Love Scenario V2

Love Scenario V2
Pertemuan


__ADS_3

“Hai! Apa kamu sudah lama di sini?” Sapa Khiren dengan sebuah senyum mengakhiri ucapannya.


“Aku juga baru datang, kok!” Vano berdiri dan mempersilahkan Khiren duduk di kursi yang ada di sampingnya.


“Terima kasih!”


“Gimana pekerjaan kamu? Kalau tidak sibuk gimana kalau kita liburan bareng?” Ajak Khiren tanpa ragu.


“Kebetulan aku senggang, gimana kalau ke pantai aja?”


“Loh, bukannya kamu udah sering, ya?”


“Aku mau mengambil beberapa pemandangan di saat matahari tenggelam bersama orang yang aku cinta, apa kamu bisa?”


“Lakukan apapun yang membuat kamu bahagia.” Khiren tersenyum lalu mengambil handphone nya dan mulai memesan makanan. “ Aku langsung pesan lewat aplikasi, ya?”


“Loh, kamu gak nanya aku mau makan apa?”


“Buat apa nanya, toh nanti juga kamu bakalan bilang terserah aku, ya'kan?”


“Iya juga, sih!”


“Udah, aku mau ke toilet dulu”


Saat Khiren bangun dan akan pergi tiba-tiba saja dia kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh kelantai, untungnya tangan sigap Vano bisa menangkap tubuh Khiren hingga jatuh ke dalam pelukannya. Adegan itu terlalu mencolok hingga semua mata langsung teralihkan pada mereka berdua yang sedang beradegan mesra, dan hanya menghitung detik untuk bisa benar-benar berciuman. Wajah tampan bak ratu dan raja membuat semua orang terpana melihat kemesraan dua sejoli yang sedang jatuh cinta itu. Semua yang melihat pasti akan iri dengan kemesraan dan kesempurnaan mereka berdua dan dari mereka ada juga yang mengabadikan momen langka dan bersejarah itu. Khiren benar-benar merasa terganggu dengan keadaan mereka dan juga semua sorot mata yang aneh dari para pengunjung tempat itu, tanpa sadar Khiren mendorong Vano menjauh darinya lalu pergi meninggalkannya.


Saat sedang berada di toilet Khiren menghubungi anak buahnya.


“Hallo! Datang ke café Gerhana Gilang dan hapus semua foto dan video saya dan Vano sekarang! Dan satu lagi, bawa Farhan ke gudang lama, pastikan dia tidak lecet sedikit pun, paham? Setengah jam lagi saya akan ke sana!”


“Kenapa aku tidak bisa mengendalikan ekspresi ku, dan jantungku! Kenapa dia berdebar sangat kencang saat aku bersama Vano? Aku bisa gila lama-lama begini!” Khiren menutup wajahnya yang masih merah merona tiap kali mengingat kejadian yang tadi.


“Gak, gak boleh! Aku gak boleh menunjukkan sisi ku yang seperti ini pada orang lain termasuk Vano. Aku harus mengendalikan ekspresi ku dan segera menyelesaikan masalah sebelum semakin besar dan membuat Vano terkena masalah.


Setelah selesai Khiren keluar dengan tergesa-gesa dan menemui Vano.

__ADS_1


“Vano, sepertinya kita tidak bisa pergi hari ini karena aku ada urusan mendadak, maaf ya?”


“Oke gak papa, tapi lain kali kita bisa pergi bareng lagi, kan?”


“Segera! Ayo makan makanan yang sudah terlanjur kita pesan, kalau ada waktu kita ke tempat ini lagi, ya?”


“Kapanpun aku siap” Vano menebar senyum manisnya yang membuat jantung Khiren jadi aneh saat melihat itu.


***


Khiren sampai di gedung lama dan melihat Farhan terikat di sebuah kursi coklat tua dengan mata tertutup kain hitam.


“Buka penutup matanya!”


Para penjaga membuka penutup mata Farhan sesuai perintah Khiren.


“Kakakku tercinta, berani-beraninya kamu mengikuti ku dan memasangkan alat pelacak di mobilku. Kamu pasti tadi lihat saat aku menghajar pria yang menghadang jalanku, iya’kan?”


“Khiren kenapa kamu jadi seperti ini? Dimana Khiren yang lemah lembut dan baik hati kamu? Siapa yang membuat kamu jadi seperti ini?”


“Hahahah… Kakakku tersayang, ternyata kamu belum cukup mengenalku?! Memangnya sudah berapa lama kita berteman, bukan sehari atau dua hari tapi sudah bertahun-tahun dan kamu sama sekali tidak mengenal siapa temanmu ini?” Khiren tersengir dan terlihat kecewa.


“Tapi kamu harus mengubah semua laporan mu, jangan ada yang tahu masalah hari ini, apa lagi tentang Vano, gimana?” Dia bicara dengan sangat halus tapi dari nada bicaranya tersirat hal yang cukup mengerikan.


“Maafkan aku?!” Farhan sangat ketakutan dan hampir menangis saat Khiren mulai menatapnya dengan sorot mata seorang pembunuh.


“Huft … hahahah kamu sangat lucu saat ketakutan, aku hanya bercanda! Tenanglah, aku tidak mungkin membiarkan kamu terluka”


“Ha-ha-ha-ha” Farhan tertawa paksa dan mencoba menahan rasa takutnya.


“Lepaskan dia!” Perintah Khiren pada uda orang pengawal yang berada di belakang Farhan.


“Kakakku tercinta, masa kamu percaya kalau aku akan menyakitimu, sih?” Khiren kembali terlihat seperti biasa, lalu dia merangkul Farhan saat akan keluar dari tempat itu.


“Tapi, beberapa ucapan ku tadi serius loh! Jadi, pura-pura tidak tau saja soal yang terjadi tadi pagi, paham?”

__ADS_1


Farhan mengangguk patuh dan dia kembali sedikit tegang saat mendengar ucapan Khiren.


“Kamu bisa pulang sendiri’kan? Apa perlu mereka mengantar?”


“T-tidak perlu, aku bisa pulang sendiri” Farhan mempercepat langkahnya dan segera menjauh dari tempat itu.


“Tunggu! Sepertinya aku berubah pikiran, kamu boleh menceritakan tentang perkelahian ku dengan pria itu tapi yang lainnya cukup kita yang tahu, bagaiman?”


“Baiklah!”


“Antar dia ke tempat mobilnya, lalu pastikan dia pulang dengan selamat” Perintah Khiren pada dua orang pengawalnya, dan pada akhirnya karena tempat itu terlalu terpencil dan tidak ada taksi yang mungkin akan lewat dengan terpaksa Farhan mengikuti pengawal Khiren yang akan mengantarnya.


“Nona, tuan Max mengatakan kalau pelelangan akan di lakukan lusa di kapal pesiar Bintang Senja.”


“Baiklah, lalu masalah dua pria tua itu bagaimana?”


“Mereka menunggu anda setelah selesai pelelangan di tempat yang sama. Mereka ingin menemui anda secara langsung, apa yang akan kita lakukan?”


“Minta Samuel ikut, dia akan menggantikan saya menemui mereka, tapi sebelumnya minta dia nyesuaikan ucapannya dengan saya sebelum dia menemui dua mahluk itu!”


“Baik, nona!”


Khiren menghubungi Vano dan membuat janji untuk pergi ke Bali sesuai permintaannya, dia ingin lebih banyak menghabiskan waktunya sebelum pergi untuk syuting seminggu lagi dan mungkin mereka tidak akan bertemu dalam waktu yang cukup lama.


Keesokan harinya Vano sudah siap berangkat dan Khiren menjemputnya di rumah, karena dia tidak ingin Vano terlalu banyak bertanya dengan pengawalan dia sengaja membuat adegan menculik dan Vano di bawa lebih dulu ke Vila miliknya karena dia harus ikut ke pelelangan sebelum bisa berlibur bersama Vano.


“Khiren, kita akan kemana?”


“Ke Bali, kamu gak masalahkan?”


“Gak, kemana aja asal bisa sama kamu aku pasti mau kok!”


“Bagus kalau gitu” Khiren terlihat sedikit gelisah karena dia belum mendapatkan kabar dari Revan ataupun Dimas setelah kabar dia yang di serang oleh penggemar fanatiknya tersebar.


Lalu mobil Khiren di hadang oleh dua mobil hitam dan keluar beberapa orang yang berjas hitam dan memaksa mereka semua keluar, Vano lebih dulu di tarik dan di berik obat bius sedangkan Khiren tidak berkutik sama sekali. Mereka pergi dengan terpisah, dalam keadaan Vano di bawa hingga ke Bali dengan pesawat pribadi Khiren dan Khiren menyusul setelah mengurus beberapa urusan.

__ADS_1


Bersambung..


Cuma mengingatkan buat jangan lupa like dan komen, kalau bisa sih kasih vote juga biar bisa semangat. Makasih sudah berkunjung, sampai jumpa di episode berikutnya.


__ADS_2