
“Hai kamu! Kamu jangan pikir kamu udah menang karena udah bisa nikah sama kak Revan, lihat saja nanti aku akan merebutnya dari kamu!” Tiara datang dengan penuh amarah dan kesal pada Khiren.
Khiren mengabaikan Tiara dan dia hanya menatap rembulan yang kebetulan malam itu terlihat amat terang di banding dengan malam-malam lainnya.
“Hai kamu dengar, gak?” Tiara semakin mendekat dan sedikit mendorong Khiren.
“Apa-apaan kamu?” Khiren jadi kesal saat ada seseorang menyentuhnya.
“Kenapa kamu nyolot? Lihat sini! Aku ini lebih muda dari kamu dan aku ini adalah orang yang paling dekat dengan Kak Revan, dan kamu lihat sebentar lagi dia akan meninggalkan kamu!”
“So? Kamu pikir aku peduli gitu? Gini deh, kamu mau lakukan apapun itu terserah selama itu gak mengganggu pemandangan ku, paham?! Jangan lewati batasan atau akan terjadi hal buruk pada kamu”
Khiren lalu pergi dan meninggalkan Tiara yang kesal dengan respon Khiren yang benar-benar tidak terduga. Khiren melewati Revan dengan kesal dan segera masuk ke dalam kamar tanpa bicara apapun.
“Ada apa sih sama dia?”
Revan sudah mulai terbiasa dengan perubahan mood Khiren yang tidak terduga dan dia kadang mencoba untuk tidak perduli.
“Hallo Young! Segera kirim kontraknya, aku sepertinya ingin membantumu, tapi kamu jangan lupa dengan persyaratan yang pernah aku berikan. Jangan ada yang tau kalau aku ikut dalam film ini dan pastikan ini jadi rahasia hingga peluncuran film.”
“Baiklah, hal semacam itu gak perlu di ragukan lagi. Kamu pasti taukan kalau aku tidak pernah melanggar janji. Akan aku kirim sekretaris ku ke sana dalam beberapa hari, kamu tunggu saja!”
“Oke aku percaya pada kamu!”
***
Pagi hari yang cerah, Khiren mengambil sepeda dan keluar rumah karena dia sedang tidak ingin melihat wajah Tiara yang bisa membuat hari cerahnya menjadi suram dalam hitungan detik. Saat menuju taman dia tak sengaja menyerempet seorang yang berlari berlawanan arah dengannya. Khiren yang juga jatuh langsung bangun dan mencoba membantu pria yang ia tabrak, meski dia juga terluka tapi karena rasa bersalahnya lebih besar dari rasa sakitnya, dia membantu pria itu berdiri dan meminta maaf karena kelalaiannya.
“Lepas!” Bentak pria itu.
__ADS_1
“Bagaimana kalau saya panggil dokter atau saya bayar biaya rumah sakit Anda?”
“Tidak perlu! Tinggalkan saja saya sendiri!” Pria itu terlihat membenci Khiren dan ingin menghindarinya.
“Maafkan saya kalau membuat anda tidak nyaman.” Khiren segera beranjak dan mengambil sepedanya.
Pria itu tak sengaja melihat tangan Khiren berdarah dan dia sedikit merasa bersalah karena memperlakukan Khiren dengan kasar padahal dia juga salah dalam hal itu.
“Hai tunggu! Tangan kamu terluka? Apa itu tidak sakit?”
“Ah ini! Ini bukan masalah besar, kalau begitu sekali lagi saya minta maaf, lain kali saya akan lebih hati-hati” Khiren segera pergi setelah itu.
Saat sampai di taman Khiren membersihkan lukanya dengan tisu dan membersihkannya dengan air yang baru saja dia beli. Rasa sakit yang dia rasakan itu tidak membuatnya bisa mengeluh karena itu adalah kesalahannya terlebih luka itu terlalu kecil untuk di jadikan sebuah alasan untuk mengeluh bagi seorang Khiren.
“Hai kamu!”
Khiren terkejut tiba-tiba pria yang ia tabrak tadi menghampirinya.
Pria itu tanpa permisi langsung duduk di samping Khiren dan mengobati luka Khiren tanpa persetujuan dari Khiren terlebih dahulu.
“Hai apa yang kamu lakukan?” Khiren sesekali menutup mata saat obatnya di oles karena rasa perih yang teramat.
“Kalau sakit bilang?”
Meski sudah di peringati tapi Khiren tetap tidak mengeluh meski dia merasa kesakitan saat di obati dengan sedikit kasar oleh pria yang entah siapa namanya itu.
“Sudah selesai! Kenapa kamu mengkhawatirkan orang lain padahal kamu yang terluka?”
“Karena aku merasa bersalah. Tapi terimakasih udah mengobati lukaku!”
__ADS_1
“Oh ya, kamu tinggal di daerah sini?”
“Iya, namaku Khiren kalau kamu?”
“Aku Daniel, aku baru pindah beberapa hari yang lalu. Jadi sebenarnya tadi aku juga salah karena mengambil jalan khusus bersepeda, aku juga minta maaf!”
“Kalau begitu aku pulang dulu, sampai jumpa lain waktu” Khiren mengambil sepedanya lalu pergi.
Daniel mulai merasa tertarik pada Khiren karena dia berbeda dari kebanyakan wanita yang ia temui, Daniel biasanya selalu di modus-in oleh semua wanita yang ia temui. Banyak cara dan taktik yang mereka gunakan untuk mendekati seorang Daniel, hingga dia benar-benar terpaksa bersikap dingin dengan semua wanita agar dia bisa di jauhi. Tapi Khiren berbeda, dia benar-benar tulus dan tidak memiliki maksud tersembunyi dalam ucapan dan tindakannya saat bersama Daniel, hal itu membuat Daniel berharap agar dia bisa bertemu lagi dengan Khiren.
Khiren yang pulang dengan luka di tangan membuat panik Revan, Revan langsung mengambil kotak obat bahkan menelpon dokter pribadinya untuk segera memeriksa Khiren. Perhatian Revan yang berlebihan pada Khiren membuat Tiara cemburu dan juga membuat Khiren merasa tidak nyaman di perlakukan berlebihan seperti itu.
“Revan tenanglah! Ini Cuma luka kecil bahkan aku sudah di obati!”
“Tidak, tidak tidak, luka kecil bisa jadi besar kalau salah dalam menanganinya, kamu harus di periksa dokter titik”
“Apaan sih kak Revan, lebay banget! Bikin kesal aja!” Tiara memantau Revan dari jauh.
Tak lama kemudian seorang dokter datang dan meriksa keadaan Khiren, dokter itu tertawa geli melihat kelakuan pengantin baru itu, suami yang terlalu mencintai istrinya membuat luka kecil seakan luka yang amat besar dan berbahaya untuk istrinya.
“Tuan muda Revan, istri anda hanya mengalami luka gores saja, dia sudah di obati dan dalam beberapa hari ke dapan jika di oleskan salep ini, lukanya akan segera sembuh dan pastikan untuk tidak lupa mengolesi salep agar lukanya tidak berbekas.” ucap dokter pada Revan yang benar-benar terlihat gelisah dan panik.
“Sudahlah, kamu terlalu berlebihan! Buat orang jadi gak nyaman aja” Khiren pergi dengan wajah kesal dan menabrak Tiara yang sengaja menghalangi langkahnya.
“Apa-apaan wanita sialan itu!” Tiara tidak terima Khiren di perlakukan dengan sangat baik oleh Revan dan dia juga semakin membenci kehadiran Khiran.
“Aku harus mencari kelemahan wanita sialan itu, dan aku harus membuat dia meninggalkan Kak Revan atau kak Revan sendiri yang akan mencampakan si jalan itu!” Tiara mulai mencari cara untuk menyingkirkan Khiren dari jalannya untuk mendapatkan Revan. Tiara benar-benar terobsesi pada Revan sejak SMA akan tetapi, Revan tidak pernah benar-benar menanggapi perasaan Tiara karena dia hanya menganggap Tiara sebagai adik kecilnya saja.
Bersambung…
__ADS_1
Cuma mengingatkan buat jangan lupa like dan komen, kalau bisa sih kasih vote juga biar bisa semangat. Makasih sudah berkunjung, sampai jumpa di episode berikutnya.