
“Kenapa dia makan bersama dengan kita?”
“Jangan seperti anak kecil, bersikaplah seperti orang dewasa Samuel!”
“…” Diam tapi terus menatap kearah Revan yang sedang menarik kursi di samping Khiren.
“Samuel, berhenti menatap kearahnya!”
“Bagaimana dengan Mex? Apa dia tidak salah dengan kedatangan sumber salah itu?”
‘takk!’ Khiren menghantam meja dengan tangannya karena kesal dengan dua pria yang terus saling menyerang lewat tatapan mereka.
“Kalian kalau tidak bisa bersikap dewasa dan berhenti bertengkar sebaiknya kalian aku lempar ke laut agar mengerti cara untuk bersikap tenang?!”
Kedua pria itu hanya diam dan berhenti saling menatap karena mereka cukup takut pada Khiren yang bisa saja melakukan apapun saat sedang marah.
“Maafkan aku” Ucap Revan dengan nada bersalah.
“Kalau kamu merasa bersalah maka bersikap tenang dan mari kita makan dengan tenang, paham?!”
“Betul itu, berikap tenanglah sebelum di lempar ke laut!”
“Samuel! Ini juga berlaku untukmu! Ayo makan dengan tenang sekarang!”
Keduanya akhirnya bisa tenang dan mereka bisa makan dengan damai. Samuel yang merasa muak dengan Revan akhirnya makan seadanya lalu pergi tanpa berpamitan pada Khiren dan Revan yang masih menikmati makanan mereka dengan santai. Khiren yang melihat makanan sedikit menempel di sudut bibir Revan pun mengambil tisu dan membersihkannya tanpa memberi aba-aba pada Revan yang sedang fokus pada makanannya. Sentuhan lembut tangan Khiren membuat Revan terkejut dan tiba-tiba saja jantung Revan berdetak dengan kencang dan seketika wajahnya mulai memerah.
“Makan pelan-pelan, aku tinggal dulu karena aku masih punya pekerjaan”
Revan yang masih terkejut dengan sikap lembut Khiren tidak merespon apapun yang Khiren ucapkan dan masih terdiam bahkan setelah Khiren pergi cukup lama.
“Bagaimana ini? Sepertinya aku semakin menyukainya? Apa yang harus aku lakukan, jantungku terus saja berdetak dengan kencang tiap kali dekat dengannya?! Apa aku terkenan penyakit jantung atau karena aku semakin mencinta Khiren, ya?” Pikir Revan sambil menekan dadanya dengan kedua tangannya.
Sementara itu di ruang kerja Khiren melihat Samuel dengan wajahnya terlihat sangat kusut sedang membaca dokumen-dokumen yang masih menumpuk di mejanya.
“Kenapa wajahmu?”
“Apa harus di tanya lagi? Aku tidak menyukai pria itu, dia menyebalkan! Aku membencinya!”
“Yaudah” Ucap Khiren acuh.
“Kok ‘yaudah’ doang?”
“Ya terus mau kamu apa? Udah dari pada ribut gak jelas mending selesaikan semua ini sebelum matahari terbenam”
“Kamu sama aja kayak dia, sama-sama menyebalkan!”
__ADS_1
Khiren hanya tersenyum melihat Samuel yang sedang kesal tapi tetap saja menyelesaikan pekerjaannya. Awalnya tidak terjadi masalah hingga Revan menerobos masuk ke ruangan kerja yang tidak banyak orang mendapatkan izin untuk menginjakkan kakinya di ruangan itu.
“Sayang!!” Revan membuka pintu dengan wajah ceria tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Dua wajah yang terlihat sudah sangat lesu itu terkejut dan dua pasang mata menatap lurus pada Revan yang berada di depan pintu.
“Apa lagi sih anak ini?!” Samuel terlihat semakin kesal pada Revan karena masalah itu.
“Kamu ngapain masuk ke sini?” Tanya Samuel dengan nada membentak.
“Sayang, aku ingin membantu! Apa yang harus aku kerjakan?” Revan mengabaikan Samuel dan langsung menghampir Khiren yang masih terus membaca dokumen-dokumen perusahaannya.
“Memambatu, ya? Bagaimana kalau kamu duduk diam dan tidak bersuara di sana!” Khiren menunjuk kearah sofa.
“Fffthhhhh…!!” Samuel hampir tidak mampu menahan tawanya karena melihat Revan yang di suruh untuk tidak mengganggu Khiren padahal saat masuk dia sudah sangat bersemangat ingin membantu.
“Jangan tertawa!” Bentak Khiren.
“Oke, oke!” Lalu Samuel kembali fokus pada pekerjaannya.
“Apa kamu tidak percaya pada kemampuan ku?” Tanya Revan serius.
“Bukan aku tidak percaya tapi, ada hal yang hanya kami yang bisa mengatasinya, aku lebih senang kalau kamu istirahat dan jangan memikirkan apapun sekarang”
“Tapi kenapa Khiren?”
“Lalu siapa yang akan memikirkan kesehatanmu?” Revan tidak mau bangun meski Khiren menariknya dengan paksa.
“Aku? Huemmm… Kalau kamu peduli maka kamu akan menurutiku, jika kamu keras kepala seperti ini kamu hanya akan membuat aku semakin kepikiran dan nanti aku sakit. Apa kamu tidak khawatir padaku?”
“Tentu saja aku khawatir tapi, pekerjaan ini sangat banyak, bagaimana kamu akan menyelesaikannya sendiri?”
“Halo!! Ni orang ya bukan pajangan, jadi jangan mengatakan kalau Khiren kerja sendiri, mendingan kamu pergi tidur aja sana dan jangan bikin kami makin pusing!”
“Khiren, kenapa kamu tidak istirahat saja?”
“Ehem!” Khiren mengirim kode pada Samuel untuk mengambil langkah cepat agar bisa membuat Revan diam.
Samuel pergi menuangkan segelas jus untuk Revan dan Khiren, dia mencampur sedikit obat penenang untuk minuman Revan agar Revan berhenti menjadi pengganggu di tempat itu.
“Ni minum dulu, coba tenangkan diri dan berhenti berdebat.”
Khiren mengambil air yang di bawakan Samuel untuknya dan di ikuti dengan Revan, keduanya menghabiskan menuman lalu tiba-tiba Revan merasa pusing.
“Kenapa sepertinya mataku berat sekali?” Revan mencoba melawan rasa ngantuknya dan sesekali mengusap matanya.
__ADS_1
“Kamu lelah, ayo aku bantu ke kamar.”
Saat akan berdiri tiba-tiba saja Revan terjatuh dan tubuhnya menghantam sofa.
“Kamu angkat ke kamar!”
“Loh kok jadi aku, kamu aja kan dia suami kamu”
“Di sini siapa bos nya?”
“Kamu”
“Yaudah kalau gitu antarkan dia ke kamarnya dan segera kembali untuk menyelesaikan tugas kita”
“Dasar bos jahat!”
Meski kesal dan sambil terus mengomol Samuel tetap menggandong Revan ke kamar Khiren melewati pintu rahasia. Setelah meletakkan Revan di kasur tiba-tiba saja Samuel merasa sedikit lelah saat melihat kasur.
“Udah jam tidur, ngantuk banget nih! Apa aku tidur aja bentar lalu lanjut lagi! Aku tidur lima menit saja” Lalu Samuel berjalan kearah sisi tempat tidur lainnya lalu tidur di samping Revan.
Saat mentari menyapa dua pria tampan itu masih saja tidak mau bangun dari mimpi indahnya, hingga akhirnya alarm handphone Revan berbunyi.
‘Dring dring!’ Alarm itu terus saja berbunyi hingga Revan bangun dan mematikannya.
“Khiren, ayo bangun ini sudah pagi, kita sarapan, yok!”
Di samping Revan terlihat seorang yang menutupi seluruh tubunya dengan selimut.
“Sayang, ayo bangun!” Revan menarik selimut itu dan dia cukup kaget melihat seorang pria cantik tertidur di sampingnya.
“Hai bangun! Apa yang kamu lakukan di sini, hai!!!”
“Berisik! Masih ngantuk ni!”
“Bangun! Cepat bangun! Hai! Apa kamu tuli?”
“Iya, iya aku bangun?” Samuel bangun dengan wajahnya yang kusut dan rabutnya yang acak-acakan, sesekali dia masih saja menguap dan matanya masih susah untuk di buka.
“Khiren mana?” Revan terlihat sangat kesal.
“Di ruang kerja mungkin, ah iya aku harus bantu dia!” Samuel segera pergi ke kamar mandi dan mencuci muka lalu keluar dari kamar itu melewati pintu depan.
“Apa yang terjadi? Kenapa malah dia yang tidur denganku?? Menjijikkan!” Revan segera bangun dari tempat tidur dan membersikan diri sebersih-bersihanya dan meminta pelayan untuk mengganti bantal dan semua yang telah Samuel sentuh di kamar itu.
Bersambung….
__ADS_1