
“Master, Nyonya besar meminta anda untuk kembali ke Jepang sesegera mungkin”
“Kenapa nenek tiba-tiba memanggilku? Apa dia mengatakan sesuatu selain memintaku kembali ke sana?”
“Maaf master, nyonya besar tidak mengatakan sesuatu selain hal itu.”
“Siapkan jadwal keberangkatan setelah semua urusan pekerjaan selesai. Umm, apa menurutmu aku bawa saja Vano bersamaku ke jepang?”
“Bukankah itu terlalu berlebihan? Anda hanya pergi sebentar selain itu, saya cukup yakin kalau nyonya besar tidak akan suka dengan rencana anda.”
“Benar juga tapi, aku tetap ingin membawanya bersamaku.”
“Apapun keputusan anda saya akan mengikuti.”
“Kalau begitu, atur juga jadwal agar dia bisa ikut dengan kita”
“Baik master.”
Jadwal keberangkatan sudah di siapkan dan Vano juga sangat bahagia ketika tahu kalau dia juga ikut bersama Khiren untuk menemui nenek Khiren di Jepang. Ajakan Khiren dianggap sebagai bentuk keseriusan Khiren padanya, karenanya Vano semakin yakin kalau dia benar-benar akan bisa bersama dengan Khiren kedepannya dan tentunya dia akan segera menyingkirkan Revan yang merupakan orang yang di pilih oleh keluarga Khiren.
“Khiren, aku sangat tidak percaya kalau semua ini benar-benar nyata. Aku gak pernah berpikir kamu akan secepat ini memperkenalkan aku pada keluargamu.”
“He-he-he” Khiren tertawa terpaksa, dia tidak bisa bilang kalau sebenarnya dia tidak berencana mempertemukan Vano dengan keluarganya, dia hanya ingin sejenak berlibur bersama Vano setelah menemui neneknya. Senyuman Vano yang penuh harapan dan semangat yang membara membuat Khiren jadi tidak tega mengatakan kebenarannya.
Begitu pesawat mendarat Khiren langsung di jemput oleh orang-orangnya yang sudah sedari tadi menunggu kedatangan mereka. Sedikit terjadi kehebohan karena Khiren dan Vano merupakan orang yang sudah sangat populer di masyarakat.
“Vano, kamu langsung saja ke penginapan, aku harus ke suatu tempat dulu”
“Apa aku gak boleh ikut?”
“Iya, kamu gak boleh ikut”
“Tapi kenapa? Apa kamu malu membawa aku?” Vano terlihat sedih dan kecewa.
“Hueft! Kamu ini ya! Ya sudah, kamu ikut tapi tetap di mobil dan tunggu aku karena aku tidak akan lama, paham?”
“Baiklah!”
Mereka menuju ke tempat kediaman nenek Azia, tempat yang masih terasa begitu asli dan juga budaya yang kental, nuansa klasik dan tempat yang begitu tenang itu dulu selalu di rindukan Khiren saat di paksa pergi ke tempat kakeknya.
“Selamat siang, nenek! Apa yang sebenarnya terjadi?” Khiren berbicara bahasa Jepang dengan neneknya.
__ADS_1
“Kamu tahu bukan kalau Bunda mu baru-baru ini melahirkan?”
“Lalu apa hubungannya denganku?”
“Nenek tahu kalau kamu pasti masih marah pada Bunda mu karena pernikahan itukan?”
“Nenek juga tahu masalah itu?”
“Tentu saja, Bunda mu itu sangat keras kepala, dia tidak pernah patuh pada ucapan nenek, dia mengatakan kalau dia melakukan itu untukmu tapi, itu cuma dalih saja karena pada kenyataannya pernikahan kamu di atur untuk membuat kekuatannya semakin kuat dan bisnisnya semakin berkembang.”
“Aku sudah menduganya tapi, nenek tidak mungkin memanggilku hanya untuk itukan?”
“Kamu memang cucuku yang peka, tentu saja nenek memanggilmu karena ada masalah yang terjadi setelah Bunda mu melahirkan di usianya yang tidak muda lagi itu.”
“Masalah? Apa Bunda baik-baik saja?”
“Ya, setidaknya dia tidak mati! Sekarang adik-adikmu di titipkan di tempat Nenek, kamu tahukan kalau nenek sudah cukup tua untuk bisa mengurus bayi-bayi rewel itu?”
“Maksud nenek, aku harus merawat si kembar?”
“Tentu saja, kamu pasti bisa lagian siapa lagi yang bisa membantu selain kamu.”
“Tapi nenek…”
“Apa kamu lakukan di sini?” Khiren sangat terkejut melihat Vano berada di tempat itu.
“Tadi aku pergi ke kamar mandi dan saat kembali aku tersasar hingga ke tempat ini, lalu aku mendengar suara bayi karena itu aku masuk dan menggendongnya, mereka berdua kembali tertidur setelahnya.”
“Wah, luar biasa! Si kembar itu biasanya kalau sudah menangis susah sekali di buat diam, siapa namamu anak muda?”
“Namanya Vano!”
“Apa? Khiren bisa kita bicara di tempat lain sebentar?”
“Iya, Vano tolong jaga si kembar sebentar, ya?”
“Baiklah, tenang saja aku pasti akan menjaga mereka”
Khiren di bawa ke taman belakang cukup jauh dengan penjagaan yang cukup ketat agar tidak ada yang menguping pembicaraan mereka.
“Pria itu Vano yang dianggap kelemahanmu itukan?”
__ADS_1
“Apa maksud nenek menyebutnya dengan kata ‘kelemahan’?”
“Kakekmu dulu pernah membahasnya dan dia meminta agar aku tidak mendukungmu bersamanya karena dia hanya akan menjadi kelemahanmu”
“Aku tidak percaya nenek berpikir begitu tetang Vano!”
“Nenek tidak berpikir begitu, hanya saja kakekmu yang berpikir begitu, aku cukup suka kalau dia jadi suamimu terlebih dia juga di sukai oleh adik-adikmu, dia itu lebih cocok di sebut sebagai kekuatanmu karena alasan kamu melakukan segalanya hingga detik ini karena dia, ya’kan?”
“Itu…”
“Nenek tahu, kamu membentuk Teratai hitam bukan hanya karena kesal dengan kekekmu yang terlalu menekan hidupmu tapi, juga karena kamu ingin mereka tidak menghentikan perasaanmu lagi, yakan?”
“Nenek… Meski aku akui kalau aku mencintainya tapi, tetap saja hubungan ini tidak akan mungkin karen Revan ada diantara kamu.”
“Hubungan kalian berdua bukan karena cintai tapi, karena keegoisan orang tua kalian. Nenek sudah pernah bilang apapun keputusanmu nenek akan selalu dan selalu akan mendukungmu, kamu tidak boleh menyerah, paham?”
“Iya, nek! Aku tidak akan kalah kali ini!”
“Bagus, ini baru cucu nenek, sekarang ayo ajak dia melihat kamar untuknya!”
“Apa?” Khiren sangat kaget karena neneknya membolehkan orang asing untuk menginap di tempat neneknya yang dulu selalu menolak anggota 7 bersaudara menginap di tempatnya.
“Jangan bilang kalian berencana untuk tinggal di luar?”
“Tentu saja tidak, baiklah aku akan menunjukkan kamar untuknya, terima kasih nenek, aku mencintaimu!” Khiren memeluk neneknya karena terlalu bahagia.
Mereka kembali dengan suasana lebih ceria dan Khiren segera menarik Vano yang sedang menjaga kedua bayi yang sedang tertidur pulas lalu membawanya untuk melihat kamar yang cocok untuknya di rumah itu.
“Apa kita akan tinggal di sini?”
“Iya, nenekku menyukaimu karena itu dia memperbolehkanmu tinggal di rumahnya, aku sangat bahagia karena tadinya aku pikir dia akan menolakmu”
“Benarkah?” Lalu Vano memeluknya karena ikut bahagia atas respon positif dari nenek Khiren.
“Vano, aku merasa sedikit sesak”
“Ah, maaf! Aku terlalu terbawa suasana.”
“Iya, tidak masalah, lagian sebenarnya… Oh iya, ayo kita ambil barang kita!”
Mereka mengakhiri rasa canggung dengan alasan yang sangat sederhana.
__ADS_1
Bersambung…
Kalau ada kesalahan dalam penulisan silahkan di komen agar bisa di perbaiki dengan cepat, terimakasih.