
“Dia hanya tidak bisa menolak kalau itu masakan dari kakak tertua dari tujuh bersaudara yaitu Dimas dan Dimas sekarang sedang di Asia, tidak mungkin aku memanggilnya untuk membuat makanan untuk Khiren”
“Lalu sekarang bagaimana?”
“Biarkan aku yang urus kamu kembali saja bekerja!”
“Baik tuan”
Revan pergi ke ruangan bawah tanah dan menghampiri Khiren yang ternyata tidak bangun dari tempat tidurnya, dia masih saja tidur padahal itu sudah siang. Khiren yang biasanya selalu bangun paling pagi untuk pertema kalinya dia bangun siang karena masih kesal pada Revan, dia menolak untuk makan dan juga minum.
“Khiren! Sayang! Ayo bangun! Aku bawa kue coklat buat kamu!”
“Buang aja! Aku gak mau makan makanan dari kamu!”
“Kamu masih marah?”
“Udah sana pergi aku gak mau bicara lagi sama kamu!”
“Khiren jangan gitu dong sayang, ayo bangun dulu, kamu harus makan sedikit biar gak sakit!”
“Apa peduli mu??!”
“Tentu saja aku peduli karena kalau kamu sakit aku juga akan sakit sayang!”
“Kalau kamu tidak mau menceraikan aku biarkan aku mati saja gampang kan? Lagian hubungan ini hanya membuat aku terus merasakan kematian!”
“Kenapa kamu terus saja mengatakan hal yang tidak perlu begitu, ayo cepat bangun dan makan!”
“Aku bilang gak mau ya gak mau!”
“Sayang, aku itu khawatir dengan keadaanmu!”
“Aku tidak peduli!”
“Kalau kamu mau makan aku berjanji akan membawa kamu keluar dari tempat ini di akhir pekan”
“Aku tidak percaya! Aku hanya ingin sendiri jadi tolong tinggalkan aku!”
“Aku tidak bisa mengingatkan kamu sayang, tolong patuh lah demi kebaikanmu. Ayo makan sedikit!”
Revan menyendok kue dan mencoba menyuapi Khiren.
“Aku bilang tidak ya tidak dasar menyebalkan!” Khiren menarik sendok yang ada di tangan Revan dan melemparnya ke dinding dan sendok itu pun menancap cukup dalam ke dinding.
__ADS_1
Revan sedikit merasa kaget dan takut pada marah Khiren, meski dia terlihat tidak bertenaga karena tidak makan dari pagi tapi, cukup kuat untuk membuat Revan mati di tempat itu. Revan segera pergi dan mencabut sendok itu.
“Aku akan pergi tapi, kamu tetap harus makan!” Lalu Revan pergi dari ruangan itu dan mengunci kamar Khiren dan menempatkan beberapa menjaga khusus untuk mengawasi tempat itu karena kejadian yang baru saja dia lihat membuat dia takut Khiren bisa melepas rantai itu dan kabur.
“Dasar plin plan! Katanya gak boleh makan sekarang disuruh aku makan! Aku tidak akan menyerah dan aku akan pastikan kalau kamu sendiri yang akan membawa aku keluar dari tempat terkutuk ini!”
Waktu terus berjalan dan Revan masih saja gelisah karen Khiren tidak makan dan minum hingga malam tiba, dia pun tidak berani menghampiri Khiren setelah apa yang Khiren lakukan siang itu.
“Aku tidak bisa begini terus, aku tidak mungkin membiarkan dia sakit tapi, aku juga tidak tahu harus melakukan apa agar dia mau makan”
‘tok tok tok tok’
“Masuk!” Ucap Revan.
“Maaf tuan saya mengganggu! Nyonya masih tidak mau makan hingga sekarang dan semua makanan yang kami antar di tolak dengan tegas, beberapa pelayan yang masuk terluka karena nyonya.”
“Kenapa kalian tidak bisa melakukan sesuatu agar dia mau makan? Aku tidak membawar kalian hanya untuk menjadi tidak berguna!”
“Tapi tuan…”
“Tapi apa lagi?”
“Saya rasa Nyonya akan mau makan kalau dia di bawa keluar dari ruangan itu”
“Tidak! Itu tidak bisa! Jika dia keluar maka dia akan mencari cara agar bisa kabur dari tempat ini!”
“Aku tidak mau kehilangannya!”
“Tuan…”
“Cukup!”
Lalu tersengar suara langkah kaki seseorang yang sedang berlari dari arah luar ke tempat itu. Lalu seorang palayan dengan wajah panik membuka pintu ruangan kerja Revan.
“Tuan! Nyonya …. Nyonya tidak sadarkan diri”
“Apa? Jangan bercanda! Ayo cepat kesana!” Revan panik dan segera berlari ke ruang bawah tanah.
Di sana sudah ada dua orang penjaga yang berada di sisi tempat tidur Khiren.
“Kenapa kalian hanya melihat saja? Seseorang cepat panggil dokter ke sini! Siapkan kamar diatas saya akan membawanya ke kamarnya yang dulu!”
“Baik tuan!”
__ADS_1
Semua bergerak dengan cepat, Revan menggendong Khiren dan berlari menaiki tangga dengan wajah yang sangat panik. Wajah Khiren terlihat sangat pucat dan tubuhnya kali ini benar-benar tidak bertenaga dan dia lebih ringan dari bisanya. Malam itu semua orang di buat panik seperti sedang terjadi kebakaran, dokter yang datang langsung di gendong ke kamar Khiren oleh pengawal karena Revan tidak bisa menunggu lebih lama lagi.
“Cepat periksa dia!”
“Baik, tolong semuanya harap berikan saya ruang dan tetap tenang!” Ucap Dokter yang sebanarnya masih kaget dengan kejadian itu.
“Sepertinya dia terserang demam dan juga kehilang tenaga, apa dia tidak makan dari pagi? Dia juga mengalami dehidras”
“Ini salahku! Harusnya aku mendengar ucapan kepala pelayan dan tidak membiarkan dia, sekarang bagaimana?”
“Ini tidak parah, setelah inpunya habisa dan dia beristirahat, semuanya akan baik-baik saja, dan berikan obat yang saya resepkan ini, kalau begitu saya akan pulang”
“Terimakasih dokter”
Setelah semua orang keluar Revan duduk di samping Khiren yang terbaring tak berdaya di tempat tidur. Revan menggenggam tangan Khiren yang terasa sedikit lebih dingin dari tangannya lalu menciumnya.
“Maafkan aku Khiren, aku terlalu egois dan membuat kamu seperti ini! Kamu salah karena berpikir kalau aku suami yang sempurna, aku juga sama seperti kamu, aku punya banyak kekurangan tapi aku tidak pernah menyerah pada hubungan kita. Khiren tolong jangan menyiksa dirimu!”
Revan terus berada di samping Khiren hingga dia terlelap bersama malam yang semakin larut. Hingga keesokan harinya dia terbangun dan Khiren masih tidak sadarkan diri, dia segera menghubungi dokter untuk datang memeriksa keadaan Khiren.
“Demamnya sudah turun, saya pikir dia terjaga semalam dan baru saja tidur.”
“Apa benar?”
“Iya, karena keadaannya yang baik-baik saja dan juga lingkaran matanya yang sedikit menghitam.”
“Apa? Kenapa aku tidak melihatnya?”
“Anda tidak memerhatikan hal itu karena anda terlalu panik melihat dia masih belum bangun, ya’kan?”
“Mungkin, tapi sekali lagi terimakasih karena dokter sudah mau datang pagi-pagi ke sini”
“Hahaha… sebanarnya saya ingin menolak tapi pengawal anda itu menculik saya dengan paksa, yam au ngomong apa udah terlanjur di bawa ke sini”
“Maafkan mereka, itu karena saya terlalu panik, saya harap anda memakluminya”
“Ya saya maklum lah karena kalian pasti masih dalam masa hubungan yang baru-baru makanya reaksi anda berlebihan pada istri anda, ya’kan?”
“Hubungan kami sudah lebih dari setahun kok dok”
“Cuma setahun, itu namanya baru juga! Lihat saya, udah puluhan tahun dan kadang saya juga melakukan hal yang sama seperti anda tuan Revan! Istri saya kalau marah suka gak mau makan dan akhirnya sakit, dan pada akhirnya saya terpaksa mengalah pada keingananya atau dia akan semakin memperburuk keadaannya”
“Apa saya boleh meminta sedikit saran untuk mengatasi istri yang ngambek?”
__ADS_1
“Boleh boleh”
Bersambung