Love Scenario V2

Love Scenario V2
Episode 72


__ADS_3

“Siapa yang memberikan Bunda infomasi tentang pergerakan ku, apa Ayah juga tahu? Aku rasa sudah saatnya bertindak, perang tidak bisa di tunda lagi”


“Mex, segera persiapkan semua sesuai dengan rencana, kita akan berangkat ke Inggris untuk menemui Bunda ku”


“Baik, master!”


Begitu sampai di rumah, langit sudah berubah menjadi gelap, Khiren benar-benar tidak beristirahat hari itu. Begitu sampai dia langsung memerintahkan pengasuh si kembar untuk mempersiapkan mereka, jadwal penerbangan diatur dengan sangat cepat oleh Mex.


“Khiren kamu sudah pulang?!” Vano menyambut Khiren dengan senyum hangat begitu dia melihatnya datang kearah kamarnya yang bersebelahan dengan si kembar.


“Khiren, kamu sudah pulang! Apa kamu sudah makan” Tanya Revan yang juga melihat Khiren saat berjalan kearah kamar si kembar.


“Belum, aku akan makan di perjalanan nanti, kalian sudah makan?”


“Loh, kamu mau pergi lagi?”


“Nona, mereka sudah siap”


“Ayo berangkat”


“Tunggu! Khiren mau dibawa kemana mereka?”


“Aku akan mengembalikan mereka pada tempat yang seharusnya.”


“Maksud kamu, mereka akan dibawa pada ibu mertua?” Tanya Revan.


“Iya. Kalian berdua sekarang langsung berangkat bersama mobil di depan, pastikan tidak ada yang tinggal, paham!”


“Baik nona” Dua pengasuh bersama si kembar langsung menuju ke mobil yang menunggu mereka.


“Khiren apa aku boleh ikut?”


“Tidak, tidak ada dari kalian yang ikut.”


“Khiren aku mohon biarkan aku ikut, aku ingin bersama mereka untuk terakhir kalinya”


“Kalau dia ikut aku juga ikut!”


“Kalian berdua kenapa? Jangan berekspresi menyedihkan di depanku!”


“Ku mohon!!” Vano memasang wajah sedih di depan Khiren.


“Terserah deh! Cepat bersiap!”


“Aku juga kalau begitu”


“Terserah tapi cepat! Kalian akan menaiki pesawat yang berbeda dariku, aku pergi duluan, kalian di temani pak Lee, paham?”


“Kenapa begitu”


“Terima atau tidak usah ikut”


“Baik”


Mereka berdua pun patuh dan Khiren bersama Mex segera pergi ke bandara.

__ADS_1


“Apa tidak masalah membiarkan mereka di tempat yang sama?”


“Aku yakin mereka sudah cukup dewasa untuk mengesampingkan ego saat ini.”


Keesokan paginya, Khiren ditemani dengan Mex menemui Bundanya di rumah mertuanya. Khiren di kawal beberapa pengawal terbaik yang mereka miliki, dengan penuh percaya diri Khiren membawa adik kembarnya memasuki rumah itu.


“Anakku!” Bunda langsung berlari menghampiri si kembar dan melewati Khiren yang berada di depannya.


“Benar-benar diabaikan, apa yang aku harapkan dari orang itu” Pikir Khiren sambil tertawa, dia menertawakan takdirnya yang sangat lucu.


“Apa kamu baik-baik saja?” Ayah Khiren menghampirinya.


“Kenapa tiba-tiba peduli? Sudahlah, lihat saja anak kalian itu, aku datang hanya ingin mengantarkan mereka dengan selamat”


“Khiren, kamu juga anak kami”


“Benarkah?”


“Lalu kemana saja kalian 20 tahun terakhir ini? Apa kalian pernah bertanya aku bahagia dengan keputusan kalian yang mengirim ku ke rumah kakek saat berusia 5 tahun. Ayah yang sulit aku temui hanya menanyakan keadaanku lewat suruhannya, lalu ibu yang selalu datang tapi hanya melihat dan menerima hasil yang aku capai saja tanpa bertanya berapa banyak luka yang aku derita demi memuaskan dia!”


“Khiren…”


“Cukup! Aku lelah, aku ingin sudahi sandiwara ini semua.”


“Khiren, selamat datang, ayo duduk nak” Ibu mertua Khiren datang dari lantai dua dan menghampiri Khiren dengan senyum hangatnya.


“Maaf tante, saya sangat menghargai semua kebaikan dan keramahan anda tapi, saya ingin bernapas kali ini, jadi saya akan berpisah dengan anak anda”


“APA?” Bunda yang sedang menggendong si kembar langsung menghampiri Khiren setelah mendengar apa yang dia ucapkan.


“Kamu tidak bisa melakukan itu?”


“Tidak bisa! Kamu itu anakku, kamu harus menuruti ku!”


“Anak? Benarkah? Apa anda merasa sudah menjadi ibu? Anda hanya mengingatkan seorang Khiren yang bisa anda pamerkan di depan umum, anda akan menghukum anak 5 tahun hanya karena dia tidak bisa mendapatkan nilai yang terbaik dalam lomba melukis padahal dia tidak pernah belajar melukis sebelumnya. Hahahah…. Sangat lucu!”


“Kenapa kamu membahas kejadian yang sudah lama itu?”


“Kenapa wajah Bunda kaget? Bunda pikir aku sudah melupakannya? Di kurung di ruang gelap dan di tampar berulang kali hingga pingsan, aku mengingat setiap kejadian itu”


“Kapan itu terjadi? Kenapa aku tidak tahu?”


“Ayah yang selalu sibuk mana mungkin tahu terlebih setelah itu aku di kirim ke Indonesia, kakek lah yang mengobati ku dan membuatku menjadi sekuat ini!”


“Bunda minta maaf soal itu, bunda hanya…”


“Hanya apa? Hanya tidak ingin harga diri Bunda terluka di depan dunia karena mempunyai anak yang tidak bisa apa-apa, bukan?”


“Bukan seperti…”


“Cukup sandiwara keluarga, tunjukkan saja sisi asli Bunda, toh tidak ada yang perlu di tutupi lagi”


“Sebenarnya mau kamu apa?” Sikap Bunda langsung berubah seketika dan menjadi orang lain di depan semua orang.


“Aku hanya inginkan kehidupanku, aku ingin bahagia kali ini tolong lepaskan aku”

__ADS_1


“Aku yang memberikanmu hidup, kamu pikir aku akan membiarkan kamu melakukan semuanya sesukamu?” Bunda membawa si kembar ke kamar lantai atas dan meninggalkan Khiren setelah menatapnya dengan tatapan begitu tajam.


“Tunggu Bunda!”


“Aku belum selesai bicara!” Khiren mengikuti Bunda yang berjalan kearah lantai atas.


“Bunda, aku ingin kali ini tolong jangan halangi aku untuk hidup dan bahagia seperti orang lain!”


“Hidupmu itu milikku, kamu lahir karena aku, jadi kamu tidak punya hak untuk hidupmu, aku yang akan menentukan semua!”


“Bunda masih saja egois, kenapa Bunda begitu tidak ingin aku bahagia? Baiklah, kehidupan yang sedang aku jalani itu pemberian bunda, lalu bagaimana kalau Bunda akhiri saja hidup yang menyiksaku ini” Khiren menarik tangan Bundanya dan memberikan sebuah pisau yang ada padanya.


“Dari mana kamu mendapatkan benda ini?! Lepaskan!” Bunda membuang pisau itu, lalu pergi dari kamar itu meninggalkan Khiren.


“Bunda tunggu!” Khiren mencegah Bunda yang akan menuruni tangga.


“Bunda merasa hidupku adalah milik bunda karena Bunda yang memberikannya padaku, sekarang ambil! Ambil saja kehidupan yang menyiksa ini dariku!”


“Apa yang kamu bicarakan?”


“Pegang ini! Lakukan dengan cepat agar tidak terasa sakit! Aku ingin mengakhiri hidup yang Bunda berikan padaku penuh dengan rasa sakit ini, lakukan Bunda!”


“Apa maksudmu! Lepaskan tanganku”


“Aku akan lepaskan kalau Bunda membebaskan aku dari kehidupan yang Bunda terus bicarakan ini!”


“Lepas!”


“Tidak kali ini Bunda!” Khiren menuntun tangan Bundanya untuk menancapkan pisau yang ada di tangannya ke tubuh dirinya sendiri.


Sekuat tenaga Bunda Khiren melawan tapi Khiren lebih kuat dari dirinya dan membuat pisau yang begitu tajam itu benar-benar menembus masuk ke tubuh putrinya.


“Terimakasih atas segala rasa sakit yang Bunda berikan”


Setelah mengucapkan kata-kata itu dengan tersenyum Khiren jatuh dari tangga hingga terguling ke lantai dasar. Semua orang sangat kaget dan langsung berlari menghampiri Khiren yang di penuhi darah. Mex bersama dengan pengawal lainnnya segera membawa Khiren pergi dari tempat itu sesuai dengan perintah Khiren.


“Tunggu mau kamu bawa kemana anakku?!” Tanya Ayah Khiren.


“Nona pernah berpesan, meski mati dia tetap tidak ingin tubuhnya berada di tangan kalian!” Lalu Mex membawa pergi Khiren dengan cepat ke rumah sakit terdekat.


“Ana! Apa yang kamu lakukan pada putriku!” Kentaro memandangi istrinya dengan penuh amarah.


“Tidak! Tidak, aku tidak melakukannya! Dia, dia yang menarik tanganku, percayalah aku tidak melakukannya dengan sengaja!”


“Aku tidak mengerti apa yang ada di kepalamu tapi, kenapa kamu membuat gadis yang seperti malaikat itu menjadi seperti sekarang ini? Dia itu anakmu, kenapa kamu memperlakukan dia seperti itu!”


“Kamu tidak dengar! Aku tidak menusuknya dengan sengaja!”


“Aku tidak membahas yang terjadi sekarang tapi, apa yang terjadi selama ini. Aku  tidak ingin ikut campur karena dia adalah anak yang ingin kamu urus dengan tangan sendiri, lalu kenapa jadi begini? Dia memandang kita seperti memandang musuhnya lalu sekarang, kita tidak tahu apa dia hidup atau mati karena ulah mu!”


“Kenapa kamu menyalahkan aku!”


“Cukup! Kalian berdua kenapa ribut? Sekarang yang harus kalian pikirkan apa dia masih bisa lemah setelah mengalami luka separah itu?” Ibu mertua Khiren pun pergi dari tempat itu dan mencari tahu dimana Khiren di bawa oleh Mex.


Bersambung.....

__ADS_1


Jangan lupa meninggalkan jejak bacaannya dengan like, vote, dan kasih retting 5 untuk novel ini.


SELAMAT MEMBACA 😊😊😊😊


__ADS_2