
Revan pura-pura lelah lalu menyandarkan diri pada bahu Khiren lalu pura-pura tidur hingga dia benar-benar terlelap dalam posisi itu. Sayangnya Khiren tidak bisa menutup matanya, dia sangat lelah tapi dia tidak bisa memejamkan mata, lalu dia bangun dari tempat itu dan membuat Revan yang bersandar padanya terjatuh ke sofa.
“Ada apa?” Tanya Revan yang kaget karena Khiren tiba-tiba berdiri.
Khiren tidak memperdulikan ucapan Revan, dia berjalan tanpa tujuan dan berputar-putar di dalam rumah beberapa kali. Revan merasa aneh dengan sikap Khiren yang tidak biasa malam itu, matanya merah dan dia terlihat sangat gelisah.
“Khiren kamu kenapa?” Revan berusaha mengejar langkah cepat Khiren.
Khiren tidak merespon lalu dia pergi ke kamar tidur mereka dan seakan sedang mencari sesuatu. Revan mulai sedikit takut dengan keadaan Khiren, dia akhirnya menghubungi Aldo tapi sayangnya Aldo tidak mengangkatnya. Beberapa kali di coba tapi hasilnya tetap sama hingga sebuah nama terlintas di pikirannya. Dia mulai mencari nama yang sudah lama dia hindari karena dia masih sedikit kesal pada pria yang menurutnya memiliki potensi mencuri Khiren darinya.
“Hallo! Kamu dimana sekarang?”
“Ada apa?” Tanya Dimas yang kaget karena mendapat telpon dari seorang yang hampir tidak pernah menghubunginya.
“Khiren terlihat aneh, matanya merah dan dia terlihat gelisah.”
“Di sana jam berapa sekarang?” Tanya Dimas.
“Kenapa tanya soal jam?”
“Jawab aja!”
“Jam…” Revan melirik kearah jam dinding yang ada di ruangan itu.
“Jam 12 lewat, memangnya kenapa?”
“Kamu kasih minum apa dia tadi?”
“Cuma kopi”
“Kamu gila, ya? Cuma kopi kamu bilang?! Dia itu gak boleh minum minuman yang bercaffein tinggi tahu!”
“Kenapa?”
“Dia punya masalah dengan minuman itu, apa lagi yang kamu kasih itu kopi, apa ada obat tidur di tempat mu?”
“Ada tapi untuk apa?”
“Pasti dia sedang mencarinya, sebaiknya kamu segera memberikannya saja, agar dia bisa tidur dengan tenang. Tapi…”
__ADS_1
“Tapi apa?”
“Kamu berikan dengan dosis sedang, jangan biarkan dia mengambilnya sendiri atau dia akan overdosis.”
“Baik, aku mengerti, terima kasih!”
“Oke! Aku mau kerja dulu, titip salam buat Khiren”
Lalu Revan segera mencari obat tidur di ruang kerjanya dan mengambil segelas air untuk Khiren.
“Khiren ini obat tidurnya!”
Saat Revan mengatakan obat tidur Khiren langsung merebutnya dari tangan Revan dan menelannya tanpa air.
“Ini di minum dulu!” Revan memberikan Khiren air yang ada di tangannya.
Khiren tidak memperdulikan ucapan Revan, dia berjalan perlahan ke tempat tidur dan ketika hampir sampai, dia terjatuh dan hampir saja mengenai meja di samping tempat tidur, untungnya Revan segera menangkap Khiren.
“Ada apa dengan kamu sayang, kenapa kamu tidak bilang kalau kamu tidak bisa minum kopi? Apa kamu sengaja menyakiti dirimu agar bisa melihat aku menderita?”
Revan meletakkan gelas di tengannya ke meja lalu mengangkat Khiren ke tempat tidur dengan hati-hati. Setelah menyelimutinya dia pun mencium kening istrinya, lalu dia keluar dari kamar. Revan menuju ke kamar ibunya. Dia terlihat gelisah dan kesal, dia berjalan dengan cepat menuruni tangga.
“Mama! Revan masuk dengan wajah kesalnya.
“Ada apa sayang?”
“Mama kenapa ingin menghianati aku? Aku ini putra mama tapi, kenapa mama tega?!”
“Maksud kamu apa, nak?”
“Jangan bersandiwara lagi, ma! Aku gak suka di permainkan oleh orang yang paling aku percaya di dunia ini! Mama harusnya mengerti kalau aku tidak ingin berpisah dari Khiren tapi kenapa mama malah ingin memisahkan kamu berdua?”
“Sayang, kamu salah paham!”
“Salah paham apa, ma? Aku dengar kok apa yang kalian rencanakan?”
“Dengar? Rencana? Jadi benar kata Khiren kalau kamu memasang CCTV di rumah ini untuk mengawasinya? Kenapa kamu melakukan itu, nak?”
“Itu karena aku mencintainya, ma! Aku tidak ingin kehilangan dia lagi!”
__ADS_1
“Tapi dia tidak mencintai kamu, relakan saja dia nak, biarkan dia pergi dan kamu akan menemukan wanita yang lebih baik dari dia”
“Tidak akan ada yang bisa menggantikan Khiren di hatiku, sekarang, nanti ataupun kapanpun, karena selamanya Khirenlah yang ada di hatiku, Ma!”
“Nak, jangan kelewatan, kamu tidak bisa memaksankan perasaanmu, dia tidak mencintaimu, dia memiliki orang lain di hatinya!”
“Tidak akan ada orang lain untuknya, hanya ada aku saja! Pria yang ia cintai sedang kritis di rumah sakit, dan mungkin saja sekarang dia akan segera tiada, dan hanya akan ada aku saja untuknya.”
“Kamu…” Ibu Khiren mulai kehilangan kata-kata untuk dia ucapkan pada putranya yang begitu keras kepala dan sulit di hentikan.
“Terserahlah apa yang ingin kamu lakukan, mama lelah! Mama akan pergi besok pagi-pagi sekali dan semoga kamu bahagia dengan pilihanmu!”
“Ma, aku tidak bermaksud mengusir mama dari tempat ini, aku hanya berharap mama mendukung aku”
“Mama tidak akan mendukung perbuatan salahmu! Kamu hanya akan membuat dia menderita hingga dia tiada tapi.. sudahlah, ini pilihanmu dan pilihan mama tetap sama, mama tidak akan merestui semua pilihanmu, camkan itu!”
Lalu Ibu Revan mengusir Revan dari kamarnya dengan penuh amarah, ya untungnya tidak ada kutukan yang terucap dari mulut ibu yang sedang marah itu. Revan merasa sangat sedih karena ibu yang paling ia sayangi malah mendukung perpisahannya dengan Khiren, satu-satunya wanita yang dia cintai. Dia kecewa pada kedua orang yang tidak memahami perasaannya itu, dan bersikap egois terhadap dirinya.
***
Pagi datang sangat cepat dan cahaya matahari menembus dari tirai-tirai yang tidak di tutup rapat, Khiren masih tidak bangun dari tidurnya. Revan segera bersiap dan saat turun ke bawah dia melihat ibunya sudah siap berangkat.
“Mama mau pergi sekarang?”
“Eum! Jaga diri, mama tidak akan ke sini lagi, dan semoga apa yang kamu inginkan tercapai!” Lalu Ibu Revan pergi dengan buru-buru.
“Ma, apa tidak bisa di bicarakan baik-baik saja?”
“Kenapa? Memangnya kalau kita bicara apa kamu mau melepaskan Khiren?”
“Tentu saja tidak! Tapi, apa mama tidak mau mencoba memahami perasaanku?”
“Mama sudah cukup memahamimu dan kamu sama seperti ayahmu sangat keras kepala dan suka melakukan segala sesuatu tanpa memikirkan orang lain, nikmati pilihanmu dan jangan pernah menghubungi mama sebelum kalian berpisah!” Lalu Ibu Revan masuk ke dalam mobil.
Revan tidak bisa berkata apa-apa karena Ibunya telah memilih berpihak pada Khiren yang ingin berpisah darinya. Revan tidak ingin hubungannya dengan ibunya merenggang karena masalah itu, tapi dia tidak bisa menuruti permintaan dari ibunya itu karena di hatinya hanya ada Khiren dan tidak akan ada yang bisa menggantikan Khiren di hatinya hingga mati.
Bersambung…..
Kalau ada kesalahan dalam pengetikan tolong segera di komen aja biar bisa di edit dengan cepat, jangan lupa berikan Like kalian biar penulis makin semangat buat updatenya.
__ADS_1