
"Aww..... Sakit" wanita itu di dorong dengan kasar oleh dua orang pria. Matanya tertutup dengan tangan terikat.
"Hallo Nona!! kami sudah mendapatkan orang yang Nona minta. Sekarang harus kami apakan??"
“Aku ingin bicara dengan wanita sialan itu!”
“Baik nona”
"Nona kami ingin bicara! " bentaknya pada wanita berambut merah itu.
"Hallo sayangku, bagaimana keadaanmu? Menyenangkan, bukan?” Ucapnya dengan penuh makna.
"Hai! Siapa kamu? Apa yang kamu inginkan?? Jika kamu inginkan uang Ayahku akan memberikannya jadi, lepaskan aku! "
"Hahahhah..... lepaskan kamu? Emmm... tunggu aku selesai bermain dulu, ya?! Aku ingin mendengar jeritan mu. suara merdu yang kau sombong kan itu. Aku ingin melihat darah keluar dari tubuhmu agar aku puas. Sakit dan rasa malu yang kau berikan di Bandara waktu itu membuat aku rasanya ingin membunuhmu tapi, jika kau mati keluargamu akan sedih dan itu tidak baik bagi mereka yang gak salah apa-apa dalam hal ini, ya'kan?"
Seluruh tubuh wanita itu merinding saat mendengar ucapan Khiren, kata yang di ucapkan dengan lembut dan penuh makna, Khiren terdengar seperti seorang psikopat yang keji.
"Kamu siapa? Jangan macam-macam dengan aku atau keluargaku akan mencari kamu dan membunuhmu nanti!! " Dalam situasi itu Aries masih saja sempat menyombongkan dirinya.
"Hahahh... Lucunya. Keluargamu hanyalah butiran pasir bagiku. Oh ya, aku ingat kalau kamu bukanlah anak kesayangan di keluargamu, ya’kan? Kalau aku tidak salah ingat kamu pernah berhubungan dengan kakak ipar mu sebelum dia menikah, dan bahkan beberapa bulan yang lalu kalian liburan bersama ke Bali, pasti itu seru sekali, ya’kan?? Lebih seru lagi kalau kakakmu tahu akan hal itu. Aku juga dengar kakak keduamu meninggal karena di bunuh oleh kakak pertamamu yang terlalu mencintai suaminya. Bagaimana kalau kakakmu tau kamu dan kakak ipar mu memiliki hubungan. eemmmhh... aku yakin dia pasti akan membunuhmu hahahahah..... "
"Da.. darimana kamu tau??? " suaranya mulai bergemetaran. "Dasar kurang hajar!!! Siapa kamu sebenarnya?!!!" Aries tidak menyangka rahasia yang hanya dia dan suami kakaknya yang tau bisa di ketahui oleh orang luar dengan begitu mudah.
"Itu tidak penting! Hai kalian. Cambuk wanita sampah itu dan kirim dia pulang!! Beri peringatan pada keluarganya!"
Setelah telephon terputus para anak buah mulai melaksanakan perintah dan mencambuk wanita itu tanpa ampun.
"Aaa... " Terdengar jeritan yang sangat keras dan terasa suara jeritan itu memenuhi ruangan sempit dan gelap itu..
Setelah tugas mereka selesai, mereka langsung membawa pergi wanita itu dan meninggalkannya tepat di depan gerbang dengan sepucuk surat peringatan untuk keluarga wanita itu.
***
“Apa-apaan sih kalian? Kenapa suka sekali mengganggu hubungan saya dan Khiren?”
“Woy banci! Lo tu gak sadar atau pura-pura gak sadar, hah?! Khiren itu udah berkali-kali nolak lo dan artinya itu dia emang gak pernah suka sama lo!”
“Gak usah sok formal deh lo, mending pulang sono!” Usir Aldo yang terus memelototi Alfin.
“Hentikan! Kalian jangan buat keributan di tempat ini, gak lihat apa yang lain pada lihatin kita!” Ucap Dimas mencoba membuat mereka untuk memelankan suara.
“Kalian yang mulai duluan!”
__ADS_1
“Udah, mending kalian makan dengan tenang atau pergi aja!” Dimas mulai habis kesabaran melihat Alfin yang tidak bisa nada bicaranya.
“Siapa juga yang mau makan sama kalian, bikin orang gak mood makan aja!” Alfin langsung meninggalkan tempat itu dengan emosi.
“Dasar berandalan sialan!” Ucapannya kesal.
“Apa dia bilang barusan?” Ryo hampir mengejar Alfi tapi di cegah oleh anak-anak yang lain.
“Udahlah Ryo, lagian itu gak penting lagi mending kita makan dan bahas gimana caranya buat menyatukan dua insan yang sulit di satukan itu.”
“Maksud lo Khiren dan Revan?”
“Siapa lagi? Mereka kadang-kadang terlihat akur, kadang-kadang berantem, dan itu gak bisa di biarkan selamanya begitu dong. Masa kita diam aja?”
“Ya gak gitu juga, kita harus susun rencana yang lebih matang lagi sebelum bertindak dan jangan biarkan si Alfin atau yang lainnya menghalangi.”
Farhan yang sejak dari tadi hanya menyimak saja tiba-tiba kaget saat melihat sebuah berita yang mengejutkan.
“Woi lihat siapa yang jadi pemenang model terbaik tahun ini!” Farhan langsung memperlihatkan sebuah foto seorang pria berambut coklat yang amat tampan.
“Siapa emangnya? Kayaknya gue…. ah kagak kenal deh!” Aldo memberikan hp Farhan pada Kiki di sampingnya.
“Iya, kayaknya gak kenal!”
“Sorry, gue gak tertarik” Morlin menolak handphone Farhan dengan sok jijik.
“Apaan sih lo Mor, tu hp gak ada kumannya kali!”
“Iya iya gue tau, tapi gue benar-benar gak tertarik dengan hal yang gak penting kayak gitu.”
“Coba aku lihat!” Dimas mengambil handphon itu dan memerhatikan foto pria itu dengan seksama. “ Bukannya ini anak yang waktu itu?”
“Anak mana sih? Komplek sebelah ya?”
“Bukanlah! Itu si Vano! Kalian apa ingat gak sama anak yang kita buat terlambat ikut seleksi perwakilan sekolah sampai-sampai setelah itu dia pindah?”
“Oh, maksud lo si cupu?”
“Iya, tapi dia udah beda banget dari yang dulu!”
“Iya, beda, tapi apa kalian yakin kalau itu dia? Aku kayaknya gak yakin, masa dia bisa bermetamorfosa sebagus itu?”
“Kita gak tau apa yang terjadi setelah itu dan ini udah bertahun-tahun, mungkin aja hal buruk yang dia alami selama ini mengubah dia jadi seperti itu.”
__ADS_1
“Wow, tapi ini perubahan yang luar biasa banget, salut gue sama tu anak”
Mereka semua tidak menyangka kalau anak yang mereka bully waktu SMA sekarang sudah menjadi model terkenal dan dia terlihat luar biasa.
“Stop muji-muji dia, kalian sadar gak kalau ini hal buruk?”
“Buruknya di mana coba?”
“Iya buruk karena dengan kemunculan Vano setelah Revan menikah dengan Khiren itu bukanlah hal baik. Kita gak bisa membiarkan Khiren bertemu dengan Vano.”
“Gimana caranya? Gak mungkin kan kita sita handphone Khiren terus kurung dia di kamar?”
“Ya itu gak mungkin, tapi kita tetap harus melakukan sesuatu! Khiren masih belum bisa move on dari dia, dan itu akan sangat berpengaruh terhadap hubungan Khiren dengan Revan”
“Gue dukung yang mana ajalah, yang penting Khiren bahagia.” Ucap Aldo spontan.
“Iya gue juga” Morlin dan Kiki juga menjadi anggota netral mengikuti jejak Aldo.
“Masa kalian gitu sih, gak jelas banget!”
“Farhan, menurut gue sih… em, sebenarnya kita udah keterlaluan sama Khiren dulu, kenapa kita gak coba biarkan Khiren memilih siapa yang pantas untuk dirinya kali ini?” Ucap Ryo.
“Kalian gak paham, Khiren itu gak bisa menentukan yang terbaik untuknya”
“Terus kamu pikir, kita semua bisa menentukan siapa yang terbaik untuk Khiren?”
“Iya gak juga tapi seenggaknya kita bisa mencari tau siapa yang lebih tepat untuk Khiren. Gue cuma mau lihat Khiren bahagia itu aja”
“Kita semua juga mengharapkan hal yang sama tapi, gak gini caranya! Udahlah, kita balik aja!” Usul Dimas yang mulai bangkit dari tempat duduknya.
“Tunggu, gue minta di bungkus makanannya dulu, ya?”
“Apaan sih lo Mor, di situasi kayak gini lo masih sempat-sempatnya mikirin makanan?”
“Gimana gue gak mikirin makan, kita semua belum menyentuh makanan kita sama sekali kecuali Aldo tu yang dari tadi udah siap makan!”
“Suka-suka gue dong, gue kan di sini bayar!”
“Udah udah, Mor. Mending cepat kalau emang mau bungkus!” ucap Dimas sebelum meninggalkan tempat itu.
Bersambung…
Cuma mengingatkan buat jangan lupa like dan komen, kalau bisa sih kasih vote juga biar bisa semangat. Makasih sudah berkunjung, sampai jumpa di episode berikutnya.
__ADS_1