
Beberapa hari jadi semakin berat karena Mex kembali ke Amerika untuk mengurus perusahaannya sendiri, sedangkan Khiren bersama Samuel di sibukkan dengan pekerjaan oraganisasi dan juga perusahaan mereka yang semakin berkembang dari hari ke hari dan itu membuat dua orang itu menjadi super sibuk.
“Istirahat yuk?!” Ajak Samuel yang mulai lelah membaca dokumen di ruangan itu.
“Sedikit lagi!”
“Dari sejam yang lalu juga kamu bilang gitu, ayolah kita istirahat!”
“Jangan mengeluh, kita masih punya banyak pekerjaan!”
“Khiren, tolonglah, ini sudah hampir dua minggi dan pekerjaan masih tidak ada jedanya. Emilly pasti merindukan aku, aku harus mengguhunginya.”
“Aku sudah mengatakan pada Emilly kalau kamu tidak akan pulang sebelum pekerjaan selesai dan dia mengatakan kalau tidak masalah asal kamu bisa membantuku jadi, jangan menjadikan Emilly sebagai alasan, paham!”
“Dasar bos kejam, aku doakan kamu di kejar-kejar sama pria bucin sampai-sampai kamu gak ada waktu buat mengerjakan pekerjaanmu!”
“Berhenti mengkhayal dan lanjutkan pekerjaanmu!”
“Ck! Menyebalkan!”
Khiren sekilas melirik kearah Samuel yang sedang kesal karena tidak mendapatkan istirahat. Mereka kembali membaca dokomen yang sudah menumpuk di dua meja di ruangan kerja Khiren itu.
‘plak!’ Samuel membanting dokomen dengan keras keatas meja sambil berdiri dia menatap kearah Khiren seakan menantangnya untuk bertarung.
“Pokoknya aku mau istirahat titik! Kalau gak boleh istirahat kamu pecat saja aku! Aku capek!”
“Kamu benar-benar tidak sayang nyawa rupanya” Ucap Khiren sambil tersenyum kearah Samuel.
Samuel kembali terduduk karena senyuman Khiren membuat dia merinding, meski ketakutan dia tetap berusaha membalas tatapan Khiren.
“A-aku mau istirahat!!!” Ucapnya dengan berteriak dan menutup mata karena takut kalau Khiren akan mengamuk.
“Kamu…”
‘tok tok tok’ Seorang dari luar membuat Khiren yang akan mengamuk pun kembali dalam posisi semula.
“Silahkan masuk!” Perintah Khiren.
“Master, seorang pria datang dengan membawa kartu hitam ditangannya”
“Apa? Yang benar saja? Orang gila mana yang bisa-bisanya memberikan kartu akses khusus ke tempat ini pada pria asing?” Samuel cukup terkejut mendengar kartu yang hanya dimiliki oleh orang-orang kepercayaan yang bekerja langsung dibawah Khiren tiba-tiba dimiliki pria asing yang bahkan seorang kepala pelayan tempat itu pun tidak mengenalnya.
“Ehm! Tutup mulutmu Samuel sebelum aku merobeknya!” Khiren bangun dan langsung meninggalkan pekerjaannya.
“Loh kok mau pergi gitu aja? Pekerjaan ini gimana??”
“Bukannya tadi kamu bilang mau istirahat, sekarang istirahatlah dan setelah makan siang kita akan lanjut lagi.”
__ADS_1
“Serius?”
“Jika kamu bertanya lagi mungkin aku akan berubah pikiran.”
“Jangan dong! Hore!!!” Samuel yang sudah tidak tahan dengan pekerjaan yang tidak ada jedanya itu akhirnya bersujud syukur karena bisa istirahat dengan tubuh yang tidak lecet sedikitpun.
“Makasih bos cantik!”
“Ayo, jalan!” Khiren keluar dengan kepala pelayan dan mereka menuju keruang tamu.
“Siapkan cemilan dan minuman hangat untuk dia”
“Baik, master” Kepala pelayan langsung berbalik arah dan pergi kebagian dapur untuk menyiapkan semua yang diminta oleh Khiren.
Khiren sudah bisa menabak siapa yang datang menemuinya hari itu. Sebenarnya dia agak males untuk keluar dan menemui pria itu tapi karena dia cukup menganal pria yang akan membuat keributan kalau Khiren tidak menemuinya saat itu. Begitu sampai di ruang tahu, terlihat seorang pria tinggi yang terlihat cukup bersinar dengan wajah tampannya yang tidak bisa dielakkan oleh semua yang melihatnya.
“Kenapa kamu kesini?” Khiren duduk dan menatap pria itu.
“Aku hanya ingin mencoba kekuatan dari kartu yang kamu berikan padaku waktu itu. Huem, tempat itu di desain semirip istana dongeng, ya?” Mata Revan terus memperhatikan seluruh penjuru tempat itu.
“Kalau tidak ada keperluan kamu bisa segera pulang, aku akan meminta mereka mengirimmu pulang setelah makan siang.”
“Kenapa kamu mengusirku?”
“Memangnya kamu tidak pergi bekerja?”
“Aku sudah meminta pada Papa supaya aku bisa berlibur beberapa minggu.”
“Aku bisa membantu!”
“Tidak perlu, ini urusan yang tidak bisa di campuri oleh orang sepertimu”
“Memangnya orang seperti ku itu kenapa?”
“Revan, berhenti membuat aku jengkel dan pulanglah!”
“Tidak! Aku mau disini sama kamu!!!!”
“Kamu… Terserahlah!” Khiren sangat geram dengan tinggah Revan yang keras kepala tapi dia tidak bisa menyakiti Revan karena Khiren tidak ingin Soraya menjadi sedih jika kehilangan anak satu-satunya.
Tak lama kemudian kepala pelayan datang dan membawa cemilan dan teh hangat untuk tamu Khiren tapi di cegah oleh Samuel yang penasaran pada orang yang bisa membuat Khiren meninggalkan pekerjaan yang beberapa hari ini sedang jadi prioritasnya.
“Selamat siang!” Samuel menyajikan teh dan cemilan di depan Khiren dan Revan. “Silahkan dinikmati”
“Terima kasih!” Lalu Revan mengambil teh yang di sajikan di depannya namun saat dia akan meminum teh itu, dia kembali meletakkan teh itu dan berdiri sambil menatap tajam kearah Samuel yang duduk di samping Khiren.
“Ada apa?” Tanya Khiren pada Revan yang terus menatap kearahnya.
__ADS_1
“Ada dia kesurupan?” Bisik Samuel pada Khiren.
Revan yang melihat seakan Samuel mencuri kesepatan untuk bisa dekat-dekan dengan Khiren pun langsung melangkah cepan dan memisahkan kedua orang itu. Reban duduk diantara mereka hingga membuat tempat duduk yang seharusnya untuk tiga orang itu menjadi sempit untuk Samuel dan dengan terpaksa Samuel pindah tempat duduk.
“Ada apa dengan mu, hah?!” Samuel sangat kesal dengan sikap Revan yang dianggap berlebihan dan mengganggu.
Revan kemudian duduk lebih dekat dengan Khiren dan bersandar pada Khiren. Khiren tidak bereaksi sama sekali seakan dia sudah terbiasa atau lebih tepatnya dia tidak peduli sama sekali.
“Dasar tidak waras! Jangan bersandar pada Khiren!” Samuel menarik paksa Revan agar menjauh dari Khiren tapi sayangnya Revan memeluk tangan Khiren dengan erat hingga membuat Samuel kewalahan untuk memisahkannya dari Khiren. “Hai, lepaskan Khiren!”
Khiren terus menghela napas dan mencoba untuk tidak murka karena ulah kedua pria di ruangan itu.
“Tenangkan diri kalian dan bersikaplah lebih dewasa, paham?!” Khiren mencoba meredam amarahnya dan bicara dengan baik pada kedua orang di sampingnya itu.
“Tapi dia sudah berbuat lancang pada kamu!”
“Tadikan kamu bilang mau istirahat ya sudah kamu istirahat saja, setelah makan siang kita bertemu lagi, paham?!”
“Tapi…”
“Samuel, aku tidak suka mengulang ucapanku dan aku paling benci di bantah, paham’kan?”
“Baiklah!” Samuel melepas tangankan Revan lalu pergi dalam keadaan kesal dari ruangan itu.
“Dia siapa sih?”
“Revan, mending kamu pulang saja dari pada buat ribut di sini”
“Aku kan tetap di sini bersama kamu, aku mau dekat dengan kamu dan aku mau membuat kamu jatuh cinta padaku”
“Terserahlah tapi ingat baik-baik ucapkanku ini, jangan pernah berharap karena aku tidak akan pernah bisa mencintai siapapun lagi saat ini dan nanti atau bahkan selamanya. Kamu hanya buang-buang waktu, apa tidak sebaiknya kamu…”
“TIDAK!” Revan sedikit berteriak sambil menunduk. “Kamu pasti akan bilang ‘sebaiknya kamu mencari wanita lain, ya’kan?’ aku kan sudah pernah bilang kalau aku cuma mencintai kamu dan itu berlaku hingga hembusan terakhir napasku, paham!”
“Dasar keras kepal! Lakukan saja sesukamu tapi ingat jangan ngadu-ngadu ke Mamamu!”
“Kapan aku mengadu? Aku tidak pernah memberitahu siapapun tentang masalahku”
“Oh, iya? Kalau begitu kenapa kamu mencoba bunuh diri waktu itu hingga membuat Mama mu mohon padaku agar aku tetap berada di sisimu, padahal kami sudah sepakat mencarikan kamu wanita lain tapi kamu malah mengacaukan semuanya!”
“…” Terlidiam dan berpikir.
“Sudahlah, sudah saatnya makan siang, ayo ikut aku!”
Lalu Khiren bangun dan pergi tanpa menunggu Revan. Revan mengikuti langkah cepat Khiren hingga ke ruang makan dan di sana sudah ada Samuel yang sedang bersiap untuk makan. Samuel yang tadinya terlihat senang karena makanan lezat yang di sajikan didepannya berubah suram dan kesal melihat Revan ikut makan bersama dengannya di satu meja yang sama.
Bersambung…
__ADS_1