
Pagi itu cukup berawan, mungkin karena sedang musim hujan.
"Khiren, apa aku boleh masih?" Tanya Mex dari balik pintu.
"Masuklah!"
Pria tinggi dengan sebuah senyuman yang cerah di pagi mendung menghampiri Khiren yang sedang mengeringkan rambutnya.
"Biar ku bantu"
Mex mengambil handuk di tangan Khiren dan membantu Khiren mengeringkan rambutnya.
"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Khiren.
"Tentu" Jawaban dengan lugas.
"Apa tidak ada yang ingin kamu karakan padaku?"
"Tidak ada" Jawab Mex sambil menatap Khiren dari pantulan cermin.
"Sudahlah, biar aku urus ini sendiri!" Khiren menarik paksa handuk itu dari tangan Mex.
"Apa aku melakukan kesalahan?" Tanya Mex.
"Kamu tidak melakukan kesalahan, aku yang salah. Sebaiknya kamu tunggu di ruang makan saja, aku akan menyelesaikan ini dengan cepat dan kita sarapan bersama "
"Baik" Mex pun pergi.
"Orang bilang bersama good boy adalah hal terburuk, dulu aku pikir mereka gila karena tidak bersyukur bisa mendapatkan pria baik dan sempurna tapi, setelah mengalami nya sendiri .. .. Menikah dengan good boy benar-benar hal terburuk dalam hidupku." Keluh Khiren sambil menatap pantulan dirinya.
"Dia sangat membosankan, terlalu baik, terlalu pengertian, seakan dia tidak memiliki hati, ini sangat menyebalkan!! Aku mulai berpikir keputusan mempertahankan hubungan ini adalah hal terburuk, apa sebaiknya aku benar-benar harus berpisah saja?...... Lalu bagaimana dengan Li Kenzo? Aku tidak ingin dia tumbuh dalam keluarga yang tak utuh, aku benar-benar tidak mengerti harus bagaimana sekarang!"
Dia mulai kesal pada diri sendiri, semua hal menjadi sulit untuk dia pahami dan setiap keputusan nya saat ini benar-benar di penuhi dengan keraguan. Mex adalah pria baik dan ayah, sekaligus pemimpin yang sempurna untuk organisasi yang dengan susah dia bangun tapi, untuk ukuran suami dan pasangan hidup Mex buat orang yang tepat. Mex terlalu patuh dan terkesan tidak memiliki pendirian, dia selalu mengiyakan semua keputusan Khiren tanpa bantahan. Selama menikahi Khiren, Mex tidak pernah benar-benar memperlakukan Khiren sebagai seorang istri untuk nya, tapi dia melakukan khiren seolah-olah Khiren dan dia hanya memiliki ikatan dalam ranah pekerjaan saja.
"Tapi jika aku meninggalkan dia sekarang, apa aku bisa hidup bersama orang itu?" Pikir Khiren.
"Aku bingung, sudah lah, sebagainya segera turun dan menemui mereka"
__ADS_1
Khiren segera bersiap untuk ke ruang makan, menemui Mex dan Derend.
"Ma, kenapa lama sekali? Derend lapar" Ucap pria kecil dengan wajah cemberut nya.
"Maaf ya sayang, Mama sedikit lama tadi" Khiren mencium kepala Derend dan duduk di sampingnya. "Ayo makan!" Melirik kearah Mex.
Awalnya tenang-tenang saja hingga tiba-tiba Revan mengirim banyak pesan pada Khiren hingga membuat Khiren kesal pada notifikasi pesan itu.
'Ting Ting Ting'
Pesan itu terus masuk, lalu Khiren hanya menatap layar ponselnya dan mematikan suara notifikasi.
"Siapa?" Tanya Mex.
"hanya anak iblis yang menggila" Ucap Khiren sambil terus melanjutkan makannya.
"Iblis? Apa benar-benar ada iblis di dunia ini?" Tanya Derend dengan mata polos nya.
"Mama lupa kalau kamu ada di sini, jangan terlalu di pikirkan ucapan mama tadi cuma bercanda kok. Mama minta maaf karena mengatakan hal buruk, ya sayang" Lalu Khiren memeluk Derend.
"tentu saja saya" Lalu Khiren menatap kearah pengasuh Derend dan memberikannya kode untuk segera membawa Derend bermain.
Pengasuh dan dua pengawal pribadi itu pun segera menuntut Derend ke ruang bermain khusus untuknya.
"Apa itu Revan?" Tanya Mex.
"Eum"
Pesan terus masuk hingga tidak terhitung berapa jumlah, beberapa panggilan dari Revan pun terus masuk.
"Apa kamu tidak akan menjawab panggilan itu?"
Khiren menatap tajam kearah Mex yang bertanya padanya, "Baik akan aku jawab!" dengan kesal Khiren pun menjawab panggilan dari Revan.
"Apa mau mu?" Tanya Khiren dengan ketus
"Kenapa kamu marah? Aku hanya ingin mengajak mu sarapan"
__ADS_1
"Aku sudah kenyang"
"Kalau begitu, jangan lupa janji kita siang ini"
"Uem"
Lalu Khiren mengakhiri panggilan itu.
"Mex, apa kamu sudah mendapatkan kabar tentang anak kita?"
"Aku sudah mengerahkan semua orang untuk mencarinya tapi belum ada kabar baik tentang itu "
"Temukan dia dengan cepat atau hal buruk harus terjadi pada kami berdua!" Ucap Khiren.
"Aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk bisa menemukannya. Hari ini aku berangkat ke Indonesia, aku akan memimpin pencarian disana."
"Tidak perlu, kamu urus saja perusahaan dan organisasi yang akan aku pindah alihkan pada mu... kami awasi pencarian itu dari jauh, kirim semua orang-orang mu untuk mendapatkan dia. Waktu kita tidak banyak"
"Apa kita perlu meminta bantuan kakek mu?" Tanya Mex.
"Itu tidak akan membantu, lagian akhir-akhir ini kesehatan Kakek sedang kurang baik. Jangan tambah beban kakek dengan masalah kita."
"Lalu apa kamu sudah menanyakan masalah ini pada orang tuamu?"
"Mereka tahu dan sedang berusaha mencari keberadaan anak kita tapi, sampai saat ini dari semua orang termasuk dari tim teman-teman ku pun tidak ada yang mendapat informasi. Aku tidak ingin menyerah tapi, jika sampai dalam Minggu ini tidak ada kabar baik maka kita harus benar-benar menggunakan cara terakhir... artinya kita harus menyegerakan perpisahan kita, dan membiarkan Revan kembali menjadi suamiku."
"Apa kamu menginginkannya?" Tanya Mex
"Apa itu yang benar-benar ingin kamu tanya saat itu?" Khiren berbalik bertanya dengan nada kesal
"Aku .."
"Sudahlah, aku tidak ingin mendengar apapun, sekarang kamu bersiap untuk ke kantor dan aku akan mengurus urusan ku!"
khiren pun pergi meninggalkan Mex yang masih duduk dengan tenang di kursinya.
Bersambung
__ADS_1