Love Scenario V2

Love Scenario V2
Cemburu


__ADS_3

“Sebenarnya dulu..”


‘Dring dring dring’ Suara handphone Khiren merusak suasana


“Siapa?” Revan Penasaran siapa yang pagi-pagi mengganggu Khiren.


“Khi, kamu kapan pulang ke sini?”


“Oh, Setelah cuaca bagus rencananya aku juga mau ke sana. Emangnya kenapa Kakak tiba-tiba nanya?”


“Stok makanan di rumah udah menipis dan yang lain pada males buat belanja, kalau kamu punya waktu apa bisa..”


“Bisa bisa kok, Ni aku langsung ke sana” Lalu Khiren bangun dan meninggalkan Revan yang belum selesai bicara.


“Siapa sih yang telpon tadi?”


Saat Khiren akan pergi Revan mencegahnya di depan pintu keluar.


“Kemana kamu buru-buru gitu?”


“Kak Dimas minta aku pulang, yaudah aku mau ke sana dulu. Minggir aku mau lewat!”


“Sepenting apa sih Dimas di mata kamu?”


“Sangat amat penting, jadi menyingkirlah dari jalanku!” Khiren mendorong Revan yang menghalangi jalannya lalu dia pergi dengan terburu-buru.


“Dimas, lagi-lagi dia! Aku curiga apa jangan-jangan dia punya perasaan pada Khiren, ini gak bisa di biarin.”


Sementara itu Khiren benar-benar merasa lega akhirnya punya alasan untuk keluar rumah dan menghindari Revan. Dia sangat ingin keluar dari tadi tapi dia tidak punya alasan dan tujuan yang jelas hingga Dimas datang bagaikan pangeran berkuda putih yang menyelamatkan putri dari penyihir yang memenjarakan jiwanya.


“Ngobrol ama Revan itu, kayak ngobrol sama paman, gak ada asik-asiknya, mending juga main sama yang lain”


Khiren berhenti di supermarket dan memborong semua kebutuhan rumah dan juga beberapa cemilan yang di larang oleh Dimas, dia belanja sangat banyak hingga para penjaga toko harus membantunya untuk membawa barang-barangnya ke mobil. Suasana dingin karena masih hujan meski tidak sederas pagi tadi, tapi hal itu membuat Khiren teringat pada kopi hangat dan aroma kue yang baru di panggang di café Angga. Khiren mempercepat laju mobilnya agar bisa segera mengantar semua barang pesanan para anggota 7 bersaudara yang sedang kelaparan di rumahnya.


“Hai semua!” Khiren masuk dengan membawa banyak sayur dan buah-buahan di kantong belanjaannya.


“Khiren, banyak banget! Eh tapi kamu ingat yang aku pesan’kan?”


“Tenang aja, kalian ambil diam-diam di mobil, jangan sampai pakar kesehatan kita mengamuk” Bisik Khiren pada Kiki.


“Sip sip!” Kiki dan anggota yang lain segera bergegas mengangkut barang belanjaan dari mobil Khiren sebelum Dimas menyadari kalau Khiren membawa banyak cemilan dan makanan tidak sehat lainnya ke dalam rumah.

__ADS_1


“Aku pergi dulu, ya?” Ucap Khiren pelan lalu dia segera meninggalkan rumah.


Setengah jam kemudian Dimas turun dan melihat anggota lain sedang makan cemilan di ruang tamu dan juga kulkas sudah terisi penuh dengan bahan-bahan makanan.


“Khiren kapan datang?”


“Setengah jam yang lalu, kamu sih kelamaan di nelpon!”


“Kalau gitu, ada yang mau bantu masak?”


“Ogah ah, enakan juga nonton, ya'kan?”


“Kalian serius?”


“Gak kok, kami bercanda! Ki, lo aja sana bantu Revan!”


“Lah kok gue? Lo aja sana Far, kalau gak si Aldo aja, diakan paling gak ada kerjaan!”


“Kenapa gak Morlin aja!”


“Udahlah, dari pada kalian ribut, biar aku masak sendiri aja!” Dimas pergi dengan wajah kesal karena anggota lain selalu mencari-cari alasan dan mulai membuat keributan jika di suruh sesuatu.


“Dimas!”


“Ya, ada apa?”


“Aku harap kamu menjaga jarak dengan Khiren, dia itu sekarang istri orang dan bukan hanya sekedar adik kecil yang selalu mengekor kalian!”


“Maksud kamu apa? Memang apa masalahnya?” Dimas tidak mengerti apa yang sedang Revan ributkan di situ, dia tidak paham alasan kenapa Revan tiba-tiba datang dan marah-marah padanya.


“Udah, udah! Revan, coba lo tenang dulu!” Kiki yang berada di situ mencoba menenangkan Revan yang emosian.


“Kamu cuma perlu tahu kalau kamu tidak boleh terlalu dekat dengan Khiren lagi”


“Udah udah, lo jangan ribut lagi, ini gak akan berakhir baik buat lo atau pun Dimas” Kiki menarik Revan keluar dari dapur.


“Apaan sih anek itu! Dasar aneh!” Dimas kembali memasak dengan tenang dan tidak memperdulikan Revan yang masih menatapnya dengan sinis dan aura kebenciannya yang begitu kental.


Setelah kejadian itu, Revan terus menatap Dimas dengan tatapan sinis dan penuh kebencian.


“Lo lihat gak deh, Lex! Kayaknya si Revan kerasukan, deh!”

__ADS_1


“Aldo, lo dari dulu gak berubah, ya? Lo itu begok atau gimana, sih? Jelas-jelas Revan itu cemburu dan bukannya kesurupan, kali! Kayaknya kecemburuan Revan berlanjut deh sama Dimas, secara Dimas emang orang yang paling dekat dengan Khiren.”


“Kok bisa? Ni kalau Khiren tau pasti bakalan ada perang ke tiga di rumah, gue sih jamin kalau Khiren bakalan depak Revan dari rumah.”


“Makanya kita gak usah kasih tau Khiren, biar gak ada keributan lagi. Kita mending gak usah ikut-ikutan kalau gak kita juga bakalan kena imbasnya! Udahlah, mending lanjut main game aja, yuk?!”


“Woke!”


Dimas kembali memasak meski tanpa bantuan siapapun, Kiki yang tadinya ingin membantu terpaksa menahan Revan di tempat yang agak jauh dari Dimas agar makanan bisa di masak dengan tenang. Ketika makanan siap di hidangkan Dimas mulai memanggil para pengangguran yang males nya tingkat dewa.


“Semua, makanannya sudah siap!”


“Kami datang!” Semua berjalan dengan cepat menghampiri makanan dari koki paling hebat sedunia itu.


“Wih… wanginya aja udah bikin ngiler, boleh langsung gak, nih?” Tanya Kiki yang rakus.


“Tunggu dulu, Khiren gak datang ke sini?” Tanya Revan yang masih berpikir kalau Khiren ada di tempat itu.


“Dia datang cuma nganterin belanjaan terus tadi langsung pergi, emangnya dia gak kasih tau?”


“Dia Cuma bilang mau ketemu sama Dimas”


“Ketemu apaan, nanya soal Dimas aja enggak, tadi dia kayaknya buru-buru, mungkin aja dia ada janji sama temannya” Ucap Aldo.


“Kalian tahu teman Khiren selain kalian yang ada di Indonesia?”


“Dia itu punya banyak teman, masa iya kita tanyain semua orang? Entar suruh aja Dimas yang hubungin dia”


“Kenapa harus Dimas?”


“Ya soalnya Khiren bakalan cepat angkat kalau itu dari Dimas, paham?”


“Sekarang udah, kita makan aja dulu, gue udah kangen banget sama soto! Rendangnya juga enak!”


Mereka semua mulai meributkan masakan Dimas dan tidak peduli dengan Revan yang cemas memikirkan kemana Khiren pergi. Aldo yang berada di samping Revan bisa merasakan kegelisahannya dan itu membuat Aldo kesulitan untuk makan dengan tenang.


“Udah, makan aja dulu! Nanti kami bantu cariin, ok!”


Bersambung.....


Cuma mengingatkan buat jangan lupa like dan komen, kalau bisa sih kasih vote juga biar bisa semangat. Makasih sudah berkunjung, sampai jumpa di episode berikutnya.

__ADS_1


__ADS_2