Love Scenario V2

Love Scenario V2
Episode 66


__ADS_3

“Aku harus menenangkan diri beberapa waktu, mungkin kita tidak perlu bertemu untuk beberapa hari ke depan.” Revan terlihat murung.


“Yasudah” Khiren seakan acuh dengan ucapan Revan.


“Yasudah? Serius? Kamu bahkan tidak mencoba menghentikan ku!”


“Jadi, tuan Revan, kamu ingin aku lakukan apa?”


“Ya setidaknya pertahankan aku, bujuk aku atau lakukan sesuatu yang membuat aku merasa hubungan ini nyata.”


“Hubungan ini nyata, hanya saja tidak diinginkan! Lakukan apapun yang kamu mau, selama kamu tidak menggangu pekerjaanku” Lalu Khiren pergi.


“Jika itu Vano, mungkin kamu tidak akan mengatakan hal yang sama, ya'kan?” Teriak Revan kesal.


“Siapa bilang?! Aku akan mengatakan hal yang sama karena kalian berdua telah mengganggu pekerjaanku, paham!”


Khiren keluar dalam keadaan kesal dan membanting pintu agar Revan tahu kalau dia sudah cukup bersabar dengan kelakuan Revan dan Vano.


Beberapa jam sebelumnya, di lokasi pemotretan, Revan yang bosan akhirnya pergi dan mengawasi apa yang di lakukan oleh saingan cintanya. Setelah beberapa menit melihat dia mulai bosan dan pergi ke kantor Khiren, dia pikir dia bisa menemui Khiren tapi, sayangnya Khiren pergi entah kemana, tidak ada satu orang kantor pun yang tahu keberadaanya.


“Ah, sangat membosankan!” Revan beberapa kali berpindah tempat dari kursi kerja Khiren lalu ke sofa dan dia mulai merasa bosan menunggu Khiren. Lalu dia memutuskan menghubungi Khiren karena dia merindukannya.


“Nomor yang ada tuju sedang berada di luar jangkauan, cobalah beberapa saat lagi.” Beberapa kali pun dia mencoba tetap saja tidak bisa menghubungi Khiren.


Tak lama kemudian Vano masuk ke ruangan Khiren dan langsung menuju meja kerja Khiren.


“Iya, aku sudah sampai, sekarang barangnya kamu letakkan di mana?” Vano bicara pada seorang yang sedang di telponnya.


“Iya, sudah dapat! Terimakasih sayang!” Vano menemukan sebuah parfum yang di simpan Khiren di laci.


“Hai! Kamu bicara dengan siapa?” Tanya Revan yang sedang berbaring di sofa.


“Aaa! Kamu ini mengagetkan saja, apa yang kamu lakukan di sini?”


“Apa urusanmu, lagian ini kantor istriku.”


“Benarkah? Kalau begitu sampai jumpa” Lalu Vano keluar begitu saja.


“Hai tunggu! Kamu bicara dengan siapa tadi?”


“Apa urusanmu?” Ucap Vano dingin pada Revan.

__ADS_1


“Jangan bilang kalau itu Khiren?”


“Kalau iya memangnya kenapa?”


“Kenapa dia tidak bisa aku hubungi dan kamu dengan mudahnya bisa bicara dengan dia, sebenarnya siapa yang suami Khiren yang asli, hah?!” Revan mencengkram kerah baju Vano.


“Lepas! Siapa yang memiliki status suami Khiren sekarang itu tidak penting, karena yang terpenting adalah siapa yang memiliki hatinya, dari dulu hingga nanti akulah pemilik hatinya, camkan itu!”


“Dasar tidak tahu diri!” Revan yang emosi langsung menghajar Vano.


Tangan Revan sangat cepat dalam melakukan serangan hingga Vano tidak bisa menghindarinya beberapa kali, ruangan Khiren yang kedap suara membuat orang-orang di kantor tidak menyadari peristiwa itu. Beruntungnya nyawa Vano masih sempat di selamatkan saat sekretaris Khiren masuk ke ruangan itu untuk mengambil beberapa dokumen penting, kedua pria itu sama-sama terluka hanya saja Vano lah yang paling parah lukanya.


Orang yang diminta menjaga Vano pun langsung menghubungi Khiren dan menceritakan apa yang terjadi. Khiren berbegas pergi ke rumah sakit, dia melihat Vano masih tidak sadarkan diri dan di ruangan lain Revan sedang di obati lukanya.


“Yang lain tolong keluar sebentar!” Perintah Khiren pada perawat yang masih berada di ruangan bersama dengan pengawal Khiren.


“Apa yang kamu lakukan, hah?!”


“Memangnya apa yang aku lakukan?”


“Kamu hampir membunuh Vano! Dan sekarang wajahmu saja tidak tempak bersalah, sebenarnya apa yang ada dalam otak kamu, hingga melakukan hal itu semua?”


“Tidak, kamu salah! Harusnya aku yang bilang, andai Bunda tidak egois dan serakah, maka aku sudah bersama dengan Vano dan memiliki anak-anak yang lucu, paham?”


“Kenapa kamu mengatakan hal itu?” Revan merasa kesal sekaligus kecewa pada ucapan Khiren.


“Lupakan saja! Aku lelah, dan kelakuan kalian membuat pekerjaanku tertunda, lain kali tolong jangan membuat masalah yang mengharuskan aku datang, paham!”


“Kenapa aku tidak bisa menghubungimu tadi? Lalu kenapa Vano malah bisa?”


“Ya karena nomorku sudah diganti, kenapa kamu tidak bertanya pada sekretaris ku? Aku harus pergi sekarang.”


“Kamu mau kemana? Jangan-jangan ke ruang anak sialan itu lagi?”


“Sudah ada yang mengurusnya, aku akan kembali untuk pekerjaanku, dan kali ini kalian berdua di larang menghubungiku apapun yang terjadi!”


“Tadinya Vano yang paling penting, lalu sekarang pekerjaannya lebih penting dariku, apa aku benar-benar tidak berarti untuk Khiren?” Pikir Vano.


“Aku harus menenangkan diri beberapa waktu, mungkin kita tidak perlu bertemu untuk beberapa hari ke depan.” Revan terlihat murung.


“Yasudah” Khiren seakan acuh dengan ucapan Revan.

__ADS_1


“Yasudah? Serius? Kamu bahkan tidak mencoba menghentikan ku!”


“Jadi, tuan Revan, kamu ingin aku lakukan apa?”


“Ya setidaknya pertahankan aku, bujuk aku atau lakukan sesuatu yang membuat aku merasa hubungan ini nyata.”


“Hubungan ini nyata, hanya saja tidak diinginkan! Lakukan apapun yang kamu mau, selama kamu tidak menggangu pekerjaanku” Lalu Khiren pergi.


“Jika itu Vano, mungkin kamu tidak akan mengatakan hal yang sama, ya'kan?” Teriak Revan kesal.


“Siapa bilang?! Aku akan mengatakan hal yang sama karena kalian berdua telah mengganggu pekerjaanku, paham!”


Khiren keluar dalam keadaan kesal dan membanting pintu agar Revan tahu kalau dia sudah cukup bersabar dengan kelakuan Revan dan Vano.


“Hallo! Bagaimana Mex, apa pekerjaan yang aku suruh kalian sudah selesai?”


“Semuanya beres master! Sekarang dia harus di bawa ke mana?”


“Bawa saja ke rumah yang aku beli untuk Revan, beri penjagaan ketat hingga waktunya dia dijadikan alat penyerangan terakhir untuk keluarga Nakoto.”


“Master, sepertinya dia tidak memiliki cacat apapun”


“Dasar bodoh! Dia memang tidak memiliki cacat, hanya saja sebagai penerus dia itu terbilang cacat karena tidak bisa mandiri, dan terus bergantung pada keluarga besar yang terus memanjakannya”


“Baiklah, saya akan melakukan sesai keinginan ada, Master”


“Baiklah”


Sementara itu Revan masih merasa kesal dengan keadaanya, dia merasa Khiren berlaku tidak adil dan dia tidak ingin Khiren terus bersama Vano.


“Aku harus segera menyingkirkan anak sialan itu, bagaimanapun caranya”


Revan mencoba untuk keluar dari ruangan rumah sakit dan kembali ke rumah Khiren. Revan mengeluarkan sebuah parfum yang diambil dari saku baju Vano saat mereka sedang berkelahi.


“Aromanya, sangat menenangkan, apa Khiren menyukai hal yang seperti ini? Aku harus menggunakannya saat bersama Khiren, dan dia akan segera jadi milikku seutuhnya. Kalau kami mempunyai seorang anak, mungkin Khiren akan meninggalkan Vano sialan itu.” Pikir Revan.


Bersambung….


Jangan lupa meninggalkan jejak bacaannya dengan like, vote, dan kasih reting 5 untuk novel ini.


SELAMAT MEMBACA 😊😊😊😊

__ADS_1


__ADS_2