah apa-apa dalam hal ini, ya'kan?"
Setelah bicara beberapa lama akhirnya Khiren tidak sabar mendengar suara tangis dari wanita yang telah membuat dia amat malu beberapa hari yang lalu, Khiren segera memerintah suruhannya untuk mencambuk Aries yang sombong itu.
“Kalian lakukanlah dengan benar, paham!” Ucap Khiren sebelum dia mematikan telephon ya.
Beberapa saat setelah itu Dimas dan yang lain pulang, mereka kaget melihat Khiren duduk termenung sendirian di pinggir jalan.
“Woi woi! Lihat tu! Bukannya itu Khiren?”
“Eh iya, itu Khiren! Tapi ngapain dia di sana? Si Revan sialan itu kemana pula?”
__ADS_1
“Ayo kita samperin!”
Mereka menghampiri Khiren yang masih termenung melihat langit tanpa bintang.
“Khiren, apa yang kamu lakukan di sini?”
“Ayo masuk!” ajak Aldo yang turun dari motornya.
Khiren sama sekali tidak merespon, dan dia seakan tidak mendengar apapun yang mereka ucapkan.
“Biar aku bicara dengan Khiren, kalian bisa masuk saja duluan!” Dimas turun dan menghampiri Aldo.
“Baiklah kalau begitu.”
Mereka akhirnya meninggalkan mereka berdua di depan gerbang, Dimas mencoba membujuk Khiren untuk masuk ke rumah. Jam yang menunjukkan sudah lewat pukul 22 dan udara malam itu sedikit dingin. Khiren yang memakai gaun tipis tidak berkutik sedangkan Dimas yang menggunakan jas bisa merasakan hawa dingin yang menyengat malam itu. Dimas melepas jas hitam dan menyelimuti tubuh Khiren yang lebih kecil dari dirinya, lalu Dimas menggendong Khiren tanpa aba-aba.
“Sebenarnya kamu kenapa lagi? Kamu selalu seperti ini jika masalah itu terus mengganggu pikiranmu, coba katakan apa yang yang sebenarnya terjadi?”
“Kak, aku sepertinya benar-benar jahat! Apa kalian akan meninggalkan aku jika aku menjadi orang jahat?”
“Maksud kamu apa, Khi?”
“Tenanglah, kami akan selalu mendukungmu. Kamu tidak pernah menjadi orang jahat, kamu adalah Khiren kami, putri kecil kami dan selamanya akan begitu. Percayalah, dan lain kali jangan pernah membuat rahasia, meski itu hal yang sulit untuk di ceritakan, paham!”
“Iya, baiklah!” Khiren menangis di pelukan Dimas.
Dimas membawa Khiren masuk hingga ke dalam rumah, bahkan dia mengantar Khiren yang mulai terlelap dalam pelukannya ke kamar Khiren tanpa memperdulikan Revan yang mulai panas melihat adegan romantic itu.
“Woi sob, mending elo gak usah ganggu dua makhluk itu, atau akibatnya akan buruk nanti!”
“Maksud kalian aku harus sabar gitu lihat istri sendiri di gendong oleh pria lain? Ini terlalu gak masuk akal”
“Terserah sih, tapi perlu lo tau meski kami ini semua sahabat Khiren tapi Dimaslah orang yang paling benar-benar dekat dengan Khiren, bahkan Aldo yang kakak angkat Khiren saja tidak sedekat itu dengan Khiren. Mereka punya hubungan yang tidak bisa di jelaskan tapi intinya itu bukan hubungan seperti yang ada di otak udang lo itu!” Jelas Ryo.
“Itu betul banget, intinya biarin Dimas turun dan jelasin apa yang terjadi, paham!”
Amarah Revan dekit reda walau sebenarnya dia masih sedikit curiga dengan hubungan yang tidak biasa antara Khiren dan Dimas. Tak lama kemudian Dimas turun dan menghampiri para penonton yang udah pada kepo dengan cerita dari Dimas.
“Gimana, bro?”
__ADS_1
“Gak gimana gimana! Cuma, tadi dia bilang kalau dia udah menghukum orang yang udah nampar dia di bandara, dan orang itu ada sangkut pautnya sama si Revan”
Mendengar ucapan Dimas, semua mata mulai tertuju pada Revan.
“Masalah apa?” Revan jadi bingung karena dia tidak tahu-menahu dengan masalah yang terjadi pada Khiren.
“Lo lihat aja, siapa cewek lo yang masuk rumah sakit besok!”
“Cewek?”
“Oh jadi, lo punya cabe di luar rumah rupanya?” semua orang di ruang itu mulai marah.
“Apaan sih, aku mana da cewek. Dimas pasti bohong!”
“Lo gak usah mengelak!”
“Cukup-cukup, Mor! Bisa aja bukan selingkuhan, mungkin cuma wanita gila yang mengaku-ngaku saja, kalian jangan langsung main hakim sendiri, kita selidiki dulu baru ambil keputusan.”
Semuanya mulai tenang dan Aldo mulai mencari informasi tentang penyerangan Khiren, lalu tak berapa lama ada berita seorang model dari Korea masuk rumah sakit karena di rampok. Selain itu dia langsung di black list oleh agensi model, dan yang lebih parah adalah perusahaan ayahnya mengalami kerugian miliaran rupiah dalam waktu semalam.
“Wah gila, ini mah udah pasti Khiren ikut dalam hal ini! Wah, udah mulai kumat lagi deh sifat kejamnya itu.”
“Maksud kalian apa?”
“Gak papa, lo tenang aja bro! Gue yakin lo bakal selamat, selama lo gak benar-benar mengusik dia!” Kiki merangkul Revan yang terlihat bingung dengan pembahasan mereka.
“Ini mah gak seberapa dari tahun yang kemaren, dia masih punya hati biarin wajah dan tulang si cewek gak patah, udah gak terlalu kejam lah ini! Pokoknya, kita harus waspada untuk saat ini karena dia baru saja mengamuk, dan mungkin hal buruk bisa terjadi kalau kita salah langkah!”
“Kayaknya rencana buat nyatuin mereka kita tunda dulu aja, ya?” Morlin terlihat gelisah karena berita itu.
“Iya, kalau itu gue setuju!”
“Loh kok gitu?”
“Karena kami masih sayang nyawa, udah malam mending kita tidur”
Mereka langsung pergi dan meninggalkan Revan yang tidak bisa mencerna apa yang sebenarnya mereka coba sampaikan sejak dari tadi.
Bersambung…
__ADS_1
Cuma mengingatkan buat jangan lupa like dan komen, kalau bisa sih kasih vote juga biar bisa semangat. Makasih sudah berkunjung, sampai jumpa di episode berikutnya.