Love Scenario V2

Love Scenario V2
Izin


__ADS_3

Malam tiba dan Revan pulang dalam keadaan terlihat lelah, dia masuk ke rumah dan merebahkan diri di sofa di ruang tamu, lalu Ibunya datang menghampirinya.


“Sayang, kamu capek banget, ya? Udah makan malam?”


“Mama? Kenapa bisa?”


“Kejutan! Mama sengaja buat kejutan biar kamu kaget, apa kamu senang mama di sini?”


Revan langsung bangun dan memeluk Ibunya.


“Revan senang banget, udah lama gak lihat mama, papa sering video call, tapi Mama selalu sibuk di rumah sakit jadi kita jarang bicara. Gimana kabar mama?”


“Baik, sayang. Apa kamu lapar? Mama masak banyak tadi untuk kamu”


“Beneran, Ma?” Revan terlihat sangat bahagia.


Di sudut lain Khiren memerhatikan anak dan ibu yang sedang bercengkrama mesra tanpa beban dan tanpa sandiwara, dia merasa sangat sedih sekaligus bahagia untuk dua orang itu. Dia berpikir andai dia terlahir di keluarga biasa mungkin hidupnya tidak sedramatis ini dan dia bisa bahagia dengan beban tidak seberat yang dia pikul sekarang.


“Ayo sayang kita makan dulu, kamu pasti lapar'kan?”


“Iya ma, Revan lapar banget, ayo makan. Eh, Khiren di mana Ma?”


“Dia… Eum tidur mungkin, ini kan sudah hampir jam tidur.”


Khiren sudah berjalan cepat ke tempat tidur sebelum Revan dan Ibunya pergi dari ruangan tamu lalu Khiren segera menutup pintu dengan rapat dan pergi tidur. Sementara Revan dan ibunya pergi untuk makan malam karena Revan sangat merindukan masakan ibunya yang sudah lama tidak dia cicipi.


Revan dengan lahapnya memakan masakan ibunya, Ibu Revan terus memikirkan cara mengawali percakapan untuk bisa membawa Khiren keluar dari tempat itu.


“Sayang, apa mama boleh pinjam istrimu buat besok?”


“Kalian mau kemana?”


“Hanya berbelanja, mama kan mau lebih mengenal istrimu”


“Tidak! Mama bisa meminta hal lain selain membawa dia keluar”


“Kenapa tidak? Apa kamu tidak menyayangi mama lagi?”


“Bukan itu Ma,” Revan terlihat bingung menjelaskan situasinya pada Ibunya. “Ya sudah boleh deh tapi mama perginya di temani pengawal, ya?”

__ADS_1


“Iya, makasih sayang, kalau gitu mama mau istirahat dulu, kamu kan saja dengan santai”


Setelah Ibu Revan pergi ke kamarnya, Revan berhenti makan dan melihat CCTV yang dia pasang di rumah itu. Dia marasa curiga pada permintaan Ibunya dan ternyata benar, Khiren sudah mengadukan keadaannya pada Ibu Revan dan meminta Ibu Revan untuk segera mencari gadis lain untuk Revan.


“Khiren, apa hatimu sudah beku? Kenapa kamu terus saja berusaha untuk memutuskan ikatan kita berdua, aku pikir setelah beberapa hari terakhir sikap kita seperti selayaknya pasangan pada umumnya telah membuat kamu menyadari betapa indahnya cintaku dan kasih sayangku padamu tapi kamu…” Pikir Revan.


Revan meneguk segelas air dan berjalan cepat ke kamarnya. Begitu masuk dia mencari sosok wanita yang sangat ia cintai, wanita itu sedang lelap dalam mimpinya di tempat tidur tanpa menyelimuti diri sendiri. Sejenak Revan hanya melihat wanita tercantik untuknya itu dari kejauhan dan terlihat Khiren dengan pesona yang tidak bisa membuat Revan jenuh, dia terus berpikir apa yang kurang dari dirinya hingga membuat seorang Khiren tidak bisa jatuh hati padanya.


“Aku bisa mendapatkan seribu wanita jika aku mau, tapi kenapa kamu tidak menginginkanku? Apa yang harus aku lakukan agar kamu mencintaiku?”


Lalu dia berjalan mendekati tempat tidur, dia menarik selimut dan menyelimuti Khiren dengan perlahan lalu memberikan kecupan selamat tidur sebelum akhirnya Revan pergi untuk mengganti pakaiannya dan tidur di sebelah Khiren.


***


Suara kicauan burung terdengar sangat riang di pagi hari yang cerah itu, Khiren seperti biasa sudah hilang dari tempat tidur tiap kali Revan membuka matanya. Revan perlahan bangun dan keluar ke teras kamar untuk memantau keberadaan istri tercintanya. Taman tempat Khiren biasanya lari pagi itu kosong, bahkan para penjaga belum lewat di tempat itu.


‘Tok tok tok’


Khiren masuk dengan membawa napan yang berisi kopi pagi untuk Revan, dia tersenyum kearah Revan yang kaget karena Khiren datang membawakannya kopi.


“Sayang, kenapa kamu yang buatin kopinya? Mana pembantu? Bagaimana kalau kamu lelah”


Khiren meletakkan kopi yang di bawanya ke atas meja dekat tempat tidur.


“Silahkan menikmati kopi mu suamiku” Lalu dia pergi secepat kilat dari kamar itu.


“Wah…. Ini sangat di luar dugaan, Mama bisa membuat dia jadi lebih patuh dan menjadi istri seperti yang seharusnya. Ini aneh tapi bagus untuk hubunganku dan dia. Eh tapi kenapa dia bawa kopi? Bukannya biasanya dia membawa teh untukku?” Pikir Revan sambil mengambil kopi yang Khiren bawa untuknya.


“Terimakasih Istriku” Ucap Revan dengan senyum manisnya.


Kopi panas itu terasa sangat pahit tapi Revan tetap berusaha menghabiskannya karena dia tidak ingin menyia-nyiakan kopi yang di buat dengan tangan Khiren sendiri untuknya. Revan segera bersiap untuk ke kantor lalu dia turun untuk sarapan bersama keluarga kecilnya.


“Pagi mama” Revan memeluk dan mencium kening ibunya lalu duduk di sampingnya.


“Pagi sayang, bagaimana tidurmu?”


“Baik seperti biasanya, Ma”


“Baguslah”

__ADS_1


“Ma, Khiren mana?”


Lalu Khiren datang dari dapur bersama dengan dua orang pelayan yang membawa makanan untuk sarapan.


“Sayang kamu masak apa?”


“Aku masak masakan kesukaan kamu yang jarang ada dibuat di tempat ini. Ibu bilang kalau kamu suka nasi goreng jadi aku buatkan, silahkan di coba!”


“Terimakasih sayang, kamu sangat perhatian” Lalu Revan mencoba nasi goreng yang Khiren buat untuknya.


“Eum…. Ini terasa sangat enak” Ucap Revan yang memang menyukai masakan Khiren.


“Baguslah kalau kamu suka”


“Khiren, kamu kok makannya cuma buah doang?”


“Padahal kita sudah menikah lebih dari setahun, tapi kamu tidak tahu apapun tentangku, menyedihkan! Aku tidak bisa makan terlalu banyak di pagi hari karena aku sangat menjaga berat badanku” Ucap Khiren sedikit ketus sambil meneruskan memakan buah yang ada di piringnya.


“Maafkan aku”


“Revan sayang, kamu cepat makannya jangan sampai kamu terlambat, kamu tahukan kalau waktu itu uang, jadi jangan sia-siakan!?”


“Iya, Ma”


Setelah makan Khiren mengantar Revan hingga ke depan mobil lalu mengecup kening Khiren sebelum dia berangkat kerja. Setelah mobil Revan sudah cukup jauh Khiren kembali masuk ke dalam rumah dan menemui Ibu Revan.


“Jika orang lain melihatnya kalian akan di pikir pasangan yang sempurna, tapi sayang kamu tidak mau membuka hati untuk putra saya yang tampan itu”


“Bu, aku ngerti kalau ibu ingin kami bersama, tapi cinta bukan hal yang mampu di paksakan.”


“Saya tahu, jadi ayo bersiap untuk berangkat!”


“Baik” Lalu Khiren pergi bersiap-siap dengan cepat.


Mereka berencana untuk pergi ke pusat kota dan bertemu dengan seseorang yang bisa membantu masalah Khiren.


Bersambung…


Jangan sungkan buat komen kalau ada kesalahan dalam pengetikan dan jangan lupa sayang buat like, karena semangat penulis itu dari satu like dari setiap pembacanya. Aku tidak minta banyak, hanya jangan lupa untuk Favoritkan dan Likenya ok.

__ADS_1


__ADS_2