Love Scenario V2

Love Scenario V2
Diluar Rencana


__ADS_3

Langit begitu cerah hari itu, Khiren yang biasanya akan berlari pagi dan sarapan bersama dengan Mex hari itu terlihat duduk santai sambil menatap langit biru yang tak berawan dari sejak matahari mulai menampakkan sinarnya. Dia seakan sedang hanyut dalam pikirannya yang entah kemana membawa dia berpetualang dan meninggalkan raganya di pulau itu. Tahun itu usianya sudah memasuki 26 tahun dan dia masih merasa ada yang kurang dalam hidupnya, masih banyak teka-teki yang masih belum mampu dipecahkan hingga hari itu. Terkadang dia menghela napas yang begitu berat seakan dia memikul beban yang setara dengan gunung, dia terus saja berpikir anda dia bisa kembali ke masa lalu dan bisa menjaga kakeknya mungkin saja dia tidak akan tertekan itu.


Dari arah jendela lantai atas seorang pria sedang memperhatikan Khiren yang duduk sendirian dengan pakaian siap untuk pergi ke sebuah acara besar. Pria itu tersenyum dengan maksud tersembunyi, dia pergi dengan cepat ke arah lemari dan mengganti pakaian secepat kilat dan pergi menemui Khiren. Dia menuruni tangga dengan terburu-buru, wajahnya begitu berseri, dia terlihat penuh semangat hingga membuat para pekerja yang melihatnya cukup terkejut. Pintu terbuka dan dia melangkah dengan cepat keluar untuk menemui wanita cantiknya yang tidak bisa membuat jantungnya tenang tiap kali memikirkan wanita itu.


“Hai!” Sapa Revan sambil tersenyum lalu duduk di samping Khiren tanpa meminta izin terlebih dulu.


“Hai!” Khiren menjawab sapaan itu dengan nada acuh seperti biasa.


“Apa kamu sudah sarapan? Apa aku bawakan makanan untukmu ke sini?”


“Tidak lapar” Lagi-lagi Khiren hanya menjawab dengan singkat dan dia tidak sekalipun melirik kearah Revan meskipun Revan terus tersenyum manis.


Revan seakan tidak peduli dengan bagaimana respon Khiren, dia masih terlihat penuh semangat bak seekor dogi yang menunggu diajak bermain. “Apa kamu ada rencana pagi ini?”


Belum sempat Khiren menjawab pertanyaan Revan, seorang pengawal datang dan melaporkan kedatangan helikopter yang akan membawa Khiren.


“Master, semua sudah siap”


“Baik, ayo berangkat” Khiren bangun dan berjalan lurus dan mengabaikan Revan yang duduk di sampingnya.


Revan tidak putus semangat dia mengikuti Khiren hingga sampai di lapangan helikopter pribadi milik Khiren di pulau itu.


“Kamu masuk dan tolong jangan buat masalah aku akan pergi beberapa hari untuk melakukan kunjungan ke beberapa tempat.”


“Bagaimana aku bernafas di tempat terpencil ini tanpa kamu? Bagaimana kalau aku merindukanmu? Aku tidak bisa kalau tidak ada kamu di sini”


Semua yang mendengar ucapan Revan hampir tidak bisa menahan untuk tersenyum, kata-kata penuh dengan perasaan dan diucapkan dengan nada manja membuat orang lain jadi sedikit geli mendengarnya.


“Kamu bisa kembali ke rumah orang tuamu atau kembali ke rumah mu, lakukan yang kamu mau selama itu tidak menggangguku!”


“Kenapa kamu begitu kejam padaku, aku bukannya ingin pergi hanya saja bagaimana kalau aku merindukan kamu?”

__ADS_1


“Kamu punya dua pilihan, tetap tinggal dengan diam atau kembali ke rumahmu dan jangan kembali lagi ke tempat ini selamanya!”


“Baiklah, aku akan tinggal. Kapan kamu kembali?”


“Entahlah, mungkin 3 atau 4 hari atau… mungkin saja lebih tergantung masalah yang akan aku hadapi.”


“Apa tidak bisa lebih cepat? Atau bawa aku bersamamu, aku tidak akan mengganggu, aku akan jadi anak yang patuh dan…”


“Stop! Revan, aku hanya ingin bekerja dengan tenang dan aku harap kali ini kamu membiarkan aku karena aku tidak mau pekerjaanku jadi semakin sulit karena dia kamu.”


“Aku tidak bermaksud mengganggu, aku hanya ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan kamu”


“Dialah! Semakin banyak kamu bicara semakin membuat aku sakit kepala, keputusanku sudah final dan tidak ada komplain lagi!” Lalu Khiren pergi meninggalkan Revan dengan wajahnya yang terlihat sangat kesal.


Helikopter itu membawa Khiren pergi dengan cepat dari pulau itu, Revan sangat sedih karena kepergian Khiren terlebih Khiren pergi dalam keadaan kesal kepadanya. Beberapa hari berlalu dan Khiren tidak memberikan satupun kabar kepada Revan, Revan terus saja menunggu dalam keadaan gelisah dan terus bertanya-tanya pada orang-orang yang terus menemaninya tentang Khiren.


“Kenapa dia lama sekali?” Pikir Revan yang gelisah sambil terus memandangi pelabuhan dari jendela ruang kerja Khiren.


Saat Revan sedang gelisah menunggu Khiren di di pulau, sebaliknya Khiren sedang sibuk-sibuknya mengurus permasalahan perusahaan dan juga masalah organisasi teratai hitam. Dan di sisi lain Mex sedang mencoba mengakrabkan diri dengan Ayah Khiren, dan juga mengambil hati para saudara Khiren, bahkan dia juga mulai akrab dengan adik Khiren yang kini berusia 3 tahun. Tanpa sepengetahuan Khiren Mex dan Ayah Khiren mulai menyiapkan rencana pernikahan, Mex yang sangat hafal ukuran tubuh Keren tanpa meminta Khiren mengukur baju pernikahan dia sudah memesannya jauh-jauh hari. Rencana pernikahan yang seharusnya dijalankan di akhir tahun jadi berganti menjadi pertengahan tahun, undangan pun disebar dengan cepat tapi Khiren tetap tidak tahu tentang masalah itu karena dia sibuk dengan perusahaannya sendiri. Lalu saat dia akan kembali ke pulau tiba-tiba saja Ayahnya meminta dia untuk ikut dalam pertemuan keluarga.


Siang itu Khiren pergi ke Jepang dan keesokan paginya dia pergi kediaman keluarga pihak Ayahnya. Di rumah yang bernuansa tradisional itu terasa sangat tenang, pagi yang begitu cerah dan ketika dia masuk ke ruang utama dia bertemu dengan Mex yang sepertinya sudah lama duduk di sana dengan Nenek yang terlihat ceria saat berbincang dengan Mex.


“Nenek!”


“Akhirnya kamu datang, ayo duduk.”


“Apa yang direncanakan Nenek? Apa yang dia mau dari Mex? Dan kenapa Mex ada di sini pagi-pagi?” Pikiran Khiren terus saja dipenuhi dengan berbagai pertanyaan sambil terus memperhatikan dua orang yang sedang asik berbincang di depannya.


“Sebenarnya ada apa?” Tanya Khiren yang tidak sabar dengan situasi yang membingungkan itu.


“Kenapa kamu begitu dingin? Apa salahnya berbincang-bincang santai dengan nenekmu?”

__ADS_1


“Hahahah… Sejak kapan Nenek ingin berbincang-bincang santai dengan aku? Kita hanya berbicara saat Nenek punya perintah untukku, lalu kenapa hari ini berbeda?”


“Nenek hanya merasa meski bisa awet muda dan terhindar dari penyakit-penyakit berat tetap saja tidak ada yang tahu kapan waktu Nenekmu ini akan habis, jadi apa salahnya menikmati waktu yang tersisah dengan melihatmu cucu cantikku membentuk keluarga dan memberikan aku seorang cicit yang menggemaskan.”


“Nenek sangat lucu, semua orang juga tahu kalau nenek tidak menyukai anak kecil lalu kenapa sekarang membahas cicit dengan aku?”


“Nenek hanya berusaha menjadi orang tua pada umumnya, apa itu salah?”


“Salah? Entahlah, tapi untukku ini semua sudah cukup terlambat. Sudahlah, aku bosan dengan basa-basi ini katakan apa yang sebenarnya nenek rencanakan? Apa obat itu sudah habis? Apa perlu mengirimnya lagi?”


“Khiren cucuku, maafkan nenek kalau selama ini membuat kamu merasa kalau kamu di peralat tapi sekarang nenek sadar kalau yang nenek perlukan hanya hidup dengan tenang bersama anak dan cucu-cucu nenek di sisi hidup nenek ini.”


Tak lama setelah itu Ayah Khiren masuk dan duduk di samping ibunya.


“Kentaro, maafkan ibu jika selama ini ibu selalu membuat kalian dalam masalah.”


“Apa yang ibu bicarakan? Aku tidak pernah merasa begitu, aku akan melakukan apapun untuk kebahagian ibu jadi jangan mengatakan hal-hal yang tidak perlu, bu”


“Ayah, katakan sebenarnya kenapa aku di minta datang ke tempat ini?”


“Karena kita akan membahas soal pernikahan kalian, Ayah berharap kali ini Ayah bisa melihatmu menikah dengan benar, hidup dengan bahagia bersama orang yang bisa menjaga kamu.”


“Aku tidak mengerti, apa yang kalian bicarakan, sebenarnya ada apa?”


“Khiren, sebenarnya kami merencanakan pernikahan kita di akhir bulan ini, undangan sudah kami sebar dan kita hanya perlu mengikuti semua rencana yang sudah disusun.”


“Apa? Kenapa kalian merencanakan hal ini tanpa berunding denganku? Apa pendapatku tidak penting di sini?”


“Bukan begitu. Kamu terlalu sibuk jadi aku pikir…”


“Diam! Aku benci kalian semua!”

__ADS_1


Lalu Khiren pergi dengan cepat dari tempat itu, wajahnya memerah karena terlalu kesal. Dia merasa dikhianati oleh orang yang dia percaya selama ini, semua orang melakukan semua hal sesuka mereka tanpa mempertimbangkan perasaannya karena itu dia merasa sangat kesal dan sedih.


Bersambung….


__ADS_2