
"Tunggu!" Khiren menghadang langkah Revan. "Apa kamu pikir aku akan takut dan menyerah?" lanjut Khiren.
Revan hanya melirik kearah mata Khiren sekilas lalu kembali melewati Khiren.
Tangan Khiren menarik Revan, "Revan jangan bercanda, kamu pikir aku akan membiarkan semua ini berlalu begitu saja?"
"..." Revan tetap diam dan membiarkan Khiren terus bicara dan bertindak sesuka dirinya.
"Kenapa kamu diam?" Tanya Khiren lagi.
"Aku sudah bicara, tidak ada lagi yang ingin aku katakan. Jika kamu ingin terus mencari anakmu aku tidak akan melarang atau mencegahnya, tapi kamu hanya perlu ingat kalau kamu tidak akan menemukannya, jika pun kamu menemukannya suatu hari nanti pasti dia sudah bukan bagian dari dunia ini lagi." Ucap Revan tegas.
Revan melepaskan tangan Khiren lalu melanjutkan langkahnya. Khiren sangat putus asa, karena dia bisa melihat dan merasakan kalau ucapan Revan tidak main-main, dia bisa saja benar-benar kehilangan anaknya jika dia bertindak ceroboh. Sebenarnya dia sudah mengirim orang-orang nya untuk mencari keberadaan Li Kenzo, tapi hingga detik itu tak ada kabar baik dari mereka. Khiren benar-benar kehilangan akal, dia sadar kalau kunci dari semua ini adalah melepas ego dan hidupnya. Meski dia tidak pernah mencintai Mex tapi setidaknya dia merasa Mex adalah orang paling tepat untuk menjadi pendamping hidupnya.
Khiren benar-benar kesal karena respon Revan yang tidak sesuai dengan perkiraannya. Semakin dia berpikiran, maka dia semakin kesal pada ingatannya tentang respon Revan dan situasi anaknya.
Malam itu dia kembali ke rumah seolah tidak terjadi apapun.
"Darimana saja kamu?"tanya Kenzo, Ayah Khiren yang khawatir pada putrinya .
"Aku ada urusan. Ayah, dimana Mex?"
__ADS_1
"Dia sedang di kamar Derend."
"Hem" Khiren pun pergi ke kamar Derend.
Di kamar itu, Khiren melihat Mex sedang menyelimuti Derend yang sudah tertidur pulas.
"Ayo bicara" ucap Khiren dari pintu, lalu pergi ke ruang kerja.
Mex dengan patuhnya pun mengikuti Khiren hingga ke ruang kerja.
Diruang yang kerja yang cukup luas dan di penuhin beberapa buku dan dokumen yang tertata rapi di rah dan sebagian ada di meja kerja Khiren.
"Ada apa?" Tanya Mex yang sudah memiliki firasat buruk sejak masuk ke ruangan itu.
"It.... aku tidak yakin. Sebenarnya ada apa?" tanya Mex lagi.
"Mex, aku ingin memberikan kekuasaan ini padamu." Ucap Khiren tegas
"Kenapa tiba-tiba?" Mex sangat terkejut karena Khiren tidak pernah membahas masalah organisasi sebelumnya.
"Siapkan rapat besok, aku akan menunjuk mu sebagai pemimpin organisasi baru secara utuh dan aku akan benar-benar keluar dari organisasi secara permanen" lanjut Khiren.
__ADS_1
Mex benar-benar kaget dengan ucapan Khiren itu. Tidak pernah ada dalam pikirannya untuk menggantikan Khiren menjadi pemimpin organisasi secara utuh sebelumnya, karena untuknya Khiren adalah satu-satunya pemimpin yang paling tepat untuk organisasi teratai iblis.
"Tapi kenapa? Ini terlalu mendadak, bagaimana para tetua dan anggota lainnya bisa menerima keputusan anda? Master, tolong pertimbangkan lagi keputusan anda!" Ucap Mex dengan nada memohon.
"Aku sudah lama memikirkan ini, dan ini adalah alasan kenapa aku menikahi kamu. Agar kamu bisa menjadi pengganti ku tanpa ada perdebatan dari semua pihak, jika ada yang menentang keputusan ku maka dia harus di singkirkan." Tegas Khiren.
Mex hanya terdiam dan menatap Khiren yang duduk di depannya. Meski Khiren adalah istrinya tapi, tetap saja dia masih merasa Khiren adalah masternya, bosnya, dan tuannya. Banyak perbedaan yang membuat dia segan untuk memperlakukan Khiren seperti seorang perempuan biasa, atau sebagai istrinya.
"Setelah itu kita akan bercerai" Ucap Khiren.
"Hah?!" Mex semakin kaget mendengar kalimat yang tidak pernah ia ingin dengar selama menikahi Khiren.
"Masalah anak kita, aku akan mengurus, ketika aku mendapatkan dia kembali, aku akan mengirimkannya pada kamu" lanjut Khiren.
"Kenapa tiba-tiba ingin pisah? Apa saya melakukan kesalahan?" Tanya Mex
"Kita sudah menikah lebih dari 1 tahun tapi rasanya kita berdua masih asing, bahkan saat sudah menjadi pasangan suami istri hampir 2 tahun kita masih sama. Aku hanya merasa seperti bersama bawahan, bukan bersama pasangan tiap bersamamu. .... Aku tahu kamu sudah berusaha untuk menjadi suami untuk ku, tapi itu tidak cukup. Mungkin ini memang bukan saat yang tepat untuk membicarakan perpisahan tapi, ini jalan terbaik untuk keselamatan semua orang. ... sudah malam, kamu bisa kembali ke kamarmu" ucap Khiren
"Baik" Mex dengan patuhnya keluar dari ruangan itu.
Meski hatinya sakit tapi, dia bisa membantah ucapan Khiren atau pun menentang keputusan Khiren. Dia hanya bisa menyimpan semua sakitnya dalam diam untuk seumur hidupnya.
__ADS_1
Bersambung....